NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TUJUH: Gemuruh Sunyi (Bagian 3)

“Kirain kamu nggak bakal telepon lagi,” kata Ara di sela-sela makan malamnya.

“Kan tadi siang aku udah janji bakal telepon kamu, Chan. I miss you like hell,” aku mendekap gulingku erat-erat. Berharap yang ada di dekapanku itu adalah gadis gingsul yang kutelepon. Setidaknya dia akan tahu bahwa aku tidak berbohong soal kata rinduku barusan.

“Gombal!”

“See? You never believe me,” ada tawa hangat yang menggelitikku.

“Okay, I do miss you so badly,” Ara masih terkikik ketika mengatakannya.

“Kamu udah selesai makan belum? Buruan sikat gigi dan masuk selimut!”

“Ini juga baru selesai, Chan. Bawel deh! Kutinggal dulu ya?” Ara meninggalkan teleponku tanpa menungguku berkata ‘iya’. Kudengar samar Ara bercanda dengan teman-teman kosnya sebelum benar-benar lenyap dari jangkauan dengarku. Aku sendiri menatap sekeliling. Saking banyaknya, fotoku dan Ara nyaris seperti cat tembok di kamar apartemenku ini. Iya, serius. Aku baru saja mengatakan apartemen bukan losmen. Jangan berani-berani menduga aku mengorupsi uang perusahaan. Aku juga tahu apartemen ini terlalu berlebihan untukku yang sebenarnya bisa tinggal bersama keluargaku atau bahkan indekos di kamar 3x3m dengan fasilitas pendingin alami alias jendela.

Seharusnya kamu tahu siapa yang berulah jika itu menyangkut soal menghamburkan uang. Iyalah, siapa lagi kalau bukan Ian si bengal itu. Dia yang membelikanku apartemen ini dengan sekali gesek di agen real estate. MEMBELI guys, bukan menyewa. Kukatakan sekali gesek karena bahkan Ian tidak menawar barang sedikit pun. Dan herannya lagi, angka nol dalam rekeningnya juga tidak berkurang. He’s so damn rich.

Waktu awal bekerja, aku masih sering pulang-pergi dari rumahku di Lembang ke kantorku di Cibiru. Satu jam perjalanan jika lancar tanpa macet. Jadi, bayangkan saja jika kantorku masuk pukul delapan pagi, maka satu seperempat jam sebelumnya aku harus sudah mengendarai motorku keluar perumahan. Yang sial adalah ketika kamu harus lembur di kantor demi mengejar tenggat laporan. Bisa-bisa tengah malam aku baru sampai di rumah dan harus berangkat ke kantor dengan kondisi kurang tidur di pagi harinya. Ian, yang mendapatiku selalu memanfaatkan istirahat siang untuk tidur, akhirnya gatal juga ingin membantuku. Saat itu aku memang mulai berpikir untuk mencari kos-kosan di dekat kantor. Tak perlu mahal. Selama ada kasur dan lemari sih aku oke saja. Tapi ketika aku mengajak Ian masuk ke gang-gang sempit untuk bertanya info kos-kosan yang kubutuhkan, dia langsung dengan cepat menarik tanganku dan menyuruhku masuk ke mobilnya. Aku menatapnya dengan kebingungan apalagi ketika dia mulai menelepon satu per satu kontak di handphonenya. Bertanya ukuran, harga, fasilitas kemudian ditutup. Begitu terus setiap dia memulai dan mengakhiri percakapan. Baru di orang ketujuhlah dia memutuskan untuk menepikan mobilnya. Bertanya sekitar lima menit lebih panjang dari enam telepon sebelumnya lalu menginjak gas dan melaju ke Gateway Apartment. Ian tahu dia tak perlu meminta persetujuanku untuk semua keputusannya yang menyangkut uang. Jadi, saat aku melihat isi apartemen dengan kagumnya, dan agen real estate mulai berbicara panjang kali lebar menonjolkan keunggulan apartemennya, Ian langsung memberikan black cardnya sebagai tanda deal. And here I am, tidur-tiduran dengan nyamannya setelah berendam air hangat sesorean tadi. Tentu saja aku tak menikmatinya sendiri. Ian juga sering mampir ke sini atau bahkan menginap jika kedua orang tuanya bertolak ke luar negeri.

“Hey!” suara lembut Ara membuyarkan lamunanku. Entah kenapa senyumku langsung merekah mendengarnya.

“Hey, babe! Udah selimutan?”

“Udah, Chan!” bisa kudengar gemeresak selimut Ara ketika dia bergerak. Sunyi, kami berdua sama-sama terlalu hanyut dalam napas yang terdengar sayup di telepon.

“Chan?” Ara memanggilku.

“Ya, Chan?” jawabku lirih. Telunjukku menelusuri foto Ara di samping lampu tempat tidurku. Foto lama, tapi entah kenapa ciuman pertama Ara di pipiku itu seperti masih bisa kurasakan sampai sekarang.

“Um...kamu kapan ke Malang lagi?” telunjukku terhenti. Pertanyaan Ara terdengar janggal.

“Eh? Kok tiba-tiba nanya gitu? Kenapa?”

“Ngg...Nggak apa-apa kok. Kali aja kamu ada rencana ke sini dalam waktu dekat,” jawabnya datar. Kutengok kalender di sisi foto Ara. Kubalik berkali-kali dan tetap tak ada keajaiban tanggal kosong di akhir pekan sampai bulan depan.

“Hm...kayaknya sih nggak, Chan. Barusan aku cek jadwalku dan semuanya penuh. Kamu juga tahu kan aku masih diberi mandat soal anak pak direktur. Harusnya sih dia udah selesai penelitian dan balik ke Singapura bulan depan. Tapi aku juga nggak berani jamin soal kepastiannya itu,” Ara tak berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Dia menarik napas panjang sekali sebelum menghembuskannya perlahan.

“Gitu ya...” tuturnya pelan, sangat pelan. Membuatku semakin yakin ada yang aneh dengan pertanyaan-pertanyaan Ara barusan.

“Kenapa, Chan? Kamu ada masalah?” pancingku.

“Eh? Nggak ada kok. Beneran nggak ada,” aku mendapati kegugupan dalam suaranya. Bingo!

“Chan, jangan bohong!”

“Ih, aku serius ini. Beneran nggak ada apa-apa,” gelagat dalam suaranya jelas-jelas gelagat yang sudah aku hafal di luar kepala. Aku memutar bola mataku menyadari Ara masih saja menjadi dia yang keras kepala dan selalu berpura-pura semuanya baik-baik saja.

“Hey, did you just forget? Aku udah empat tahun jadi pacarmu. Dan jadi kakakmu juga sebelum itu. Aku tahu perbedaan cara bicaramu sesedikit apa pun itu. Jadi, nggak ada gunanya kamu pura-pura bohong padaku. Chan, say it! What’s wrong?” aku bersikukuh.

“Mm...” gadis ini benar-benar membuatku gemas.

“Chan!” aku sampai mendudukkan badanku demi mendapat penekanan suara beberapa oktaf. Setidaknya helaan napas dari Ara membuatku yakin dia akan bercerita.

“Well, aku nggak ngerti mau mulai cerita dari mana. Tapi tiba-tiba aja aku denger selentingan nggak enak dari beberapa temenku. Ada yang nyebar rumor kalau aku mengada-ada pacaran sama kamu karena mereka nggak pernah liat aku jalan berdua sama kamu,” seperti terantuk batu, aku benar-benar tidak menyangka bahwa masalah seperti ini masih muncul padaku yang sudah berkepala dua.

“What? Kamu udah bilang belum kalau kita LDR?”

“Udah, tapi mereka malah mulai mojokin aku. Bilang kalau akunya aja yang berlebihan dalam bercerita. Mereka bilang, nggak mungkin orang ganteng kayak kamu pacaran sama aku yang kayak begini,” what the fuck? Awas aja kalau yang ngomong begitu lebih jelek dari Ara. Ah, sudah pasti iya.

“Fucking hell! Masih ada aja orang model begitu di dunia zaman sekarang?” aku mengacak-acak rambutku. Aku mendadak kehilangan minat untuk tidur lebih awal. Kulemparkan selimutku sembari berjalan menuju dapur. Seharusnya air es bisa membantu mendinginkan kepalaku.

“Ya buktinya ada gitu.”

“Hey, hey, listen! Aku di sini, Chan. Aku sayang kamu. Dan aku rela jauh-jauhan sama kamu karena aku ingin melamar kamu secepatnya. Mungkin aku masih sangat muda untuk hal itu, tapi lingkunganku memang memaksaku untuk dewasa. Nggak ada lagi kata-kata main-main seperti remaja labil yang suka pamer pacarnya di sana-sini. Udah, jangan dengerin perkataan temenmu oke? Mereka cuma iri karena kamu punya pacar sepertiku tanpa mereka tahu seburuk apa aku di masa lalu. We’ll be fine, babe,” cetusku berusaha menenangkan. Tak ada sahutan apa-apa. Namun meskipun lirih, aku mendengar Ara sesenggukan di seberang sana. Aku menelan ludah. Aku tak tahu tekanan hubungan kami akan sebegini besarnya pada Ara. Aku jadi semakin merasa bersalah karena baru menghubunginya di saat Ian mengingatkanku. Bagaimana jika aku luput sebentar pada Ara? Bisakah dia baik-baik saja? Ugh! Aku baru mulai mencintai Bandung ketika sekarang dengan cepatnya aku menemukan alasan untuk membencinya lagi. Fuck! Aku hanya ingin memeluk Ara.

“Iya, aku paham itu. But it’s sad you know, ketika dianggap sebelah mata hanya karena aku punya pacar yang lebih secara fisik. Perempuan mana sih yang nggak mau punya pacar semenarik kamu? Tanpa perlu jadi munafik, aku emang bahagia punya pacar ganteng. Tapi aku mau pacaran sama kamu juga bukan karena kamu ganteng aja, kamu punya banyak hal lebih yang bisa aku banggain,” Ara berucap dengan sedikit terbata. Kali ini ganti aku yang menahan napas. Terlepas dari kecerewetannya, Ara selalu tahu bagaimana caranya mengistimewakanku. Meskipun dia sering tidak jujur dengan perasaannya dan lebih sering mengolokku dengan kata gombal, aku tahu dia mencintaiku dengan tulus.

“You love me that much, don’t you?” tanyaku basa-basi. Aku tidak ingin gadis kesayanganku berlarut-larut dalam tangis. Apalagi dengan posisiku yang sedang duduk sendiri, di kursi dapur yang dingin, dengan air yang dingin pula. Cukuplah hubungan LDR saja yang membuatku menyedihkan. Jangan sampai telepon ini juga jadi ikut menyedihkan.

“Of course I am. Stop playing around, Chan! Aku ini lagi nangis, ih!” Ara masih sesenggukan meskipun jauh terdengar lebih tenang dari sebelumnya.

“Sshh...sshh...jangan nangis dong! Kan aku belum ada di sana,” tanpa sengaja aku melirik laptopku yang masih berkedip-kedip di ruang tamu.

“Ya makanya buruan ke sini! Jangan gombal aja dari telepon!” rutuk Ara.

“Iya, iya, akhir bulan depan aku ke sana,” jawabku enteng sambil mengeklik beberapa hal secara cepat.

“What?” aku bisa membayangkan bagaimana wajah Ara dengan suara seterkejut itu. Aku tertawa pelan. Menyadari betapa cepatnya aku menjadi gila karenanya.

“I mean it. Ini aku lagi booking tiket kereta.”

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!