NovelToon NovelToon
DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: R. AL

Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.

Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.

Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."

Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.

Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: AYAH SINTA DITEMUKAN DAN PENGAKUAN YANG MENGHANCURKAN HATI

Pagi setelah pertengkaran di perpustakaan itu, Arga dan aku tidak banyak bicara, tapi kami sudah punya satu tujuan yang sama.

Mencari ayahku, Herman Santoso.

Arga langsung mengerahkan semua tim pengacara dan bodyguard pribadinya untuk melacak keberadaan ayahku. Dari data KTP, ayahku terakhir terlihat di sebuah kontrakan petak di daerah Bekasi yang kumuh.

"Saya ikut, Mas," kataku saat melihat Arga mau berangkat dengan mobil Alphard hitamnya.

"Tidak usah. Tempatnya kumuh dan berbahaya, kamu di rumah saja."

"Tidak, dia ayah saya. Saya harus ikut. Janji kan kita cari kebenaran sama-sama?"

Arga menatapku lama, lalu akhirnya mengangguk dan membukakan pintu mobil untukku.

Perjalanan ke Bekasi memakan waktu 2 jam karena macet. Semakin masuk ke dalam gang, semakin kumuh pemandangan di sekitar kami. Jauh berbeda dengan kehidupan mewah di The Wijaya Tower.

Mobil mewah Arga tidak bisa masuk ke dalam gang sempit, jadi kami harus berjalan kaki 500 meter melewati selokan yang bau dan rumah-rumah petak yang berdempetan.

Orang-orang di sana melihat kami dengan tatapan aneh, seorang pria tinggi dengan jas mahal 50 juta dan seorang wanita cantik dengan dress mahal berjalan di gang kumuh.

"Pak Herman tinggal di paling ujung, di kontrakan nomor 12, tapi sudah 3 hari tidak keluar," kata seorang ibu warung.

Jantungku berdebar sangat kencang. Takut, cemas, dan sedih menjadi satu.

Saat sampai di kontrakan nomor 12, pintunya terkunci dari luar dengan gembok berkarat.

Arga langsung mendobrak pintu itu dengan satu tendangan keras. Pintu kayu lapuk itu langsung jebol.

Di dalamnya, pemandangan yang sangat menyedihkan terlihat.

Ayahku, Herman Santoso, tergeletak di lantai tanah yang hanya beralas tikar tipis, tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat, dan demam tinggi. Di sampingnya ada botol-botol obat warung yang sudah kosong dan TV tabung kecil yang masih menyala menayangkan berita kebakaran 10 tahun lalu.

"Ayah!" Aku langsung berlari dan memeluk ayahku.

Ayahku membuka matanya pelan, dan air mata langsung jatuh saat melihatku.

"Sinta... anak Ayah... kamu datang... Ayah kira kamu sudah benci Ayah karena Ayah jual kamu..."

"Tidak Ayah, Sinta tidak benci Ayah... Ayah sakit apa? Kenapa di sini?"

Arga yang berdiri di belakangku langsung menelepon ambulans pribadi dan dokter.

Namun sebelum dokter datang, ayahku menarik tangan Arga dengan tangan gemetarnya.

"Tuan Arga... Tuan muda... maafkan saya... maafkan saya 10 tahun lalu saya lari... saya bukan pembunuh... saya tidak bakar pabrik..."

Arga langsung berjongkok di samping ayahku, wajahnya tegang.

"Ceritakan yang sebenarnya, Pak Herman. Saya tidak akan lapor polisi sebelum dengar cerita Bapak. Saya janji."

Ayahku menangis sesenggukan, air matanya yang sudah tua jatuh deras.

"10 tahun lalu... malam kebakaran itu... saya memang sopir pribadi Pak Wijaya dan Bu Wijaya... malam itu Pak Wijaya suruh saya pulang cepat karena Bu Wijaya mau masak untuk ulang tahun Tuan Arga yang ke-18... saya sudah mau pulang... tapi saya lihat Tante Mira... adiknya Pak Wijaya... dia masuk ke gudang kain dengan seorang pria membawa 2 jerigen bensin..."

Deg! Arga dan aku saling tatap.

"Saya takut Pak... saya coba cegah... tapi pria itu pukul kepala saya sampai pingsan... pas saya bangun, pabrik sudah terbakar besar... Pak Wijaya dan Bu Wijaya masih di dalam kantor... saya mau masuk menyelamatkan mereka... tapi api sudah besar sekali... saya ditarik warga..."

"Terus kenapa Bapak lari?" tanya Arga dengan suara bergetar menahan emosi.

"Karena setelah itu Tante Mira datang ke rumah kontrakan saya... dia kasih saya uang 100 juta... dia bilang kalau saya berani bicara, dia akan bunuh Sinta... waktu itu Sinta masih umur 12 tahun... masih SD... saya takut Tuan... saya takut anak saya dibunuh... makanya saya lari ke kampung dan sembunyi 10 tahun... sampai judi saya hancur dan saya terpaksa jual Sinta ke Tuan karena saya pikir Tuan orang baik yang bisa jaga Sinta..."

Semua kepingan puzzle akhirnya menyatu.

Ayahku tidak bersalah. Dia adalah korban. Dia dipaksa diam oleh Tante Mira demi warisan pabrik 500 Miliar itu. Dan karena rasa takutnya pada keselamatan anaknya, dia memilih lari.

Arga mengepalkan tangannya sangat kuat, urat-urat di tangannya terlihat. Wajahnya merah padam menahan amarah besar pada Tante Mira.

"Kenapa baru bicara sekarang Pak? Kenapa diam 10 tahun?" Suara Arga terdengar parau.

"Karena saya pengecut Tuan... saya pengecut... setiap malam saya mimpi Pak Wijaya dan Bu Wijaya minta tolong... tapi saya takut... saya takut Sinta dibunuh..."

Aku memeluk ayahku erat, air mataku tidak berhenti jatuh.

"Tidak apa-apa Yah... sekarang Sinta sudah sama Mas Arga... Mas Arga akan lindungi kita... Tante Mira tidak akan bisa apa-apa lagi..."

Arga berdiri, mengambil ponselnya dan menelepon seseorang dengan suara yang sangat dingin dan mengerikan, suara CEO Rogue yang sesungguhnya.

"Hendra, kerahkan semua pengacara terbaik Wijaya Group sekarang juga. Ke kontrakan saya di Bekasi. Dan satu lagi, bekukan semua rekening dan aset atas nama Mira Wijaya dan cabut dia dari dewan direksi. Hari ini juga. Kalau dia telepon, jangan angkat."

Arga menutup telepon dan kembali menatap ayahku.

"Pak Herman tidak usah takut lagi. Saya janji, mulai hari ini tidak ada yang bisa sentuh Pak Herman dan Sinta. Saya akan buka kembali kasus kebakaran 10 tahun lalu. Tante Mira akan saya penjarakan atas pembunuhan orang tua saya."

Ambulans pribadi akhirnya datang, dokter langsung membawa ayahku ke rumah sakit terbaik milik Wijaya Group di Jakarta.

Di perjalanan pulang ke penthouse, aku bersandar di bahu Arga di dalam mobil. Kami berdua terdiam, tapi genggaman tangan kami sangat erat.

"Mas masih benci ayah saya?" tanyaku pelan.

Arga menghela napas panjang dan mencium keningku dengan lembut.

"Tidak. Saya justru berterima kasih sama dia. Kalau dia tidak jual kamu ke saya seharga 500 juta waktu itu, saya tidak akan pernah ketemu istri secantik dan sekuat kamu yang berani ajak saya cari kebenaran."

Kata-kata itu membuat pipiku merah padam.

"Mas, terus warisan 2 Triliun itu gimana? Kan syaratnya harus menikah 1 tahun?"

Arga tersenyum licik, senyum CEO yang baru aku lihat.

"Warisan 2 Triliun itu tetap akan jadi milik kita, sayang. Tapi kontrak 1 tahunnya? Saya robek malam ini. Karena saya tidak mau kamu jadi istri kontrak lagi. Saya mau kamu jadi istri sungguhan saya, selamanya."

Jantungku berdegup sangat kencang mendengar kata selamanya dari mulut Arga Wijaya.

Malam itu, saat ayahku sudah dirawat dengan baik di rumah sakit VIP, aku dan Arga duduk di balkon penthouse lantai 50, melihat lampu-lampu Jakarta di bawah hujan rintik-rintik.

Arga memelukku dari belakang, dagunya di atas kepalaku.

"Sinta, boleh saya tanya sesuatu?"

"Apa Mas?"

"Kalau kontrak kita sudah robek, dan kamu sudah tahu saya dulunya ingin balas dendam sama ayahmu, apakah kamu masih mau jadi istri saya? Bukan karena 500 juta, bukan karena hutang, tapi karena kamu mau?"

Aku membalikkan badan, menatap mata tajam Arga yang kini terlihat penuh cinta dan ketulusan.

Aku mengangguk pelan dengan air mata bahagia.

"Mau, Mas. Sinta mau jadi istri Mas selamanya, bukan karena uang, tapi karena Mas yang selalu datang saat Sinta takut petir, Mas yang selalu lindungi Sinta."

Arga tersenyum, senyum paling tulus yang pernah aku lihat. Dia mengangkat daguku pelan dan mencium bibirku dengan lembut, tidak ada lagi paksaan seperti ciuman untuk warisan 2 Triliun di bab 6, tapi ciuman yang penuh cinta dan janji.

Ciuman pertama kami yang bukan karena kontrak.

Di bawah langit Jakarta yang habis hujan badai, di atas gedung termahal, dua hati yang terluka akhirnya menemukan rumahnya.

Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ponsel Arga berdering keras. Nama yang tertera di layar membuat wajah Arga langsung berubah dingin.

TANTE MIRA.

Dan pesan yang masuk setelahnya membuat darah Arga mendidih.

"Arga sayang, kalau kamu berani bekukan rekening Tante, Tante akan sebar video CCTV ayah Sinta yang membakar pabrik 10 tahun lalu ke semua media. Kita lihat siapa yang akan dipenjara. - Tante Mira"

Perang baru saja dimulai.

(Bersambung...)

^⁠_⁠^^⁠_⁠^

1
aina susiyanti77
keren kk😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!