Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.
"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.
"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona
"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.
"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Malamnya, hati Mirella berdegup kencang saat ia berdiri di depan pintu kamar Zavian, jantungnya berpacu cepat di antara rasa takut dan kebingungan. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, setidaknya menuruti ibunya, tapi kakinya terasa berat sekali untuk melangkah masuk.
Ia menengok ke kiri dan kanan, memastikan lorong itu kosong. Viona sedang sibuk di ruang bawah, dan pelayan pun sudah kembali ke tempat mereka di sayap rumah yang lain. Dengan tangan gemetar, ia memutar gagang pintu itu perlahan. Pintu itu tidak terkunci. Ia membukanya sedikit saja, cukup untuk tubuh kecilnya menyelinap masuk, lalu menutupnya kembali pelan-pelan hingga tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Kamar itu terasa luas dan gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu lorong yang menyelinap masuk melalui celah pintu. Ini kamarnya Zavian. Kamar yang sama dengan kamar yang semalam dia tidur di sana. Ibunya tidur di kamar lain. Aneh. Padahal mereka sudah suami istri.
Mirella menelan ludah, menatap sekeliling dengan napas tertahan. Di sudut ruangan itu ada sofa kecil, di sana lemari pakaian, dan di tepi tempat tidur tergeletak buku yang belum selesai dibaca. Zavian tidak ada di sana. Mungkin dia sedang di ruang kerjanya atau di kamar mandi lantai bawah.
Mata Mirella menyapu lantai di bawah tempat tidur. Ruang yang sempit dan agak gelap itu terasa seperti satu-satunya tempat persembunyian yang tersisa baginya. Ia berlutut perlahan, lalu merangkak masuk ke bawah tempat tidur itu, meringkuk sedekat mungkin dengan dinding, memeluk lututnya erat-erat di dalam kegelapan. Ia memang takut gelap, tapi kalau masih ada penerangan seperti ini, dia tidak begitu takut.
Mirella bersembunyi di bawah sana. Tanpa sepengetahuan daddy Zavian. Bundanya tidak akan tahu dia sembunyi di bawah sini, tidak akan mengirimnya ke Austria. Daddy Zavian juga tidak akan tahu. Besok pagi-pagi dia akan keluar sebelum pria itu bangun. Semuanya akan baik-baik saja.
Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu itu bohong. Ia tahu ini bukan solusi. Ia tahu ia hanya menunda-nunda perintah bundanya. Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia masih anak-anak. Ia belum pernah diajarkan cara menghadapi ibunya sendiri yang begitu kejam. Apalagi dari kecil dia sudah punya trauma itu dan terbiasa di rundung, yang membuatnya tidak bisa melawan.
Belum lama ia bersembunyi, pintu terbuka. Langkah kaki terdengar masuk, diikuti bunyi pintu yang tertutup rapat dan dikunci. Cahaya lampu menyala terang, membuat Mirella menutup matanya sebentar karena silau. Ia menahan napas, jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suaranya akan terdengar. Jangan sampai ketahuan dia bersembunyi di bawah sini.
Zavian masuk ke dalam kamar, meletakkan jam tangan dan ponselnya di meja samping tempat tidur. Ia terlihat lelah, namun langkahnya tetap tenang. Ia melepas kemejanya, menggantinya dengan pakaian tidur sederhana. Mirella dapat melihat apa yang dilakukan lelaki itu dari bawah kolong tempat tidur.
Dan tepat saat Zavian melucuti celananya, Mirella cepat-cepat menutup mata. Astaga, kenapa gak ganti pakaian di kamar mandi aja sih? Tapi ini kan kamarnya, suka-suka si daddy sih.
Pipi Mirella terasa panas membara. Dia memejamkan mata rapat-rapat, berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat, berdoa dalam hati agar pria itu segera selesai dan mengenakan celana tidurnya. Napasnya tertahan di tenggorokan, tubuhnya kaku di bawah sana, berharap dia tidak akan tercium, tidak akan terdengar, tidak akan ketahuan sama sekali.
Rasanya waktu berjalan lama sekali, lalu terdengar bunyi kain yang bergeser. Mirella perlahan membuka satu matanya sedikit, lalu menghela napas lega, Zavian sudah mengenakan celana tidurnya. Dia duduk di tepi kasur, memijat pelipisnya yang terasa tegang. Wajahnya terlihat lelah sekali, namun ada ketenangan yang terpancar dari dirinya.
Mirella menahan napas lagi. Jantungnya berdegup kencang sekali, masih takut ketahuan. Dia berjanji pada dirinya sendiri, dia hanya akan diam di sana semalaman, besok pagi sebelum matahari terbit dia akan menyelinap keluar, dan semuanya akan baik-baik saja. Bundanya akan melihat dia masuk ke kamar ini, jadi dia tidak akan dikirim ke Austria. Daddy Zavian tidak akan tahu dia ada di sini. Semuanya sempurna. Atau setidaknya, begitu pikirnya.
Zavian berdiri, berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan, menuangkan segelas air putih. Dia meminumnya perlahan, lalu berbalik dan menatap ke arah kasur. Tiba-tiba dia berhenti bergerak. Matanya menatap lurus ke arah bawah tepi tidur, tepat ke arah sepasang mata yang terbelalak menatapnya dari kegelapan.
Jantung Mirella seakan berhenti berdetak. Dia ketahuan. Dia benar-benar ketahuan.
Zavian tidak berteriak. Dia tidak terlihat marah. Dia hanya menghela napas panjang, lalu berjalan perlahan mendekat, berlutut di tepi tempat tidur sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Mirella yang masih meringkuk gemetar di bawah sana.
"Apa yang kau lakukan di dalam sana, Mirella?"
Suara berat itu membuat Mirella ingin menghilang dari kamar ini sekarang juga. Dia tertangkap basah. Ya ampun, bagaimana ini? Bagaimana kalau pria itu marah padanya karena masuk sembarangan. Lihat saja raut wajahnya yang datar sekali itu.
"Keluarlah, kau akan kesemutan kalau terlalu lama di dalam sana. Ayo,"
Zavian mengulurkan tangannya untuk membantu gadis mungil itu keluar dari dalam sana. Tangan kecil Mirella bergetar hebat saat menyentuh telapak tangan hangat itu. Dengan ragu-ragu, ia merangkak keluar perlahan, menunduk dalam seakan lantai di kakinya jauh lebih menarik untuk dilihat daripada mata pria itu. Saat ia berdiri tegak, tangannya meremas ujung gaun tidurnya dengan cemas.
"Bundamu yang menyuruhmu ke sini?" Zavian bertanya.
Mirella menganggukkan kepala lalu menunduk lagi.
"Dia mengancammu?"
Kali ini Mirella tidak menjawab. Zavian menghembuskan nafas kesal lalu berkacak pinggang. Wanita itu memang tidak ada habis-habisnya. Ia lalu menyentuh bahu Mirella dengan badan menunduk karena jarak tinggi mereka cukup jauh. Mirella hanya mencapai bahunya.
"Dengar baik-baik, Mirella. Kau tidak perlu mengikuti semua perintah bundamu. Dia itu sudah tidak waras. Kau masih kecil, yang perlu kau lakukan sekarang adalah sekolah dengan benar dan menata masa depanmu."
Benar. Memang itu yang selalu dia pikirkan. Tapi, bundanya selalu mampu membuat pikirannya kacau. Semua ancaman wanita itu tidak mampu di lawan olehnya.
"Daddy, aku boleh tidur di sini malam ini? Aku takut bunda ..." kali ini Mirella mengangkat wajah menatap Zavian dengan tatapan memelas.
Melihat itu, Zavian juga jadi tidak tega. Walau dia selalu tidak peduli dengan perempuan dan kadang tega, tapi Mirella ini beda. Bukan wanita-wanita yang sengaja mau menggodanya karena ada maunya. Masih terlalu polos juga.
"Baiklah. Tidurlah di kasur. Aku akan tidur di sofa."
"So-sofa?"
Zavian terkekeh.
"Kenapa, kau ingin aku tidur di kasur dan membuat bundamu senang? Jangan harap. Kau itu masih anak-anak. Aku tidak pernah menyentuh anak-anak. Pergi sana. Sudah jam 9, waktunya tidur untuk gadis remaja sepertimu." ia mendorong lembut tubuh Mirella ke arah kasur lalu duduk di sofa, meraih buku di meja sofa dan fokus membaca.
Sementara Mirella, menggigit bibirnya lirih.
Masih anak-anak? Tapi dadanya sudah tumbuh. Dia sudah 18 tahun.
daddy zavian sayang sama mirella sangat tulus dan ikhlas, tapi penasaran mirella jadian sama siapa ya daddy zavian/bara ya...
apa ada yang sabotase ...