NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Bab — Membangun Kembali Kepercayaan

Sepekan setelah penangkapan Paman Surya, istana Wanunggalih masih sibuk membenahi diri. Proses interogasi mengungkap jaringan loyalis yang lebih luas dari dugaan awal—tujuh pejabat tingkat menengah, tiga pengawal senior, bahkan satu anggota dewan yang selama ini dikenal pendiam namun ternyata menjadi mata-mata setia selama bertahun-tahun.

Rania duduk di ruang dewan untuk kedua kalinya, namun kali ini suasananya jauh berbeda dari pertemuan penuh kecurigaan sebelumnya.

"Berdasarkan hasil investigasi menyeluruh," Raja berkata, suaranya tegas di hadapan dewan yang kini duduk dengan sikap jauh lebih rendah hati, "terbukti bahwa kerja sama antara Putri Wening dan Raden Ji Aryasatya bukan hanya membantu mengungkap pengkhianatan Pangeran Mukti, tetapi juga menyelamatkan kerajaan ini dari ancaman yang jauh lebih besar."

Tuan Baskara, bangsawan yang paling vokal mempertanyakan Rania beberapa hari lalu, kini berdiri dengan wajah menunduk, kikuk.

"Yang Mulia," katanya, suaranya jauh lebih rendah hati dari sebelumnya, "atas nama dewan, kami ingin menyampaikan permintaan maaf pada Putri Wening dan Raden Aryasatya. Kecurigaan kami terhadap aliansi kalian terbukti tidak berdasar."

Rania menatapnya, tidak merasakan kepuasan tertentu dari permintaan maaf itu—hanya kelegaan bahwa setidaknya kebenaran akhirnya diakui secara resmi.

"Saya ngerti kenapa kalian curiga," katanya, memilih untuk bersikap pengertian daripada menyimpan dendam. "Ketakutan itu wajar, apalagi setelah skandal besar kayak gini. Tapi ke depannya, semoga kita bisa lebih percaya proses daripada asumsi."

Tuan Baskara mengangguk dalam, dan beberapa bangsawan lain yang sebelumnya diam-diam mendukungnya kini juga menundukkan kepala, mengakui kesalahan kolektif mereka.

Aryasatya, yang duduk di samping Rania sebagai perwakilan resmi Arkapura dalam pertemuan ini, akhirnya bersuara.

"Yang Mulia," katanya pada Raja, "mengingat semua yang terjadi, aku ingin mengusulkan sesuatu yang lebih formal untuk memperkuat hubungan kedua kerajaan kita ke depan."

"Usulan apa, Raden?" tanya Raja, penasaran.

"Perjanjian kerja sama keamanan," jawab Aryasatya. "Pertukaran informasi intelijen secara berkala, patroli bersama di wilayah perbatasan, dan yang terpenting—komisi independen yang terdiri dari perwakilan kedua kerajaan untuk menginvestigasi klaim-klaim sejarah yang belum terselesaikan, termasuk insiden kapal dagang yang hilang itu."

Raja menatapnya lama, mempertimbangkan usulan itu dengan serius. "Itu usulan yang berani, Raden. Tapi juga bijaksana."

"Ini juga akan membantu memulihkan nama desa Cilangkap sepenuhnya," tambah Rania, "dan memastikan hal kayak gini nggak terulang lagi di masa depan."

Setelah diskusi panjang yang berlangsung hingga sore, dewan akhirnya menyetujui usulan tersebut dengan suara bulat—sebuah kemajuan besar dari ketegangan yang hampir memecah belah kedua kerajaan hanya beberapa hari sebelumnya.

***

Malam harinya, sebuah perayaan kecil diadakan di taman istana untuk merayakan keberhasilan mengungkap pengkhianatan sekaligus penandatanganan perjanjian baru antara Wanunggalih dan Arkapura. Lentera-lentera kecil digantung di antara pepohonan, musik lembut mengalun dari sudut taman, dan para tamu—campuran bangsawan dari kedua kerajaan—berbincang dengan suasana yang jauh lebih hangat dari sebelumnya.

Rania berdiri di tepi taman, menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Nyonya Ratih, yang kini dibebaskan dari segala tuduhan setelah kesaksiannya membantu mengungkap jaringan Paman Surya sepenuhnya, berdiri tidak jauh darinya, mengenakan gaun sederhana namun elegan, terlihat jauh lebih tenang dari yang pernah Rania lihat.

"Bibi," Rania mendekat, "gimana rasanya? Akhirnya bebas dari semua ini?"

Ratih tersenyum tipis, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. "Aneh," jawabnya jujur. "Setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah dan dendam, rasanya seperti... aku bisa bernapas lagi untuk pertama kalinya."

"Apa rencana Bibi selanjutnya?"

"Aku berencana mendirikan yayasan kecil," jawab Ratih, "untuk membantu keluarga-keluarga di Cilangkap yang kehilangan penghasilan akibat tuduhan palsu bertahun-tahun lalu. Sebuah cara untuk menebus kesalahanku sendiri."

Rania tersenyum mendengarnya, merasa bangga melihat transformasi wanita yang dulu begitu ia curigai, kini menjadi seseorang yang berusaha memperbaiki dunia dengan caranya sendiri.

Sari, yang sejak tadi berdiri tidak jauh sambil membawa dua gelas minuman, akhirnya mendekat dan menyerahkan salah satunya pada Rania.

"Putri," katanya, tersenyum lebar, "saya bikin ini khusus. Resep baru."

Rania menerima gelas itu, mengerutkan kening penasaran. "Resep apa?"

"Cendol," jawab Sari bangga, "tapi dicampur sedikit rempah ala perayaan. Saya belajar dari resep-resep yang Putri ajarin selama ini."

Rania mencicipinya, dan untuk sesaat, rasa manis bercampur rempah yang hangat membawanya kembali ke kenangan sederhana berjualan di pasar—jauh sebelum semua kekacauan ini dimulai.

"Enak banget, Sari," katanya tulus. "Kamu udah jadi barista handal."

Sari tertawa bahagia, pipinya merona karena pujian itu.

Di seberang taman, Aryasatya sedang berbincang dengan Raja dan beberapa pejabat Arkapura, namun matanya sesekali mencuri pandang ke arah Rania, senyum tipis muncul setiap kali pandangan mereka bertemu.

Setelah percakapan formalnya selesai, ia akhirnya mendekat, membawa dua gelas minuman lain.

"Kudengar kau sudah mencoba kreasi baru Sari," katanya, tersenyum melihat gelas di tangan Rania.

"Enak banget," Rania mengangguk. "Kamu harus coba."

Mereka berdiri berdampingan, menatap perayaan kecil yang berlangsung di taman—bukti nyata bahwa dari kekacauan dan pengkhianatan, sesuatu yang lebih baik bisa tumbuh.

"Kita berhasil," gumam Aryasatya pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk didengar Rania. "Setelah semua ini, kita benar-benar berhasil."

Rania menatapnya, hatinya dipenuhi kehangatan yang sulit dijelaskan. "Berkat kerja sama kita," katanya. "Bukan cuma aku atau kamu sendirian."

Aryasatya mengangguk, menatapnya lama dengan ekspresi yang penuh makna. "Dan aku berharap," katanya pelan, "kerja sama ini—dan segala hal lain di antara kita—bisa terus berlanjut, selama mungkin yang kita bisa."

Rania merasakan jantungnya berdegup dengan cara yang berbeda, menyadari makna tersembunyi di balik kata-kata itu. Namun di tengah kebahagiaan malam itu, ia memilih untuk tidak memikirkan terlalu jauh soal ketidakpastian yang masih menanti—untuk sekarang, ia hanya ingin menikmati momen ini, bersama orang-orang yang telah menjadi bagian penting dari hidupnya di dunia yang asalnya begitu asing ini.

Di langit malam Wanunggalih, bintang-bintang bersinar terang, menyaksikan diam-diam sebuah fase baru yang dimulai—bukan hanya untuk kedua kerajaan yang akhirnya belajar saling percaya, tetapi juga untuk seorang gadis yang masih mencari jawaban atas pertanyaan terbesar dalam hidupnya: di mana sebenarnya ia berada, dan ke mana ia akan pergi selanjutnya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!