PERANG TANPA PAHLAWAN
Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.
Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.
Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.
Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 — Api yang Dipalsukan
Serangan pertama di garis pertahanan Sylvaris datang berbeda dari apa pun yang pernah Ardan alami di Sungai Aldis.
Alih-alih perahu yang menyeberangi sungai, Ravharn menyerang melalui jalur darat, mendorong pasukan besar melalui celah di antara perbukitan yang menandai perbatasan hutan Sylvaris. Formasi mereka lebih terorganisir, dilengkapi mesin pengepungan yang belum pernah Ardan lihat sebelumnya—menara kayu beroda yang bisa menembakkan panah besar dengan kekuatan mematikan.
"Balista," jelas Thalion ketika mereka mengamati pergerakan musuh dari menara pengawas. "Ravharn telah meningkatkan teknologi militer mereka secara signifikan sejak awal perang. Pasukan kita harus beradaptasi."
Ardan mencatat setiap detail dengan seksama, insting yang telah ia kembangkan sejak Halric pertama kali memujinya semakin tajam seiring pengalaman. "Formasi mereka bergerak seperti mencoba memecah pertahanan di tiga titik sekaligus. Jika kita fokus mempertahankan satu titik, dua lainnya bisa menembus."
Thalion menatapnya dengan penilaian baru. "Analisis yang tepat, Sersan manusia. Kau punya mata untuk strategi."
"Saya hanya memperhatikan pola, Komandan. Sama seperti saya belajar memperhatikan pola gandum sebelum memanen."
Sebuah senyum tipis muncul di wajah Thalion, ekspresi langka bagi seorang elf yang biasanya menjaga jarak formal dengan manusia. "Petani yang menjadi ahli strategi. Dunia ini penuh kejutan."
---
Pertempuran yang mengikuti berlangsung sepanjang hari, berbeda dari serangan cepat di Sungai Aldis yang biasanya selesai dalam hitungan jam. Kombinasi pasukan Valdren dan Sylvaris menghadapi gelombang demi gelombang pasukan Ravharn, memanfaatkan medan hutan untuk keuntungan taktis.
Ardan memimpin regunya di salah satu titik pertahanan kritis, menggunakan pepohonan sebagai perlindungan alami sambil mengoordinasikan serangan balik yang tepat waktu. Pengalaman dari Sungai Aldis telah mengajarkannya untuk membaca ritme pertempuran, mengenali kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan.
"Regu dua, mundur ke posisi tiga!" teriaknya, melihat celah dalam formasi musuh yang bisa dimanfaatkan. "Regu satu, siap untuk serangan kilat begitu mereka melewati garis pohon!"
Serena, yang kini telah membuktikan dirinya sebagai prajurit kompeten meski awalnya diragukan, mengeksekusi perintah dengan presisi yang mengejutkan. "Kau memimpin seperti veteran, Sersan," katanya di sela-sela pertempuran, nada suaranya kini penuh hormat yang tulus.
"Aku hanya mencoba membawa semua orang pulang."
Di tengah kekacauan pertempuran, Ardan menyaksikan sesuatu yang membuat rahangnya menegang—sekelompok pemanah elf, dipimpin oleh seorang druid tua, memanggil kekuatan hutan itu sendiri. Akar-akar pohon bergerak, melilit kaki prajurit Ravharn yang menerobos terlalu jauh, memberi waktu berharga bagi pasukan gabungan untuk mengatur ulang formasi.
"Hutan ini benar-benar hidup," gumam Kael, kagum meski tetap waspada, panahnya terus melesat ke arah musuh.
---
Menjelang senja, pasukan Ravharn akhirnya mundur, meninggalkan medan pertempuran yang berantakan namun tidak sepenuhnya jatuh ke tangan mereka. Kemenangan hari itu terasa pahit, dibayar dengan korban yang signifikan dari kedua belah pihak sekutu.
Ketika penghitungan korban dilakukan, Ardan menemukan bahwa regunya kehilangan tiga orang, termasuk salah satu rekrut baru yang belum sempat ia kenal dengan baik. Perasaan bersalah yang familiar kembali menghantuinya, meski ia tahu logikanya salah—tidak ada pemimpin yang bisa menyelamatkan semua orang di setiap pertempuran.
"Kau tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri," kata Farin, menemukannya duduk sendirian di dekat api unggun setelah penghitungan selesai. "Kau melakukan yang terbaik dengan informasi yang kau punya."
"Aku tahu itu secara logika. Tapi rasanya tidak membantu."
"Tidak pernah membantu," Farin mengakui, duduk di sampingnya. "Halric pernah bilang padaku sekali, sebelum ia gugur. Katanya, perasaan bersalah itu adalah harga yang harus dibayar untuk tetap peduli. Prajurit yang berhenti merasa bersalah atas kematian orang-orangnya adalah prajurit yang telah kehilangan sesuatu yang penting."
Ardan menatap api unggun, memikirkan kata-kata itu. "Aku tidak ingin kehilangan itu. Tapi aku juga tidak ingin terus merasakan beban ini selamanya."
"Mungkin itu bukan pilihan antara keduanya," saran Farin. "Mungkin kau hanya perlu belajar membawa beban itu tanpa membiarkannya menghancurkanmu."
---
Malam itu, druid tua yang Ardan lihat memanggil kekuatan hutan mendekatinya di dekat api unggun. Wajahnya keriput oleh usia yang tidak bisa ditentukan, matanya hijau tua seperti lumut kuno.
"Sersan manusia," katanya, suaranya seperti gemerisik daun. "Hutan berbisik tentangmu."
Ardan terkejut oleh pendekatan mendadak itu. "Berbisik apa?"
"Bahwa kau membawa pertanyaan yang belum terjawab. Bahwa akarmu, meski terputus dari tanah kelahiranmu, masih mencari kebenaran di bawah permukaan." Druid itu duduk di seberangnya tanpa diundang, gerakannya lambat namun penuh keanggunan kuno. "Elowen bercerita tentangmu."
"Apa yang hutan tahu tentang perang ini yang tidak kami ketahui?"
Druid itu tersenyum, ekspresi yang penuh kebijaksanaan berabad-abad. "Hutan mengingat segalanya, Sersan. Ia mengingat ketika pohon-pohon di perbatasan timur dibakar, bukan oleh api pertempuran biasa, tapi oleh api yang sengaja dinyalakan untuk terlihat seperti serangan Ravharn."
Ardan merasakan dinginnya sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada pertempuran fisik menjalar di tulang punggungnya. "Anda mengatakan bahwa serangan terhadap Sylvaris... dipalsukan?"
"Aku mengatakan hutan mengingat apa yang dilihatnya. Interpretasi adalah milikmu untuk ditentukan." Druid itu berdiri, siap untuk pergi. "Tapi hati-hati, Sersan. Kebenaran yang kau cari memiliki penjaga yang tidak ingin ditemukan. Jalan menuju jawaban itu mungkin lebih berbahaya daripada medan perang mana pun yang pernah kau hadapi."
Ia menghilang ke dalam kegelapan hutan sebelum Ardan sempat bertanya lebih lanjut, meninggalkannya dengan kata-kata yang akan menghantuinya jauh melampaui malam itu—benih kecurigaan yang kini telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih konkret dan mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan.
---
Kata-kata druid tua itu membakar pikiran Ardan sepanjang malam, sampai ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ini hanya kecurigaan tanpa dasar.
Keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya terbit, ia mencari Elowen di kemah Sylvaris, menemukannya sedang memeriksa peta bersama beberapa perwira elf lainnya.
"Aku perlu bicara dengan Anda," katanya, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya bergejolak. "Tentang apa yang dikatakan druid semalam."
Elowen mengangkat pandangan, dan sesuatu di matanya menunjukkan bahwa ia sudah menduga percakapan ini akan terjadi. Ia mengisyaratkan pada perwira lain untuk memberi mereka privasi.
"Ranu bicara padamu," katanya, merujuk pada druid tua itu. "Ia jarang berbagi apa yang dilihat hutan dengan orang luar."
"Ia bilang kebakaran di perbatasan timur, yang memicu keterlibatan Sylvaris dalam perang ini, mungkin bukan serangan Ravharn yang sesungguhnya." Ardan menatapnya lurus. "Apakah itu benar?"
Elowen menghela napas panjang, seolah menanggung beban yang telah lama ia pikul sendirian. "Kami tidak pernah menemukan bukti konklusif bahwa itu Ravharn. Kami menemukan jejak yang mengarah ke sana, seragam yang tertinggal, senjata dengan lambang mereka. Tapi..."
"Tapi?"
"Tapi ada detail yang tidak pernah cocok. Pola pembakaran tidak konsisten dengan taktik militer Ravharn yang biasa. Waktu serangan terjadi tepat ketika penjagaan kami paling lemah, seolah penyerang tahu persis kapan harus menyerang." Elowen menatap ke arah hutan yang mengelilingi mereka. "Kami terlalu marah saat itu untuk menyelidiki lebih jauh. Kami langsung bergabung dengan perang, mempercayai narasi yang paling jelas."
"Siapa yang diuntungkan dari Sylvaris bergabung dengan perang ini?"
"Pertanyaan yang sama yang telah kutanyakan pada diriku sendiri selama berbulan-bulan." Elowen menatapnya dengan intensitas baru. "Ardan, aku telah mengumpulkan informasi sejak awal keterlibatan kami. Ada pola pergerakan uang dan senjata yang tidak masuk akal jika hanya melibatkan Valdren dan Ravharn. Pedagang senjata tertentu, dari berbagai bangsa, tampaknya mendapat keuntungan luar biasa dari setiap eskalasi konflik."
---
Percakapan itu berlanjut sepanjang pagi, Elowen berbagi lebih banyak detail yang telah ia kumpulkan diam-diam selama berbulan-bulan terakhir. Nama-nama pedagang senjata yang sama muncul berulang kali di berbagai transaksi mencurigakan. Rute pasokan yang tidak masuk akal jika hanya melayani satu pihak dalam konflik. Pertemuan rahasia antara figur-figur berpengaruh dari kedua belah pihak yang seharusnya bermusuhan.
"Aku belum berani membagikan ini secara terbuka," Elowen mengakui. "Tanpa bukti konklusif, ini hanya akan terdengar seperti teori konspirasi, dan bisa membahayakan posisiku sebagai diplomat jika salah."
"Tapi Anda mempercayainya cukup untuk membagikannya padaku."
"Karena kau sudah menanyakan pertanyaan yang tepat sejak pertemuan pertama kita." Elowen tersenyum tipis. "Dan karena aku percaya, di antara semua orang yang telah kutemui dalam perang ini, kau adalah salah satu dari sedikit yang benar-benar ingin tahu kebenaran, bukan hanya kemenangan."
Ardan menatap tangannya sendiri, memikirkan semua yang telah ia korbankan—keluarganya, Halric, Pell, dan begitu banyak nama lain yang telah menghilang dalam perang ini. Jika semua itu memang bagian dari permainan yang lebih besar, dikendalikan oleh tangan-tangan tersembunyi yang mendapat keuntungan dari penderitaan mereka...
Amarah yang mulai tumbuh dalam dirinya terasa berbeda dari amarah yang ia rasakan terhadap Ravharn setelah Elar hancur. Ini lebih dingin, lebih terarah, seperti api yang membara tanpa asap.
---
Ketika Ardan kembali ke kemah Valdren, Kael dan Tobin langsung menyadari perubahan di wajahnya.
"Ada apa?" tanya Tobin, mengamatinya dengan kekhawatiran.
Ardan ragu sejenak, mempertimbangkan berapa banyak yang harus ia bagikan. Tapi ia telah belajar, sejak Karhold, bahwa beban yang dipikul sendirian jauh lebih berat daripada yang dibagi bersama orang-orang yang dipercaya.
Ia menceritakan semuanya—percakapan dengan Elowen di Sungai Aldis, kata-kata druid semalam, dan detail-detail mengerikan yang baru saja ia dengar tentang kemungkinan manipulasi di balik perang ini.
Kael mendengarkan dengan wajah yang semakin serius seiring cerita berlanjut. "Jadi kau bilang... mungkin ada orang-orang yang sengaja memicu dan memperpanjang perang ini untuk keuntungan mereka sendiri?"
"Itu yang mulai kupercayai," jawab Ardan. "Dan jika itu benar, itu berarti Halric, Pell, semua orang yang telah gugur... mereka mati untuk kebohongan yang diciptakan oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di medan perang."
Tobin diam untuk waktu yang lama, mencerna informasi itu. "Kalau ini benar, apa yang bisa kita lakukan? Kita hanya prajurit biasa."
"Aku tidak tahu," Ardan mengakui jujur. "Tapi aku tahu aku tidak bisa berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja kudengar. Tidak setelah semua yang telah kita korbankan."
Kael menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan, tekad baru muncul di matanya. "Kalau begitu, kita cari tahu lebih banyak. Diam-diam. Sampai kita punya cukup bukti untuk melakukan sesuatu."
"Kita?" Ardan menatap kedua sahabatnya.
"Tentu saja kita," jawab Tobin tegas. "Kita sudah bersama sejak hari pertama di Karhold. Kau pikir kami akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian?"
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dengan Elowen pagi itu, sesuatu yang mendekati harapan muncul dalam diri Ardan—bukan harapan bahwa perang akan segera berakhir, tapi harapan bahwa kebenaran, betapa pun gelapnya, pada akhirnya akan terungkap, dan bahwa ia tidak perlu menghadapinya sendirian.