Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HEBOH
“ Val, bawa semua belanjaan itu ke meja depan supaya dihitung sama Surti, istrine Supri sekalian kamu minta yang ada dalam catatan supaya dibungkus sekalian”, ucap nenek Gendhis sambil menyerahkan selembar catatan kebutuhan bulanan yang sudah ia siapkan dari rumah.
Baru saja Vallery meletakkan barang belanjaan sayurnya diatas meja didepan Surti, tiba-tiba suara melengking terdengar tepat di telinganya, “Wuihhh, ayune bocah Iki ra njamak!”, teriak Idris, membuat Vallery spontan bergerak kesamping sambil mengusap-usap telinganya yang sakit akibat suara keras Idris.
Seperti ditekan tombol pause dalam remote, semua orang langsung menghentikan aktivitas mereka secara serentak dan menoleh kearah Idris yang tengah menatap seorang gadis cantik yang berdiri didepan Surti.
Vallery yang ditatap oleh semua orang sedikit salah tingkah. Nenek Gendhis yang melihat cucu perempuannya sedikit canggung pun datang mendekat dan mengambil secarik kertas yang tadi diberikan kepada Vallery.
Melihat hubungan nenek Gendhis dengan gadis cantik di depannya terlihat sangat akrab, jiwa kepo Surti keluar.
"Sopo iki, Nek Gendhis? cuantiiik banget?", tanya Surti, semua orang pun tampak diam seolah menunggu jawaban yang diberikan oleh nenek Gendhis.
"Cucu ku, anaknya Anton", jawab nenek Gendhis singkat.
"Walaaaah...anaknya Anton, toh. Ayu tenannn ", ucap Surti penuh kekaguman.
"Kayak artis ya bu?”, ucap Milla, anak kedua Surti yang tiba-tiba muncul disamping sang ibu sambil mulai menyiapkan semua barang yang ada dalam catatan yang nenek Gendhis berikan tadi.
"Hooh, mirip artis, tapi kalo dilihat-lihat lebih lama malah kelihatan mirip boneka hidup juga,", bukan Surti yang menjawab tapi Yu Menik yang tiba-tiba sudah ada disamping Vallery.
Menik yang sedari tadi mengamati tatapan tak biasa Dirga menyeletuk usil. "Mas ganteng, mau nggak sama cucunya nenek Gendhis, cantik loh mas,".
“Benar itu mas kades, selain cantik cucunya nenek Gendhis ini besar di ibukota dan berpendidikan tinggi, cocok sama panjenengan”, timbal ibu-ibu yang lain sambil milih wortel di lapak Surti.
Dirga yang ditanya dan digoda oleh ibu-ibu hanya diam, tapi kepalanya menatap Vallery cukup lama. Sedangkan Vallery, yang ditatap, langsung buang muka, takut dengan tatapan tajam yang pria itu berikan.
“Ngapain juga dia liat-liat aku? mana tatapannya nyeremin lagi" dumel Vallery dari dalam hati.
Dirga yang tak tahu jika Vallery takut dengan ekspresi wajahnya saat ini sudah misuh-misuh (memaki) dalam hatinya, “ J****k! pesona cucunya nek Gendhis ini nggak main-main. Si ular piton habis aku tidurkan tadi pagi dengan susah payah kini bangun lagi karena ekspresi mengemaskan diwajahnya”.
Jika didalam hati Dirga sangat berisik, lain halnya dengan ekspresi yang ia tampilkan diluar yang tetap datar seolah godaan ibu-ibu yang berbelanja diwarung pak Supri sama sekali tak berpengaruh padanya, padahal hatinya sudah kembang kempis menahan gejolak yang tiba-tiba muncul tanpa bisa dicegah
Untuk menghilangkan rasa nyut-nyutan di kepalanya, Dirga menyedot rokok yang diapit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya dalam-dalam dengan ekspresi sedikit frustasi.
Vallery yang diam-diam melirik Dirga, melihat wajah gelap pria tersebut, jantungnya berdetak kencang.
“Tuh kan, mukanya sudah kaya mau ngajak berantem orang aja. Benar-benar nyeremin”, batin Vallery sambil bergidik ngeri dan segera mengalihkan perhatiannya ke bahan belanjaan yang mulai di hitung oleh Surti.
Vallery sangat berharap ia tak lagi bertemu dengan Dirga agar tak lagi mengalami spot jantung seperti pagi ini.
Dua kali bertemu dengan Dirga dan bertatapan dengan wajah datarnya yang menyeramkan, Vallery ingin cepat-cepat pergi dari warung sembako milk Supri saat ini juga.
Tapi semesta tampaknya tak mengijinkan karena begitu semua belanjaan ia dan neneknya selesai di hitung dan dikemas, Vallery yang baru saja berbalik badan, belakang sandalanya terinjak oleh salah satu pembeli, membuat keseimbangan tubuhnya hilang.
Vallery yang sudah memejamkan kedua matanya karena yakin ia akan terjatuh terkejut karena setelah di tunggu ternyata tubuhnya tak kunjung menyentuh tanah seperti apa yang ia bayangkan.
“Eh, kenapa tak sakit?”, guman Vallery pelan sambil perlahan mulai membuka kedua matanya.
Merasa ada yang melingkari pinggangnya, Vallery memberanikan diri untuk mendongak dan seketika tatapan Vallery pun langsung terkunci oleh tatapan tajam Dirga yang tadi secara spontan langsung memegang tubuhnya begitu keseimbangan tubuh Vallery hilang.
Jantung keduanya pun berdebar dengan kencang hingga keduanya bisa sama-sama mendengar detak jantung yang tampak seperti sebuah musik orkestra tersebut, membuat Dirga dan Vallery menjadi salah tingkah.
“Mma-maaf…”, cicit Vallery ketakutan melihat ekspresi tegang diwajah Dirga.
“Tidak apa-apa. Lain kali, hati-hati ya dek”, Dirga berkata dengan nada dibuat selembut mungkin setelah ia menyadari jika tubuh Vallery yang ada dalam dekapannya bergetar ketakutan.
Para penonton yang sebelumnya melonggo karena terkejut mendengar Dirga berbicara selembut itu dengan lawan jenisnya segera merubah ekspresi mereka dengan cepat. Kini semua orang tampak tersenyum-senyum sendiri menyaksikan adegan yang mereka anggap sangat romantis itu.
“Kok kita seperti melihat sinetron secara langsung ya bu...”, celetuk salah satu ibu-ibu sambil menyenggol bahu tetangganya yang ada di sebelahnya sambil tersenyum tersipu-sipu.
“Bener, adegannya sama persis seperti sinetron yang ada di televisi. Keduanya juga ganteng dan cantik, sama seperti artis sinetron yang aku lihat”.
“Mereka berdua terlihat sangat cocok, ganteng dan ayu, klop wes”
“Benar, gadis ayu itu cocok bersanding sama mas kades yang ganteng”
Mendengar celetukan ibu-ibu, Vallery yang wajahnya sudah memerah seperti tomat segera melepaskan pelukan Dirga dan dengan cepat mengandeng nenek Gendhis, menariknya untuk segera pergi dari warung dengan wajah menunduk.
Begitupun juga dengan Dirga yang segera ngacir keluar dari halaman rumah Supri yang dijadikan toko sembako dan mlijonya kearah dimana motornya terparkir dan segera naik, menstater motor maticnya menuju rumah untuk menuntaskan ular pitonnya agar kepalanya tak lagi nyut-nyutan seperti ini sebelum ia kembali ke balai desa untuk menyampaikan masalah bantuan infrastruktur yang tadi baru saja ia rapatkan di kelurahan.
Sesampainya dirumah, Vallery langsung menuju dapur dan segera menatap semua barang belanjaan mereka.
Ia juga dengan sigap membantu nenek Gendhis mengungkep ayam, tahu dan tempe dan setelah matang dan dingin akan ditaruh didalam kulkas agar Vallery jika lapar bisa langsung menggorengnya tanpa perlu membumbuinya lagi.
Hal yang sama juga di berlakukan untuk ikan dan daging yang tadi dibeli dimana untuk daging sudah dipotong menjadi beberapa bagian dan segera dibungkus kedalam plastik masing-masing bagian agar jika memerlukan daging tinggal mengambil satu potong sesuai kebutuhan didalam freezer dan untuk ikan ada yang dipepes juga ada yang hanya diberi bumbu dasar kuning sebelum dimasukkan kedalam kulkas untuk digoreng, dibuat lauk malam nanti.
Vallery terus bergerak, berusaha menyibukkan diri agar kejadian memalukan tadi pagi tak lagi ia ingat.
Nenek Gendhis yang paham jika sepertinya cucu perempuannya itu tengah mengalihkan fokusnya dengan semua pekerjaan di dapur, tak lagi mengungkit masalah tadi di warung Supri dan mencoba berbincang mengenai rencana Vallery ke depan selama berada di Desa Maju Bersama ini.
Jika Vallery sudah merasa lebih baik setelah melakukan kesibukan didapur dan juga berbincang dengan neneknya, Dirga justru semakin pusing.
Pinggang lembut dan ramping Vallery yang tadi sempat ia pegang, tak bisa hilang dalam ingatannya, membuat fantasinya semakin liar dan berimbas pada birahinya yang mulai tinggi sejak tadi dimana hal itu tak bisa ia redakan karena ia gagal pulang setelah Pak Yono, sekdes Maju Bersama menelponnya dan menyuruhnya untuk kembali lagi ke kelurahan karena data warga yang menerima bantuan sembako sudah terbit, membuat Dirga hanya bisa mengerang penuh rasa frustasinya menahan hasrat dalam dirinya yang semakin tinggi itu.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA