“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Cahaya matahari menembus tirai tipis ruang rawat inap. Bau antiseptik memenuhi udara. Suara mesin monitor berdetak pelan, teratur.
Kayla perlahan membuka mata. Langit-langit putih. Lampu neon. Infus menancap di punggung tangannya. Kepalanya terasa berat. Tenggorokannya kering. Pipi kirinya masih terasa perih.
Beberapa detik ia hanya menatap kosong ke atas. Ingatan semalam datang seperti kilatan cahaya yang menyilaukan robekan kain, bau alkohol, suara tawa menjijikkan, darah.
Napasnya mendadak memburu.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka. Sepasang suami istri masuk dengan langkah cepat. Wajah mereka tegang. Mata mereka bukan penuh khawatir, melainkan penuh amarah.
Plakkk!
Tamparan keras mendarat di pipi Kayla. Tubuhnya yang masih lemah terhuyung sedikit di atas ranjang. Kayla memejamkan mata.
Tidak ada perlawanan.
Tidak ada tangisan.
Hanya hening.
“Lihat apa yang kamu lakukan hah!” bentak wanita itu, ibu tirinya, dengan suara tinggi yang menusuk. “Mau jadi pembunuh kamu hah?! Kamu mau masuk penjara?!”
Kayla membuka mata perlahan. Tatapannya kosong. Tangannya menyentuh pipinya yang panas.
“Kamu tahu gara-gara kamu, sekarang perusahaan papa kamu terancam bangkrut!” lanjut wanita itu tanpa jeda. “Orang tua Candra ngamuk! Saham kita anjlok pagi ini!”
Kayla hanya menatap. Nama itu.
Candra Abhinaya. Putra tunggal keluarga konglomerat yang selama ini dekat dengan Arfin.
“Arfin sudah susah payah deketin Candra. Tapi kamu malah hancurin semuanya!! Kamu gila Kayla!!” jeritnya semakin emosional.
Kayla mengerjapkan mata pelan.
Gila?
Dia yang hampir diperkosa. Dia yang bertahan hidup. Tapi dia yang disebut gila.
“Papa juga mau nyalahin Kayla?” tanyanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Ayahnya, yang sejak tadi berdiri diam di dekat jendela, akhirnya menatapnya. Tatapan itu tidak keras. Tapi juga tidak membela.
“Kayla…” suaranya berat. “Kamu temui keluarga Abhinaya ya. Kamu minta maaf. Papa mohon.”
Seketika itu, sudut bibirnya terangkat. Senyum getir. Air mata turun lagi. Tapi cepat ia hapus dengan punggung tangan yang masih terpasang infus.
“Papa…” suaranya parau, “yang hampir mati itu Kayla.”
Tidak ada jawaban. Ibu tirinya mendengus kesal.
“Drama lagi. Selalu kamu yang jadi korban.”
Kayla tertawa kecil. Tertawa yang kosong.
“Kalau tadi malam aku gak mukul dia… mungkin sekarang Papa gak akan lihat Kayla disini. Melainkan di kuburan!’’
Ruangan itu hening. Untuk sesaat. Namun bukan empati yang datang.
“Kamu tetap harus tanggung jawab,” kata ayahnya pelan. “Keluarga Abhinaya punya pengaruh besar. Kalau mereka tuntut…”
“Jadi papa takut?” potong Kayla. Ayahnya terdiam. Kayla menatap lurus ke arahnya. “Papa takut bisnis papa hancur… atau takut anak papa masuk penjara?”
Kalimat itu menggantung di udara. Tidak ada jawaban.
“Kamu memang dari dulu pembawa masalah.”
Kayla memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Langit biru cerah.
Ironis sekali. Di luar sana dunia tetap berjalan, sementara dunianya terasa runtuh.
“Aku gak akan minta maaf,” ucap Kayla pelan tapi tegas.
“Apa?!”
“Aku gak akan minta maaf karena aku bertahan hidup.”
“Kamu harus minta maaf, atau kamu bukan anakku lagi!”
Suara Damar terdengar datar. Tidak tinggi. Tidak membentak. Tapi justru itulah yang membuatnya lebih menyakitkan.
Deg!
Tubuh Kayla membeku. Kalimat itu akhirnya keluar juga. Kalimat yang selama ini mungkin sudah lama tersimpan di hati laki-laki itu.
“Ingat baik-baik Kayla. Kalau kamu gak mau menemui keluarga Abhinaya, jangan harap kami kasih uang bulanan lagi ke kamu!” sambung Desi, tajam tanpa empati.
Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Mereka berbalik.
Langkah kaki menjauh.
Pintu tertutup.
Klik.
Sunyi.
Dan detik itu juga, pertahanan Kayla runtuh.
Tangisnya pecah. Bukan tangis pelan. Bukan isak tertahan. Tapi tangis seorang anak yang akhirnya sadar… bahwa ia memang sendirian.
“Apakah selama ini… papa anggap Kayla sebagai anak?” gumamnya bergetar.
Suara itu menggema di kamar rumah sakit yang dingin.
“Sejak Mama pergi… bahkan papa juga pergi dengan orang baru… kalian ninggalin Kayla sendiri. Kayla sendiri… hiks hiks…”
Dadanya sesak. Napasnya tak teratur.
“Papa cuma kasih Kayla uang… tapi gak pernah kasih sayang.” Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan.
“Waktu Kayla demam tinggi sendirian di rumah… papa gak pernah nanya. Waktu Kayla ulang tahun… papa cuma transfer uang. Waktu Kayla jatuh dari motor… papa cuma kirim pesan ‘hati-hati’.”
Tangannya mengepal di atas selimut putih. “Dan sekarang… waktu Kayla hampir diperkosa… papa malah nyuruh Kayla minta maaf ke pelaku ?’’
Tawanya keluar. Tawanya kosong. “Hahaha… benarkah aku anak Papa?”
Pyarrrr!
Tiba-tiba Kayla menyapu semua yang ada di meja samping ranjang.
Gelas terlempar. Piring jatuh pecah. Vas bunga retak menghantam lantai. Buah-buahan berguling ke segala arah.
Perawat di luar terkejut.
Kayla bangkit setengah berdiri meski tubuhnya masih lemah. Infus di tangannya tertarik kuat. Selang infus menegang. Darah mulai merembes ke selang bening itu.
Tangannya yang semalam terluka kembali terbuka. Darah segar menetes. Tapi Kayla tidak peduli. Ia menjambak rambutnya sendiri.
“Kenapa kalian ngelahirin aku, kalau akhrinya kaya gini!’’ jerit Kayla frustasi, ‘’Buat apa dulu kalian menikah, kalau akhirnya kalian pisah buat apaaaa!’’
Napasnya memburu. Pandangannya mulai kabur. Ia memukul dinding dengan tangan yang sudah luka.
Sakit. Tapi rasa sakit di tangan tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit di dadanya.
‘’JIka memang tidak ada yang menginginkan ku, lantas buat apa aku hidup?’’ ucap Kayla tiba tiba dengan pandangan lurus ke depan.
Matanya tertuju pada jendela kaca di ruangan itu. Dengan perlahan, dia berjalan mendekat, pandangan nya kosong, dan tangannya membuka jendela itu.
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj