NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Tiga jam terasa bagaikan keabadian yang membekukan lorong ruang operasi.

Lampu indikator merah di atas pintu besi tebal itu masih menyala terang, menebarkan keheningan yang sarat kecemasan.

Kyai Adi terduduk lemas di bangku panjang, membisu sembari terus memutar butiran tasbih di jemarinya yang gemetar.

Di sampingnya, Umi Mina terus menangis sesenggukan, terbayang nasib Musdalifah yang kini berada di tangan Zafar, sekaligus disandera rasa bersalah yang teramat dalam pada Laila.

Sementara Kyai Adam dan Umi Sinta tak hentinya menatap pintu bedah dengan doa yang meluncur tiada putus dari bibir mereka.

CEKLEK.

Lampu merah di atas pintu akhirnya padam. Suara gesekan pintu otomatis memecah ketegangan seketika.

Semua orang langsung berdiri dan berebut melangkah mendekat saat Laila keluar dari dalam.

Pakaian bedah hijaunya bernoda darah, masker medisnya sudah diturunkan ke leher, memamerkan raut wajah yang amat letih dan pucat pasi.

Namun, di balik keletihan itu, pendar matanya memancarkan ketenangan.

"Laila! Bagaimana Musa, Nak?! Bagaimana keadaan anakku?!" seru Umi Sinta histeris, menyambar kedua tangan menantunya.

Laila mengulas senyum tipis yang sarat rasa syukur, meski matanya berkaca-kaca.

"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Pelurunya berhasil diangkat tanpa merusak pembuluh darah utama. Masa kritis Musa sudah lewat, tinggal menunggu dia sadar dari bius total."

"Alhamdulillah, Ya Allah."

Helaan napas lega membumbung di koridor tersebut.

Kyai Adam mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengucap syukur tak terhingga.

Tiba-tiba, Umi Mina melangkah maju dan meluruh di depan kaki Laila.

Ia menggenggam gaun bedah Laila sembari menangis histeris.

"Laila, maafkan Umi, Nak. Maafkan Umi yang selama ini jahat padamu. Tolong selamatkan Musdalifah, Laila! Tolong suruh orang-orang Musa menyelamatkan kakakmu!"

Laila mematung sejenak, menatap wanita yang pernah ia anggap sebagai ibu itu dengan pandangan rumit.

Ia perlahan membungkuk, membantu Umi Mina untuk berdiri.

"Umi, tenang dulu." ucap Laila pelan namun tegas. Ia melirik ke arah Yusuf yang berdiri tegap tak jauh dari mereka.

"Yusuf, bagaimana pergerakan tim pencari?"

Yusuf melangkah mendekat, memberikan penghormatan singkat pada Laila.

"Sinyal pelacak yang kita pasang rahasia pada Musdalifah saat di kafe telah aktif kembali, Bu. Zafar dan kelompok Scorpion terdeteksi menuju area dermaga tua pelabuhan barat."

Laila mengangguk dingin, menyapu air mata di pipinya.

Cadar pengganti dari kain robekan bajunya kembali ia pasang dengan rapi.

Aura lembut seorang istri seketika berganti dengan ketegasan yang dingin—pengaruh keberadaan Musa yang kini mengalir dalam jiwanya.

"Siapkan pasukan," perintah Laila lantang pada Yusuf.

"Sebelum Musa terbangun, kita pastikan masalah Zafar dan pembuktian ini selesai."

"Tapi, Umi?" tanya Yusuf ragu. Sebagai orang kepercayaan Musa yang selalu menghormati Laila dan memanggilnya 'Umi', ia khawatir melepaskan Laila ke medan pertempuran tanpa Musa di sisinya.

Laila tidak menjawab keraguan itu dengan kata-kata panjang. Ia berbalik dan melangkah mendekati Kyai Adam, ayah mertuanya.

"Abah, Laila titip Musa," ucap Laila lembut namun penuh ketegasan, mencium tangan sang kyai dengan takzim.

Kyai Adam menatap menantunya dengan mata berkaca-kaca, memancarkan kepasrahan dan doa restu.

"Pergilah, Nak. Jaga dirimu. Abah dan Umi akan menjaga Musa di sini."

Laila mengangguk pelan, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam ruang ganti khusus dokter.

Hanya dalam waktu beberapa menit, pintu ruangan kembali terbuka.

Laila keluar bukan lagi dengan gaun bedah hijau berdarah, melainkan dengan pakaian taktis serba hitam yang pas di tubuhnya, lengkap dengan cadar hitam yang menutup rapat sebagian wajahnya.

Hanya matanya yang terlihat—menyala tajam, memancarkan aura dominan dan dingin yang begitu mirip dengan Musa.

"U-Umi?" bisik Yusuf tercekat. Napasnya hampir terhenti, bahkan ia hampir pingsan karena syok menyaksikan perubahan drastis pada sosok Laila yang biasanya lembut dan anggun, kini menjelma menjadi ratu taktis yang siap bertempur.

Laila memasang sarung tangan taktis hitamnya, lalu menatap Yusuf tanpa ragu.

"Ayo," tumpah suara Laila dingin dan mantap.

"Kita selesaikan ini."

Di tengah keheningan lorong rumah sakit yang tegang, dering suara ponsel taktis di saku celana Laila mendadak memecah udara.

Laila menghentikan langkahnya, lalu mengeluarkan ponsel genggam khusus yang terhubung dengan enkripsi aman.

Layar kecil itu menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal, yang diidentifikasi oleh sistem sebagai panggilan langsung dari Nakula.

Dengan gerakan tenang namun mematikan, Laila menekan tombol terima dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

Tanpa menunggu Nakula membuka suara atau melontarkan ancamannya, Laila lebih dulu berucap dengan intonasi yang begitu dingin, datar, dan sarat akan kematian:

"Aku datang, Nakula."

Sesampainya di dermaga tua pelabuhan barat, angin malam berembus kencang membawa aroma garam dan karat yang pekat.

Laila melangkah tegas keluar dari mobil lapis baja, dikawal ketat oleh Yusuf dan pasukan bersenjata serba hitam.

Di tengah dermaga yang remang, Zafar berdiri menyeringai, memegang pistol sembari menahan Musdalifah yang terikat di sudut kontainer.

Di sampingnya, Nakula berdiri dengan tatapan obsesif yang liar.

"Laila. Aku benar-benar tidak menyangka dengan keberanianmu," ucap Zafar dengan suara berat berkilat dingin.

Laila menatap Zafar tanpa rasa gentar sedikit pun dari balik cadar hitamnya.

"Dulu kamu menculikku, Zafar. Dan, kamu memintaku agar aku membunuh Musa. Tapi hari ini, permainanmu berakhir."

Zafar tertawa sinis, melempar pistolnya ke tanah dan menarik pisau komando.

"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh kamu bisa bertahan tanpa suamimu!"

Pertarungan satu lawan satu tak terelakkan. Zafar menerjang maju dengan sabetan pisau yang cepat dan berbahaya.

Namun, Laila bergerak sangat lincah, menghindar dengan presisi tinggi.

Benturan fisik terjadi hebat; Laila sempat terkena sabetan tajam di lengan kirinya hingga darah merembes membasahi baju taktis hitamnya.

"Umi!" teriak Yusuf cemas dari kejauhan, hampir menerobos maju.

Namun Laila menahan rasa sakitnya. Memanfaatkan kelengahan Zafar yang menganggap remeh dirinya, Laila melancarkan gerakan kuncian mematikan—sebuah teknik pertahanan diri jarak dekat yang pernah diajari Musa.

Dengan satu putaran tubuh yang cepat dan hentakan kuat, Laila mematahkan pergelangan tangan Zafar dan membanting tubuh pria itu keras-keras ke lantai beton hingga tak berdaya.

Zafar mengerang kesakitan, terkapar kalah di bawah tatapan dingin Laila.

Melihat Zafar tumbang, Yusuf segera bergerak cepat mendekati kontainer dan membuka ikatan tali pada Musdalifah yang menangis histeris.

Sementara itu, Nakula yang panik mencoba merogoh senjata di pinggangnya untuk menyerang Laila dari belakang.

Tanpa memutar badan secara penuh, Laila dengan refleks kilat mencabut pistol dari holster-nya.

DOR!!

"AGHHH!" Nakula menjerit histeris, tersungkur memegang lututnya yang tertembak telak.

Laila melangkah mendekat, mengarahkan moncong pistol yang masih berasap tepat ke arah kepala Nakula dan Zafar secara bergantian.

Sorot matanya memancarkan ketegasan penguasa yang tak tersentuh.

"Jangan usik lagi rumah tanggaku, atau aku akan membunuh kalian," ucap Laila dengan suara rendah yang membekukan darah.

Nakula merintih kesakitan tak berani berkutik, sementara Zafar yang terkapar hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah, mengakui kekalahannya di tangan istri sang pimpinan mafia.

1
Rahmawati Amma
akhirnya tamat juga bagus ceritanya ngak terlalu panjang babnya saya suka karna saya suka ceritanya kuberi gift nonton iklan 10× traktir kopi 🍵 plus kasih vote maaf thor cuma itu yg bisa saya beri😖😢🙏
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Muft Smoker
cerita ny bagus kak ,, aq suka ma ceritanya 😁🤗
Muft Smoker
akhirnya semua udh bertemu dengan kebahagiaan masing2 ,,

makasih buat cerita ny yx kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,, semangat buat cerita terbaru ny
total 2 replies
Yani Agustin
thor, katanya dua2nya keturunan kyai tapi koq ga ada shalat2 nya, trus ga ada ritual ahalat sunat dulu sebelum MP, trs kelakuan bu nyainya tdk mencerminkan bu nyai seh thor 🙏
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
alhmdulillah versi mini dr kalian telah lahir dg sehat dan selamat ,,
Muft Smoker
waah bayi ny aj janjian mau keluarnya ,, 🤭 ,, semoga ibu dan bayi ny sehat2 ,, baik Laila atau pun Musdalifah ,,,
Rahmawati Amma
kok sepi pembaca ya padahal novelnya lumayan bagus 🤔
Rahmawati Amma
bagus ceritanya
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🙏
total 1 replies
Rahmawati Amma
ya berhubung nonton iklan sisa 7kali ya aku cuma bisa ngasi segitu plus traktir kopi 🍵 😅
Rahmawati Amma
ini aneh laila lah katanya bisa bela diri lah ini kenapa lembek 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
weh thor kok nama doang yg di sebut ngak sopan itu panggil abang ke atau mas lah ini nama doang tampa embel2 😔
my name is pho: terima kasih kak. tapi nanti ada di bab ke sekian ada panggilan mas
total 1 replies
Rahmawati Amma
lah bukannya laila bercadar di sampul novelnya 🤔😅
Yati Susilawati: mungkin nnt klu sdh nikah😌
total 1 replies
Muft Smoker
akhirnya semua udh berdamai dg masa lalu ,, begitu juga dg Zafar ,, semoga stelah masa hukuman km telah selesai segera pertanggung jawabkan perbuatan mu terhadap Musdalifah ,,
Muft Smoker
alhmdulillah smua udh baik2 aj ,,
semoga ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
semoga Musdalifah bnr2 berubah ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
sri hastuti
semoga selanjutnya bahagia semua thor, semua rukun ,🙏
sri hastuti
bagus, musa tegas sbg pria tau batasannya, jd gak semua wanita brani goda, siippp Musa, 👍👍
sri hastuti
semoga sdh tdk ada gangguan lagi, atau pelakor,atau kejahatan ,biar mereka berdua bahagia thor 🙏
Muft Smoker
putri angkat???
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁gpp kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!