NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Penjelajahan

Ye Chan mendekati bidang batu yang lurus di balik sulur tanaman merambat. Tangannya terangkat, menyibak lembaran daun hijau tua yang basah oleh embun lembah. Di sanalah ia berada, berdiri tepat di depan sebuah celah sempit yang hampir sepenuhnya tertutup reruntuhan batu besar dan anyaman akar pohon kuno.

Ia diam sejenak, memejamkan mata untuk merasakan sekeliling. Tidak ada getaran energi spiritual atau desau angin aneh dari celah itu. Tempat ini mati, dingin, dan tampaknya sudah luput dari perhatian makhluk apa pun selama puluhan tahun. Tidak ada jejak kaki segar di tanah berlumpur di bawahnya.

Mengambil sebuah sekop kecil dari cincin ruang, ia mulai bekerja. Dengan gerakan teratur, ia memotong akar tebal yang melintang dan menyingkirkan kerikil yang menyumbat celah pintu. Debu tebal beterbangan, membuatnya terbatuk pelan.

Ye Chan tidak langsung melompat masuk. Ia melempar kerikil kecil ke dalam kegelapan, mendengarkan bunyinya yang memantul, lalu mengamati arah embusan udara yang keluar dari celah. Setelah yakin tidak ada jebakan gas beracun atau runtuhan susulan, ia menyelinap masuk dengan tubuh menyamping.

Udara di dalam ruangan itu terasa sangat lembap dan berbau tanah basah. Langkah kakinya menimbulkan gema pelan di lantai batu yang retak. Ruangan utama itu tidak luas, hanya berisi rak kayu yang sudah lapuk dan runtuh ke lantai, menyisakan serpihan wadah tanah liat yang dulunya mungkin berisi obat-obatan.

Ia berlutut, membalik beberapa pecahan keramik dengan ujung jarinya. Semuanya telah kehilangan energi spiritual, menyisakan debu abu-abu yang tidak berguna. Tulisan-tulisan di dinding batu di sekitarnya juga sudah terkikis air, menyisakan guratan-guratan tidak terbaca.

Ye Chan tidak mengeluh, apalagi kecewa karena tidak menemukan pusaka tingkat tinggi. Baginya, dinding tebal yang bisa menahan angin malam dan melindunginya dari predator di luar sudah lebih dari cukup.

Pandangannya kemudian beralih ke sudut ruangan yang dialiri tetesan air dari langit-langit. Di sana, di antara celah batu yang basah, tumbuh sekelompok tanaman liar berdaun perak tipis. Ia tersenyum tipis ketika mengenali bentuk daunnya. Itu adalah rumput pemulih luka dasar, jenis yang biasa tumbuh di tempat-tempat mati yang lembap.

Ye Chan langsung mengeluarkan pisau kecilnya. Dengan teliti, ia mencabut tanaman obat itu sampai ke akarnya, lalu membungkusnya dengan kain bersih agar kelembapannya terjaga.

Ia mulai mengelompokkan barang-barang di sudut ruangan yang paling kering. Cincin ruangnya yang hampir kosong kini mulai terisi kembali. Ia memisahkan potongan daging monster lembah yang sudah ia bersihkan, tanaman obat pelarut racun, hingga beberapa potong kayu kering yang ia temukan di luar untuk membuat api unggun kecil.

Sambil mengunyah sepotong daging monster yang terasa agak liat, ia menyusun rencana. Beberapa bahan beracun dari tanaman liar di dekat pintu masuk ia sisihkan ke dalam botol kecil tersendiri.

'Persediaan ini harus bertahan setidaknya untuk satu minggu,' pikirnya sembari mengikat simpul kantong obat terakhir.

Langkah kakinya membawa Ye Chan masuk lebih jauh ke lorong sempit di bagian belakang ruangan. Di sana, di sebuah sudut mati yang tertutup reruntuhan atap, ia menemukan apa yang tersisa dari pemilik tempat ini sebelumnya.

Sesosok kerangka manusia terduduk bersandar pada dinding batu. Tulang-belulangnya sudah memutih, sebagian tertimbun debu tebal. Tidak ada tanda-tanda kerusakan akibat senjata atau bekas pertempuran di sekitar area tersebut. Hanya ada beberapa pecahan cawan perunggu dan coretan tulisan tangan yang dipahat kasar di permukaan lantai batu di dekat kakinya.

Ye Chan mendekat, lalu berjongkok untuk membaca tulisan yang hampir pudar tersebut.

Pahatan itu menceritakan keputusasaan. Sang kultivator menuliskan bagaimana seluruh jalur meridian utamanya hancur setelah mencoba menerobos kemacetan tingkat kultivasi dengan paksa.

'Meridian yang hancur bagaikan sungai yang mengering dan retak ... tidak ada obat biasa di dunia ini yang mampu menyatukannya kembali,' Ye Chan membaca baris terakhir dengan suara berbisik.

Hatinya sedikit mencelos. Situasi kultivator mati ini sangat mirip dengan apa yang ia alami saat ini. Kenyataan ini menghantamnya cukup telak; kerusakannya jauh lebih parah daripada sekadar hilangnya inti kultivasi.

Penasaran sekaligus cemas, Ye Chan duduk bersila di dekat kerangka tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memejamkan mata untuk melakukan meditasi dasar yang sudah sangat ia hafal di luar kepala.

Ia mencoba menarik sisa Qi tipis yang mengambang bebas di udara ruangan.

Namun, begitu energi itu menyentuh jalur meridian di dadanya, rasa sakit yang menusuk langsung menjalar ke sekujur tubuhnya. Jalur energinya tersumbat dan patah di banyak titik. Qi tersebut langsung buyar, terbuang percuma ke udara sebelum sempat memutari tubuhnya sekali saja.

Ye Chan terengah-engah, memegang dadanya yang berdenyut nyeri. Ia menyeka keringat dingin di dahinya.

'Sia-sia,' gumamnya dalam hati. 'Metode lama sama sekali tidak berguna sekarang.'

Meskipun begitu, ia menyadari sesuatu yang aneh. Di bagian bawah pusarnya, tepat di dekat bekas intinya yang hancur, ada setitik kehangatan yang masih bertahan. Sangat kecil, namun area itu tidak menolak sisa Qi yang lewat tadi. Jalannya memang buntu, tetapi belum sepenuhnya tertutup. Ia hanya butuh cara lain.

Saat ia bangkit berdiri untuk merenggangkan kakinya yang kaku, matanya menangkap sesuatu yang ganjil di balik dinding ruang meditasi yang runtuh sebagian.

Di balik tumpukan batu bata yang hancur, ada sebuah pintu batu kecil dengan segel kuno terpahat di permukaannya. Tidak ada pendaran cahaya spiritual, tidak ada tekanan energi yang biasanya memancar dari barang-barang berharga milik kultivator hebat.

Justru keheningan total itulah yang membuatnya curiga.

Ia mendekati pintu itu, jemarinya menyentuh permukaan segel yang dingin dan berdebu.

"Sesuatu yang bisa bertahan selama ini tanpa aura ... biasanya bukan sesuatu yang biasa," bisiknya perlahan.

Dengan sisa tenaga dan pisau kecilnya, ia mulai mencungkil sela-sela segel kuno itu, membiarkan debu kembali berjatuhan ke lantai batu. Perlahan, terdengar bunyi klik pelan, dan pintu batu itu mulai bergeser terbuka ke samping.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!