Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Melihat senjata musuh mengarah ke kamar anak-anak, kilat amarah yang mematikan langsung menyala di mata Marco. Ia tidak bisa membiarkan darah anak-anak tak berdosa tumpah di tempat ini.
Dengan cepat, Marco melompat, lalu menembak dengan asal. Ia melemparkan pisau taktisnya ke udara sebagai umpan. Saat perhatian musuhnya itu teralih selama beberapa detik, Marco sudah meluncur di lantai.
Sapuan kaki Marco langsung mematahkan tumpuan berdiri Komandan lapangan. Belum sempat pria itu jatuh ke tanah, Marco merebut senapan otomatis dari tangannya, memutarnya dengan satu tangan, dan menghantamkan senjata itu tepat ke pelipis penjaga kedua hingga langsung pingsan di tempat.
Komandan lapangan yang terjatuh merangkak mundur sambil meraih pistol di pinggangnya, namun direbut Marco dengan cepat.
"Satu gerakan lagi, dan otakmu akan berlumuran darah," desis Marco. Suaranya begitu rendah, dingin, dan penuh aura membunuh yang pekat.
Melihat dua rekan mereka tumbang dalam hitungan detik tanpa bisa memberi perlawanan, sisa anak buah Bagas yang berada di luar teras panti asuhan langsung menciut. Mereka melangkah mundur.
Di luar, suara sirene polisi tiruan yang dinyalakan oleh Hendra lewat sistem pengeras suara lingkungan mulai melolong keras, menciptakan ilusi bahwa bantuan aparat telah datang.
"Mundur! Mundur! Kita kalah jumlah dan posisi!" teriak salah satu anak buah Bagas dari halaman luar dengan panik.
Tanpa berpikir dua kali, mereka yang tersisa langsung berbalik arah. Mereka menyeret komandan mereka yang pingsan, melompat ke dalam mobil, dan memacu kendaraan mereka pergi meninggalkan panti asuhan dengan ban yang berdecit keras. Suasana panti seketika hening, menyisakan deru napas Billy yang terengah-engah dan tangisan lirih anak-anak panti yang perlahan mulai mereda.
Marco menurunkan senjatanya, lalu berbalik memastikan kondisi sekitar. "Semua aman. Tidak ada yang terluka," ucapnya singkat kepada Billy dan Ibu Sarah yang masih syok.
Billy melangkah mendekat, napasnya perlahan mulai teratur. Ia menatap Ibu Sarah dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Maaf, Bu... kalau kehadiran kami di sini justru membuat anak-anak ketakutan setengah mati," lirihnya dengan suara bergetar.
Sebelum Ibu Sarah sempat menjawab, pintu kayu di sudut ruangan berdecit pelan. Seorang anak perempuan kecil berambut kepang keluar dengan ragu-ragu. Matanya yang bulat masih basah oleh sisa air mata, namun rasa takutnya telah terkalahkan oleh rasa kagum yang luar biasa. Ia berlari kecil, lalu langsung memeluk kaki Marco erat-erat.
"Kakak hebat! Kakak seperti pahlawan super!" ucap anak perempuan itu dengan suara polosnya yang melengking.
Mendengar pujian tulus yang keluar dari mulut anak tersebut, Marco tersipu malu. Senyum tipis yang sangat jarang terlihat kini terukir di wajah tegas yang biasanya kaku dan dingin. Di hadapan musuh, ia adalah malaikat maut; namun di hadapan anak-anak ini, ia hanyalah seorang pria yang ingin melindungi masa depan mereka.
Marco berlutut di atas lantai yang baru saja menjadi saksi pertarungan sengit. Ia menyamakan tingginya dengan anak perempuan itu, lalu menepuk pelan kepalanya dengan telapak tangannya yang kasar penuh kapalan.
"Kalian yang hebat karena sudah berani dan tetap tenang," bisik Marco. Aura mematikannya yang tadi begitu pekat kini sepenuhnya sirna, digantikan oleh kehangatan seorang pelindung.
"Kakak seperti pahlawan di televisi! Wuss... lalu penjahatnya langsung jatuh!" seru anak perempuan itu lagi, matanya berbinar-binar penuh kekaguman.
"Namamu siapa?" tanya Marco lembut.
"Nia, Kak!" jawabnya riang.
"Nia, dengar Kakak," kata Marco sambil menatap mata bocah itu dengan lekat. "Pahlawan yang asli adalah kalian semua. Karena anak-anak yang berani adalah pahlawan terkuat di dunia. Janji pada Kakak untuk selalu menjaga adik-adik yang lain di sini, ya?"
Nia mengangguk mantap sambil memberikan hormat dengan tangan kecilnya. "Siap, Kapten Pahlawan!"
Ibu Sarah berjalan mendekat dengan langkah yang masih sedikit gemetar. Air mata haru mengalir di pipinya yang mulai berkerut. Ia melihat pemandangan di depannya dengan rasa tidak percaya. Pria yang beberapa menit lalu mematahkan tulang musuh tanpa berkedip, kini sedang tersenyum tulus menghibur seorang anak yatim piatu.
"Jangan meminta maaf, Nak Billy, Nak Marco," ucap Ibu Sarah dengan suara parau namun tulus. "Jika bukan karena kalian dan rekan-rekan kalian, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada anak-anak ini. Kalian tidak membawa petaka. Kalian telah menyelamatkan rumah kami, menyelamatkan nyawa mereka."
Billy menghela napas panjang, memasukkan kembali belatinya ke dalam sarung di pinggangnya. "Kami hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Bu. Tapi Bagas bukan orang yang menyerah begitu saja. Tempat ini sudah tidak aman lagi untuk jangka panjang. Kami harus memastikan mereka tidak kembali ke sini."
Marco berdiri tegak kembali, mengubah mode dirinya dari pelindung anak-anak menjadi seorang komandan taktis. "Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus bergerak sekarang. Kehadiran kita di sini hanya akan menaruh target besar di atas atap panti asuhan ini."
Billy memandang Marco dengan tatapan cemas. "Tanpa Pak Dikta yang bisa memberi perintah langsung, pergerakan kita terbatas. Kita tidak bisa meminta dari akses intelijen resmi darinya."
Marco mengepalkan rahangnya, mengingat ketidakadilan yang menimpa bosnya itu. "Pak Dikta ditahan karena difitnah oleh Bagas. Si brengsek itu membuat laporan palsu bahwa Pak Dikta melakukan penyekapan terhadap Arini. Padahal kita semua tahu, status Bu Arini di sana hanyalah ibu susuan yang merawat Arkan, bukan disekap!"
"Bagas menggunakan pengaruh hukumnya untuk memutarbalikkan fakta," sahut Billy getir. "Dia menuduh Pak Dikta bertindak kriminal, padahal Bu Arini tinggal di sana karena mertuanya sendiri yang menyerahkan pada Pak Dikta demi uang. Dan setelah Pak Dikta tidak memberinya uang, ia justru bekerja sama dengan Pak Arman Wijaya untuk menjatuhkan beliau."
Marco melirik senapan serbu yang tergeletak di lantai, lalu menggelengkan kepala. "Kita tidak butuh perintah resmi untuk bertahan hidup, Bil."
Tepat saat itu, Hendra muncul dari pintu samping yang terhubung dengan ruang kendali dan pengeras suara lingkungan. Wajahnya pucat pasi, dan ia terus-menerus menyeka keringat dingin di dahinya dengan sapu tangan kumal.
"Aman! Jalur luar benar-benar bersih!" seru Hendra dengan suara yang agak serak karena terlalu tegang. "Mobil mereka melaju ke arah jalan raya utama. Tapi sirene rekaman audio komputerku tidak akan menipu mereka selamanya. Paling lama tiga puluh menit sebelum mereka sadar tidak ada satu pun mobil polisi yang mengejar mereka."
"Hendra, apakah jalur evakuasi belakang yang kita siapkan kemarin masih aman?" tanya Billy cepat sambil mengemas laptop taktisnya ke dalam ransel.
"Masih, Bil. Mobil kita tersembunyi di balik semak-semak pohon bambu dekat sungai. Jalur setapak ke sana tertutup dari pandangan jalan utama," jawab Hendra.
Saat mereka mulai bergerak menuju pintu belakang, anak-anak panti yang tadinya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur dan di dalam lemari pakaian mulai keluar satu per satu. Mereka melihat Marco, Billy, dan Hendra yang bersiap-siap untuk pergi. Kamar yang tadinya sunyi dan mencekam tiba-tiba dipenuhi oleh langkah kaki kecil anak-anak yang mengerumuni mereka.
"Kakak Pahlawan mau pergi sekarang?" tanya seorang anak laki-laki bertubuh gemuk sambil memegang ujung jaket Billy.
Billy berjongkok dan tersenyum hangat. "Iya, jagoan. Kami ada tugas rahasia di luar sana. Kami harus mengalahkan monster-monster jahat agar tidak pernah datang ke rumah ini lagi."
"Apakah Kakak-Kakak akan kembali?" tanya anak yang lain dengan nada cemas.
Hendra mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Tentu saja kami akan kembali! Dan saat kami kembali nanti, kami akan membawa es krim yang sangat banyak untuk kalian semua. Tapi syaratnya, kalian harus patuh pada Ibu Sarah dan belajar yang rajin, oke?"
"Oke, Kak!" seru anak-anak itu serempak, membuat suasana panti yang tadinya mencekam berubah menjadi penuh semangat dan harapan.
Ibu Sarah menggenggam tangan Marco dengan kedua tangan tuanya. "Jaga diri kalian baik-baik, Nak. Ibu akan selalu menyelipkan nama kalian dan Pak Dikta dalam setiap doa malam anak-anak di sini. Tuhan pasti melindungi orang-orang baik."
"Terima kasih, Ibu. Kami titip Den Arkan, dan Tolong kunci semua pintu setelah kami pergi," ujar Marco dengan nada hormat yang mendalam.
Marco kemudian membalikkan badannya, memberikan isyarat dengan lambaian tangan kepada rekan-rekannya. "Tim, bergerak."
Ketika mereka melangkah keluar menembus pintu belakang panti asuhan menuju kegelapan malam, suara yang tidak terduga terdengar dari arah teras dalam. Anak-anak panti, dipimpin oleh Nia kecil, berkumpul di ambang pintu. Mereka tidak lagi menangis ketakutan. Sebaliknya, dada mereka membusung penuh kebanggaan.
"Dadah, Kakak Pahlawan! Hancurkan orang-orang jahat itu!" teriak Nia dengan suara melengking yang membelah keheningan malam.
"Kak Marco hebat! Kak Billy keren!" sorak anak-anak yang lain, menciptakan sorakan yang begitu riuh dan penuh energi positif di halaman panti. Mereka melompat-lompat kecil sambil melambaikan tangan, memberikan penghormatan terakhir yang paling jujur bagi para penyelamat mereka. Marco meninggalkan rumah panti dengan sorakan riuh anak-anak yang terus menggema di telinganya.
Hendra yang berjalan di paling belakang hampir saja meneteskan air mata mendengar sorakan itu. "Sialan, mendengarnya membuatku merasa seperti karakter utama di film pahlawan super," gumamnya sambil menghapus sudut matanya secara sembunyi-sembunyi.
"Fokus, Hendra. Monster yang sebenarnya sedang menunggu kita di luar sana," tegur Billy, meskipun sebuah senyuman tipis juga tak dapat disembunyikan dari wajahnya.
Marco tidak menoleh ke belakang, namun sorakan anak-anak itu menggema jauh ke dalam lubuk hatinya. Langkah kaki mereka menembus semak-semak malam terasa lebih mantap dan ringan. Kilat amarah mematikan yang sempat menyala di matanya kini telah berganti menjadi tekad murni yang tak tergoyahkan.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Hendra memacu mobil tua mereka membelah jalanan setapak yang gelap, menjauh dari kawasan panti asuhan. Di dalam kabin yang minim pencahayaan, ketegangan masih terasa pekat. Marco duduk di kursi penumpang depan dengan tatapan tajam yang terus mengawasi spion, sementara Billy di kursi belakang sibuk memeriksa perangkat komunikasi taktisnya.
Tibat-tiba, sebuah lampu indikator kecil di sudut komputer genggam milik Billy berkedip tiga kali berwarna hijau. Layar tersebut menampilkan sebuah pesan.
Billy langsung menegakkan posisi duduknya. Matanya melebar saat membaca barisan kode yang masuk. "Marco! Hendra! Lihat ini," seru Billy, memecah keheningan malam dengan nada suara yang campur aduk antara lega dan tidak percaya.
"Ada apa, Bil? Jangan buat aku jantungan di tengah jalan gelap begini," sahut Hendra tanpa mengalihkan pandangannya dari setir mobil.
"Bu Arini," jawab Billy cepat. "Aku baru saja mendapatkan sinyal dari Bu Arini. Dia mengirimkan kode khusus."
Marco langsung menoleh ke belakang, matanya menyipit penuh selidik. "Artinya?"
"Artinya dia berhasil membohongi Bagas," Billy tersenyum tipis.
Hendra langsung mengembuskan napas panjang, bahunya yang tadinya tegang seketika merileks. "Oh, syukurlah! Wanita itu benar-benar punya nyali baja. Bermain api tepat di depan hidung monster seperti Bagas... kalau aku yang di posisinya, lututku sudah copot duluan."
"Bu Arini tahu apa yang dia lakukan," ujar Marco, suaranya kembali datar namun ada nada kepuasan di dalamnya. "Tapi ingat, Bagas bukan orang bodoh yang bisa ditipu begitu saja."