Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDR
Satoru datang ke museum sebelum pergi meninggalkan Washington untuk promosi lukisannya yang sudah ditarik dari museum Alethea. Pria itu terkejut karena ada mobil polisi dan juga FBI.
Karena dirinya berada di Washington, Satoru tahu Oom dan Tantenya tidak mungkin ada di sini karena bidang kejahatan yang ditangani berbeda. Satoru berjalan masuk tapi dilarang oleh anggota kepolisian Washington. Dia pun menunggu di sebuah coffee shop dekat museum sampai semuanya pergi. Setelahnya, Satoru pun masuk ke dalam museum.
Alethea tersenyum ke arahnya saat melihat kekasihnya datang. Satoru menatap bingung karena para tim museum, sedang membereskan banyak barang.
"Apakah aku mengganggumu?" tanya Satoru.
"Tidak. Aku senang kamu datang," jawab Alethea.
Satoru lalu memeluk pinggang Alethea dan mencium pipinya. "Ada apa?"
"Hampir saja kami menjadi korban penipuan dan pemalsuan lukisan. Thank's God, aku teliti dan Jenny tahu siapa artis yang biasa melakukan itu," jawab Alethea.
"Berani sekali. Lukisan yang asli?"
"Di tempat pelukisnya. Dan yah, penipuan, pemalsuan, penggelapan dan pencurian. FBI dan Washington PD sudah mengurusnya," senyum Alethea.
"Siapa otaknya?" tanya Satoru.
"Orang Capito, bagian seni. Gila kan?" kekeh Alethea.
"Berapa harga asli lukisannya?"
"$ 3,5 juta."
Satoru bersiul. "Jika lukisan palsunya dijual dengan harga yang sama dengan lukisan asli ... Wow! Pasti artisnya sangat lihai dan presisi."
"Benar. Rupanya sebelum aku bekerja di sini, dia sudah dihukum penjara dengan kasus kode etik. Aku pernah bertemu dua kali dengan Julian saat dia meminta pekerjaan pada Jenny namun boss aku tidak mau ambil resiko. Dan yeah, memang benar." Alethea melihat dua agen FBI dan dua detektif dari Washington PD sudah selesai berbicara ke Jennifer.
Keempatnya pun pergi meninggalkan museum dan Satoru menghampiri para pegawai museum.
"Kalian tidak apa-apa?" tanyanya.
"Aman, Mr Shinoda. Setidaknya, museum aku selamat dari tuntutan pemalsuan yang bisa membahayakan karir kami semua di sini selain nama baik, tentu saja," jawab Jennifer. "So, ada keperluan apa Mr Shinoda?"
"Oh, aku hanya ingin berpamitan karena aku harus pergi ke Eropa guna pameran karyaku yang kemarin." Satoru tersenyum ke semua orang.
"Berapa lama?" tanya Alethea.
"Kenapa? Kamu takut ditinggal?" goda Satoru.
Pipi Alethea memerah. "Aku hanya bertanya."
"Jika kamu takut ...." Satoru lalu berlutut di depan Alethea.
"Kamu ngapain?" bisik Alethea.
"Alethea...." Satoru mengeluarkan kotak beludru dari saku jaketnya. "Will you marry me? Pria yang sering tidak bisa ditebak maunya apa dan sering kacaunya tapi yakinlah ... Pria ini sudah jatuh cinta sejak memimpikan dirimu lima tahun lalu."
Alethea terkejut melihat cincin berlian yang cantik itu. "Satoru ... Are you serious?" bisiknya tidak percaya.
"Sangat serius." Satoru menatap wajah Alethea sambil tersenyum.
"Terima Thea!" seru rekan-rekannya heboh.
"Tapi, pria ini ... Suka membuatku emosi," jawab Alethea membuat Satoru meringis.
"Ouch!"
"Kan memang iya!" balas Alethea judes membuat rekan-rekannya tertawa. Wanita itu lalu menatap Satoru. "Kamu yakin mau menikah denganku?"
"Yakin."
"Tinggal di Washington?"
Satoru mengangguk. "Kita akan tinggal di Washington. Mau di rumah kamu atau rumahku yang akan kita beli nanti."
Jennifer melongo. "Wow! Kamu sudah memperhitungkan ya?"
"Tentu saja. Jadi, bagaimana Thea? Aku sudah mulai kesemutan ini," cengir Satoru membuat semua orang terbahak.
Alethea menatap Satoru. Hati kecilnya tahu pria ini baik meskipun kelakuan ajaib. Apalagi keluarga Shinoda sepertinya sudah menerima dirinya. Jujur Alethea tidak ada keinginan menikah lagi tapi jika ada pria yang baik dan unpredictable kelakuannya, kenapa tidak? Dia juga tahu sepak terjangnya Satoru yang dikenal pelukis tanpa mantan pacar. Tidak ada berita atau gosip apapun tentang siapa kekasihnya.
"Baiklah." Alethea menjawab kemudian.
"Baiklah ... Apa?" tanya Satoru.
"I will marry you," senyum Alethea.
"Terima kasih."
Satoru memasangkan cincin berlian di jari manis Alethea yang tidak ada cincin kawin dari Toshiro. Dia pun berdiri dan memeluk Alethea. Satoru mencium bibir Alethea, mengacuhkan sorak sorai para rekan kerja wanita itu.
Setelahnya, mereka mendapatkan ucapan selamat dari para pegawai museum dan Satoru mengajak semua orang makan-makan untuk merayakan acara pertunangannya.
"Kamu habis ini mau kemana?" tanya Alethea.
"London."
***
London
Satoru sebenarnya merasa berat meninggalkan Alethea di Washington tapi yang namanya pekerjaan, tidak bisa ditinggalkan. Dia pun menuju area Mayfair untuk menenangkan diri.
Ruangan galeri di kawasan Mayfair, London, terasa sangat hening. Cahaya lampu sorot memantul lembut di atas lantai kayu ek tua, memancarkan atmosfer yang anggun sekaligus magis. Besok malam adalah pembukaan pameran tunggalnya yang paling dinanti, dan Satoru memilih untuk berada di sana seorang diri malam ini. Penjaga galeri tersenyum sopan ke arah Satoru. Dia pun membukakan pintu galeri.
Dengan mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, Satoru berjalan pelan menyusuri koridor galeri. Langkah kakinya menyisakan gema halus. Dia memegang sebuah buku catatan berbingkai kulit hitam di tangan kirinya, sementara mata tajamnya menyapu setiap sudut ruangan. Ini adalah inspeksi akhir, ritual pribadinya sebelum karya-karyanya diperlihatkan kepada dunia.
Satoru berhenti di depan lukisan pertamanya, Cedliff.
Satoru menyipitkan mata, meneliti jarak antara kanvas dan garis lantai. "Tiga sentimeter terlalu ke kiri," gumamnya pelan. Dia melangkah mendekat, lalu dengan sangat hati-hati menyesuaikan posisi bingkai hingga sudut kemiringannya benar-benar simetris dengan arah jatuhnya cahaya. Setiap bayangan harus presisi; baginya, pencahayaan adalah bagian dari cerita yang ingin dia sampaikan.
Dia melangkah ke deretan karya berikutnya. Tekstur cat minyak yang tebal, permainan warna gelap yang dramatis dengan sentuhan warna-warna emosional yang hangat, semua elemen di ruangan itu seperti bernapas. Satoru menyentuh bagian tepi salah satu plakat informasi judul di samping karya drama terbarunya. Terasa sedikit longgar. Dia mengambil pita perekat khusus dari kantongnya dan membenahinya tanpa ragu.
Di tengah galeri utama, Satoru berhenti dan berputar 360 derajat. Dia mencoba merasakan alur yang akan dilalui para pengunjung besok. Apakah transisi warna dari lukisan satu ke lukisan berikutnya sudah terasa seperti sebuah alur cerita yang mengalir? Apakah jarak antar karya memberi cukup ruang bagi penikmatnya untuk bernapas dan meresapi emosi di dalamnya?
Setelah memastikan semuanya bekerja dalam harmoni, Satoru berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan London yang basah oleh sisa hujan malam. Lampu-lampu kota memantul indah di kaca.
Satoru menghela napas panjang, mengulas senyum tipis yang penuh rasa puas. Semuanya sudah siap. Ruangan ini, karya-karyanya, dan setiap keheningan yang tersisa di dalamnya siap menyambut malam pembukaan besok.
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Apa kabar aku yang ga pintar masak dan kalah enak sama masakan suami 😄
Thea bukan tipe perempuan sat set sat set ,terlalu banyak pemikirannya
nantinya Thea bisa bekerja di museum yang sama dengan tante Elle kan😊😊
walaupun antimainstream tapi tetep asikk kan😅😅😅
Kuatkan mentalmu aja Thea kalau sudah kumpul keluarga Satoru mode bully 😄😄