Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 Nama-Nama yang Baru Ia Hafal
Rabu pagi, Dimas meletakkan sebuah map tebal di meja Navin dengan bunyi berat yang mengejutkan.
"Apa ini?"
"Direktori staf cabang Bandung, Pak. Enam puluh tiga orang, lengkap dengan foto, jabatan, dan satu fakta pribadi untuk masing-masing."
"Fakta pribadi?"
"Supaya Bapak punya sesuatu untuk dikatakan selain 'selamat pagi'."
Navin membuka halaman pertama. Foto kecil seorang pria berkumis dengan senyum ragu, dan di bawahnya tertulis dengan tulisan tangan rapi Dimas: Pak Darman, satpam shift pagi. Sudah dua belas tahun di sini. Punya tiga anak, si bungsu baru masuk SMP.
"Kamu menulis ini semalam?"
"Saya menulis ini tiga hari lalu, Pak." Dimas berdeham. "Saya sudah menduga Bapak akan membutuhkannya."
Navin menatap asistennya, lalu membalik halaman berikutnya. Foto perempuan paruh baya berseragam biru. Bu Yati, kantin lantai dasar. Suka menyisipkan tempe goreng ekstra untuk siapa pun yang tampak lelah. Halaman berikutnya, Pak Ujang, petugas kebersihan. Usianya enam puluh dua. Punya cucu bernama Raka yang baru belajar berjalan.
Ia membaca semuanya. Satu per satu, enam puluh tiga wajah dan enam puluh tiga cerita kecil. Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa gedung yang ia datangi setiap hari dipenuhi orang-orang yang tidak pernah ia lihat, padahal mereka tidak pernah berhenti bekerja untuknya.
Mereka berlatih dua jam penuh. Dimas menyodorkan foto-foto secara acak dan Navin harus menyebutkan namanya. Ia salah tujuh kali pada putaran pertama, dua kali pada putaran kedua, dan sempurna pada putaran ketiga.
"Sekarang latihan sapaan," ujar Dimas.
"Aku bisa menyapa."
"Coba, Pak. Katakan 'selamat pagi' pada saya."
"Selamat pagi."
Dimas menyipitkan mata. "Terdengar seperti pengumuman PHK massal."
"Bagaimana seharusnya?"
"Lebih ringan. Sedikit naik di akhir. Dan mungkin, kalau boleh saya sarankan, dengan ekspresi."
"Ekspresi apa?"
"Senyum, Pak."
Navin mencoba. Dimas menatapnya beberapa detik dengan sangat serius.
"Bagaimana?" tanya Navin.
"Bapak terlihat seperti orang yang sedang menahan bersin."
"Kamu tidak membantu."
"Saya jujur, Pak."
Pukul tujuh lewat dua puluh, ia turun ke lobi dengan map itu di bawah lengan dan jantung berdegup seperti hari pertamanya di sekolah. Pak Darman berdiri di pos jaga dengan termos teh di tangan, dan ketika melihat CEO-nya mendekat, ia langsung menegakkan punggung dan memberi hormat kaku.
"Selamat pagi, Pak Darman," ucap Navin.
Termos itu jatuh. Bunyinya berdentang keras di lantai marmer, dan teh panas menyebar ke sepatu satpam itu.
"Astaga. Maaf." Navin menunduk untuk memungutnya, tapi Pak Darman sudah lebih dulu menyambar termos dan menutup mulutnya.
"Bapak... tahu nama saya?"
"Anak bungsunya baru masuk SMP, ya?"
Mata Pak Darman melebar sampai hampir mengeluarkan bola matanya. "Ya... ya, Pak. Bagaimana Bapak..."
"Selamat," ujar Navin, dan melanjutkan berjalan menuju lift dengan langkah yang sedikit terlalu cepat, karena ia tidak tahu bagaimana harus menangani ekspresi bahagia yang pecah di wajah pria tua itu.
Di lift, ia bertemu Widya dan Rini dari administrasi. Mereka berdiri berdempetan di sudut dengan wajah pucat seperti dua anak kucing di depan anjing besar.
"Selamat pagi, Widya. Rini."
Keheningan yang menyusul terasa seperti satu abad. Rini menggenggam lengan Widya begitu keras hingga Widya meringis.
"Se... selamat pagi, Pak," bisik Widya.
"Bapak tahu nama kami?" tanya Rini, sebelum sempat menahan diri.
"Ya."
"Kenapa, Pak?"
Navin berpikir. Jawaban jujurnya adalah karena saya baru menyadari kalian juga manusia, tapi itu terdengar seperti kalimat yang bisa membuat dua perempuan itu pingsan. "Karena saya seharusnya sudah tahu dari dulu."
Pintu lift terbuka di lantai tiga. Widya dan Rini keluar dengan langkah kikuk, dan tepat setelah pintu menutup, ia mendengar bisik-bisik panik dari koridor: Dia kesurupan. Aku bilang dia kesurupan.
Sebelum itu, Dimas menyodorkan secarik catatan dari Bu Retno: Pak, apakah Bapak sedang tidak enak badan? Kalau perlu dokter, saya bisa panggilkan. Navin membacanya dan tertawa pendek. Dimas menatapnya dengan waspada, seperti orang mendengar burung beo tiba-tiba mengucapkan kalimat lengkap.
Di lorong, ia berpapasan dengan Pak Harto dan mencoba topik yang disarankan Dimas. "Pak Harto. Bagaimana kabar cucu Bapak?"
"Cucu, Pak?"
"Cucu Bapak."
"Saya belum punya cucu, Pak."
Navin menatap map di tangannya, lalu Pak Harto. "Berarti nanti."
"Ya, Pak. Semoga."
Mereka berdiri dalam keheningan aneh. Di kejauhan, Navin hampir bisa mendengar Dimas menepuk dahinya sendiri.
Menjelang siang, ia turun ke kantin karyawan sendirian. Meja pojok yang biasa ditempati Ophelia dan Bastian kosong hari itu, dan ia sengaja memilih meja lain. Ia mengantre. Ia mengambil nampan. Ia memilih gado-gado dan segelas es teh dan menatap kasir dengan gugup, sampai menyadari bahwa satu-satunya orang yang tersenyum padanya adalah perempuan berseragam biru di balik etalase.
"Pak Navin, sotonya?"
"Bu Yati."
Perempuan itu berkedip. "Bapak tahu nama saya?"
"Hari ini gado-gado."
"Kerupuknya, Pak?"
"Tidak. Terima kasih."
Bu Yati menyendok gado-gado dengan senyum lebar dan menambahkan dua potong tempe goreng ke piringnya tanpa ditanya.
"Bapak kelihatan lelah," katanya.
Navin menatap tempe itu, dan sesuatu di dadanya hangat, aneh, seperti bunyi yang belum pernah ia dengar. "Terima kasih, Bu Yati."
Pukul sembilan pagi keesokan harinya, Ophelia mengetuk pintu ruangan kaca untuk laporan harian. Ia masuk dengan map, berdiri di depan meja, dan melapor seperti biasa. Nada suaranya datar, rapi, tanpa emosi. Tapi Navin memperhatikan sesuatu yang berbeda: surat yang kemarin ia letakkan di bawah stapler sudah tidak ada.
Ia tidak berani bertanya. Tidak berani menyebutnya. Kalimat apakah kamu sudah membacanya? sudah sampai di ujung lidah, tapi ia ingat baris ketiga di papan tulis Dimas: jangan meminta apa pun sebagai imbalan. Ia hanya mendengarkan laporan, menganggukkan kepala pada tempat yang tepat, dan berusaha keras agar suaranya tidak terdengar seperti orang yang sedang menunggu vonis.
"Itu saja, Pak," ucap Ophelia di akhir laporan.
"Terima kasih."
Ia mengumpulkan mapnya. Berjalan ke pintu. Tangannya sudah memegang gagang ketika ia berhenti.
"Pak."
"Ya?"
Ia tidak menoleh. Bahunya tegak, tapi ada sesuatu yang berbeda pada garis lehernya, sesuatu yang lebih lunak.
"Sampai besok."
Pintu menutup pelan.
Navin duduk diam menatap gagang yang bergerak kembali ke posisi semula. Bukan permisi. Bukan terima kasih, Pak. Hanya dua kata yang selama ini tidak pernah ia dengar darinya, dua kata yang mengandung janji kecil bahwa akan ada besok.
Dimas, yang berdiri di pintu samping dengan tablet, menahan senyum.
"Pak, boleh saya mencatat?"
"Catat apa?"
"'Rabu. Dua kata.'"
Navin menutup wajahnya dengan telapak tangan, dan untuk ketiga kalinya minggu itu, ia membiarkan dirinya tersenyum tanpa berusaha menahannya.