Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 Kesalahan Seorang Dewa
Kael tidak ingat rasa sakitnya.
Yang dia ingat hanya lampu jalan yang berkedip, suara klakson yang terlalu panjang, dan cahaya putih yang menelan seluruh pandangannya. Setelah itu tidak ada apa-apa. Tidak gelap, tidak terang, tidak dingin, tidak hangat.
Lalu, perlahan, ada sesuatu.
Kael membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di ruang putih tanpa ujung. Tidak ada lantai, tidak ada langit, tetapi kakinya terasa menapak pada sesuatu yang kokoh. Dia menunduk dan menatap kedua tangannya. Tangan itu tampak biasa, hanya samar seperti bayangan di atas air.
"Ah, aku sudah mati, ya?" gumamnya.
"Benar. Dan itu tidak seharusnya terjadi."
Suara itu datang dari belakang. Kael berbalik dan melihat seorang pria berjubah putih keemasan berlutut di lantai yang tak terlihat. Rambut peraknya panjang sampai pinggang, wajahnya tampak muda sekaligus tua. Di sekeliling tubuhnya melayang cincin-cincin cahaya yang bergetar pelan, seperti ikut gemetar bersama pemiliknya.
Kael menaikkan alis.
"Kenapa Anda berlutut?"
"Karena aku bersalah." Pria itu menundukkan kepala begitu dalam hingga dahinya hampir menyentuh lantai. "Aku adalah dewa yang mengawasi arus kehidupan di duniamu. Tugasku sederhana: mencatat, menyeimbangkan, dan memastikan setiap jiwa mati pada waktunya. Tapi malam ini aku lalai. Aku tertidur saat mengurus daftar takdir, dan namamu tertukar dengan orang lain."
Kael terdiam sejenak. "Jadi ... aku mati karena Anda ketiduran?"
"Ya."
"Karena salah baca daftar?"
"Ya."
"Dan orang yang seharusnya mati malam itu?"
"Hidup sehat sampai usia sembilan puluh tahun," jawab dewa itu lirih.
"Aku sudah memperbaikinya."
Kael menghela napas panjang. Anehnya, dia tidak merasa marah. Mungkin karena semuanya terlalu absurd. Hidupnya dulu biasa saja: kuliah, kerja serabutan, pulang larut, lalu mati tertabrak di penyeberangan yang bahkan sudah hijau. Kalau ini lelucon, leluconnya keterlaluan.
"Bisakah aku hidup lagi?" tanyanya.
Dewa itu mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca. "Itulah yang ingin kutawarkan. Aku tidak bisa mengembalikanmu ke duniamu. Tubuhmu sudah hancur dan tidak bisa dipakai lagi. Tetapi aku bisa mengirimmu ke dunia lain, dunia yang penuh sihir dan kultivasi, dan memberimu tubuh baru.
"
"Tubuh baru?"
"Tubuh yang kau rancang sendiri."
Kael mengerjap. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, jantungnya, atau apa pun yang menggantikannya, berdetak lebih cepat.
Dewa itu menjentikkan jari. Di hadapan Kael muncul selembar layar cahaya berisi puluhan kolom kosong: tinggi badan, warna rambut, warna mata, wajah, struktur tulang, potensi.
Kael menatapnya lama. Dia bukan orang yang serakah, tetapi dia juga bukan orang bodoh. Kalau diberi kesempatan menulis ulang dirinya sendiri, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
"Tinggi," katanya sambil mengetuk kolom pertama. "Seratus sembilan puluh tujuh senti."
Angka itu muncul di layar.
"Rambut hitam obsidian. Yang gelap, tapi berkilau seperti batu vulkanik."
Cahaya berpendar, dan sehelai rambut hitam tampak melayang di sudut layar.
"Mata perak."
"Perak?" dewa itu bertanya hati-hati.
"Ya. Seperti bulan yang menembus kabut."
Dewa itu tersenyum kecil dan mencatatnya.
Kael melanjutkan dengan wajah yang sempurna, tubuh yang sempurna, dan pada kolom terakhir dia berhenti lebih lama.
"Struktur tubuh yang cocok untuk kultivasi," katanya pelan.
"Tulang, otot, meridian, semuanya. Dan potensi ... jangan diberi batas."
Dewa itu berhenti menulis. "Tanpa batas?"
"Kau bilang dunia itu memakai kultivasi. Di novel-novel yang pernah kubaca, ada orang yang berhenti di tengah jalan hanya karena bakatnya dianggap mentok. Aku tidak mau begitu."
Cincin-cincin cahaya di sekeliling dewa itu bergetar lebih kencang. Untuk sesaat wajahnya tampak aneh, seperti orang yang mendengar sesuatu yang sudah lama dia tunggu, atau lama dia takuti. Namun ekspresi itu segera lenyap.
"Baik," katanya. "Akan kuberikan."
Tubuh di layar itu mulai bersinar. Kael melihat siluetnya sendiri terbentuk: tinggi, tegap, dengan bahu lebar dan garis wajah tegas. Rambut obsidian jatuh menutupi sebagian dahi, dan sepasang mata perak menatap kembali kepadanya seolah dia sedang bercermin.
"Sebagai kompensasi atas kelalaianku," ujar dewa itu, kini berdiri, "aku juga akan memberimu tiga kemampuan."
Tiga lingkaran cahaya muncul di udara, berputar lambat mengelilingi Kael.
Yang pertama menyala biru keperakan.
【Adaptation】
"Kau akan mampu menyesuaikan diri dengan apa pun," jelas dewa itu. "Teknik, senjata, racun, elemen, tekanan, bahkan lingkungan. Tapi bertahap. Tidak ada jalan pintas."
Kael mengangguk. Dia justru menyukai bagian terakhir itu.
Yang kedua menyala emas.
【Infinite Growth】
"Pertumbuhan tanpa batas. Orang lain punya batas maksimum. Kau tidak. Tapi kau tetap harus berlatih, bertarung, dan belajar. Kemampuan ini tidak akan memberimu apa pun secara gratis."
"Bagus," kata Kael. "Aku tidak suka yang gratis."
Yang ketiga menyala merah lembut, hangat seperti darah yang mengalir.
【Absolute Regeneration】
"Tubuhmu akan menarik energi alam untuk memulihkan diri. Luka, patah tulang, bahkan anggota tubuh yang hilang akan tumbuh kembali." Dewa itu terdiam sebentar. "Yang tidak bisa kusembuhkan hanyalah jiwa yang dihancurkan, atau eksistensi yang disegel."
Kael memandangi tiga lingkaran itu. Satu untuk belajar, satu untuk tumbuh, satu untuk bangkit. Entah kenapa, ketiganya terasa seperti bagian dari dirinya yang selama ini hilang.
"Terima kasih," katanya jujur. "Dan tenang saja, aku tidak akan menuntutmu soal kecelakaan itu."
Dewa itu tertawa lemah. "Kau orang yang aneh."
"Sudah sering dengar."
Lalu dunia putih itu mulai retak. Garis-garis cahaya menjalar di segala arah, dan Kael merasakan tubuhnya ditarik lepas dari tempatnya berdiri. Namun sebelum semuanya menghilang, dia melihat wajah dewa itu berubah pucat.
"Tunggu ..." bisik sang dewa. Matanya menatap layar koordinat yang kini berkedip merah. "Koordinatnya ... ada yang salah!"
"Salah?" Kael berteriak di tengah pusaran cahaya. "Salah bagaimana?!"
"Kau seharusnya dikirim ke padang rumput di dekat kota kecil yang aman! Tapi ini ..." Suara dewa itu ditelan gemuruh.
"Ini bukan tempat yang kutuju! Ini ... Death—"
Kalimat itu terputus.
Cahaya putih meledak.
Kael merasakan angin dingin menampar wajahnya, bau tanah basah menusuk hidung, dan sesuatu yang keras menghantam punggungnya. Dia terbatuk, membuka mata, dan melihat kanopi pepohonan raksasa yang begitu tinggi hingga menutupi langit. Cahaya hanya masuk sebagai serpihan pucat di sela dedaunan hitam.
Dari kejauhan terdengar raungan panjang. Bukan suara hewan biasa. Getarannya merambat lewat tanah dan naik ke tulangnya.
Kael bangkit perlahan. Tubuh barunya terasa ringan, kuat, dan hidup. Dia menatap tangannya, lalu mengepalkannya. Kulitnya hangat, dan di dalam dadanya ada aliran samar yang belum dia pahami.
Tepat di depan matanya, sebuah tulisan cahaya muncul.
[Selamat datang di Elyndra.]
[Lokasi: Death Forest.]
Kael membaca dua baris itu dua kali.
"Death Forest," ulangnya pelan. Lalu dia tertawa kecil, tawa orang yang tidak punya pilihan selain menganggap semuanya lucu. "Dewa itu benar-benar payah dalam hal koordinat."
Di kejauhan, raungan tadi terdengar lagi, kini lebih dekat.
Kael menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah suara itu, dan tersenyum tipis.
"Baiklah," katanya. "Kita mulai dari sini."
Raungan itu tidak datang lagi.
Kael berdiri diam di antara akar-akar pohon yang tebalnya melebihi tubuh manusia. Selama hampir sepuluh menit dia hanya mendengarkan: angin yang menggesek dedaunan hitam, tetesan air dari ranting, dan sesuatu yang bergerak pelan di kejauhan, terlalu teratur untuk sekadar angin.
Hutan ini hidup, dan mengawasinya.
Dia mengecek tubuhnya lagi. Tidak ada pakaian selain kain abu-abu sederhana yang entah bagaimana sudah melekat di badannya, seolah sang dewa masih punya sedikit belas kasihan.
Tidak ada senjata, tidak ada makanan, tidak ada peta. Satu-satunya "petunjuk" adalah layar cahaya tipis yang muncul saat dia memikirkannya.
[Nama: Kael]
[Ras: Manusia (Tubuh Primordial Sempurna)]
[Tingkat Kultivasi: Body Tempering 1★]
[Kemampuan: Adaptation, Infinite Growth, Absolute Regeneration]
Kael mengangguk pelan. "Dasar sekali. Setidaknya aku tahu posisiku."
Perutnya berbunyi. Tubuh baru ini tampaknya masih butuh makan seperti tubuh lama, dan itu berarti dia harus menemukan makanan sebelum apa pun menemukan dirinya lebih dulu.
Dia berjalan menyusuri sela pepohonan. Tanahnya lembap, dipenuhi lumut merah gelap yang berpendar redup. Setiap langkah menimbulkan bunyi plok kecil. Kael sempat berhenti untuk menyentuh satu batang pohon. Kulitnya keras seperti besi, dan di permukaannya ada goresan dalam, seperti bekas cakar yang jauh lebih besar dari tangan manusia.
"Baik," gumamnya. "Jangan bertemu pemilik cakar ini dulu."
Baru selesai dia berkata begitu, semak di sebelah kirinya bergoyang.
Kael langsung merunduk. Jantungnya berdetak keras, tetapi kepalanya anehnya tetap dingin. Dia memungut sebatang ranting patah sepanjang lengan, satu-satunya benda yang bisa dijadikan senjata.
Dari balik semak, muncul makhluk kecil berbulu putih dengan telinga panjang dan mata merah. Ukurannya kira-kira sebesar anjing sedang. Kael hampir tertawa lega.
"Kelinci."
Kelinci itu menoleh dan membuka mulutnya. Dua taring melengkung sepanjang jari keluar dari rahang atasnya, berkilat basah.
"Bukan kelinci biasa," koreksi Kael dengan suara datar.
[Fang Rabbit — Monster Tingkat Rendah]
[Perkiraan kekuatan: Body Tempering 1★–2★]
Kelinci itu menendang tanah dan melesat.
Kecepatannya di luar dugaan. Kael hanya sempat mengangkat lengan ketika gigi tajam itu menancap di lengan bawahnya. Rasa sakit menyengat, panas dan tajam, dan darahnya menyembur.
"Sialan!"
Dia mengayunkan ranting, tetapi Fang Rabbit sudah melompat mundur dan mendarat mulus. Darah menetes dari taringnya, merah kehitaman.
Kael menunduk melihat lukanya. Dua lubang dalam menganga di lengannya, dan beberapa detik kemudian daging di sekitarnya bergerak sendiri. Serat-serat merah merayap, saling menyambung, lalu menutup tanpa bekas.
[Absolute Regeneration aktif.]
[Luka sembuh sepenuhnya.]
"Ya ampun," bisik Kael, setengah kagum setengah ngeri.
"Itu ... menyenangkan sekaligus menakutkan."
Fang Rabbit tampak bingung, dan itu memberi Kael jeda sedetik. Kelinci itu menyerang lagi, kali ini dari sisi kanan. Kael mencoba menghindar, tapi terlambat: taring itu menggores pahanya. Dia mengayunkan ranting, tetapi mengenai udara kosong.
[Adaptation terhadap pola serangan Fang Rabbit: 4%.]
Kael menyipitkan mata. Angka itu tidak besar, tetapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa dia mulai melihat sesuatu. Kelinci itu selalu menekuk kaki belakang sebelum melompat, selalu mengincar bagian tubuh yang bergerak paling lambat, dan selalu menyerang dari arah kosong di sisi sebelah kanan.
Serangan ketiga datang. Kael merunduk sedikit lebih awal dari sebelumnya, dan taring itu hanya menyambar rambutnya.
[Adaptation: 11%.]
Serangan keempat. Kael memiringkan badan, ranting menghantam rusuk si kelinci, dan makhluk itu terpental sambil mencicit.
[Adaptation: 19%.]
"Aku mulai paham," katanya lirih. Matanya yang perak seakan menangkap gerak yang tadi terlalu cepat. Dunia tidak melambat, tetapi pikirannya kini mengejar lebih dekat.
Fang Rabbit bangkit dengan mata semakin merah. Kali ini dia tidak melompat langsung. Dia berputar, mencari celah, dan menerjang dari samping. Kael menunggu. Hitungan satu, dua, dan ketika kaki belakang si kelinci menekuk, dia melangkah ke samping dan menusukkan ujung ranting ke tenggorokannya.
Krek.
Kelinci itu terlempar, menggeliat sebentar, lalu diam.
Kael berdiri terengah-engah. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena sesuatu yang baru: adrenalin murni, kesadaran bahwa dia bertarung dan menang.
[Fang Rabbit dikalahkan.]
[Pengalaman bertarung diperoleh.]
[Adaptation terhadap pola serangan Fang Rabbit: 34%.]
Di dalam tubuh monster itu, Kael merasakan sesuatu berdenyut lemah. Dia berjongkok, menyayat perutnya dengan tepi ranting yang sudah pecah, lalu menemukan kristal kecil sebening air dan sebesar kelereng.
[Beast Core — Kualitas Rendah.]
"Jadi ini yang dicari para kultivator," gumam Kael.
Dia tidak tahu cara memakainya, tetapi tubuhnya bergerak lebih dulu dari pikirannya. Kael menggenggam kristal itu, dan aliran hangat merambat dari telapak ke lengan, ke dada, lalu berputar pelan di perutnya. Rasanya seperti minum air panas di tengah hujan.
[Qi terserap: 3%.]
[Body Tempering 1★ — Progres: 3%.]
Kael tersenyum kecil. "Langkah pertama."
Dagingnya sendiri dia panggang malam itu di bawah akar pohon besar, menggunakan api kecil dari ranting kering yang dia gesek berjam-jam. Rasanya hambar dan agak alot, tetapi hangat. Sambil mengunyah, dia memandangi hutan yang semakin gelap.
Saat itulah dia mendengar suara langkah, banyak dan berat.
Kael langsung memadamkan api dengan tanah. Dari balik pepohonan muncul tiga pasang mata kuning, disusul geraman rendah yang menggetarkan dada.
[Dire Wolf — Monster Tingkat Menengah Rendah.]
[Perkiraan kekuatan: Body Tempering 3★–4★.]
"Tiga ekor," bisik Kael. "Dan aku baru naik tiga persen."
Serigala terbesar melangkah maju, bulunya abu-abu kusam dan tinggi bahunya nyaris menyamai pinggang Kael. Napasnya beruap di udara malam.
Kael melirik ke kiri dan kanan. Tidak ada jalan mundur. Dia memungut potongan ranting yang tersisa, menegakkan punggung, dan tersenyum tipis seperti orang yang menyadari sesuatu.
"Baiklah," katanya. "Kalau harus belajar, lebih baik belajar dari yang kuat."
Ketiga serigala itu menerjang serentak.
Malam itu, Death Forest mendengar suara pertarungan pertamanya dengan seorang pemuda yang belum tahu apa-apa. Tulang patah, darah tumpah, luka menutup, dan luka datang lagi. Setiap kali Kael terjatuh, dia bangkit sedikit lebih cepat.
[Adaptation terhadap pola serangan Dire Wolf: 6%.]
[Adaptation: 15%.]
[Adaptation: 22%.]
Ketika fajar pucat akhirnya menyusup lewat celah dedaunan, dua serigala sudah tergeletak tak bernyawa. Serigala ketiga melarikan diri dengan ekor terselip. Kael duduk di antara bangkai dengan napas berat dan pakaian compang-camping, tetapi tubuhnya utuh tanpa satu pun luka.
Dia memandangi layar cahaya di depan matanya.
[Body Tempering 1★ — Progres: 41%.]
"Empat puluh satu persen dalam semalam," gumamnya. Lalu dia tertawa lelah, menjatuhkan diri ke tanah, dan menatap langit kelabu di balik pepohonan. "Ini akan jadi hutan yang panjang."
Jauh di dalam Death Forest, di bawah tanah yang dalam dan gelap, sesuatu yang sudah tertidur ratusan tahun bergerak sedikit, seolah merasakan aroma yang tak pernah dicium dunia sebelumnya.
Tingkatan kultivasi:
1 Body Tempering Realm 1 — 5★
2 Qi Gathering Realm 1 — 5 ★
3 Spirit Core Realm 1— 5 ★
4 Soul Formation Realm 1 — 5★
5 Domain Realm 1 — 5★
6 Saint Realm 1 — 5★
7 Divine Realm 1 — 5★