Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Kepergian Ivy
Malam itu, Ivy berdiri di dekat jendela kamar dengan secangkir teh hangat di tangannya. Tatapannya kosong menatap jalanan yang mulai sepi, tidak ada lagi air mata yang jatuh dari kedua matanya. Seolah-olah semua tangisan yang selama ini ia keluarkan telah mengering bersama seluruh harapan yang pernah dimilikinya.
Perlahan, Ivy mengambil telepon genggamnya. Ia mencari satu nama yang masih ia percayai.
David.
Panggilan tersambung setelah beberapa detik.
"Halo, Ivy? Kenapa menelepon malam-malam begini?" Tanya David dari seberang sana.
"David..." suara Ivy terdengar tenang, tetapi ada kesedihan yang begitu dalam di baliknya. "Aku membutuhkan bantuanmu."
David langsung terdiam.
"Apa yang terjadi?" Tanya David cemas, dia sangat tau bagaimana kehidupan Ivy selama ini. Dia juga sudah berkali-kali menasehati sahabatnya itu, tapi seperti kata orang, percuma menasehati orang yang sedang jatuh cinta karena dia tidak akan mendengarkanmu.
"Aku ingin meninggalkan negara ini."
David mengernyitkan keningnya, dia terkejut. Baru kemarin dia mendengar kabar tentang perceraian Ivy, hari ini dia kembali mendengar kabar jika Ivy ingin meninggalkan negara ini.
"Kau serius?" Tanya David memastikan.
"Sangat serius."
Ivy menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Aku ingin pergi tanpa diketahui siapa pun, tidak Mateo, tidak keluarganya, tidak keluargaku, tidak boleh ada seorang pun yang tau." Kata Ivy tegas.
"Ke mana kau akan pergi?" David kembali bertanya pada Ivy.
"Paris." Jawab Ivy.
David terdiam beberapa saat.
"Paris?"
"Iya."
Ivy kemudian menjelaskan rencana yang sudah ia susun dengan sangat matang, Ia meminta David membuat semua orang percaya bahwa dirinya telah pergi ke Jepang. Mulai dari tiket perjalanan, penginapan, hingga beberapa jejak digital yang sengaja dibuat agar terlihat seolah-olah Ivy benar-benar berada di sana. Sementara itu, tujuan sebenarnya adalah Paris.
"Aku ingin semuanya terlihat meyakinkan," ujar Ivy. "Aku tidak ingin siapa pun mencariku dan menemukan keberadaanku."
"Kau benar-benar ingin menghilang?"
"Iya."
Jawaban itu terdengar begitu sederhana, tetapi David tahu bahwa keputusan tersebut pasti lahir dari luka yang sangat dalam.
"Aku tidak ingin lagi menjadi Ivy yang mereka kenal, Aku tidak ingin mendengar nama Mateo lagi. Aku tidak ingin melihat keluargaku, aku juga tidak ingin siapa pun merasa punya hak untuk datang ke kehidupanku." Lanjut Ivy.
David terdiam cukup lama.
"Baik," akhirnya ia menjawab. "Aku akan membantumu."
Ivy memejamkan mata.
"Terima kasih, David."
Setelah panggilan itu berakhir, Ivy kembali menatap keluar jendela.
Paris.
Kota yang tidak mengenalnya, kota tempat tidak seorang pun tahu bahwa ia pernah menjadi istri Mateo Leonardo Agler, tidak ada yang tahu tentang keluarganya, tidak ada yang tahu tentang pernikahannya, tidak ada yang tahu tentang Grizella dan mungkin disana Ivy bisa hidup tanpa terus-menerus mengingat bagaimana putrinya pergi meninggalkannya.
Namun sebelum benar-benar pergi, Ivy masih memiliki satu hal yang ingin ia pastikan. Ia mengambil teleponnya sekali lagi dan menghubungi Mia.
"Mia."
"Iya, Ivy?"
"Aku punya permintaan terakhir."
Mia langsung terdiam ketika mendengar nada suara Ivy.
"Tolong sering-seringlah mengunjungi makam Grizella."
Suara Ivy mulai bergetar.
"Kalau aku sudah pergi nanti, aku mungkin tidak bisa datang sesering dulu mengunjunginya. Jadi aku harap kau bisa menggantikan aku untuk sering mengunjunginya, setidaknya dia tidak akan merasa sedih kalau ada kau yang mengunjunginya."
"Ivy..."
"Aku hanya ingin memastikan dia tidak sendirian, Mia."
Air mata akhirnya jatuh dari mata Ivy.
"Setidaknya kalau tidak ada seorang pun yang datang menjenguknya, masih ada kamu."
Mia menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis.
"Aku janji, aku akan sering datang ke sana."
"Terima kasih."
Ivy menutup telepon.
Ia kemudian berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidurnya. Di atas meja itu terdapat sebuah foto Grizella, foto seorang anak kecil yang tersenyum polos. Ivy mengambil foto tersebut dan memeluknya erat di dadanya.
"Maafin Mommy, Izel..."
Suaranya hampir tidak terdengar.
"Mommy akan pergi jauh."
Ivy mencium foto itu dengan lembut.
"Tapi Mommy janji nggak akan pernah lupain Izel, Izel akan selalu jadi malaikat kecilnya mommy, selamanya."
Malam semakin larut.
Dan malam itu, tanpa diketahui siapa pun, Ivy telah mengambil keputusan untuk menghilang dari kehidupan semua orang yang pernah mengenalnya. Besok, dunia akan mengira Ivy pergi ke Jepang. Padahal sebenarnya, Ivy akan menuju Paris dan kali ini ia tidak berniat kembali.
Keesokan paginya, Ivy bangun sebelum matahari terbit. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi kamar yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya, tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi keraguan, Ia sudah mengambil keputusan.
Ivy membuka lemari dan mulai memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper, Ia tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian yang benar-benar ia perlukan, beberapa dokumen penting, sejumlah uang, dan satu benda yang tidak pernah sanggup ia tinggalkan.
Foto Grizella.
Foto itu ia simpan dengan hati-hati di dalam tas kecil yang selalu berada di dekatnya, Setelah semuanya selesai, Ivy memandangi ruangan itu sekali lagi.
"Selamat tinggal."
Ia tidak tahu apakah ia sedang mengucapkan selamat tinggal kepada rumah itu, kepada masa lalunya, atau kepada dirinya yang dulu.
Di tempat lain, David juga mulai menjalankan rencana mereka. Ia membuat semuanya tampak seperti Ivy benar-benar sedang mempersiapkan perjalanan menuju Jepang.
Beberapa informasi sengaja dibuat agar jika seseorang mencoba menelusuri kepergian Ivy, mereka akan menemukan jejak yang mengarah ke sana. Sementara itu, tiket sebenarnya sudah berada di tangan Ivy.
Paris.
Kota yang akan menjadi awal kehidupan barunya, David kemudian mengirimkan pesan singkat.
"Semuanya sudah siap, jangan khawatir. Tidak akan ada yang tahu tujuanmu sebenarnya."
Ivy membaca pesan itu cukup lama, kemudian ia membalas.
"Terima kasih, David. Setelah ini, jangan hubungi aku kecuali itu benar-benar penting."
David hanya menjawab singkat.
"Aku mengerti."
Namun sebelum Ivy berangkat, ia memiliki satu tempat terakhir yang ingin ia datangi.
Makam Grizella.
Sore harinya, Ivy berdiri di depan makam putrinya.
Angin berembus perlahan, membuat rambut panjangnya bergerak lembut. Ia membawa seikat bunga putih dan meletakkannya di depan batu nisan.
"Izelnya mommy.."
Senyum tipis muncul di wajah Ivy meskipun matanya mulai berkaca-kaca, Ia kemudian berjongkok di depan makam itu.
"Mommy datang sayang, Izel kangen nggak sama mommy? Karena mommy juga kangen banget sama Izel."
Ivy mengelus batu nisan Grizella dengan lembut.
"Maaf karena setelah ini Mommy mungkin nggak akan sering datang ke sini buat jenguk Izel."
Air mata jatuh di pipinya.
"Tapi bukan berarti Mommy lupain Izel, mommy nggak akan pernah lupain Izel sampai kapanpun."
Ivy mengusap nama putrinya yang terukir di batu nisan.
"Mommy pergi justru karena mommy terlalu sayang sama Izel, kalau mommy terus di sini. Mommy akan semakin sedih, mommy boleh pergi kan sayang?."
Ia menarik napas panjang.
"Mommy nggak akan pergi lama kok, setelah mommy sembuh mommy pasti pulang buat nemuin Izel lagi. Tapi untuk saat ini mommy mau pergi dulu."
Ivy menundukkan kepalanya.
"Dan sekarang mommy udah cerai sama papa Izel, Mommy udah nggak kuat nak, setiap kali mommy liat papa kamu, Mommy selalu keinget sama Izel."
Beberapa saat kemudian, Ivy berdiri. Ia menatap makam Grizella untuk terakhir kalinya.
"Jadilah anak baik di sana, ya."
Suaranya bergetar.
"Mommy akan selalu mencintaimu."
Ivy berbalik dan mulai berjalan meninggalkan pemakaman. Namun setelah beberapa langkah, ia berhenti. Tanpa menoleh, ia berbisik,
"Suatu hari nanti kalau Mommy sudah menjadi lebih kuat, Mommy akan kembali."
Kemudian Ivy benar-benar pergi, meninggalkan kota ini. Meninggalkan semua yang telah banyak menoreh kan luka di hati Ivy selama ini.
Bersambung