Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Giok putih
Rasa dingin yang menusuk dari giok itu berubah menjadi badai rasa sakit dalam sekejap.
Ye Chan terperanjat, merasakan seluruh sarafnya seolah ditarik paksa. Ia refleks mencoba mengalirkan sisa Qi di dalam tubuhnya untuk membendung serangan mendadak itu.
Namun, tindakan itu justru menjadi kesalahan fatal.
Begitu energi spiritualnya bergerak, benturan hebat terjadi di dalam dada, membuat rasa perihnya berlipat ganda. Napasnya tercekat, tersengal di udara kering ruangan tersegel itu.
Pandangannya mulai goyah, bergoyang bersama bayangan dinding batu yang mengabur.
Ia tidak bisa lagi merasakan lantai tempatnya bersimpuh. Suara napasnya sendiri pun lenyap, digantikan oleh keheningan yang mutlak dan dingin.
'Sial, apakah ini pusaka terkutuk?' gumamnya dalam hati, dilingkupi kepanikan yang sunyi.
Ia mencoba meraba dadanya, berniat mencengkeram giok itu dan melemparnya jauh-jauh. Namun, tangannya terasa kosong. Tidak ada benda fisik apa pun di permukaan kulitnya.
Giok itu telah menyatu sepenuhnya, menghilang tanpa meninggalkan jejak nyata.
Sebelum ia sempat memikirkan cara lain, kesadurannya runtuh sepenuhnya. Dunia di sekelilingnya padam, menyisakan kegelapan pekat yang menelan dirinya bulat-bulat.
***
Kelopak matanya terbuka perlahan, tetapi tidak ada cahaya yang menyambut.
Ye Chan berdiri di atas ketidakadaan. Tidak ada pijakan tanah yang keras di bawah kakinya, tidak ada pula bentangan langit biru atau bintang di atas kepalanya.
Hanya ada kegelapan mutlak yang membentang tanpa ujung ke segala arah.
Ia mencoba melangkahkan kaki ke depan, berjalan beberapa puluh tindak. Namun, pemandangan di sekitarnya tetap sama sekali tidak berubah, seolah ia hanya berjalan di tempat.
Langkahnya terhenti. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tampak samar dalam kegelapan itu.
"Ruang batin?" gumamnya pelan, menyuarakan keraguannya pada kesunyian sekitar.
Sesaat kemudian, ia langsung menggelengkan kepala.
Sangkaan itu tidak masuk akal. Ruang batin seorang kultivator seharusnya beresonansi dengan jiwa dan sisa energi spiritual miliknya sendiri.
Namun, di tempat asing ini, ia sama sekali tidak merasakan adanya tekanan spiritual ataupun aliran energi miliknya. Tempat ini terasa sepenuhnya mati dan terputus dari dunia luar.
Ketidakpastian ini membuat bulu kuduknya meremang. Di dunia kultivasi, berada di tempat yang tidak memiliki aturan jelas adalah resep terbaik untuk menemui ajal.
'Aku harus mencari tahu apa yang bisa kulakukan di sini,' pikirnya, mencoba mengendalikan kecemasan yang perlahan merayap.
Ingatannya tiba-tiba melayang pada sebutir batu kecil yang sempat tergeletak di dekat kakinya di ruang tersegel tadi.
Ye Chan memejamkan mata, memusatkan pikirannya sepenuhnya pada bentuk dan keberadaan batu tersebut. Ia membayangkan benda itu berpindah ke tempat ia berdiri sekarang.
Detik berikutnya, sebuah benda melayang jatuh dan mendarat tepat di hadapannya.
Itu adalah batu kecil yang sama.
Rasa heran menyelimuti benaknya. Ia kemudian mencoba memikirkan hal sebaliknya, berniat mengembalikan batu tersebut ke telapak tangan fisiknya di dunia nyata.
Batu itu lenyap seketika dari hadapannya.
Meskipun tubuh fisiknya masih pingsan di luar, ia bisa merasakan beban batu kecil itu kini berada di genggaman tangannya yang nyata.
Keberhasilan itu memicu rasa penasaran yang lebih besar. Ia mulai menguji berbagai benda lain yang tersimpan di dalam jubahnya.
Sepotong kayu lapuk, sisa ramuan obat kering, bekal makanan yang mengeras, hingga sisa bagian tubuh monster yang ia kumpulkan dari lembah. Satu per satu, benda-benda tersebut masuk dan keluar dari ruang gelap ini tanpa hambatan sedikit pun.
"Ruang penyimpanan," gumam Ye Chan, matanya berkilat di tengah kegelapan.
Ia memandangi hamparan hitam yang seolah tidak memiliki ujung di sekelilingnya.
"Dan aku bahkan tidak tahu batasnya."
Meskipun menemukan kegunaan yang luar biasa ini, ia tidak lantas merasa gembira. Baginya, semakin besar kekuatan suatu pusaka misterius, semakin besar pula bahaya yang mengintai di baliknya.
Pandangannya beralih pada cincin penyimpanan cadangan yang terpasang di jemarinya. Itu adalah satu-satunya harta berharga yang ia miliki setelah dikhianati oleh muridnya sendiri.
Sempat terlintas pikiran untuk memindahkan seluruh isi cincin tersebut ke dalam ruang kehampaan giok ini.
Namun, ia segera mengurungkan niat tersebut.
'Aku belum memahami asal-usul giok ini,' pikirnya dengan dahi berkerut ragu.
Jika benda misterius ini tiba-tiba bermasalah atau lenyap, seluruh perbekalan yang ia miliki untuk bertahan hidup akan ikut musnah tanpa sisa.
Cincin penyimpanan yang ia bawa, meskipun memiliki ruang terbatas dan kualitas rendah, adalah benda yang sudah sangat ia pahami cara kerjanya.
Memiliki dua tempat penyimpanan yang terpisah jauh lebih aman daripada mempertaruhkan semua barang berharganya pada satu benda asing yang belum jelas mekanismenya.
Pada akhirnya, ia hanya memindahkan sebagian kecil bahan obat yang tidak terlalu penting ke dalam ruang kehampaan giok.
Sisa barang penting lainnya tetap ia biarkan tersimpan aman di dalam cincin perak tersebut.
"Benda yang belum kupahami tidak boleh menjadi satu-satunya tempat penyimpananku," bisiknya, meyakinkan keputusannya sendiri.
Cincin itu juga bisa menjadi penyamaran yang sempurna.
Waktu terasa berjalan sangat lambat di dalam ruang hampa tersebut. Setelah beberapa saat mengamati sekeliling, Ye Chan merasakan ada sesuatu yang mulai berubah.
Meskipun tidak ada tanda-tanda keberadaan Qi alam yang biasa ia rasakan, kegelapan di sekitarnya perlahan-lahan tampak bergerak, bagaikan air tenang yang mendadak terusik.
Ia menyadari bahwa giok putih ini sedang menarik energi dalam jumlah sangat kecil dari dunia luar.
Aliran energi yang asing itu mengalir masuk ke dalam ruang hampa, tetapi tidak langsung merasuk ke dalam raganya.
Sebagian besar energi tersebut mengendap di sudut-sudut kegelapan, terkumpul dalam keheningan yang sunyi.
Namun, ada sebagian kecil yang merembes keluar, menyentuh bagian jiwanya yang paling dalam.
Ketika sisa energi itu bersentuhan dengan meridiannya yang rusak, rasa nyeri yang sejak tadi menyiksa tubuhnya perlahan-lahan mulai mereda, berganti dengan kehangatan tipis yang menenangkan.
Ye Chan mencoba mencerna fenomena yang baru saja terjadi.
Tampaknya, giok ini memiliki kemampuan untuk mengumpulkan dan menampung energi secara mandiri dari lingkungan sekitar.
Hanya saja, proses penarikan energi tersebut berjalan sangat lambat, hampir tidak terasa jika ia tidak memperhatikannya dengan saksama.
Energi yang terkumpul saat ini masih terlalu sedikit untuk bisa memperbaiki jalur meridian utamanya yang telah hancur total, apalagi memulihkan inti kultivasinya.
Namun, setidaknya, hal ini memberinya secercah harapan baru yang nyata.
Sentakan tiba-tiba membuat kesadaran Ye Chan terdorong keluar dari ruang hampa tersebut.
Ia membuka mata di dunia nyata, mendapati dirinya masih bersandar pada dinding batu yang dingin di dalam ruang tersegel.
Napasnya perlahan kembali teratur. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa kondisi bagian dalam tubuhnya sendiri.
Kerusakan di dalam dadanya masih sangat parah, dan pecahan inti kultivasinya masih berserakan tanpa bentuk di dalam dantian.
Namun, rasa sakit menusuk yang biasanya membuat tubuhnya gemetar kini terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Dengan sangat hati-hati, ia mencoba menarik sedikit Qi dari udara di sekitarnya.
Kali ini, energi spiritual yang masuk tidak langsung buyar dan memicu rasa perih yang hebat. Aliran Qi itu berhasil mengalir melewati beberapa simpul meridian yang rusak, bergerak sedikit lebih jauh sebelum akhirnya meredup di ujung jalur yang patah.
Ye Chan segera menghentikannya.
Ia tahu betul bahwa memaksakan aliran energi ini sekarang hanya akan merusak kembali kondisi tubuhnya yang baru saja sedikit membaik.
"Bukan pemulihan," gumamnya, menatap lurus ke arah kegelapan di depannya.
Ia mengepalkan jemarinya, merasakan sedikit kekuatan yang perlahan kembali ke otot-ototnya yang sempat melemah.
"Tapi setidaknya ... tubuhku masih bisa bergerak."
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin.
"Menarik."
Ia memusatkan pandangannya pada telapak tangan sendiri. Giok putih itu kini telah melebur sepenuhnya di dalam jiwa, meninggalkan keheningan misterius yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika kultivasi biasa.
Siapa yang menciptakan benda ini, dan mengapa benda tanpa aura spiritual sama sekali bisa memiliki ruang penyimpanan luar biasa di dalamnya?
Terlebih lagi, jenis energi yang ditarik oleh giok tersebut terasa sangat asing, sangat berbeda dari Qi alam fana yang biasa ia gunakan selama ini.
Ye Chan menyipitkan mata, menatap ke arah pusaran tak terlihat di dalam dirinya.
"Kau sebenarnya benda apa?" bisiknya lirih pada keheningan ruangan kuno itu.
Tentu saja, tidak ada jawaban yang terdengar. Hanya kesunyian dingin yang menyelimuti dirinya di tengah reruntuhan yang sunyi.
Namun, Ye Chan akhirnya bisa merasakan kembali aliran Qi yang mengalir tenang di dalam pembuluh darahnya.