NovelToon NovelToon
Rahasia Tersembunyi Mantan

Rahasia Tersembunyi Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:904
Nilai: 5
Nama Author: Penpena

Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.

Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.

Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.

Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.

Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Berharap

Amira bisa merasakan begitu eratnya tangan Glen mencengkram tangannya. Dia merasa tegang dengan tatapan Glen yang tertuju padanya. 

"Kamu berbohong!." 

Kedua alis Amira bertaut rapat, bingung dengan maksud Glen.

"Kamu berbohong padaku, Mira. Aku tahu dia bukan pasangan mu. Benarkan?." Tanya Glen serius semakin menatapnya lebih dalam lagi bahkan mendekatkan badanya kepada Amira.

Amira merasa kalau Glen semakin maju, dan dia pun mundur berlahan karena tidak bisa mempertahankan diri. 

"Apa maksud mu?." 

"Maksud ku adalah, kamu berbohong dan dia bukan pasangan mu. Kamu hanya berniat untuk menghindariku dengan cara mengatakan dia adalah pasangan mu." lirih Glen 

"Sok tahu kamu."

"Aku tahu, karena pria itu sendiri yang mengatakan padaku." Ucap Glen.

Seketika bibir Amira agak terbuka tanpa suara, sementara matanya bergerak gelisah mencari penjelasan. Bagaimana bisa Kevin mengatakan hal itu kepada Glen, dan kapan dia mengatakannya?.

"Jadi, jangan mencoba untuk membohongiku Amira." 

Amira menghempaskan tangan nya dari genggaman Glen, dan dia menjauh dari Glen. 

"Lalu kenapa?, kenapa kalau dia bukan pasangan ku?. Itu bukan urusan mu!." Tegas Amira.

Akhirnya Glen tersenyum, dia sangat senang mendengar hal itu kalau ternyata Amira dengan Pria tadi tidak ada hubungan apa-apa. Artinya sekarang dia merasa lega, dia akan memperjuangkan Amira, bagaimana pun caranya. Karena dia benar-benar mencintai Amira.

"Bagus lah kalau dia bukan pasangan mu."

Amira menatapnya bingung. 

"Aku senang Amira, aku senang kalau kamu masih sendiri. Aku akan berusaha mendekati mu lagi, seperti dulu ketika kita pedekate an. Aku akan memperbaiki semuanya dari awal dan tidak akan membiarkan mu kecewa lagi kepadaku, aku berjanji." Ucap Glen serius. 

Amira masih belum habis pikir apa maksud Glen. Kenapa dia sangat bertekad untuk mendekatinya lagi. Tidak, Amira tidak mau terjatuh lagi, sebisa mungkin dia akan menghindar dari Glen. Dia tidak mau tersakiti yang kedua kalinya dengan orang yang sama. 

"Kalau begitu aku pergi dulu Amira, lakukan pekerjaan mu dengan baik, Aku akan kembali menemui pun kapan pun." Ucap Glen memegang kedua pundak Amira. dan Amira menghindar darinya. 

"Sampai jumpa Amira." Ucapnya tersenyum dan dan pergi dari ruangan itu. Sementara Amira hanya diam saja. Pikirannya tidak bisa tenang sekarang.

Diluar Glen tersenyum puas setelah mengetahui Amira masih belum menikah. Itu artinya dia akan serius memperbaiki semuanya dan kembali kepada Amira.  

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Hp Glen berdering lalu ia segera melihat siapa yang menelpon, namun nomor baru. Dia kebingungan itu siapa, karena dia khawatir itu adalah hal penting dari perusahaanya dia segera mengangkatnya.

"Halo!."

"Glen, dimana kamu?." 

Seketika Glen menjauhkan Hp dari telinganya, suara itu seperti tidak asing baginya. 

"Glen, jawab mamah. Kamu dimana sekarang?"

"Aku ada urusan lain, Mah."

"Urusan apa yang membuat mu tidak berkabar?, bahkan hampir satu bulan kamu tidak pulang. Katakan apa yang kamu lakukan?."

"Aku di Indonesia, Mah." Jawab Glen datar, sejujurnya dia sangat malas untuk berbicara dengan Mama nya itu. 

"Di Indonesia?, Ngapain kamu kesana?."

"Liburan,"

"Gak mungkin kamu liburan, pasti kamu ingin menemui Mira, kan?." Tanya nya sedikit tegas. "Pulang sekarang, Glen."

"Mah, Glen hanya ingin liburan."

"Gak mungkin, aku tahu kamu masih ingin kembali kepada Mira, apa kamu tidak sadar kamu sekarang seperti apa?."

Glen berusaha menahan rasa kesalnya. "Aku tidak mau pulang."

"Glen!."

"Enggak mah!, Glen sudah dewasa. Aku tahu apa yang harus kulakukan dan mamah tidak bisa terus ikut campur untuk kehidupan ku. Iya, aku memang ingin menemui Amira dan ingin kembali kepadanya. Dan mamah tidak bisa lagi melarang-larang ku!, karna percuma." Pertegasnya.

"Apa kamu bilang?, kamu tahu kan apa dampaknya kalau kamu membantah mamah?. Aku tidak akan memberikan kamu hak untuk perusahaan butik itu, itu perjanjian kita dari awal. Jadi sebelum aku marah segeralah kembali."

Glen merasa dilema sekarang, dia prustasi karena dia terus hidup dibawah kendali orang tuanya itu. Tidak!, dia tidak bisa terus-terusan di kendalikan orang lain. Dia punya pendirian, kebahagiaanya ditentukan oleh dirinya sendiri bukan orang lain atau pun mamahnya.

"Baik lah, Aku tidak membutuhkan perusahaan itu. Asalkan mamah jangan mengikut campuri urusan ku lagi." UCap Glen dan langsung mematikan Hp nya. Lalu dia memblokir nomor Mamahnya itu. 

Glen mengacak-acak rambunya kesal. "Sial!." Gerutunya dan seketika menyadari kalau Amira sudah berdiri di belakangnya.

"Amira?."

Amira diam, dan berlahan berjalan kearahnya. Amira menatapnya serius. 

"Aku mendengar semuanya." Ucapnya lirih. Kini Amira sadar, selama ini Glen tidak memberinya kabar karena orang tuanya. Dan Amira tidak bisa menyalahkan Glen atas semuanya ini. 

"Kamu dengar semuanya?"

"Iya, aku minta maaf." Ucap Amira merasa bersalah.

"E-em, jangan minta maaf Amira. Tidak ada hubungannya dengan mu."

"Ada Glen." Amira menatap Glen serius. "Ternyata kamu tidak memberiku kabar selama ini karena orang tuamu kan?. Aku minta maaf sudah salah paham padamu selama ini, Glen."

Glen menjadi terharu melihat Amira yang terlihat serius meminta maaf padanya.

"Aku yang minta maaf pada mu Amira, sudah menyembunyikan banyak hal dari mu."

Amira tertunduk menekuk ludahnya. 

"Pulang lah, Glen." Ujarnya

"Ha?," Glen sontak kaget mendengar ucapan Amira.

"Pulang lah, perbaiki hubungan mu dengan Tante Dina."

"Tidak, Mir." Ucapnya menggeleng. "Aku datang kesini untuk kembali bersamamu Mira, aku hanya ingin kita bisa kembali bersama lagi. Aku tidak peduli lagi dengan mama ku yang selalu melarangku. Karna aku benar-benar mencintai mu, Amira." Tuturnya serius menatap mata Amira.

"Tapi dia orang tua mu Glen. Kamu membutuhkannya."

"Gak!, Aku lebih membutuhkan mu, Amira!." Lirihnya berjalan mendekat dan menyentuh pipi kanan Amira dan membuatnya sedikit tertekun. "Aku tidak bisa tanpa mu, selama ini aku selalu memikirkan mu dan mencari cara untuk kembali padamu. Dan sekarang aku sudah berada disini, bahkan dihadapan mu. Bagaimana mungkin aku menyerah begitu saja setelah perjuangan ku untuk kembali mengejarmu?."

Hati Amira semakin terasa panas sekarang. Dia kembali merasakan saat-saat dulu kedekatannya dengan Glen. Hatinya kembali terbuka, karena sebenci-bencinya dia kepada Glen di hatinya masih ada harapan kecil untuk Glen kembali padanya. 

"Amira, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Ya." Pintanya memohon. "Aku merindukan mu Amira, sangat merindukan mu setelah sekian lama akhirnya kita bertemu."

Amira bisa melihat jelas kontak mata Glen yang rapuh, seperti penuh harapan untuk dia bisa bersama dengan Amira lagi didalam matanya. Tapi Amira masih belum bisa berpikir dengan baik. Dia masih trauma akan semua yang dia alami selama ini.

"Tapi Tante Dian tidak menyetujui hubungan kita, Glen."

"Amira, aku tahu dia orang tua ku, tapi satu hal yang harus kamu tahu Amira, aku bebas memilih jalan terbaik dalam hidupku, bukan mamah yang menentukannya bagi ku, karena aku lah yang akan menjalani hidup ku ini Amira."

Amira terdiam, apa yang Glen katakan adalah benar. tapi tetap saja hatinya merasa berat untuk menerimanya kembali. 

"Dan aku merasa bahagia dan hidup jika bersamamu, Amira."

amira menundukkan kepalanya. "Berikan aku waktu, Glen."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!