NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 — Jangan Salahkan Aku Lagi

Dimas tidak bicara sampai mobil masuk garasi.

Nara membuka pintu sebelum mesin mati. Sepanjang perjalanan ia sudah menunggu suaminya meledak. Ketika akhirnya Dimas bersuara, ia justru terdengar hampir santai.

“Puas tadi?”

Nara berhenti di dekat pintu rumah.

“Masuk. Jangan sampai tetangga ketinggalan nonton juga.”

Ia masuk. Dimas menyusul, menutup pintu, lalu melempar kunci ke meja. Gantungan logamnya meluncur sampai jatuh ke lantai.

Nara membungkuk untuk melepas sepatu. Kaitnya tersangkut. Ia mencoba sekali lagi dengan jari gemetar.

“Aku berdiri di situ seperti orang tolol, Na. Istri sendiri teriak minta dilepas, semua orang menoleh. Kamu lihat wajah mereka?”

Nara berhenti menarik kait sepatunya.

“Aku lihat kamu pegang tanganku. Aku sudah bilang acaranya belum selesai.”

“Jadi harus diumumkan satu ruangan? Tinggal bilang pelan, nanti kita bicara di mobil. Tapi kamu maunya semua orang dengar.”

Nara mendongak. Telinganya panas mendengar betapa yakin suaminya menyebutnya sengaja.

“Aku bilang pelan dulu. Kamu tetap menarikku. Mau berapa kali aku bilang sebelum kamu anggap serius?”

Dimas memalingkan wajah, mengembuskan napas keras.

“Ini sebabnya aku malas ikut acara begini. Ditemani salah, dibantu jual salah. Mulai sekarang urus sendiri.”

“Kamu yang bilang mau datang. Aku nggak minta kamu menawar harga lukisanku ke orang!”

Sepatunya akhirnya terlepas. Nara menegakkan tubuh, tidak peduli sepatunya tergeletak miring di lantai.

“Berbulan-bulan aku kerjakan. Kamu cukup bilang hobi, lalu harganya boleh diturunkan sesukamu. Di depan pembeli, Dimas. Kamu pikir aku nggak malu?”

“Adrian juga di depan pembeli waktu membelamu. Itu bikin malu juga?”

Nara terdiam. Dimas langsung mendekat.

“Nah. Kalau dia yang bicara, kamu mendengarkan. Aku suamimu, malah disuruh diam.”

Nara ingin menjawab terlalu banyak sekaligus. Ia memang senang Adrian datang. Ia juga tahu Dimas melihatnya, dan rasa bersalah itu membuatnya terlambat membantah.

Tetapi Dimas sudah merendahkan pekerjaannya sebelum Adrian masuk.

“Dia beli empat lukisan, sekarang omongannya paling benar,” lanjut Dimas. “Harusnya bilang dari awal kalau kehadiranku mengganggu.”

“Aku mau jual lukisan tanpa kamu menyela. Dari tadi itu yang kubilang.” Nara menelan ludah, menahan suaranya agar tidak pecah. “Kalau masalahnya aku harus menuruti kamu supaya kelihatan seperti istri baik, aku memang nggak bisa malam ini.”

Dimas menatapnya lama. Kemudian ia menunjuk tangga.

“Naik. Aku capek dengar ceramahmu.”

Nara meraih tas. Ia sudah ingin menangis, dan ia benci Dimas akan menganggap tangis itu satu bukti lagi bahwa istrinya cuma sedang merajuk.

Di kamar, ia menaruh pin nama di meja lalu membuka lemari. Ia mengganti gaun di balik pintu lemari, tidak ingin dilihat suaminya.

Dimas masuk dan menutup pintu keras-keras.

“Sekarang pakai sembunyi segala. Aku belum pernah lihat badanmu?”

Nara terus mengenakan kaus. Ia keluar dari balik pintu lemari tanpa menjawab. Ketika Dimas meraih pinggangnya, ia bergeser mundur.

Tangan Dimas berhenti. Wajahnya berubah.

“Oh, begitu.”

Nara merapatkan lengannya ke tubuh.

“Pantas setiap sama aku kamu kaku. Aku yang disuruh periksa, padahal istrinya sendiri disentuh saja seperti jijik.” Dimas tertawa pendek, tanpa senyum. “Lain kali sebelum menyuruhku ke dokter, coba pastikan dulu pikiranmu nggak sedang bersama laki-laki lain.”

Nara menatapnya, tidak percaya ia masih sanggup mengatakan itu setelah semua yang terjadi malam ini.

“Masalah di ranjang kita sudah ada sebelum aku kerja dengan Adrian.”

“Jangan sebut namanya di kamar ini.”

Nara menarik napas, tetapi yang keluar malah tawa pendek dan getir.

“Sekarang aku nggak boleh menyebutnya? Dari bawah tadi kamu terus membawa dia. Lukisanku, sikapku, sekarang ini juga. Tinggal sebut namanya, semua salahmu selesai?”

Dimas bergerak mendekat. Nara tetap di depan lemari, meskipun lututnya mulai lemas.

“Jaga mulutmu. Kamu tahu rasanya punya istri yang menatap suaminya seperti kasihan setiap kali gagal?”

“Aku peluk kamu.”

Nara mengucapkannya pelan. Ia teringat betapa seringnya ia menunggu Dimas mau didekati lagi, memikirkan kalimat yang tidak akan membuatnya semakin malu.

“Aku bilang nggak apa-apa. Aku tutup mulut kalau kamu marah. Kalau aku kecewa, aku nangis sendiri lalu cuci muka sebelum keluar. Itu pun sekarang salah?”

“Lalu kamu kasih usul dokter, seperti aku ini barang rusak yang harus dibetulkan.”

“Aku mau ikut! Kita cari bantuan berdua, itu yang kuminta.” Suara Nara akhirnya pecah. “Empat tahun aku jaga perasaanmu. Kamu bahkan nggak pernah tanya aku sanggup atau nggak terus begini!”

Dimas mengambil botol air di meja lalu membantingnya kembali. Air tumpah ke kayu, membasahi kertas di bawahnya. Nara tersentak dan mundur setengah langkah.

Dimas melihatnya.

“Silakan. Nangis. Nanti ceritakan juga ke Maya betapa sengsaranya jadi istriku.”

Nara mengusap pipi dengan kasar. Ia tidak mau berhenti bicara hanya karena air matanya turun lebih dulu.

“Aku nggak pernah cerita soal ini. Bahkan waktu kamu menuduhku membandingkan kalian, aku tetap tutup mulut.” Ia memandang suaminya. “Kamu yang terus memaksa aku merasa semua ini gara-gara aku. Aku sudah capek, Dim.”

“Capek hidup di rumah ini? Pakai mobil, beli alat lukis, semua ada. Banyak orang bakal bersyukur punya hidupmu.”

“Ya sudah, cari yang bersyukur!”

Dimas terdiam. Nara sendiri gemetar mendengar kalimat itu, tetapi ia tidak menyesal.

“Aku minta didengarkan, kamu malah hitung berapa yang sudah kamu bayar. Terus aku harus apa? Bilang terima kasih lalu diam?”

Ia tidak menunggu jawaban. Nara mengambil bantalnya dari ranjang.

Dimas bergerak ke depan pintu.

“Simpan lagi. Kita belum selesai.”

“Aku tidur di kamar sebelah.”

“Begitu dibicarakan, kabur. Besok kamu bilang aku yang nggak mau memperbaiki.”

Nara mengambil sikat gigi dan satu set pakaian. Ia tidak mau kembali hanya untuk mengambil barang kecil saat Dimas masih semarah ini.

“Geser.”

Dimas tetap berdiri di sana. Nara memeluk bantal ke dada, berusaha menahan gemetar tangannya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan kalau suaminya tetap menghalangi.

Akhirnya Dimas menepi.

“Silakan. Jangan tengah malam masuk lagi seolah tadi nggak bicara macam-macam.”

Nara melewatinya tanpa menoleh.

Di kamar tamu, ia meletakkan bantal, menutup pintu, lalu duduk di ranjang sempit. Telinganya masih panas oleh kata-kata suaminya. Untuk malam ini, setidaknya ia tidak harus berbaring di sebelahnya dan berpura-pura sudah baik-baik saja.

Ia mematikan lampu. Tangannya masih gemetar ketika menarik selimut.

1
Ita Putri
heeiiiii ati ati sistah sama pikiranmu sendiriiiiii
bahayaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!