Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh
Tengah malam menyelimuti desa itu dengan sunyi yang mencekam.
Suara jangkrik terdengar bersahutan, angin malam berhembus dingin menusuk kulit, dan aliran sungai tetap mengalir tanpa peduli pada kepanikan yang terjadi sejak siang tadi.
Arsen masih berdiri di sana. Di tepi sungai. Di tempat terakhir Dafa terlihat sebelum hanyut.
Tubuhnya masih basah, bajunya belum diganti, rambutnya sedikit acak, dan wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tetap tertuju ke arah arus yang gelap itu.
Semua orang sudah kembali. Pencarian dihentikan sementara karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Tapi Arsen... Tidak bergerak sedikit pun.
Dari kejauhan, Keira berdiri memperhatikan. Tatapannya tidak lepas dari sosok itu. Beberapa detik ia hanya diam, ragu.
Namun akhirnya ia melangkah mendekat. Perlahan. Hati-hati. "Kamu seharusnya istirahat," ucap Keira pelan begitu sudah cukup dekat.
Arsen tidak menjawab. Ia tetap menatap sungai, seolah tidak mendengar apa pun.
"Di sini sangat dingin, kamu bisa masuk angin," lanjut Keira, mencoba lagi.
Masih tidak ada respon. Hanya suara air yang mengalir. Keira menelan pelan, lalu berkata lagi dengan suara lebih lembut, "Mas... dengan berdiri di sini percuma. Pencarian akan dilakukan besok lagi."
Tiba-tiba-
"Pergi, Keira!" ucap Arsen dingin.
Keira terdiam. Belum sempat ia merespon, Arsen kembali bicara dengan nada lebih keras.
"Pergi aku bilang, pergi!"
Bentakan itu membuat Keira tersentak. Matanya membesar, tubuhnya refleks mundur satu langkah.
Sunyi seketika terasa lebih menyakitkan dari suara itu sendiri.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Keira berbalik. Langkahnya menjauh. Pelan, tapi pasti.
Meninggalkan Arsen sendirian di tepi sungai.
Arsen menghembuskan napas kasar begitu Keira benar-benar pergi dari hadapannya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.
"Karena pikiran Aku mulai gak fokus..." gumamnya pelan.
Tatapannya masih ke arah sungai, tapi kini lebih kosong.
"Karena cinta... Keira..."
Ia tertawa kecil, tapi terdengar pahit.
"Karena ini... aku gak mau jatuh cinta," lanjutnya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Ada penyesalan. Ada amarah. Tapi bukan pada orang lain, Melainkan pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Keira berjalan menuju rumah Pak Salim dengan langkah lemah. Hatinya terasa berat, bukan hanya karena kejadian hari ini, tapi juga karena sikap Arsen barusan.
Begitu sampai, ia melihat Pak Salim masih duduk di dalam rumah, seolah sudah menebak akan ada yang datang.
"Pak Salim..." ucap Keira pelan. Pak Salim menoleh.
"Dia sangat keras kepala," lanjut Keira, suaranya terdengar lelah. "Tolong katakan padanya untuk istirahat. Bahkan dia belum ganti baju."
Pak Salim menghela napas panjang.
"Keira... sudah saya katakan beberapa kali," jawabnya tenang. "Tapi sepertinya suami kamu itu memang keras kepala."
Keira terdiam. "Biarkan saja dia di sana," lanjut Pak Salim pelan.
Kemudian, ia menatap Keira lebih dalam.
"Kembali lah ke kamar kamu."
Namun Keira tidak bergerak, Ia hanya diam beberapa detik. Lalu perlahan menggeleng.
Kakinya justru melangkah kembali ke arah luar rumah. Bukan ke kamar, Tapi ke arah sungai.
Ia tidak mendekat lagi seperti tadi. Hanya berdiri dari kejauhan. Memperhatikan. Sosok Arsen yang masih berdiri sendiri di bawah gelapnya malam.
Angin berhembus pelan, membawa rasa dingin yang sama pada mereka berdua.
..
Pagi hari datang dengan suasana yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada tawa ringan para mahasiswa, tidak ada candaan kecil saat sarapan.
Semua terasa lebih sunyi, lebih berat, sejak kejadian kemarin.
Kabut tipis masih menyelimuti desa, sementara beberapa warga sudah mulai beraktivitas. Di sisi lain, tim KKN kembali bersiap untuk melanjutkan pencarian Dafa.
Keira berjalan keluar dari kontrakan dengan wajah pucat dan mata sembab. Semalaman ia hampir tidak tidur, pikirannya terus dipenuhi oleh kejadian di sungai... dan juga Arsen.
Begitu sampai di titik kumpul, ia melihat Arsen sudah berdiri di sana.
Rapi. Bersih. Seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Bajunya sudah diganti, rambutnya tertata, dan ekspresinya kembali datar seperti biasanya.
Dingin. Jauh. Seperti Arsen yang pertama kali ia kenal. Tatapan Keira sempat berhenti beberapa detik pada sosok itu.
Ada sesuatu yang terasa... aneh.
Seakan-akan semua yang terjadi semalam hanyalah khayalan.
"Semua kumpul!" suara Arsen terdengar tegas.
Keira tersentak sedikit. Nada itu. Nada yang sama seperti dulu. Tanpa emosi. Tanpa kedekatan.
Para mahasiswa langsung berkumpul, termasuk Keira yang berdiri agak di belakang.
"Kita lanjutkan pencarian hari ini. Fokus, jangan ada yang bertindak sendiri-sendiri," ucap Arsen dengan nada formal.
Tidak ada yang berbeda. Tidak ada kelembutan. Tidak ada tatapan khusus. Seolah Keira... bukan siapa-siapa.
"Kevin, kamu ikut tim sebelah kanan," lanjut Arsen
"Siap, Pak," jawab Kevin.
"Rina, kamu di sini bantu koordinasi,"
"Iya, Pak."
Lalu-
Tatapan Arsen sempat mengarah ke Keira. Namun hanya sekilas. Datar
"Kamu..." ucapnya singkat.
Keira menunggu.
"Ada di sini saja. Jangan ke mana-mana kalau tidak perlu. Jangan bikin masalah."
Kalimat itu biasa saja. Tapi cara mengatakannya... berbeda. Kasar. Seperti tidak ada apa-apa di antara mereka.
Keira menatap Arsen, tidak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak.
Semalam Ia melihat sisi lain dari Arsen. Sisi yang marah, yang kacau... yang jujur.
Tapi pagi ini-
Semua itu hilang. Digantikan oleh sikap dingin yang bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya.
"Iya, Pak," jawab Keira akhirnya pelan.
Arsen tidak merespon lagi. Ia langsung berbalik dan berjalan pergi memimpin timnya menuju arah sungai.
Tanpa menoleh. Tanpa ragu. Seolah tidak pernah ada percakapan tengah malam.
Seolah tidak pernah ada sentuhan. Seolah Keira tidak berarti apa-apa. Keira berdiri diam di tempatnya. Tangannya mengepal pelan.
hati. "Cepat banget berubah..." gumamnya dalam Matanya sempat memanas, tapi ia tahan. Ia menarik napas dalam, mencoba menguatkan diri.
"Bagus," bisiknya pelan. "Kalau memang maunya seperti ini... ya sudah."
Pencarian terus berlanjut sejak pagi, semua orang menyisir sepanjang aliran sungai dengan penuh kehati-hatian.
Suasana masih tegang, tidak ada yang benar-benar santai sejak kejadian kemarin. Nama Dafa terus dipanggil, harapan masih ada, meski mulai dibayangi rasa takut.
Keira berada tidak jauh dari tepian, berusaha membantu semampunya meskipun pikirannya tidak benar-benar fokus.
Sesekali ia menatap ke arah Arsen yang berdiri di bagian lain, memberi arahan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Hatinya terasa aneh. Dingin. Seolah semua yang terjadi semalam... tidak berarti apa-apa.
Keira menarik napas pelan, lalu kembali melangkah di atas batuan yang licin.
Namun satu langkah-
Salah pijak. Kakinya tergelincir.
"Aaaah!"
Tubuhnya langsung jatuh ke dalam sungai. Air yang dingin menyambar tubuhnya, arus langsung menyeretnya cukup cepat.
"Keira!" teriak beberapa orang panik.
Keira mencoba menggapai sesuatu, tapi arus terlalu kuat, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Ia sempat melihat ke arah atas, Ke arah Arsen. Mata mereka bertemu sesaat.
Arsen melihat. Jelas. Tapi tubuhnya seperti terpaku. Dalam sepersekian detik itu, Ia tidak bergerak.
Dan detik berikutnya-
Cebur!
Kevin langsung melompat ke sungai tanpa ragu.
"Keira! Pegang aku!" teriaknya sambil berenang cepat melawan arus.
Keira yang mulai panik langsung meraih tangan Kevin sekuat tenaga. Kevin menariknya, berusaha menahan arus yang terus mendorong mereka, lalu perlahan membawa Keira ke tepian.
Beberapa mahasiswa membantu dari atas, menarik mereka hingga akhirnya berhasil naik.
Keira terbatuk-batuk, napasnya tidak teratur, tubuhnya gemetar hebat. Kevin langsung memegang bahunya. "Kamu gak apa-apa?"
Keira mengangguk lemah. "Makasih..."
Namun sebelum suasana sempat tenang- Langkah kaki terdengar mendekat.
Arsen. Wajahnya tegang, tapi bukan karena panik.
Lebih ke... emosi yang ditahan.
"Apa yang kamu lakukan?" ucapnya dingin.
Keira menoleh. Tatapannya kosong.
"Aku-"
"Saya sudah bilang jangan ke mana-mana kalau tidak perlu," potong Arsen keras. "Tapi kamu tetap saja bikin masalah."
Semua langsung diam. Keira menatap Arsen. Ada sesuatu yang berubah di matanya.
"Kamu lihat aku jatuh..." ucap Keira pelan.
"Dan kamu gak gerak," lanjut Keira berbisik.
suaranya mulai bergetar.
....
Like
Komen
Vote
Love you all