Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengosongan hama
Matahari pagi baru saja bersinar dari timur memancarkan sinar yang menyinari kompleks perumahan elite militer, namun ketenangan pagi itu seakan pecah oleh deru mesin-mesin berat.
Di depan gerbang besi kediaman keluarga Pramudia, suasana sudah sangat ramai dan menegangkan sejak subuh. Tiga truk kontainer besar berpenggerak roda ganda terparkir rapi di pinggir jalan menutup sebagian jalur utama kompleks. Di sekeliling truk-truk itu belasan pria bertubuh tegap dengan seragam hitam dengan lambang berjaga dengan sikap siaga, mereka adalah tim keamanan khusus dari Grup Angkasa pengawal elite yang dikomandoi langsung oleh dinasti Sanjaya.
Beberapa tetangga dari kalangan pejabat tinggi militer dan konglomerat Kamar Dagang tampak menggeser tirai jendela rumah mewah mereka. Bisik-bisik penuh pertanyaan mulai terdengar samar di antara para pelayan kompleks, semua orang sedang menyaksikan satu kenyataan tentang keruntuhan rumah Kolonel Bimo Pramudia yang selama ini terkenal angkuh.
Cekleeekkkk
Suara engsel pintu utama yang terdengar terbuka. Bimo Pramudia melangkah keluar lebih dulu. Wajahnya tampak pucat, kantung mata hitam hitam yang cukup tebal. Seragam dinas kolonelnya yang penuh lencana kehormatan tidak lagi melekat di tubuhnya pakaian itu telah disita secara resmi oleh divisi khusus militer atas perintah Jenderal Arya.
Di belakang Bimo Dewi berjalan sambil memeluk erat sebuah tas koper besar berisi sisa-sisa perhiasannya yang gagal disita, air matanya kini mengalir deras.
Sementara itu, Jesika mengekor paling belakang. Gadis yang biasanya tampil dengan gaun dan rok pendek itu kini hanya mengenakan pakaian kasual yang kusut. Kepalanya tertunduk dan kakinya mendadak lemas tanpa ada lagi sisa keberanian untuk melotot.
"Nona Ana seluruh area bangunan utama mulai dari lantai satu hingga paviliun atas sudah bersih dari barang-barang pribadi mereka," lapor seorang komandan keamanan melangkah maju dan membungkuk hormat dengan sangat dalam di hadapan seorang gadis yang berdiri di teras rumah.
Ana Pramudia berdiri dengan melipat kedua tangan di dada. Pagi ini ia tampil sangat gembira, sepasang matanya yang hitam menatap datar ke arah Bimo, Dewi dan Jesika yang kini berdiri di halaman depan yang gersang,
Keluarga ini telah memilih untuk menjadi musuhnya sejak hari di mana tubuh lemah Ana dilemparkan ke dasar jurang Gunung Arunika.
"Papa tidak pernah mengira," Bimo menghentikan langkahnya di anak tangga atas teras, menatap Ana dengan sorot mata yang dipenuhi oleh perpaduan antara kebencian. "Anakku kandungku sendiri anak perempuan yang dulu selalu tunduk, lemah, penurut dan tidak bisa apa-apa ternyata adalah seekor ulat berbisa yang tega menendang ayahnya sendiri ke jalanan hanya demi menguasai harta warisan."
Ana perlahan menurunkan lipatan tangannya, lalu menenggelamkan kedua jemarinya ke dalam saku celananya. bibirnya sedikit terangkat.
"Jangan menggunakan kata Anak kandung untuk menutupi fakta bahwa Papa hampir meledakkan kepalaku dengan sebutir peluru di meja makan minggu lalu mantan Kolonel Bimo," sahut Ana. "Ular berbisa di rumah ini bukan aku pa melainkan dua wanita di belakangmu itu.
Mereka yang sudah Papa pelihara dengan cara mengorbankan seluruh hak, kebahagiaan dan warisan murni dari mendiang ibuku."
Dewi yang tidak tahan lagi melihat koper-koper pakaian mereka dilempar secara kasar oleh para pengawal ke dalam bak truk pengangkut langsung berteriak histeris melepaskan seluruh kontrol dirinya.
"Ana! Kamu monster kejam tidak tahu diri! Kamu tidak akan pernah hidup tenang setelah menyiksa orang tuamu seperti ini! Karma Kekaisaran pasti akan membalas semua perbuatan pada kami! Kamu akan mati mengenaskan!"
"Karma?" Ana terkekeh sebuah suara tawa pendek yang terdengar sangat hambar namun menusuk.
"Aku adalah karma itu sendiri bagi kalian. Bersyukurlah karena di dunia baru ini aku masih membiarkan kalian bertiga berjalan keluar dari gerbang ini dengan kepala yang masih menempel di leher."
Bruuummmmm! Bruuummmmm!
Suara lengkingan mesin mobil sport yang sangat familier mendadak memotong perdebatan itu dari arah luar pagar besi kompleks. Sebuah Mazda merah menyala melaju cepat, berbelok tajam dengan manuver ekstrim, dan berhenti tepat di tengah halaman depan yang berdebu.
Pintu pengemudi terbuka dan Adrian Sanjaya turun dari balik kemudi.. Adrian melangkah maju, ia berjalan lurus menghampiri Ana di teras sama sekali tidak melirik atau memedulikan kehadiran Bimo dan keluarganya yang sedang menderita.
"Selamat pagi Pemilik Rumah Baru," sapa Adrian dengan senyumannya. Pria itu merogoh saku jaketnya lalu menyerahkan sebuah draf dokumen baru yang baru saja diambil dari tangan Luki asisten pribadinya yang buru-buru menyusul di belakang.
"Ini dokumen perizinan renovasi dan rekonstruksi total untuk seluruh area gedung ini dari Kamar Dagang pusat," lanjut Adrian dengan santai.
"Aku sudah menyewa tim arsitek dan desainer interior terbaik di ibu kota untuk merombak total seluruh arsitektur dan desain pilihan istri barumu dulu. Kita ganti semuanya agar sesuai dengan seleramu yang tegas."
Ana menerima dokumen tersebut, membuka lembarannya sekilas sebelum kembali menatap Adrian dengan dahi berkerut. "Kamu ini cepat banget ya kalau urusan mencium bau keributan dan panggung balas dendam tuan Sanjaya."
"Tentu saja," Adrian terkekeh lalu menoleh sedikit ke arah Bimo dan Dewi yang berdiri membeku dengan wajah merah padam menahan malu di depan para pengawal. Tatapan Adrian seketika berubah menjadi sangat dingin dan penuh penghinaan. "Luki pastikan truk-truk pengangkut itu segera membawa barang-barang sampah ini ke distrik pinggiran kota yang paling kumuh. Aku tidak mau udara di sekitar kediaman calon pengantinku terus-menerus dikotori oleh sisa mereka."
"Baik Tuan Muda! Segera kami laksanakan!" Luki memberikan isyarat tegas dengan tangannya. Puluhan pengawal berbaju hitam langsung bergerak merapatkan barisan, menggiring Bimo, Dewi dan Jesika melewati gerbang luar tanpa ada toleransi atau waktu tambahan sedetik pun.
Bimo menggertakkan giginya kuat-kuat hingga terdengar berbunyi Namun, melihat puluhan senjata tersembunyi di balik baju para pengawal Angkasa serta menyadari bahwa pengaruh Adrian terlalu besar untuk dilawan, mantan perwira Kekaisaran itu akhirnya terpaksa membalikkan badan. Dengan langkah kaki yang terasa teramat berat, ia memimpin istri dan anak tirinya berjalan menjauh, meninggalkan rumah mewah penuh kenangan palsu yang kini telah resmi hilang dari genggaman mereka selamanya.
Setelah seluruh truk bergerak pergi dan pintu gerbang besi hitam ditutup rapat serta dikunci otomatis dari dalam, suasana halaman depan kembali ke dalam kesunyian yang tenang.
Adrian memperbaiki posisinya, menyandarkan bahu pada pilar marmer teras, lalu menatap ke ara samping wajah Ana yang tampak tenang di bawah sorot matahari pagi.
"Urusan rumah dan sampah di sekitarmu sudah bersih total Ana Pramudia. Jadi bagaimana dengan janji taruhan yang kita sepakati di lapangan tembak sekolah kemarin?"
Ana melirik Adrian dari sudut matanya. "Taruhan apa maksudmu?"
Adrian condong ke depan, memperkecil jarak di antara mereka. "Jadwal latihan pertamamu sebagai Instruktur Taktis Kehormatan di markas militer pusat akan dimulai besok pagi pukul enam tepat," bisik Adrian dengan senyuman miring yang penuh teka-teki.
"Dan sebagai penyokong dana tunggal untuk divisi khusus bentukan Jenderal Arya aku sendiri yang sudah mendaftarkan diri untuk menjadi murid pertamamu di barisan paling depan."
Mendengar kalimat itu, sudut bibir Ana perlahan terangkat tipis.
"Menjadi muridku di barisan depan?" Ana menatap langsung mata Adrian dengan tajam
"Bersiaplah Adrian Sanjaya. Di bawah didikanku, aku tidak akan mengenali status tuan mudamu. Perisai kebanggaan yang selalu kamu pamerkan itu akan aku uji dan aku hancurkan sampai ke titik paling batas."
Adrian justru tertawa lepas, sebuah tawa penuh gairah berburu yang semakin membara di dadanya. "Aku tidak sabar untuk melihatnya Panglimaku."