NovelToon NovelToon
[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Sistem
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Pury A.

Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.

Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Malam Tanpa Bintang

Sore itu matahari terbenam dengan warna kemerahan yang tak biasa, seolah langit sendiri merasakan ketegangan yang menyelimuti kediaman Margaretha. Angin bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon tua di halaman depan, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lain sesuatu yang tajam, menegangkan, seperti udara sebelum badai besar melanda.

Aku duduk di tepi jendela kamarku, menatap ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Kata-kata yang kudengar pagi tadi di ruang kerja Daddy terus berputar di kepalaku, berulang-ulang, seolah tak mau memberi jeda. Pertemuan di pelabuhan lama. Kelompok di utara. Langkah yang harus diambil. Setiap kalimat terasa seperti benang halus yang perlahan mengikat jantungku semakin erat.

Terdengar ketukan pelan di pintu.

“Masuk,” ucapku pelan.

Pintu terbuka. Sophie berdiri di sana, mengenakan gaun tidur berwarna biru muda, rambutnya terurai panjang, wajahnya tampak lelah namun tetap lembut. Ia melangkah masuk dan duduk di sampingku di tepi tempat tidur, jaraknya cukup dekat untuk memberi rasa aman, namun tidak terlalu dekat sehingga terasa menekan.

“Kau belum tidur?” tanyanya lembut.

Aku menggeleng pelan. “Bagaimana aku bisa tidur... kalau aku tahu mereka akan pergi ke sana malam ini?”

Sophie menghela napas panjang, lalu menggenggam tanganku pelan. “Grace... ini bukan hal yang mudah bagi kami juga. Percayalah. George tadi bilang ia tidak ingin kau cemas. Charlotte menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk memastikan rencananya aman, agar tidak ada bahaya yang menyusup. Edward memeriksa setiap kemungkinan kesalahan dua kali lipat. Mereka semua berusaha sebaik mungkin... supaya kita semua tetap selamat.”

“Tapi dengan cara apa, Sophie?” suaraku hampir berbisik. “Mereka pergi ke pelabuhan di malam hari. Bukan untuk minum teh. Bukan untuk berbisik pelan. Kau tahu itu sama seperti aku.”

Sophie terdiam, menunduk menatap jemarinya yang saling bertaut. “Aku tahu. Aku tidak bisa berbohong padamu. Ada hal-hal yang harus dilakukan... hal-hal yang tak bisa ditulis di atas kertas putih. Tapi Daddy tidak mengirim mereka untuk menyakiti tanpa alasan. Orang-orang itu sudah mengancam keselamatan kita, Grace. Mereka tidak hanya menginginkan tanah atau kekayaan. Mereka mengancam nama Margaretha dan semua yang berada di bawah perlindungannya.”

“Lalu apakah jawabannya adalah kekerasan?” tanyaku, air mata mulai menggenang. “Apakah kita harus menjadi seperti mereka supaya tidak dikalahkan?”

Sebelum Sophie menjawab, terdengar suara langkah kaki di lorong mantap, cepat, dan tegas. Aku melangkah ke pintu yang sedikit terbuka, dan melihat mereka semua berjalan beriringan menuju lantai bawah.

Edward berjalan paling depan. Ia mengenakan jas gelap yang membuatnya tampak lebih tinggi, lebih kokoh, wajahnya serius tanpa senyum sedikit pun. Di sampingnya Will, rahangnya mengeras, matanya waspada, seolah bahaya sudah ada di depan mata. Di belakang mereka Charlotte, mengenakan pakaian sederhana namun elegan, rambutnya terikat rapi, ekspresinya tenang namun tajam. Henry berjalan di sampingnya, memegang sebuah map berisi kertas-kertas, bibirnya terkatup rapat, pikirannya jauh ke depan. George berjalan di sisi lain, langkahnya cepat, napasnya teratur, seolah ia sedang menuju medan perang yang sudah lama ia nantikan.

Daddy berdiri di tangga utama, menatap mereka satu per satu. Cahaya lampu di atas kepalanya menciptakan bayang-bayang panjang di wajahnya, menyembunyikan sebagian ekspresinya.

“Dengar baik-baik,” ucapnya, suaranya rendah namun terdengar jelas ke seluruh lorong. “Kalian pergi untuk menjaga, bukan untuk menyerang tanpa alasan. Ingat siapa yang kalian wakili. Nama Margaretha bukan nama penindas. Tapi juga bukan nama yang bisa diinjak-injak.”

“Siap, Daddy,” jawab mereka hampir serempak.

Aku menahan napas saat mereka berjalan melewati pintu kamarku yang sedikit terbuka. Edward melirik sekilas ke arahku matanya memancarkan sesuatu yang membuat hatiku teriris. Bukan ketakutan. Bukan kesombongan. Melainkan permohonan maaf. Seolah ia tahu aku tidak akan menyukai apa yang akan terjadi, dan ia menyesal tidak bisa memberitahuku lebih banyak.

Pintu depan tertutup pelan, namun bunyinya terdengar seperti benturan yang keras di keheningan malam. Mobil-mobil melaju pergi, meninggalkan kediaman Margaretha yang tiba-tiba terasa begitu besar, begitu kosong, begitu sepi.

Sophie berdiri di sampingku, menaruh lengannya di bahuku. “Mereka akan kembali, Grace. Mereka akan kembali.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya berjalan ke jendela, menatap ke arah gerbang yang kini tertutup rapat, lalu ke langit yang gelap tanpa satu pun bintang terlihat.

Malam itu terasa berjalan sangat lambat. Setiap detik terasa seperti menit. Setiap menit terasa seperti jam. Aku tidak bisa duduk, tidak bisa berbaring, tidak bisa melakukan apa pun selain berjalan mondar-mandir di kamarku, mendengarkan setiap suara dari luar, berharap mendengar deru mesin mobil, berharap melihat cahaya lampu mendekat.

Jam dinding berdetak pelan. Tik... tik... tik... seolah menghitung detik yang memisahkan mereka dari bahaya yang tak diketahui.

Di tengah keheningan itu, aku turun ke ruang tengah. Mommy duduk sendirian di sofa besar, di dekat perapian yang apinya sudah padam. Ia tidak membaca, tidak merajut, tidak melakukan apa pun selain menatap ke arah api yang tinggal abu. Wajahnya tenang tenang dengan cara yang menyakitkan, seolah ia sudah terbiasa menunggu di tempat ini, menunggu orang-orang yang dicintainya pulang dari tempat yang gelap.

Aku mendekat pelan. “Mommy...”

Ia menoleh, lalu tersenyum tipis senyum yang tak sampai ke matanya. “Belum tidur, Sayang?”

“Aku tidak bisa,” aku duduk di sebelahnya, merasakan kehangatan yang samar dari sofa yang sudah lama ditempati. “Apakah... apakah kau selalu menunggu seperti ini?”

Mommy mengangguk perlahan, menatap ke arah perapian yang dingin. “Sejak pertama kali Daddy pergi ke pertemuan semacam ini. Ya. Aku selalu menunggu.”

“Dan kau tidak takut?” tanyaku.

Ia diam cukup lama sebelum menjawab. “Tentu saja takut. Setiap kali. Tapi aku belajar satu hal, Grace. Cinta kepada keluarga bukan berarti kita selalu menyukai apa yang mereka lakukan. Itu berarti kita tetap ada, bahkan ketika kita tidak mengerti. Bahkan ketika kita ragu. Kita tetap ada di sini, menjaga tempat mereka pulang.”

Aku menatapnya wanita yang anggun, lembut, yang seumur hidupnya tampak begitu tenang di permukaan, padahal di dalam hatinya ia menanggung kekhawatiran yang tak pernah diucapkan.

“Tapi bagaimana jika... jika mereka tidak pulang seperti yang kita harapkan?” suaraku bergetar. “Bagaimana jika sesuatu berubah?”

Mommy menggenggam tanganku erat. “Itulah mengapa kita saling menjaga satu sama lain, Grace. Jika salah satu tersesat, yang lain akan mencari jalan pulang untuknya. Selama kita tidak melepaskan satu sama lain, tidak ada yang benar-benar hilang.”

Kata-katanya menenangkan sebagian ketakutan di dadaku, namun tidak sepenuhnya menghilangkan. Aku tahu sesuatu malam ini bukan sekadar pertemuan. Ini adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya. Entah menjadi lebih kuat, atau hancur sepenuhnya.

Dan tepat saat jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, terdengar suara mobil memasuki halaman.

Aku berdiri seketika, jantung berdegup kencang hingga nyeri di dada. Mommy berdiri di sampingku, napasnya tertahan.

Pintu depan terbuka.

Langkah kaki terdengar berat, pelan, namun nyata.

Mereka pulang. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada percakapan. Tidak ada tawa. Hanya keheningan yang berat.

Aku melangkah ke tangga, dan melihat mereka semua berdiri di lantai bawah. Lampu menyinari wajah-wajah mereka. Semua pulang. Semua selamat. Namun tidak ada satu pun yang tampak tenang.

Edward menunduk sedikit, seolah memikul beban yang lebih berat dari sebelumnya. Will menatap lurus ke depan, napasnya berat. Charlotte memejamkan mata sejenak, menelan sesuatu yang pahit. Henry meletakkan map di meja dengan tangan yang sedikit gemetar. George berdiri paling belakang, wajahnya pucat, matanya tak bisa bertemu pandang dengan siapa pun.

Daddy berdiri di depan mereka, menatap ketujuh anaknya atau yang tersisa di sini.

“Kalian pulang,” suara Mommy terdengar lembut dari sampingku.

Daddy menoleh, dan untuk pertama kalinya aku melihat kelelahan yang mendalam di wajahnya. “Kami pulang, Victoria.”

Tapi ada sesuatu yang lain di udara. Sesuatu yang tak terucap namun terasa jelas. Garis telah dilintasi. Dan tidak ada jalan kembali.

Aku menatap mereka satu per satu, dan menyadari satu hal yang membuat kakiku terasa berat menapak tangga.

Mereka pulang. Tapi mereka tidak pulang sama seperti saat mereka pergi.

...~ Bersambung ~...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!