NovelToon NovelToon
Pengantin Dalam Kegelapan

Pengantin Dalam Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Pengantin Pengganti / Perjodohan / Roman-Angst Mafia / Mafia
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.

Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.

Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Sang Viper

Sudah hampir satu minggu penuh Lucian meninggalkan mansion untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.

Sore itu, Celeste tengah berbaring tengkurap di atas ranjang king-size-nya. Kakinya terayun-ayun kecil di udara sembari jemarinya sibuk mengetik balasan pesan di ponselnya, bertukar kabar dengan sahabat setianya, Roxy.

[Roxy: Hei, Este! Jangan bilang kamu cuma mendekam di kandang macan itu seharian? Bosan banget pasti!]

[Celeste: Lumayan bosan sih, Roxy. Rumah ini besar banget tapi sepi kalau nggak ada kegiatan.]

[Roxy: Nah, pas banget! Nanti malam ada pertandingan besar di pusat kota. Sponsornya orang-orang hebat, suasananya dijamin pecah! Ikut aku ya, jangan bilang nggak mau. Kamu butuh udara segar, perempuan rumahan!]

Celeste terdiam sejenak, menatap layar ponselnya sambil menggigit bibir bawahnya. Sejak menikah dan tinggal di kediaman St. Claire, dia jarang keluar malam.

[Celeste: Baiklah, aku ikut. Jemput aku ya.]

[Roxy: Asyik! Siap-siap sekarang. Nanti matahari benar-benar terbenam, aku meluncur ke sana!]

Mendapat lampu hijau, Celeste langsung bergegas mandi dan bersiap. Ia memilih mengenakan pakaian serba hitam, celana kulit ketat, kaus hitam polos, dipadukan dengan jaket kulit senada, serta rambut panjangnya yang dicepol tinggi mempertegas kesan garang namun tetap memesona.

Begitu ia membuka pintu kamar, Mei sudah berdiri dengan posisi siaga, menunduk hormat. "Nyonya, apa Anda tidak ingin menikmati makan malam terlebih dahulu sebelum keluar?" tanya Mei sopan.

Celeste menggeleng pelan seraya berjalan melewatinya. "Tidak perlu, Mei. Aku akan makan malam di luar bersama sahabatku. Tolong katakan pada yang lain agar tidak perlu menyiapkan makanan untukku."

Saat menuruni tangga utama, Celeste berpapasan dengan Butler Jiro yang tengah memeriksa kebersihan vas kristal di lobi. Pria paruh baya itu langsung membungkuk khidmat.

"Selamat sore menjelang malam, Nyonya Muda. Anda tampak bersiap untuk keluar," sapa Jiro dengan nada santunnya yang khas.

"Iya, Paman. Aku ada janji sebentar dengan sahabatku di luar," jawab Celeste ramah, menghentikan langkahnya sejenak.

Butler Jiro mengangkat sedikit wajahnya, menatap penampilan Celeste dari ujung rambut hingga sepatu bot hitamnya dengan tatapan menyelidik yang penuh perhatian. "Maafkan kelancangan saya, Nyonya Muda... tapi apakah Tuan Muda Lucian sudah mengetahui rencana kepergian Anda ini? Mengingat beliau sedang dalam perjalanan bisnis, beliau berpesan agar keamanan Anda di luar tetap menjadi prioritas utama."

Celeste tersenyum canggung, berusaha menenangkan kekhawatiran sang kepala pelayan. Butler Jiro benar, setiap keluar malam, beberapa suruhan suaminya selalu menjaganya dari jauh.

"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya pergi menemui sahabat perempuanku, kok. Tempatnya tidak jauh, dan kami hanya ingin melepas penat sebentar. Dia pasti mengizinkan saya." Walaupun ia tahu orang-orang suruhan suaminya tetap ada di kejauhan.

Butler Jiro mengangguk pelan, meski guratan kerut di keningnya menyiratkan sisa-sisa keraguan. "Baiklah jika itu keputusan Anda, Nyonya. Izinkan saya menyiapkan beberapa pengawal pribadi untuk mengawal perjalanan Anda secara diam-diam demi keselamatan."

"Eh, jangan!" cegah Celeste cepat dengan nada memohon. "Kalau aku dikawal banyak pria berjas hitam, temanku malah ketakutan dan acaranya jadi batal. Kumohon, biarkan aku pergi sendiri kali ini, ya? Aku berjanji tidak akan pulang terlalu larut."

Mendengar permohonan tulus dari sang nyonya muda, Jiro akhirnya menghela napas pasrah seraya mengulum senyum tipis. "Baiklah, Nyonya Muda. Saya akan menuruti permintaan Anda. Namun, jika terjadi sesuatu di luar sana, mohon segera hubungi pihak mansion."

"Terima kasih banyak, Paman. Paman memang yang paling pengertian," ujar Celeste lega.

Tak lama kemudian, seorang pengawal berbadan tegap datang melangkah masuk ke area lobi dengan penuh hormat. "Nyonya Muda, seseorang sedang mencari Anda di gerbang depan."

"Ah, itu pasti sahabatku," sahut Celeste tersenyum antusias. Sebelum melangkah pergi, ia berpesan pada Jiro dan pengawal di dekatnya, "Oh ya, tolong jangan menungguku pulang. Kebiasaanku... aku biasanya baru akan pulang sebelum subuh."

Mendengar ucapan itu, Butler Jiro dan pengawal di dekatnya sempat saling melirik sesaat, memendam rasa heran yang mendalam terhadap kebiasaan istri tuan muda mereka, namun mereka tetap memilih diam dan mengangguk patuh. Jika tuan muda mereka tidak mempermasalahkannya, mereka juga akan melakukan hal yang sama.

Sesampainya di gerbang, sambutan heboh langsung menyambut Celeste. Roxy yang sudah menunggunya di atas motor gede bermesin besar. Keluarga Roxy, yakni keluarga Ghaazy, memang terkenal sebagai klan yang seluruh anggotanya menguasai berbagai macam seni bela diri, termasuk Alister, adik bungsunya.

"Ya ampun, Este! Kangen banget!" teriak Roxy bersorak seraya melemparkan helm cadangan ke arah Celeste. "Naik, buruan! Kita buat kehebohan malam ini!"

Celeste tertawa lepas, mengenakan helmnya dan naik ke boncengan motor gede itu. Dalam hitungan detik, motor melesat membelah jalanan malam kota.

Tujuan mereka adalah sebuah bar eksklusif di lantai tujuh sebuah gedung pencakar langit, yang bagian dalamnya ternyata disulap menjadi club boxing bawah tanah yang megah dan penuh sesak oleh penonton antusias.

Suara musik bergemuruh, sorak-sorai penonton beradu dengan suara dentuman besi ring tinju. Celeste berdiri di tribun penonton, menikmati adrenalin yang mulai memompa di dalam darahnya. Namun, suasana makin memanas saat MC pertandingan dari atas panggung tiba-tiba meneriakkan sebuah nama lewat mikrofon.

"Dan sekarang... apakah petarung legendaris kita yang lama absen ada di sini? Sang penakluk tak terkalahkan... Viper!" teriak MC membakar penonton.

Mata sang MC tak sengaja menyapu ke arah tribun dan menangkap sosok Celeste. Sang MC membelalak senang. "Wah, wah! Lihat siapa yang datang! Viper kesayangan kita ada di tribun! Bagaimana kalau malam ini sang Viper naik ke ring dan bertarung?!"

Seluruh penonton langsung bersorak riuh meneriakkan nama Viper. Celeste, yang memang memiliki kemampuan tinju luar biasa dan pernah beberapa kali menorehkan kemenangan telak di tempat itu sebelum menikah, mendadak salah tingkah.

"Ayo, Este! Maju!" desak Roxy penuh semangat, mendorong tubuh Celeste ke arah tangga ring.

"Eh, tunggu dulu, Roxy! Aku sudah menikah! Bagaimana kalau orang-orang suruhan suamiku tahu aku ada di sini?!" protes Celeste panik.

Roxy memutar bola matanya malas. "Tenang saja, Bestie! Suamimu itu sedang sibuk melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri! Dia tidak akan pernah tahu. Ayolah, lepaskan jaketmu dan tunjukkan pada mereka siapa penguasa ring ini!"

Didorong oleh rasa bosan yang menumpuk dan desakan penonton, Celeste akhirnya luluh. Ia melemparkan jaket kulitnya ke pelukan Roxy, menyisakan tanktop hitam pas badan yang memperlihatkan otot lengan kencang dan postur tubuh atletisnya.

Celeste melangkah naik ke atas ring. Kehadirannya disambut oleh lautan tepuk tangan dan teriakan histeris dari para penonton yang mengenalnya.

Tiba-tiba, sang MC kembali bersuara dengan nada provokatif. "Berita luar biasa! Seorang sponsor misterius di kursi VVIP baru saja memasang taruhan sebesar 25 juta untuk kemenangan Viper malam ini! Taruhan terbesar dalam sejarah klub ini!"

Semua penonton tersentak kaget dan bersorak makin beringas. Celeste tertegun sejenak, namun jiwa kompetitifnya langsung terpancing. Ia mengenakan sarung tinju, memasang kuda-kuda, dan menghadapi lawannya, seorang petarung pria berbadan besar.

Bel tanda pertandingan berbunyi.

Celeste langsung mendominasi pertarungan. Gerakannya sangat lincah, menghindar dengan anggun lalu melayangkan pukulan hook dan jab telak yang membuat lawannya terhuyung-huyung mundur. Penonton semakin menggila.

Namun, di tengah fokusnya melancarkan serangan penutup, pandangan Celeste tanpa sengaja terlempar ke arah balkon VVIP di lantai atas, tempat di mana para petinggi dan sponsor duduk.

Jantung Celeste seketika berhenti berdetak.

Di balik temaram lampu VVIP atas sana, sesosok pria berjas gelap dengan aura dingin yang teramat mematikan berdiri tegak menatap lurus ke arah ring. Di sampingnya, Nathan berdiri dengan kepala tertunduk.

Bukankah dia masih di luar negeri?!

Sepasang mata tajam kelam milik suaminya, Lucian St. Claire, menatap tajam tepat ke matanya, memancarkan kemarahan sunyi yang siap meledak kapan saja. Namun, sudut bibir terangkat menampilkan seringai kecil.

Bugh!

Karena kehilangan fokus sedetik saja, Celeste gagal mengantisipasi gerakan lawan. Sebuah pukulan telak melayang keras mengenai wajahnya, membuat tubuh Celeste terpelanting jatuh tersungkur ke atas lantai ring.

Sial!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!