Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: TANGATAN DI MEKA MAHONI
Rabu pagi, suasana gedung pencakar langit Vandera Tower di kawasan bisnis Sudirman tampak tenang namun memancarkan wibawa yang mengintimidasi. Di lantai paling atas, ruang rapat utama berdinding kaca tebal menyuguhkan pemandangan lanskap kota Jakarta yang terhampar luas di bawah naungan awan tipis.
Ranti melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut dengan keanggunan yang tak terbantahkan. Ia mengenakan setelan tailored suit berwarna putih gading berpotongan tegas yang memeluk bentuk tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan kemeja sutra hitam di bagian dalam. Rambut bob dark ash brown-nya tertata rapi, sementara anting berlian simpel memantulkan pendar cahaya lembut. Di belakangnya, Pak Hendra dan Hendry—kepala tim audit forensik—mengikutinya dengan membawa dokumen-dokumen penting.
Di ujung meja mahoni berukuran besar, seorang pria berjas abu-abu gelap tanpa dasi berdiri menatap ke luar jendela.
Danu Vandera. CEO Vandera Corp—konglomerat muda yang dikenal dingin, расчетis, dan tanpa kompromi dalam dunia investasi nasional.
Mendengar suara langkah kaki heels yang konstan dan mantap, Danu membalikkan badannya perlahan. Mata elangnya yang tajam dan pekat menyapu penampilan Ranti dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilat ketertarikan yang tertahan di balik kacamata berbingkai tipis milik Danu—sosok wanita di depannya ini persis sama dengan wanita yang ia amati dari balik kaca mobil pekat di luar gedung pengadilan minggu lalu.
"Selamat pagi, Ibu Ranti Anindita," sapa Danu dengan suara bariton berat yang tenang. Ia mengulurkan tangannya di atas meja. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan pimpinan tertinggi Anindita Gemilang Utama."
Ranti menyambut uluran tangan itu, menjabat tangan Danu dengan genggaman yang stabil, hangat, namun penuh ketegasan.
"Selamat pagi, Pak Danu. Terima kasih atas undangannya," balas Ranti penuh percaya diri, menyunggingkan senyum profesional tanpa ada sedikit pun raut canggung atau terintimidasi oleh kemewahan ruang kerja tersebut.
"Silakan duduk," ujar Danu seraya mengisyaratkan tangan ke arah kursi kulit cokelat tua di seberangnya.
Begitu semua orang mengambil posisi duduk, suasana ruangan langsung berubah menjadi dingin dan formal. Asisten pribadi Danu menyajikan cangkir-cangkir porselen berisi black coffee aromatik sebelum melangkah mundur.
Danu menyandarkan punggungnya di kursi kepemimpinan, menautkan jemarinya di atas meja seraya menatap Ranti secara langsung.
"Saya tidak suka berbelit-belit, Bu Ranti," buka Danu dengan nada datar namun menekan. "Vandera Corp telah menjadi mitra strategis Anindita Tekstil sejak era almarhumah Ibu Kirana. Kami memegang lima belas persen saham penyertaan dan memiliki hak opsi akuisisi untuk ekspansi lini manufaktur ekspor ke pasar Eropa."
Ranti mendengarkan dengan tenang, mengambil napas teratur tanpa menyela sedikit pun.
"Namun," lanjut Danu seraya mengetukkan jarinya pelan di atas meja, "skandal rumah tangga Anda yang viral, pemblokiran rekening operasional, hingga penangkapan mantan suami Anda atas dugaan penggelapan tujuh puluh lima miliar rupiah... telah menciptakan kecemasan di kalangan dewan komisaris kami. Kami mempertanyakan stabilitas kepemimpinan perusahaan Anda."
Pak Hendra di samping Ranti sempat menegang, hendak membuka suara untuk memberikan klarifikasi hukum. Namun Ranti menegakkan punggungnya dan mengangkat tangannya tipis, menghentikan Pak Hendra dengan sangat halus.
Ranti menatap lurus ke dalam pendar mata Danu yang dingin.
"Kecemasan yang sangat wajar bagi seorang investor, Pak Danu," sahut Ranti dengan suara jernih, tenang, dan tertata rapi. "Tapi mari kita bicara berdasarkan data, bukan asumsi narasi media sosial."
Ranti mengisyaratkan pada Hendry untuk menyerahkan satu berkas tebal bersampul kulit hitam ke depan Danu.
"Silakan Anda buka lembar ketiga laporan keuangan konsolidasi terbaru kami," ujar Ranti mantap. "Pembersihan skema penggelapan yang dilakukan Sony justru menyelamatkan cadangan modal likuid kami sebesar empat puluh miliar rupiah yang belum sempat dialihkan. Dalam waktu kurang dari seminggu pasca-putusan pengadilan, saya telah merestrukturisasi seluruh jalur otorisasi keuangan."
Danu membuka berkas tersebut, matanya meneliti angka-angka audit forensik dengan kecermatan seorang taipan.
"Bisa Anda lihat di sana," lanjut Ranti dengan analisis yang tajam, "tingkat margin laba kotor kami pada kuartal ketiga tetap berada di angka dua puluh delapan persen. Pabrik ekspor kami di Sukabumi tetap beroperasi seratus persen tanpa ada kendala pasokan bahan baku maupun pemogokan buruh. Masalah yang terjadi kemarin adalah kanker internal yang sudah saya potong hingga ke akarnya—bukan kegagalan sistem bisnis."
Danu mengangkat pandangannya dari dokumen, menatap Ranti dengan tatapan menilai yang makin dalam.
"Analisis yang rapi, Bu Ranti," puji Danu tipis tanpa ekspresi berlebihan. "Tetapi memotong kanker itu satu hal. Memimpin kapal besar berlayar di tengah badai persaingan industri tekstil global adalah hal yang berbeda. Mendiang Ibu Kirana memiliki visi dan gertakan bisnis yang sangat kuat. Sementara Anda... publik hanya mengenal Anda sebagai wanita yang baru saja bebas dari pernikahan yang destruktif."
Provokasi Danu dilemparkan secara terbuka di atas meja. Pria itu sengaja menguji apakah Ranti akan terbawa emosi atau kehilangan fokus profesionalnya.
Namun Ranti justru menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman anggun dan dingin yang memancarkan wibawa tingkat tinggi.
"Publik memang suka membaca drama, Pak Danu," tutur Ranti seraya memajukan sedikit tubuhnya ke arah meja mahoni. "Tapi para pelaku bisnis sejati tahu cara membedakan antara 'korban' dan 'penguasa keadaan'."
Danu menyipitkan matanya sedikit, tertarik pada keberanian wanita di depannya.
"Jika saya hanyalah wanita lemah yang meratap akibat kegagalan pernikahan," tegas Ranti, kata-katanya bergema kuat di dalam ruangan, "saya tidak akan sanggup membongkar skema pencucian uang bernilai puluhan miliar hanya dalam hitungan hari. Saya juga tidak akan berdiri di ruangan ini untuk bernegosiasi dengan Anda."
Ranti memegang cangkir kafenya, menyesapnya sedikit lalu meletakkannya kembali dengan ketukan halus yang tegas.
"Ibu Kirana mendidik saya bukan untuk menjadi bayang-bayangnya, melainkan untuk menjadi penerusnya yang lebih tangguh," lanjut Ranti dengan mata berbinar tajam. "Mengenai rencana ekspansi pabrik manufaktur ke Eropa... saya tahu Vandera Corp sangat membutuhkan kapasitas produksi lini kain ramah lingkungan (sustainable eco-fabric) milik Anindita Gemilang untuk memenuhi kuota kontrak Anda di Frankfurt bulan depan. Tanpa pabrik kami, Anda harus mencari vendor baru di Vietnam dengan biaya logistik empat puluh persen lebih tinggi."
DEG!
Asisten pribadi Danu yang berdiri di belakang seketika terperanjat pelan. Informasi mengenai tenggat waktu kontrak Frankfurt tersebut adalah rahasia internal tingkat tinggi yang tidak seharusnya diketahui oleh pihak luar.
Danu mematung sejenak. Pria dingin yang biasanya selalu mengendalikan jalannya setiap perundingan bisnis itu kini menyadari bahwa wanita di hadapannya telah melakukan riset yang amat mendalam dan memegang kartu truf dalam negosiasi ini.
Sebuah senyuman tipis—senyuman tulus berisi rasa hormat dan kekaguman yang jarang sekali terlihat—perlahan terukir di bibir Danu Vandera.
Ia melepaskan kacamata tipisnya, meletakkannya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya kembali.
"Luar biasa..." bisik Danu dengan nada bariton yang kini jauh lebih hangat dan bersahabat. "Intuisi bisnis yang sangat tajam, Bu Ranti."
"Saya hanya menyampaikan fakta lapangan, Pak Danu," balas Ranti tenang tanpa sedikit pun rasa jemawa.
Danu bertepuk tangan pelan dua kali. "Saya mengaku salah karena sempat meragukan kapasitas Anda. Anda tidak hanya memegang nama besar Anindita... Anda adalah Anindita itu sendiri."
Danu merogoh pena berujung emas dari saku jasnya, lalu menandatangani lembaran persetujuan konsolidasi investasi dan kelanjutan kerja sama manufaktur di hadapannya tanpa ragu sedikit pun.
"Vandera Corp tidak hanya akan mempertahankan lima belas persen saham kami," tegas Danu seraya menggeser dokumen yang telah ditandatangani kembali ke hadapan Ranti. "Kami siap menyuntikkan tambahan modal segar senilai tiga puluh miliar rupiah untuk mempercepat pembangunan lini produksi eco-fabric Anda."
Pak Hendra dan Hendry saling bertukar pandang dengan binar mata takjub dan lega yang luar biasa. Usaha restrukturisasi mereka mendapatkan kepercayaan penuh dari salah satu raksasa investasi terbesar di negeri ini.
Ranti meraih dokumen tersebut, meneliti tanda tangan Danu sejenak, lalu mendongak menatap sang CEO.
"Keputusan yang sangat bijaksana, Pak Danu," ujar Ranti mantap. "Saya pastikan investasi Anda berada di tangan yang tepat dan akan menghasilkan imbal hasil terbaik."
Danu berdiri dari kursinya, mengulurkan tangannya sekali lagi. Kali ini, tatapannya tidak lagi dingin atau menguji, melainkan dipenuhi rasa hormat yang mendalam kepada seorang mitra bisnis yang sejajar dan amat disegani.
"Merupakan sebuah kehormatan bisa bermitra dengan Anda, Bu Ranti Anindita," tutur Danu tulus. "Saya menantikan makan malam perayaan kerja sama kita minggu depan."
Ranti berdiri, menjabat tangan Danu dengan senyuman anggun yang memancarkan kejayaan seorang wanita merdeka.
"Dengan senang hati, Pak Danu," jawab Ranti.
Saat Ranti melangkah keluar dari pintu kaca utama Vandera Tower menuju sedan hitamnya yang telah menunggu di pelataran, angin sore membelai lembut rambut bob-nya.
Di dalam mobil, Pak Hendra tidak sanggup menahan rasa kagumnya lagi.
"Luar biasa, Bu Ranti! Sungguh luar biasa!" puji Pak Hendra antusias dari kursi depan. "Danu Vandera itu terkenal sebagai negosiator paling dingin dan sulit ditundukkan di Jakarta! Tapi Anda berhasil membalikkan posisinya hanya dalam waktu setengah jam!"
Ranti tersenyum tipis, menatap pemandangan kota dari balik kaca jendela mobilnya yang melaju mulus.
"Bisnis itu tentang keberanian membela harga diri dan fakta, Pak Hendra," tutur Ranti lembut namun dalam. "Sama seperti saat kita menghadapi penderitaan hidup... kalau kita menunjukkan bahwa kita lemah, orang akan dengan senang hati menginjak kita. Tapi kalau kita berdiri tegak dan tahu nilai diri kita... dunia yang akan tunduk memberi jalan."
Ranti merogoh ponselnya. Sebuah pesan singkat masuk dari Farhan Arisya:
"Selamat sore, Ranti. Bagaimana rapat bisnis harimu? Semoga segalanya berjalan lancar. Bima tadi sempat meneleponku, bertanya apakah aku bisa membawakannya mainan mobil-mobilan kayu untuk piknik kita akhir pekan ini."
Ranti membaca pesan dari Farhan itu dengan dada yang membuncah hangat. Rasa tegang usai 'pertarungan kekuasaan' di meja mahoni tadi seketika cair, digantikan oleh kedamaian batin yang jernih dan manis.
Ranti membalas pesan Farhan dengan senyuman paling tulus di bibirnya:
"Selamat sore, Farhan. Rapatnya berjalan sangat sukses. Dan soal Bima... dia pasti akan sangat senang sekali. Sampai ketemu akhir pekan ini ya."
Ranti menyandarkan punggungnya di kursi mobil yang empuk, memejamkan mata sejenak dengan napas yang teratur dan lapang. Badai telah benar-benar berlalu, takhta kepemimpinannya telah berdiri kokoh, dan gerbang masa depan yang penuh dengan kejayaan serta cinta sejati kini telah terbuka lebar untuknya.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.