Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesetanan dan Terbukanya Kartu As
Suasana di dalam gudang tua pelabuhan terasa sehening makam. Bau karat besi dan hempasan gelombang laut di luar memperjelas detak jantung Elara yang berpacu liar. Moncong senjata api hitam mengilat yang menempel tepat di pelipis Paman Kusuma membuat posisi Arka terkunci. Selangkah saja Arka atau Bagas maju, pemicu pistol itu akan ditarik tanpa ragu.
Tuan Mahendra mengikis jarak seraya mengacungkan tongkat kayunya ke dada Arka. "Serahkan map saham itu sekarang, Arka! Jangan biarkan ego CEO-mu ini menumbalkan nyawa orang yang sudah membesarkanmu."
Arka bergeming, matanya berkilat memancarkan aura yang luar biasa dingin. Namun, tepat sebelum Arka menyerahkan folder di tangannya, Elara yang berada di belakang tubuh suaminya mengambil keputusan nekat.
"Ini saatnya jimat keberuntungan beraksi!" batin Elara mantap.
Tiba-tiba, Elara mengerang sangat keras. Tubuhnya bergetar hebat, matanya membelalak ke atas hingga memperlihatkan bagian putihnya, lalu ia ambruk ke lantai semen sambil menghentak-hentakkan kakinya secara brutal.
"AARRGHHH! PANAS! PERGI KALIAN DARI RUMAH SAYA!" jerit Elara dengan suara yang dibuat serak, berat, dan melengking. "SIAPA YANG BERANI GANGGU CUCU SAYA DI KAWASAN INI, HAH?!"
Seruan histeris dan aksi teaterikal Elara yang luar biasa, mendadak membuat seluruh perhatian di dalam gudang terpecah. Tuan Mahendra membelalak kaget, sementara pria bersenjata yang menodong Paman Kusuma refleks menoleh karena terkejut setengah mati.
"A-apa-apaan gadis itu?!" teriak Tuan Mahendra panik, sambil mundur dua langkah. "Dia kesetanan?!"
Momen pengalihan perhatian sejuta detik itu tidak disia-siakan oleh orang-orang terlatih.
Bagas bergerak secepat kilat. Dalam satu lompatan mematikan, dia menghantam pergelangan tangan pria bersenjata itu hingga pistolnya terlempar ke udara. Lanjut menyiku rahang penjahat itu hingga ambruk seketika. Di saat yang sama, Arka melesat maju membanting dua pengawal Tuan Mahendra dengan gerakan self-defense tingkat tinggi yang presisi. Pak Hendra menyergap satu pengawal tersisa dan menguncinya di tanah.
Pertarungan jarak dekat meletus selama tiga puluh detik yang mendebarkan. Erangan kesakitan para pengawal Tuan Mahendra bergema di seluruh sudut gudang, saat mereka bertumbangan satu per satu di atas tanah berdebu.
Tuan Mahendra gemetar hebat. Tongkat kayunya terlepas dari genggaman saat dia menyadari seluruh pengawalnya telah dilumpuhkan. Pria tambun itu mencoba berlari ke arah pintu keluar, namun langkahnya terhenti kaku, ketika Bagas dan Pak Hendra menghadangnya dengan tatapan mematikan.
Arka melangkah mendekat, melepaskan ikatan tali di tubuh Paman Kusuma dengan tenang. "Paman tidak apa-apa?"
Paman Kusuma terkekeh pelan seraya memegangi bahunya yang lebam. Matanya menatap Arka lalu beralih pada Elara, yang saat ini sudah kembali berdiri tegak seraya menepuk-nepuk celana jinsnya yang berdebu.
"Paman baik-baik saja, Arka. Lagipula, sandiwara istri kamu ini sangat luar biasa menghibur," tutur Paman Kusuma dengan senyum hangat.
Elara tersenyum lebar tanpa rasa malu sedikit pun, memamerkan deretan giginya. "Hehehe! Kan, Ara udah bilang, Mas. Ara itu jimat keberuntungan multifungsi. Akting kesetanan Ara dapat nilai sepuluh dari sepuluh, kan?"
Arka hanya bisa merengkuh pinggang Elara, menarik gadis itu mendekat, lalu menepuk pelan puncak kepalanya dengan helaan napas yang sangat lega. "Kamu ini bener-bener nekat, Elara. Tapi, terima kasih, ya, Sayang."
Tuan Mahendra yang tersudut berteriak murka dengan raut wajah merah padam. "Jangan senang dulu, kalian! Walaupun kalian bisa mengalahkan orang-orangku di sini, aku punya bukti transfer dan dokumen tandingan yang sudah kuserahkan ke pihak kepolisian! Kalian tidak akan pernah bisa menguasai Valora!"
Paman Kusuma merapikan jasnya yang kusut, lalu melangkah maju berhadapan dengan Tuan Mahendra. Sosok pelindung senior Valora Group itu mengulum senyum tipis yang sarat akan kemenangan.
"Kamu terlalu percaya diri, Mahendra," ujar Paman Kusuma santai. Dari balik saku kemeja dalamnya, Paman Kusuma mengeluarkan sebuah alat perekam digital kecil yang lampu indikator merahnya masih menyala. "Sejak awal kamu menculik saya, seluruh percakapanmu mengenai niat memeras saham Elara, menyuap Broto, dan menggunakan cara kekerasan sudah terhubung langsung ke server markas besar kepolisian."
Tepat setelah ucapan Paman Kusuma berakhir, raungan sirene mobil polisi dan kendaraan taktis Polisi Perairan membahana di luar gudang. Puluhan petugas bersenjata lengkap melangkah masuk, mengepung gudang dan langsung memasang borgol di kedua pergelangan tangan Tuan Mahendra yang lemas tanpa daya.
"Mahendra, permainan keserakahanmu berakhir hari ini," ucap Arka dingin, saat melihat Tuan Mahendra diseret keluar oleh para petugas.
Satu jam kemudian, suasana pelabuhan tua kembali tenang. Angin laut berembus sepoi-sepoi membawa kesegaran pagi. Di dalam van hitam yang terparkir di tepi dermaga, Paman Kusuma duduk berhadapan dengan Arka, Elara, dan Pak Hendra.
Map dokumen waris berwarna cokelat yang selama ini menjadi rebutan dan sumber teror akhirnya diletakkan di atas meja kecil di tengah van.
"Dengan ditangkapnya Broto dan Mahendra, seluruh penguasaan aset Valora resmi bersih," ujar Pak Hendra dengan lega. "Elara, map ini berisi lima puluh persen kepemilikan saham pendiri atas namamu."
Elara menatap map itu dengan pandangan bercampur aduk. "Jadi, Ara beneran mendadak jadi cewek kaya raya nih, Pak? Bisa beli pabrik bakso beranak sendiri?"
Semua orang di dalam van terkekeh mendengar celotehan Elara. Namun, Paman Kusuma yang semula tersenyum perlahan mengubah raut wajahnya menjadi sangat serius. Pria paruh baya itu mengambil satu lembar kertas berstempel segel emas kuno dari balik saku jasnya.
"Ada satu hal lagi yang harus kalian ketahui. Sesuatu yang bahkan Broto dan Mahendra tidak pernah tahu," ucap Paman Kusuma dengan nada suara yang bergetar emosional.
Arka mengernyitkan dahi. "Maksud Paman apa?"
Paman Kusuma menatap Elara dan Arka bergantian. "Perjanjian pernikahan kalian berdua, ini bukan sekadar taktik perlindungan darurat yang atau keputusan mendadak yang kalian ambil secepat kilat."
Paman Kusuma menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Sebenarnya, rencana ini sudah dibuat oleh Pak Hendra dan almarhum Herman, sebagai amanat ikatan perjodohan resmi yang ditulis oleh Almarhum Kakek Arka dan Kakek Elara dua puluh tahun yang lalu."
Semua orang menyimak dengan seksama. Pak Hendra sendiri hanya mengangguk sesekali, membenarkan apa yang dikatakan oleh Paman Kusuma.
"Tidak disangka, takdir mengabulkan keinginan Kakek, bahkan sebelum rencana itu disampaikan oleh pembuatnya, Hendra dan Almarhum Herman," lanjutnya lagi.
Elara dan Arka seketika terhenyak kaku.
Paman Kusuma membuka lembaran berstempel emas itu dan menyerahkannya ke tengah meja. "Dan dalam surat klausul rahasia ini tercantum, siapa pun yang menjadi suami sah dari putri keturunan Hastuti dan Hendra, secara otomatis memegang hak kepemilikan penuh atas seluruh imperium bisnis Valora Group tanpa bisa diganggu gugat oleh siapa pun."
Paman Kusuma menatap mata Arka dengan tajam. "Artinya, Arka. Sejak awal, takdir takhta dan kepemimpinanmu di Valora, memang sudah sepenuhnya berada di tangan Elara."