NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

~DALAM TAHAP REVISI~

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 — Tamu di Pendopo (Revisi)

“Nduk, Ibu cuma mau bicara sebentar.”

Marlina berdiri di anak tangga terakhir teras dalem dengan tas tangan terjepit di kedua tangannya. Batik parangnya licin, sanggulnya rapi, tetapi wajahnya tanpa bedak dan matanya sembap. Rabu, pukul delapan lewat dua puluh, dan embun belum habis dari kelopak kamboja.

“Silakan duduk, Bu.” Raras menunjuk kursi rotan di sisi meja teras. Tangannya yang berplester tidak gemetar. “Mbok Jinem sedang menyeduh teh.”

“Kita tidak bicara di dalam?”

“Teras saja, Bu. Ruang dalam untuk keluarga, teras untuk tamu.” Raras tersenyum tipis. “Itu bukan hukuman. Memang begitu tata kramanya.”

“Ibu mengerti.”

“Terima kasih sudah mengerti, Bu.”

“Ibu... boleh duduk?”

“Boleh. Di rumah ini, tamu dipersilakan duduk lebih dulu.” Raras tersenyum kecil, tanpa ejekan. “Dulu Ibu tidak mempersilakan saya duduk di rumah Ibu. Saya tidak akan membalasnya, Bu. Saya hanya ingin Ibu tahu bedanya.”

Marlina menelan ludah. Ia duduk di tepi kursi, punggung tegak, tas tetap di pangkuan. Dari arah regol terdengar bunyi tongkat beradu dengan batu pipih. Tak, tak, lalu berhenti.

“Itu siapa?”

“Eyang, Bu. Beliau berdiri di regol bersama Pak Surya.”

“Bapak ikut?” Suara Marlina merendah. “Ibu bilang Ibu datang sendiri.”

“Pak Surya memilih ikut, Bu. Itu hak beliau.” Raras menoleh ke arah pagar. “Tapi Eyang tidak menerima tamu yang belum meminta maaf.”

Dari kejauhan, suara berat Eyang terdengar jelas melewati kamboja. “Nyuwun pangapunten rumiyin, Pak Surya (minta maaf dulu, Pak Surya). Lajeng lenggah (lalu duduk).”

“Pintune ora dikunci, Pak (pintunya tidak dikunci, Pak),” lanjut Eyang, lebih lirih. “Nanging ora kabeh wong kudu mlebu (tetapi tidak semua orang boleh masuk).”

Tidak ada jawaban. Hanya bunyi mesin mobil yang dimatikan.

“Bapak tidak akan minta maaf,” bisik Marlina.

“Itu pilihan beliau, Bu.”

“Ndoro,” bisik Mbok Jinem dari ambang pintu, “Pak Surya mboten purun mlebet (tidak mau masuk). Wonten mobil (di mobil).”

“Biarkan, Mbok. Tawari teh kepada sopirnya.”

“Sampun, Ndoro. Mboten purun (sudah, Ndoro. Tidak mau).”

Marlina menunduk lebih dalam. “Bapak keras kepala.”

“Kadang itu yang membuat orang bertahan, Bu. Kadang juga yang membuat orang akhirnya sendirian.”

Mbok Jinem muncul membawa nampan berisi dua cangkir porselen biasa dan teko kecil. Ia meletakkannya tanpa suara, lalu mundur dua langkah dan berdiri di ambang pintu. Raras menuangkan teh ke cangkir Marlina, lalu ke cangkirnya sendiri.

“Teh ini saya hidangkan karena Ibu datang sebagai tamu, Bu. Bukan karena saya masih menjadi menantu Ibu.”

“Ibu mengerti.” Marlina menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Raras melihat jemarinya gemetar. “Ibu membawa sesuatu.”

Ia membuka tas dan mengeluarkan kotak karton cokelat. Lapis legit. Raras memandang kotak itu lama.

“Itu kesukaan Mas Danang, Bu.”

“Ibu tahu.” Marlina menunduk. “Ibu tidak tahu apa kesukaanmu, Nduk. Tadi di regol, Ibu sempat bertanya kepada Mbok Jinem, tapi Ibu malu bertanya lebih banyak.”

“Gudeg tanpa santan, Bu. Tempe bacem yang sedikit gosong.” Raras mengaduk tehnya. “Tapi tidak apa-apa. Tidak semua orang mau bertanya.”

“Ibu minta maaf.”

“Untuk apa, Bu?”

“Untuk semuanya.” Marlina mengangkat wajah. Matanya basah. “Ibu minta maaf, Nduk. Sekarang pulanglah. Danang membutuhkanmu.”

Raras meletakkan sendok kecilnya di tatakan. Bunyi kecilnya terdengar jelas di teras yang sunyi.

“Itu bukan permintaan maaf, Bu.”

“Apa?”

“Itu permintaan yang diberi kata maaf di depannya.” Suaranya tetap lembut. “Kalau Ibu meminta maaf supaya saya pulang, itu namanya transaksi. Dan saya sudah berhenti bertransaksi dengan keluarga Ibu.”

“Ibu tidak bermaksud begitu...”

“Ibu bermaksud begitu. Tidak apa-apa, Bu. Orang yang takut kehilangan memang sering begitu.” Raras memandang kotak lapis legit di atas meja. “Ibu takut kehilangan apa?”

Marlina terdiam. Tangannya meremas ujung tas sampai buku jarinya memutih. Di luar, tongkat Eyang mengetuk batu sekali, lalu sunyi.

“Semuanya.” Suara Marlina nyaris tidak terdengar. “Ibu takut kehilangan kontrak, kas, nama baik, Danang. Dan Ibu takut kehilangan kamu, Nduk, padahal Ibu tidak pernah benar-benar mengenalmu.”

“Itu jawaban yang jujur, Bu.”

“Waktu Ibu membawa Niken ke arisan Bu Hartati, Ibu bilang pada diri sendiri bahwa itu demi Danang. Padahal Ibu ingin punya seseorang yang mau mendengarkan Ibu tanpa menyela.”

“Saya dulu mendengarkan Ibu tanpa menyela, Bu.”

“Ya.” Marlina mengusap pipi dengan jari. “Dan Ibu tidak pernah menanyakan pendapatmu. Sekali pun tidak.”

“Dua puluh satu kali Ibu menyindir saya, Bu. Saya pernah menghitungnya.”

“Ibu tidak tahu sebanyak itu.”

“Saya tahu, Bu. Karena itu saya menghitung.”

Marlina tertawa pendek, lalu tangisnya pecah. Raras menyodorkan sapu tangan dari saku kebayanya.

“Terima kasih, Nduk.” Marlina menyeka pipinya. “Kamu tidak berubah. Kamu hanya berhenti diam.”

“Itu juga perubahan, Bu.”

“Ya. Itu perubahan.”

“Ibu malu.”

“Malu bisa menjadi awal untuk belajar, Bu.” Raras menyentuh gagang cangkirnya. “Saya baru belajar itu minggu ini.”

“Ibu tidak tahu kamu mengerjakan semua itu. Nota-nota itu, laporan, kiriman...” Marlina memejamkan mata. “Tadi malam Ibu membuka lemari kerja Danang. Di mana-mana ada tulisanmu. Selama ini Ibu pikir kamu cuma memasak.”

“Saya memang memasak, Bu. Itu juga bagian dari yang saya lakukan.”

“Ibu pernah menyebutmu pembantu di depan Retno.”

“Saya tahu.” Raras tidak menunduk. “Waktu itu saya diam karena masih terikat pada larangan lama saya. Sekarang saya tidak diam lagi, Bu.”

“Boleh Ibu memegang tanganmu?”

“Belum, Bu.” Raras menjawab tanpa ketus. “Tapi saya tidak akan menolak kalau suatu hari Ibu mengulurkan tangan dengan jujur.”

“Itu... cukup.” Marlina memandang plester di tangan Raras. “Tanganmu masih sakit?”

“Perih kalau kena air, Bu.”

“Niken bercerita, tehnya tumpah waktu itu. Danang tidak bergerak.”

“Mas Danang bereaksi seperti biasanya, Bu. Dan reaksinya saat itu menjelaskan banyak hal.” Raras mengambil cangkirnya. “Tapi sekarang dia sudah mulai belajar bertindak. Terlambat, tapi setidaknya dia mulai.”

“Dimas bilang Danang makan nasi jagung di Wates kemarin pagi,” kata Marlina tiba-tiba. “Kamu yang menyuruhnya?”

“Bukan, Bu. Itu janji kepada Bu Warsih.”

“Siapa dia?”

“Orang yang tidak pernah ditanya sampai Mas Danang datang dan bertanya.” Raras mengangkat cangkirnya. “Ibu bisa mulai belajar dari sana.”

“Ibu mau Niken tinggal di rumah Ibu sampai semua ini selesai.”

“Itu urusan Ibu. Saya hanya punya satu pesan.” Raras menurunkan cangkirnya. “Jangan menjadikan Mbak Niken pengganti saya untuk menebus kesalahan Ibu. Dia manusia, bukan permintaan maaf.”

“Ibu paham.”

“Dan jangan memanggilnya ‘Nduk’ kalau Ibu tidak tulus.”

“Ibu tulus kepada Niken. Tapi Ibu salah dalam memperlakukannya.”

“Itu lebih baik daripada tidak menyadari kesalahan sendiri.”

“Terima kasih sudah mau menerima Ibu, Nduk.”

“Saya menerima Ibu sebagai tamu, Bu. Itu bentuk penghormatan, bukan hadiah.”

“Mas Danang menawarkan untuk mencicil seratus tiga juta yang pernah saya tutup, Bu,” lanjut Raras. “Saya akan menerima pembayarannya dengan tanda terima, supaya dia tahu persis apa yang harus dia pertanggungjawabkan.”

“Ibu bisa membantu membayarnya.”

“Jangan, Bu. Itu hanya mengulang kesalahan yang sama dengan cara berbeda.”

“Ibu hanya ingin...”

“Saya tahu. Ibu ingin meringankan bebannya.” Raras tersenyum lemah. “Tapi Mas Danang harus memikulnya sendiri. Kalau tidak, dia tidak akan pernah benar-benar mengerti.”

“Apa yang kamu minta dari Ibu?”

“Satu hal, Bu. Dan bukan untuk saya.” Raras menarik napas. “Kalimat di halaman dua surat itu harus diganti. Bukan karena saya ingin menang, tapi karena kalimat itu tidak benar.”

“Bapak menolak.”

“Saya tahu. Pengacara beliau membalas hari Sabtu.”

“Kamu akan menuntut Danang?”

“Saya tidak menuntut siapa pun, Bu. Saya hanya menolak menandatangani sesuatu yang tidak benar.”

“Ibu akan bicara kepada Bapak.”

“Ibu tidak perlu berjanji.” Raras menggeleng. “Bicaralah kalau Ibu sudah yakin. Saya lebih percaya kepada orang yang diam lalu bertindak daripada orang yang berjanji lalu lupa.”

Marlina mengangguk. Ia mengangkat cangkir teh, menyesapnya sekali, lalu berhenti.

“Tidak manis.”

“Saya tahu Ibu tidak suka teh manis, Bu. Mbok Jinem mencatatnya sejak tahun pertama.”

“Kalian mencatat hal-hal seperti itu?”

“Kami memperhatikan, Bu. Ada bedanya.”

Hening. Mbok Jinem menunduk, menyembunyikan senyum tipis di sudut mulutnya.

“Nduk,” kata Marlina akhirnya, “ada satu hal lagi. Ini sebabnya Ibu datang pagi-pagi.”

“Silakan, Bu.”

Marlina membuka tas dan mengeluarkan amplop cokelat. Ada cap pengadilan di sudut kiri atas. Ia menyodorkannya melintasi meja dengan tangan gemetar.

“Pengacara Bapak mendaftarkan gugatan hari Senin. Tanpa memberi tahu Danang. Surat panggilan akan diantar ke sini besok, tapi Ibu ingin kamu membacanya lebih dulu. Supaya kamu tidak kaget.”

Raras mengambil amplop itu. Jemarinya tidak gemetar saat membukanya. Matanya langsung menemukan satu baris di halaman kedua, tercetak hitam dan rapi:

Termohon dinilai tidak mampu mendampingi pemohon dalam perkembangan usahanya.

1
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!