NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Canggung

Di dalam kamar, Keira terlihat sedang berbaring di atas kasur. Arsen melangkah mendekat beberapa langkah. Ia memperhatikan wajah Keira yang tampak tenang.

"Sudah tidur ternyata..." gumamnya pelan.

Namun tiba-tiba—

"Belum."

Arsen sedikit tersentak. Keira membuka matanya dan langsung menatap ke arahnya.

"Aku masih kepikiran..." lanjut Keira lirih. "Kok tumben kamu baik?"

Arsen tidak langsung menjawab. Selama beberapa detik, ia hanya berdiri di tempat sambil menatap Keira dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Baik salah... jahat juga salah," gumamnya akhirnya.

Keira mengernyit. "Maksud kamu?"

Arsen mengembuskan napas pelan, kemudian menarik kursi yang berada di dekat kasur dan duduk di sana.

"Kalau aku bersikap tegas, kamu bilang aku dingin. Begitu aku menunjukkan perhatian, kamu malah curiga." Nada bicaranya tetap datar.

Keira terdiam. Ucapan itu memang ada benarnya.

Namun tetap saja...

"Itu karena kamu berubah begitu tiba-tiba," jawab Keira pelan. "Aku jadi nggak tahu harus menganggap kamu seperti apa."

Arsen menundukkan pandangan sejenak.

"Aku juga nggak tahu."

Keira langsung menatapnya dengan sedikit terkejut. Jawaban itu benar-benar tidak ia duga.

Arsen hampir tidak pernah mengakui kalau dirinya sedang bingung.

Kamar kembali sunyi. Hanya suara kipas angin yang terdengar berputar perlahan. Keira memperhatikan Arsen lebih lama.

"Semalam..." ucapnya pelan.

Arsen mengangkat pandangan. "Kamu nggak tidur, kan?"

Arsen tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat bahunya sedikit.

"Biasa saja."

"Itu bukan sesuatu yang biasa," bantah Keira.

Arsen akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. Beberapa detik berlalu tanpa satu pun dari mereka berbicara.

Kemudian Keira kembali membuka suara, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut.

"Kamu sebenarnya peduli sama aku, kan?"

Arsen kembali terdiam. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun bagi Arsen, menjawabnya ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ia akhirnya mengalihkan pandangan sebelum berdiri dari kursinya.

"Kamu istirahat saja," katanya, sengaja menghindari pertanyaan tersebut. "Jangan terlalu banyak berpikir."

Keira langsung terlihat kesal. "Kamu selalu begitu."

Arsen berhenti melangkah.

"Kamu nggak pernah mau jawab dengan jujur."

Tangannya sudah berada di gagang pintu. Namun ia tidak langsung pergi. Beberapa detik Arsen hanya berdiri dalam diam. Lalu, tanpa menoleh ke belakang, ia berkata pelan—

"Kalau aku memang nggak peduli..."

Ia berhenti sejenak.

"...aku nggak akan kembali mencarimu ketika kamu tertinggal di hutan."

Keira seketika terdiam. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Namun Arsen tidak menunggu respons apa pun.

Ia membuka pintu, lalu melangkah keluar. Pintu kembali tertutup. Keira masih membisu di atas kasur.

---

Malam semakin larut.

Suara jangkrik terdengar jelas dari luar rumah. Udara masih terasa hangat, tetapi sudah jauh lebih nyaman dibandingkan siang tadi.

Kamar hanya diterangi cahaya remang yang masuk melalui celah jendela.

Keira yang sebelumnya tertidur perlahan membuka matanya. Ia terbangun di tengah malam. Keira perlahan membuka matanya.

Begitu pandangannya mulai jelas, ia langsung melihat sosok Arsen yang sedang berbaring di atas karpet. Pria itu hanya menggunakan alas tipis sebagai tempat tidurnya.

Keira memperhatikannya selama beberapa saat.

"Kalau kamu memang nggak nyaman tidur di situ, jangan dipaksakan," ucapnya lirih. "Kamu bisa tidur di luar saja... di kursi atau tempat lain."

Arsen yang ternyata belum sepenuhnya tertidur membuka matanya perlahan. Ia menoleh ke arah kasur.

"Lalu siapa yang akan menjagamu?"

Keira mengerutkan kening. "Tumben kamu mau repot-repot menjagaku. Aku nggak takut sendirian."

"Aku nggak bisa." Jawaban Arsen singkat.

"Aku tetap tidur di sini."

Keira terdiam. Ia memandang Arsen beberapa detik, lalu tanpa terlalu banyak berpikir, tubuhnya bergeser sedikit ke salah satu sisi kasur. Ruang yang tersedia memang sempit, tetapi ia berusaha memberinya tempat.

"Kalau begitu... tidur saja di sampingku."

Arsen langsung menatapnya. Ia tidak segera bergerak, seolah masih memastikan apakah Keira benar-benar serius dengan ucapannya.

Kasur itu memang sangat kecil. Untuk satu orang saja sebenarnya sudah cukup pas-pasan.

Namun setelah beberapa saat, Arsen akhirnya bangkit dari karpet dan berjalan mendekati kasur.

Tanpa banyak bicara, ia berbaring di samping Keira.

Sekejap, jarak di antara mereka menjadi begitu dekat. Terlalu dekat. Bahkan hembusan napas masing-masing dapat mereka rasakan.

Keira sempat menahan napas. Rasa canggung tiba-tiba memenuhi dirinya.

"Heran... kamu malah nggak menolak," bisiknya.

Arsen menatap langit-langit kamar. "Kalau di rumah, kamu pasti langsung menolak."

Arsen terdiam sejenak sebelum menjawab datar.

"Keadaannya berbeda. Di sini kita sedang dalam situasi seperti ini."

Ia berhenti sebentar. "Kalau kamu sendiri yang mengizinkanku tidur di sini, ya sudah. Aku terima."

Jawabannya sederhana. Datar. Namun entah mengapa, malam itu terdengar sedikit berbeda di telinga Keira.

Mereka kembali terdiam. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada pula yang berusaha menjauh.

Keira bisa merasakan hangat tubuh Arsen yang berada tepat di sampingnya. Suara napas pria itu bahkan terdengar begitu jelas di tengah sunyinya kamar.

Sementara Arsen... Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha menciptakan jarak di antara mereka.

Ia hanya diam. Tetap berada di sana. Tidak menjauh sedikit pun. Keira sedikit memiringkan kepalanya.

Tanpa sadar, pandangannya jatuh pada wajah Arsen yang berada begitu dekat di sampingnya.

Dalam remangnya kamar, wajah pria itu terlihat jauh lebih tenang.

Tidak ada tatapan dingin ataupun ekspresi tegas yang biasanya selalu ia tunjukkan. Seolah Arsen yang seperti ini adalah sisi lain yang jarang sekali Keira lihat.

Entah karena merasakan tatapan itu, Arsen perlahan membuka matanya dan menoleh.

Tatapan mereka pun bertemu. Jarak mereka begitu dekat. Bahkan terlalu dekat untuk membuat keduanya tetap merasa biasa saja.

Tidak ada satu pun yang mengatakan sesuatu. Namun suasana kamar seketika berubah. Semakin sunyi. Semakin canggung. Dan entah mengapa, terasa lebih berat.

Keira buru-buru mengalihkan pandangannya. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat tanpa alasan yang ingin ia akui.

"Tidur saja..." gumamnya pelan.

"Iya." Arsen menjawab singkat.

Namun malam itu, anehnya, tidak satu pun dari mereka yang benar-benar bisa langsung terlelap.

Untuk pertama kalinya... Jarak yang selama ini selalu mereka pertahankan seolah benar-benar lenyap.

Arsen mencoba memejamkan matanya. Namun semakin ia berusaha menenangkan pikirannya, semakin jelas pula bayangan kejadian malam itu memenuhi kepalanya.

Ia membuka mata lagi. Tubuhnya terasa gelisah. Keira yang menyadari perubahan sikapnya akhirnya menoleh.

"Kamu kenapa gelisah?" tanyanya lirih. "Kamu nggak nyaman tidur di samping aku?"

Arsen menatap Keira. Beberapa detik ia hanya diam. Kemudian, tanpa sadar, pandangannya perlahan turun. Matanya berhenti pada bibir Keira yang terlihat jelas dalam cahaya remang kamar.

Arsen terdiam.

Seolah untuk sesaat, ia sendiri tidak mengerti mengapa pandangannya justru tertuju ke sana.

....

Ada ya suami istri gini 😣😣 komen guys, terserah mau komen apa, please😫

Guys jangan lupa like Dan komen ya, biar author makin semangat lanjutinnya.

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!