NovelToon NovelToon
Sistem Penguasa Sekolah

Sistem Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

"Woy sampah rendahan."

"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."

Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.

Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.

Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.

Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.

"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pagi itu, Juna berjalan menuju kantin dengan langkah yang jauh berbeda dari kemarin. Ia tidak lagi menunduk, tidak lagi memperhatikan sudut-sudut ruangan untuk mencari jalan menghindar. Punggungnya tegak, dagunya tidak turun sedikit pun ketika beberapa pasang mata mulai melirik ke arahnya begitu ia melangkah masuk.

'Kemarin aku yang jadi bahan tontonan mereka,' batinnya, menyusuri barisan meja dengan tatapan tenang. 'Hari ini, giliran mereka yang jadi tontonan.'

Ia melihat sosok yang dicarinya—pemuda berjaket merah yang kemarin menghantam perutnya dengan tongkat baseball, kini duduk santai di meja biasa bersama dua temannya, tertawa sambil menyantap sarapan seolah tidak terjadi apa-apa.

Juna berjalan lurus ke arah meja itu, tidak berbelok, tidak melambat.

"Loh?" pemuda itu mendongak, alisnya terangkat melihat Juna berdiri tepat di hadapannya tanpa gentar sedikit pun. "Berani juga lu balik lagi ke sini."

"Aku cuma mau bilang sesuatu," ucap Juna, suaranya cukup keras hingga beberapa meja di sekitarnya ikut menoleh. "Kemarin kamu pukul aku pakai tongkat sampai nampan aku sendiri kena ke muka aku. Itu lucu banget buat kamu, kan?"

Pemuda itu menyeringai, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Ya iyalah, lucu. Muka lu belepotan kuah sayur, anjir, lu tau gak itu momen terbaik minggu ini."

Beberapa tawa kecil terdengar dari meja sekitarnya. Juna membiarkan tawa itu berlangsung sejenak sebelum ia melanjutkan, nada suaranya tetap tenang namun tajam.

"Kalau begitu, biar aku kasih kamu momen terbaik minggu ini juga."

Sebelum pemuda itu sempat bereaksi, Juna sudah mencengkeram kerah bajunya dengan satu tangan, menariknya berdiri dari kursi dengan kekuatan yang membuat mata pemuda itu membelalak kaget. Suasana kantin seketika senyap, semua mata kini tertuju penuh pada mereka berdua.

"Anjing, lepasin—"

"Kamu suka mempermalukan orang di depan umum, kan?" Juna memotong, suaranya tetap rendah namun cukup jelas terdengar oleh seisi kantin yang kini menahan napas. "Sekarang giliran kamu yang merasakannya."

Dengan satu dorongan cepat, Juna melepaskan cengkeramannya sambil menyapu kaki pemuda itu, membuatnya jatuh terduduk keras ke lantai kantin tepat di depan mejanya sendiri, disaksikan hampir seluruh siswa yang sedang sarapan. Nampan berisi sarapannya sendiri ikut tumpah, mengotori seragam merahnya yang biasa ia banggakan.

Gelak tawa yang tadinya ditujukan pada Juna kini berbalik arah, memenuhi ruangan kantin dengan suara riuh yang jauh lebih keras.

Pemuda itu bangkit dengan wajah memerah menahan malu, matanya berkilat penuh amarah, namun ia tidak berani menyerang lagi, matanya sesekali melirik ke arah beberapa siswa dari faksi lain yang menonton dengan tatapan menilai.

"Lain kali," ucap Juna sambil membalikkan badan, tanpa menoleh lagi, "pikir dua kali sebelum kamu iseng sama orang."

Ia melangkah keluar kantin dengan kepala tegak, membiarkan gemuruh bisik-bisik dan tawa mengiringi setiap langkahnya. Ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—perhatian, sorotan, rasa segan yang tiba-tiba muncul dari orang-orang yang kemarin memandangnya rendah.

[Popularitas: 0 → 6]

Panel kecil itu muncul sekilas di sudut pandangannya, dan Juna tidak bisa menahan seringai yang perlahan terbentuk di sudut bibirnya.

'Ternyata rasanya seperti ini,' batinnya, melangkah menyusuri koridor sambil sesekali menangkap tatapan kagum dari siswa-siswa yang tidak berani menyapanya langsung. 'Dihormati. Ditakuti. Jauh lebih baik daripada diinjak-injak seperti kemarin.'

Ia tidak menyadari betapa nikmatnya sensasi itu mulai meracuni caranya berjalan, caranya menatap orang lain, caranya berbicara—setiap kalimat yang keluar dari mulutnya kini terdengar sedikit lebih tinggi, sedikit lebih merendahkan, seolah dunia di sekitarnya baru saja berubah menjadi panggung yang seluruhnya miliknya sendiri.

1
NayiRiyyy
"Alur yang mungkin Anda kenal"🤭
Notdrick: iya kak🤣
total 1 replies
Riyyyyyyy
ada lolinya gak thor?
Riyyyyyyy: asiiik😍 ingat pepatah, banyak loli banyak rezeki🤭
total 2 replies
Notdrick
Bukan novel BL yahh /Hey/
Feri
novel baru lagi,bisa tamat gak ini/Sly/
Feri: ku tunggu ya/Sly//Sly/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!