Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Api di Bawah Atap Mimasaka
Jika ada satu hal yang bisa membuat Shinmen Munisai—seorang jendral ahli pedang klan Shinmen yang disegani di Provinsi Mimasaka dan pemegang gelar kehormatan Jitte Toshi dari Shogun—kehilangan seluruh martabat dan ketenangannya, hal itu bukanlah ancaman musuh di medan perang.
Hal itu adalah Bennosuke, putranya sendiri.
Pagi itu di Mimasaka, udara musim panas terasa membakar kulit. Namun, suasana di dalam dojo keluarga Shinmen jauh lebih panas. Munisai duduk bersila di atas panggung kayu dengan wajah sehitam pantat kuali. Di depannya, berdiri tiga orang instruktur pedang dari dojo klan tetangga dengan napas terengah-engah, wajah lebam, dan pakaian zirah latihan yang koyak-moyak.
"Tuan Munisai!" seru instruktur terdepan, mukanya yang bengkak berwarna keunguan bagai terong layu. "Anakmu itu bukan manusia! Dia adalah iblis kecil yang dilepas dari neraka! Kemarin sore dia menyusup ke dojo kami, merusak papan nama perguruan, menantang murid-murid senior kami, lalu melarikan diri membawa setengah paha babi asap milik kepala kuil!"
Munisai memejamkan matanya rapat-rapat. Urat di pelipisnya berdenyut keras, hampir meledak. Tangannya yang mencengkeram gagang jitte—senjata besi pembengkok pedang khas miliknya—gemetar hebat menahan malu dan amarah.
"Berapa... berapa umur anak itu sewaktu menghancurkan dojo kalian?" tanyakan Munisai dengan suara yang ditahan agar tidak menggelegar.
"Belum genap enam tahun, Tuan!" jawab instruktur kedua yang hidungnya disumbat kain perca berdarah. "Tapi dia mengayunkan kayu gelondongan seolah-olah itu hanya ranting pohon! Dia bahkan berteriak bahwa perguruan kami lebih mirip kelompok penjahit wanita ketimbang ahli pedang!"
Munisai menepuk jidatnya sendiri. Pengaruh kejeniusan dan keliaran darahnya ternyata menurun pada Bennosuke dalam bentuk yang paling merusak.
"Atas nama klan Shinmen," ujar Munisai seraya membungkuk dalam-dalam dengan nada berat yang amat terpaksa, "aku meminta maaf sebesar-besarnya. Semua ganti rugi atas kerusakan papan nama dan babi asap itu... akan kuganti dua kali lipat dari kas rumah tangga."
Setelah para tamu yang terluka itu pergi dengan menggerutu, Munisai berdiri, mencabut sebilah bokken tebal dari rak senjata, lalu melangkah menuju halaman belakang dengan mata membara.
"BENNOSUKE!" teriaknya, suaranya menggelegar mengocok dedaunan pohon persik di sekeliling rumah.
Di atas dahan teratas pohon persik tua di sudut halaman, Bennosuke sedang duduk bersantai.
Tubuh kecilnya terlentang di antara dahan, satu kakinya bergoyang-goyang bebas di udara. Tangan kanannya memegang sisa-sisa daging babi asap yang gurih, sementara tangan kirinya menggenggam bokken kesayangannya. Wajahnya yang penuh noda minyak babi dan debu tampak sangat puas tanpa penyesalan sedikit pun.
"Kenapa berteriak begitu keras, Ayah?" panggil Bennosuke dari atas dahan, suaranya riang tanpa beban. "Suaramu lebih bising dari katak sawah di musim hujan! Ayah bisa membuat daging babi lezat ini tersedak di tenggorokanku!"
"Turun kau, Bocah Kurang Ajar!" bentak Munisai, berdiri tepat di bawah pohon sambil menunjuk Bennosuke dengan pedang kayunya. "Kau membuat nama keluarga Shinmen tercoreng di seluruh Mimasaka! Bertarung liar di dojo orang, mencuri makanan, dan merusak papan nama perguruan tua! Apakah kau tidak punya rasa malu?!"
Bennosuke mendudukkan tubuhnya di atas dahan, mengunyah gumpalan daging terakhir, lalu meludah kasar ke samping.
"Bukan salahku kalau papan nama mereka terbuat dari kayu lapuk!" balas Bennosuke seraya cengengesan, memamerkan deretan giginya yang berantakan. "Aku hanya mengetuknya sedikit dengan bokken-ku untuk menguji kekuatannya, tapi papan itu langsung terbelah dua seperti tahu basah! Lagi pula, orang-orang di dojo itu sangat payah. Tiga orang dewasa mengeroyokku, tapi gerakan mereka sekerat kura-kura lumpur!"
"Kau mencuri babi asap milik kepala kuil!" jerit Munisai lagi, batas kesabarannya runtuh sepenuhnya.
"Aku tidak mencuri!" sanggah Bennosuke cepat, menatap ayahnya dengan mata bulatnya yang jujur tanpa dosa. "Aku menang bertaruh! Aku bilang pada mereka, kalau aku bisa menjatuhkan murid tertua mereka dalam sepuluh hitungan, babi asap itu jadi milikku. Mereka diam saja... berarti mereka setuju, kan?"
"Diam saja karena mereka kaget melihat anak kecil mengamuk seperti babi hutan, Bennosuke!" amuk Munisai. "Turun sekarang, atau kutebang pohon ini bersama tubuhmu!"
Bennosuke menyeringai liar. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia berdiri tegak di atas dahan yang bergoyang tipis, memikul pedang kayunya di bahu.
"Ayo tebang saja, Ayah! Tapi kalau pohon ini tumbang, aku akan meloncat ke atas atap rumah dan menjatuhkan semua genteng kesayanganmu!" tantang Bennosuke dengan kejenakaan yang membuat darah Munisai makin mendidih.
Hubungan antara Shinmen Munisai dan Bennosuke adalah sebuah dilema yang tak pernah selesai.
Bagi Munisai, pedang adalah tentang kehormatan, disiplin besi, tata krama samurai, dan pengabdian penuh pada klan. Ia melatih disiplin itu dengan keras, membentuk dirinya menjadi salah satu pendekar paling disegani. Namun di mata Bennosuke, seluruh aturan, formalitas, dan rasa hormat yang diagungkan ayahnya hanyalah cangkang kosong yang mengekang kebebasan.
Bennosuke tidak membenci ayahnya, tetapi ia menolak untuk dibentuk menjadi salinan dari Munisai. Ia melihat bagaimana ayahnya harus terus membungkuk pada para pebalat klan dan mengurusi intrik diplomatik yang membosankan. Bagi Bennosuke, pedang adalah kebebasan murni—sebuah alat untuk bertahan hidup, memuaskan lapar, dan menundukkan siapa saja yang berusaha membatasi langkahnya.
Brak!
Bennosuke melompat turun dari pohon, mendarat dengan gaya liar di atas tanah berdebu. Sebelum Munisai sempat mengayunkan bokken-nya untuk memberi pelajaran, Bennosuke sudah mengambil posisi bertarung.
"Ayah selalu bilang bahwa pedang keluarga Shinmen adalah yang terkuat di Mimasaka!" seru Bennosuke, matanya berbinar gembira. "Daripada memarahiku seperti nenek-nenek kehilangan ayam, kenapa Ayah tidak membuktikannya sendiri padaku?!"
Munisai menatap putranya dengan tatapan kompleks. Ada rasa geram yang memuncak, namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa kagum yang tak berani ia akuinya. Anak usia lima tahun lebih sedikit ini tidak pernah gemetar melihat bilah besi atau pedang kayu yang diayunkan ke arahnya. Posisinya yang liar dan tidak beraturan memiliki insting pertahanan alami yang bahkan sulit ditemukan pada samurai dewasa.
"Baik," bisik Munisai dingin. "Hari ini aku tidak bertarung sebagai ayahmu, Bennosuke. Aku bertarung sebagai kepala dojo Shinmen yang akan mematahkan keliaranmu!"
Munisai menerjang maju. Gerakannya secepat kilat, ayunan bokken-nya membawa angin keras yang sanggup meremukkan tulang bahu manusia biasa.
TAK!
Bennosuke tidak berusaha menangkis kekuatan raksasa ayahnya. Ia memiringkan pedang kayunya, membiarkan serangan Munisai meluncur licin di sepanjang sisi bokken-nya, sementara tubuh mungilnya menyelusup ke bawah ketiak Munisai.
"Dapat!" teriak Bennosuke girang.
Dengan gerakan nakal, Bennosuke mengayunkan ujung pedang kayunya bukan ke arah leher atau dada Munisai, melainkan memukul tepat di pantat ayahnya sendiri!
BOK!
"Auw!" Munisai tersentak, wajahnya merah padam dari telinga hingga leher.
"Hahaha! Pedang Shinmen nomor satu ternyata punya bagian belakang yang sangat lunak!" tawa Bennosuke meledak seraya melompat mundur lima langkah, menjulurkan lidahnya dengan gaya mengejek yang sempurna.
"Bocah Setan!" teriak Munisai, hilang kesabaran sepenuhnya. Ia memutar tubuhnya dan mengejar Bennosuke di sekeliling halaman.
Bennosuke tertawa terbahak-bahak, berlari lincah melompati pagar batu, melintasi kolam ikan, dan memanjat atap rumah utama dengan kelincahan monyet gunung. Suara tawa liarnya bergema membelah udara sore Mimasaka, beradu dengan teriakan frustrasi Munisai yang bergema di seluruh desa.
Malam harinya, di bawah naungan atap rumah yang sunyi, Munisai duduk sendirian di depan altar keluarga. Lampu minyak bersumbu pendek memancarkan sinar kekuningan yang lembut.
Di lantai kayu di depannya, Bennosuke sedang tidur terlentang dengan gaya yang sangat kasar—kedua tangan dan kakinya terbentang lebar, perutnya yang kenyang kembang-kempis berirama, dan ia mendengkur halus dengan sepotong kayu latihan masih dicengkeram di tangan kanannya. Di dahinya ada benjolan merah kecil—hadiah dari pukulan balasan Munisai sore tadi.
Munisai meletakkan katananya di atas altar, lalu melangkah pelan mendekati anak laki-lakinya yang liar itu. Ia berlutut di samping Bennosuke, menatap wajah kotor anaknya yang kini tampak polos saat tertidur.
Munisai menghela napas panjang, kepahitannya perlahan mencair digantikan oleh rasa cemas yang mendalam.
"Anak ini..." bisik Munisai pada dirinya sendiri, jemarinya yang kasar mengusap rambut hitam Bennosuke yang mencuat liar. "Darahnya terlalu panas untuk tempat sekecil ini. Mimasaka tidak akan sanggup menampung jiwanya..."
Munisai tahu betul situasi dunia di luar sana. Perang raksasa di Odawara sedang berlangsung, kekuasaan Toyotomi Hideyoshi sedang merambah ke seluruh pelosok tanah air, dan hukum samurai semakin diperketat oleh aturan-aturan besi istana. Sifat Bennosuke yang tidak mau tunduk pada aturan apa pun kelak bisa menjadi racun yang menghancurkan hidup anak itu sendiri—atau justru menjadi pedang yang akan menebas seluruh aturan dunia.
"Jika kau terus bertindak seperti ini, Bennosuke..." gumam Munisai lirih, matanya menatap ke arah pintu gantung yang terbuka, memperlihatkan bintang-bintang di langit barat. "...kau tidak akan punya tempat di bawah naungan bendera klan mana pun. Kau akan terasing, diburu, dan berjalan sendirian di jalan yang sangat berdarah."
Seolah merespons bisikan ayahnya, Bennosuke dalam tidurnya bergumam pelan, menggeliat sedikit, dan mencengkeram pedang kayunya lebih erat ke dadanya.
"Jalan... jalanku sendiri..." gumam Bennosuke setengah bermimpi, sebelum kembali mendengkur halus.
Munisai tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit penuh kepasrahan seorang ayah. Ia menarik selimut kain kusam, menutupi tubuh mungil Bennosuke dari dinginnya angin malam perbukitan Mimasaka.
Di tempat ini, api keliaran Miyamoto Musashi muda terus membara, bersiap untuk suatu hari nanti melompati batas-batas Mimasaka dan menembus takdir dunia yang sedang ditempa di Odawara dan Kurama.
**
"Guru, ada gejolak di wilayah barat."
Suara Mumei meluncur halus di antara deru angin subuh yang membekukan pelataran timur Gunung Kurama. Anak perempuan berusia enam tahun itu perlahan membuka kedua matanya dari posisi meditasi zazen. Mata kirinya yang sehitam malam menatap lurus menembus gulungan kabut tipis, sementara mata kanannya memancarkan pendaran keunguan yang lebih jelas dari biasanya—sebuah reaktifitas gaib dari segel Sojobo yang tertanam rapat di dalam jiwanya.
Di hadapannya, Biksu Tenkai tidak langsung menghentikan gerakan jemarinya yang memutar biji-biji tasbih kayu hitam. Ia duduk bersila di atas batu datar yang ditutupi lumut basah, membelakangi tebing terjal yang menghadap ke arah matahari terbit.
Klek... klek... klek...
"Gejolak seperti apa yang menggoyang ketenangan meditasimu, Mumei?" tanya Tenkai pelan. Suaranya bergema hangat, bagaikan gema lonceng perunggu yang ditiup angin subuh.
Mumei menundukkan kepalanya sedikit, meraba dadanya yang berdenyut tidak beratur. "Bukan gejolak dari derap kaki ribuan prajurit yang berjalan menuju Odawara, Guru. Bukan pula rasa takut dari klan-klan yang ketakutan pada Toyotomi Hideyoshi..."
Mumei mendongak, matanya menerawang jauh menembus batas-batas pegunungan Kansai, mengarah lurus ke wilayah perbukitan Mimasaka di belahan barat.
"Ada denyut keberadaan yang teramat liar," lanjut Mumei, alis kecilnya bertaut rapat saat berusaha mengutarakan rasa asing yang mencengkeram kepekaan spiritualnya. "Seperti... seekor babi hutan muda yang mengamuk di tengah hutan bambu. Sangat kasar, tidak teratur, tanpa bentuk, dan penuh dengan dahaga akan kebebasan. Denyutnya begitu keras hingga merambat menembus aliran angin gunung ini."
Tenkai menghentikan putaran tasbihnya. Ia membuka mata, menatap murid kecilnya dengan pandangan mata tua yang sarat akan kebijaksanaan melintasi zaman. Sebuah senyuman samar dan tebal terukir di balik janggut putih tipis sang biksu.
"Panca indramu makin tajam, Mumei," puji Tenkai lembut. "Kau mulai sanggup merasakan bukan hanya denyut alam, tetapi juga getaran jiwa-jiwa yang ditakdirkan mengukir takdir di atas tanah ini."
"Apakah dia musuh, Guru?" tanya Mumei polos, tangannya yang mungil meremas kain kimono latihannya yang kusam. "Apakah dia pasukan penyusup lain yang dikirim oleh Kuroda Kanbei dari barat?"
Tenkai menggelengkan kepala perlahan. Ia mengangkat tongkat kayunya, mengetukkan ujung bawahnya ke atas batu pelataran sekali. TAK!
"Dia bukan pembunuh dari Kuroda Kanbei, dan dia bukan ancaman bagi Gunung Kurama," terang Tenkai. "Di tanah Mimasaka yang jauh di sana, ada seorang bocah laki-laki yang lahir tanpa pedoman dan aturan. Jika kau adalah telaga tenang yang menampung dinginnya bayangan masa lalu, maka bocah dari Mimasaka itu adalah percikan api liar yang membakar semak-semak kering tanpa peduli ke mana arah angin bertiup."
Mumei terdiam, meresapi penjelasan gurunya. "Percikan api liar...?"
"Dunia ini bergerak dalam keseimbangan, Mumei," lanjut Tenkai, matanya menatap ke arah horizon timur tempat fajar mulai membiaskan warna kemerahan di balik awan. "Saat orang-orang perkasa seperti Hideyoshi dan Kanbei sibuk membangun tembok-tembok kekuasaan dari emas dan darah di Odawara, Alam justru meniupkan napas kehidupan pada benih-benih baru di tempat yang tak terduga. Kau di sini, dilindungi oleh kabut Kurama dan rahasia klan Iga... sementara di barat, bocah Mimasaka itu bertumbuh dalam kebebasan yang murni dan kasar."
"Apakah suatu hari nanti aku akan bertemu dengannya?" gumam Mumei pelan, pendar keunguan di mata kanannya redup perlahan, kembali menyatu dengan warna gelap mata aslinya.
Tenkai memutar tasbihnya kembali, membiarkan derak kayu keras itu mengiringi rekatan kabut yang mulai terangkat ditiup angin pagi.
"Takdir adalah gulungan benang yang terurai rumit, Anakku," jawab Tenkai dengan suara yang penuh misteri. "Suatu hari nanti, ketika tembok Odawara telah runtuh, ketika nama-nama penguasa besar hari ini telah menjadi debu sejarah, jalanmu dan jalannya mungkin akan berbenturan. Namun sampai saat itu tiba... biarkan percikan api di barat itu membakar kebebasannya sendiri, sementara kau di sini belajar bagaimana cara menguasai badai di dalam dadamu."
Tenkai memberi isyarat dengan tangannya agar Mumei kembali mengatur posisi duduknya.
"Tutup matamu kembali, Mumei," perintah Tenkai halus. "Fokuskan kembali napasmu. Biarkan gejolak liar dari Mimasaka itu melintas bagaikan embusan angin, dan kembalilah mendengarkan bisikan sunyi gunung ini."
Mumei memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Ia menghembuskan napas panjang melalui hidungnya, membiarkan denyut liar dari barat yang sempat mengusik meditasinya perlahan hanyut, tenggelam di balik kedamaian dingin pelataran suci Kurama saat fajar benar-benar menyingsing.