NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:158.7k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.

"Dulu kamu merasa Levia terlalu bergantung padamu. Sekarang dia sudah tidak seperti itu. Dia bahkan bisa membangun sesuatu dengan tangannya sendiri."

Vandra menatap kosong ke depan.

"Dan Ibu gak bermaksud merendahkan siapa pun, tapi kalau kalian benar-benar bercerai nanti..." Ratih berhenti sejenak. "Kamu harus sadar bahwa Levia mungkin akan menjadi perempuan yang banyak diinginkan pria lain."

Vandra langsung mengernyit.

"Pria mapan, pengusaha, atau siapa pun yang melihat kualitasnya sekarang," lanjut Ratih. "Dan belum tentu kamu bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada Levia setelah kalian berpisah."

Kalimat itu membuat Vandra terdiam cukup lama.

Suara Ratih kembali terdengar. "Ibu tahu dulu kamu sangat ingin bebas dari pernikahan ini. Dan Ibu juga tahu alasanmu."

Suaranya melunak sedikit. "Tapi sekarang keadaan sudah berubah. Jadi sebelum kamu benar-benar mengambil keputusan, coba lihat Levia yang sekarang. Jangan terus membandingkannya dengan perempuan yang dulu."

Vandra menelan ludah. Bayangan Levia muncul dalam pikirannya. Bukan Levia yang menangis dan memohon agar dirinya tidak pergi.

Melainkan Levia yang tersenyum tenang, sibuk dengan desainnya, berolahraga, membantu ayahnya, bahkan bisa menjalani hidup selama tujuh bulan tanpa sekali pun menghubunginya.

Anehnya, justru perempuan seperti itulah yang belakangan terus memenuhi pikirannya.

Ratih kembali berkata, "Ibu gak mau suatu hari nanti kamu datang ke rumah ini membawa kabar kalau kamu menyesal."

Vandra tak mengatakan apapun. Atau lebih tepatnya tak tahu harus berkata apa.

"Karena kalau saat itu Levia sudah menjadi mantan istrimu dan dia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri..." Ratih menjeda sejenak. "Ibu gak yakin dia masih mau nerima kamu kembali."

Vandra mengangkat wajah. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Akhirnya ia bertanya pelan, "Menurut Ibu... Levia benar-benar bisa ngelupain aku?"

Ratih tersenyum tipis. "Kalau perempuan yang sekarang sudah sebesar itu kemauannya untuk berubah, Ibu rasa bisa."

Vandra menundukkan kepala.

Suara Ratih terdengar lebih rendah. "Van, Ibu cuma ingin kamu berpikir baik-baik."

"Iya, Bu."

"Kalau kamu memang masih ingin bercerai, lakukan dengan keputusan yang matang. Tapi kalau sebenarnya ada sesuatu yang mulai berubah dalam hatimu..." Ratih menarik napas. "...jangan gengsi mengakuinya."

Vandra tidak menjawab.

"Dan satu lagi," ucap Ratih. "Hubungi istrimu. Dia mungkin gak nungguin teleponmu lagi. Tapi kamu tetap bisa menghubunginya."

"Untuk apa?"

"Ya buat nanya kabar dia lah, Van." Ratih mulai terdengar kesal. "Levia 'kan istrimu, tanggung jawabmu."

"Aku tahu," jawab Vandra pelan.

Mendengar suara pelan putranya, kekesalan Ratih sedikit mereda. "Kadang-kadang, hubungan yang sudah hampir berakhir justru masih menyisakan kesempatan kalau salah satu pihak mau berhenti berlari."

Vandra memejamkan mata. "Iya, Bu."

Panggilan berakhir.

Namun kali ini Vandra tidak langsung meletakkan ponselnya. Matanya kembali tertuju pada satu nama di daftar kontak.

Levia.

Jarinya bergerak mendekati tombol panggil. Berhenti, kemudian bergerak lagi.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Vandra benar-benar mempertimbangkan untuk menelepon istrinya bukan karena kewajiban, melainkan karena ia ingin mendengar suara wanita itu.

 

Di Indonesia...

Ponsel Levia yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering. Ia yang sedang memeriksa beberapa desain langsung meraih ponselnya.

Namun begitu melihat nama penelepon di layar, gerakannya berhenti.

Kaptenku Sayang 💖

Levia membeku. Beberapa detik ia hanya menatap layar. "Serius?"

Sudut bibirnya mulai bergerak. Vivian benar-benar tidak tahu harus tertawa atau merasa malu melihat nama kontak yang ditinggalkan pemilik tubuh ini.

"Suamiku Sayang?" Ia menutup mulut dengan tangan. "Pakai emoji hati pula?"

Kalau bukan karena ponsel itu benar-benar miliknya sekarang, ia mungkin sudah mengira seseorang sedang mengerjainya.

Panggilan terus berdering. Levia akhirnya menarik napas panjang lalu mengangkatnya.

"Halo?"

Di seberang sana, Vandra yang sejak tadi memandangi layar ponselnya langsung duduk lebih tegak. Entah kenapa, setelah sambungan tersambung, ia justru kehilangan kalimat yang sudah disiapkannya.

"Via." Suara Vandra berat, terdengar jelas.

Levia mengernyit. "Iya?"

Vandra terdiam. Levia menunggu. Beberapa detik berlalu.

"..."

"Kapten?"

"Hm."

Levia semakin bingung. "Ada apa?"

Vandra mengusap tengkuknya. Ia bahkan tidak tahu kenapa dirinya mendadak merasa canggung. Padahal selama ini berbicara dengan Levia bukan sesuatu yang sulit.

Dulu perempuan itu bahkan bisa meneleponnya berkali-kali dalam sehari tanpa memedulikan apakah ia sedang sibuk atau tidak. Dan ia selalu menerima panggilan dengan kalimat, "Aku sibuk." dua kata dan tak lama kemudian langsung ia tutup. Sekarang, justru Vandra bingung harus bicara apa untuk membuka percakapan.

"Aku mengganggu?" tanya Vandra akhirnya.

Levia hampir tertawa. Dalam hati bergumam, "Dia menelepon, terus dia sendiri yang bertanya apakah mengganggu?"

"Tidak," jawab Levia akhirnya.

"Sedang sibuk?" tanya Vandra lagi.

"Sedikit," sahut Levia.

"Oh." Hanya dua huruf yang keluar dari mulut Vandra.

Ia kembali bingung. Biasanya setelah mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk, Levia akan langsung bertanya kapan ia bisa menelepon lagi, kapan pulang, atau mengeluh karena Vandra tidak memberi cukup perhatian. Sekarang... tidak ada apa-apa.

Vandra akhirnya bertanya, "Kamu sedang apa?"

Levia melirik tumpukan desain di mejanya. "Sedang bekerja."

"Bekerja?" Vandra mengerutkan dahinya. Ia tahu, jika di Indonesia, sekarang mungkin sekitar pukul setengah tujuh malam.

"Iya," jawab Levia sambil merapikan tumpukan desainnya.

Vandra berpikir sebentar. "Perusahaanmu?"

"Iya." lagi dan lagi jawaban Levia singkat.

Vandra terdiam lagi, tak tahu harus bicara apa lagi.

Levia bisa membayangkan ekspresi pria itu hanya dari nada suaranya. "Ada apa?" tanyanya.

"Gak ada," jawab Vandra.

"Kalau gak ada, kenapa menelepon?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Vandra terdiam cukup lama. Ia sendiri tidak punya jawaban yang benar-benar jelas.

Tadi ia memang dimarahi ibunya karena sejak di Lebanon tak sekalipun menghubungi istrinya. Tetapi sebenarnya ia sendiri ingin mendengar suara wanita itu. Entah mengapa ia juga tak tahu. Sekarang setelah tersambung, ia malah tidak tahu harus membicarakan apa.

"Aku cuma mau menanyakan kabarmu," kata Vandra akhirnya.

Levia langsung terdiam. Dalam hati ia benar-benar ingin tertawa. "Cuma mau menanyakan kabarku?"

Dari ingatan Levia yang tersisa, Vandra adalah pria yang hampir tidak pernah melakukan hal seperti ini. Bahkan ketika Levia dulu berkali-kali menghubunginya, pria itu sering tidak mengangkat telepon. Sekarang setelah tujuh bulan tidak mendengar kabarnya, justru dia yang menelepon.

"Aku baik," jawab Levia ringan.

"Benar?" Vandra terdengar seperti ingin memastikan.

Levia tersenyum kecil. "Benar. Kamu gak perlu khawatir."

Vandra terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali bertanya, "Kamu sehat?"

"Sehat." Levia menyandarkan punggungnya pada kursi.

Ada jeda beberapa detik sebelum Vandra kembali membuka suara. "Berat badanmu?"

Alis Levia langsung terangkat. "Kenapa?"

Vandra baru menyadari pertanyaannya terdengar aneh. "Maksudku, bagaimana perkembangan kesehatanmu?"

Levia menggigit bibir, menahan tawa. Dari sekian banyak hal yang bisa ditanyakan setelah tujuh bulan tidak berbicara, pria ini malah menanyakan berat badannya.

"Kapten menelepon cuma mau menanyakan berat badan saya?"

"Tidak." Jawaban Vandra terdengar cepat.

"Lalu?" Levia benar-benar ingin tertawa.

 

...✨“Ketika seseorang mulai mencari alasan untuk mendengar suara yang dulu selalu ia abaikan, mungkin hatinya sedang menyadari sesuatu yang belum mampu diucapkan oleh bibirnya.”✨...

.

To be continued

1
Anitha
Pramono kamu itu srorang Jendral tahukan arti tanggung jawab dan hukum ..

good Vandra tetap dengan Pendiriannya tidak akan mundur
Anitha
Dih si Jendral malah suruh anaknya jangan mengakui kesalahannya yang telah di buat,dan mau menekan Vandra..dasar anak sama Bapak sama saja..

Bagus Vandra dan Levia jangan pernah mundur hadapi bersama💪
anonim
Bram dan Levia sudah meninggalkan meja makan.

Ninis, Bu Sari, juga Herman mencicipi ayam panggang masakan Levia.

Baru percaya bagaimana rasa masakan Levia.
anonim
Bram bilang, ini salah satu masakan terenak yang pernah dia makan.

Levia tertawa mendengarnya.

Bram jadi teringat istrinya yang suka masak untuknya.

Kalau Ayahnya suka, mulai sekarang Levia yang akan masak. Bram terharu mendengarnya.
anonim
Bram penasaran dengan rasa masakan putrinya. Mulailah Bram menyendok sedikit sup beserta potongan ikan.

Suapan pertama mata Bram membulat. Enak rupanya, masih belum percaya Levia yang masak.

Untuk suapan kedua Bram mengambil lebih banyak. Setelah menelan suapan kedua, Bram menggeleng pelan sambil tersenyum.

Bram memuji rasa masakan dan cara penyajiannya yang cantik.

Mendengar pujian Bram untuk putrinya, Bu Sari sampai melongo, Ninis masih sirik berpikir negatif.

Bram menikmati makan malamnya, menambah nasi setengah porsi.
Uthie
Bagus Vandra...tegas 👍👍😡
anonim
Makan malam sudah tersaji beberapa hidangan di meja yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Makanan sehat hasil masakan Levia sudah tertata rapi, warnanya terlihat cerah, aroma masakan menggugah selera siapapun yang menciumnya.

Bram tertegun melihat hidangan di depannya dengan menu beda banget. Sampai mengira ada kedatangan tamu penting dan bertanya pada Bu Sari.

Mendengar Ninis mengatakan yang masak Levia, Bram seperti tak percaya.

Bahkan Bram masih belum percaya ketika Bu Sari mengatakan - Levia yang memasak semuanya.

Bram masih serasa mimpi melihat makanan yang terhidang apa beli dari restoran atau pesan katering.
anonim
Tuh kan Levia sudah tidak percaya sama Ninis yang sok perhatian tapi jelas menjerumuskan.

Levia mau masak sendiri makanan sehat. Bu Sari juru masak keluarga dan Ninis hari ini jadi asistennya.

Bu Sari mengambil semua bahan yang diminta Levia.

Levia mencuci sayuran sendiri. Memotong bahan-bahan masakan dengan ukuran yang sama.

Bu Sari dan Ninis pada heran melihat yang dikerjakan Levia.

Levia dengan dibantu dua asistennya, akhirnya masakan selesai.

Levia sendiri yang menata hasil masakannya. Potongan ayam, sayuran, kentang tumbuk disusun dengan sangat rapi.
Puji Hastuti
apa yang akan di lakukan oleh Pramono?
Siska Sutartini
dih enak aja, mentang anak jendral bisa bebas gitu. udahlah mengancam, mencelakai, ada bukti yg memberatkan juga. dahlah jendral harusnya kau mendidik anakmu dg benar. bukan ngandalin jabatan doang, tapi moral ga ada
Kadek Sri
lanjut
anonim
Vandra jadi kepikiran dengan perubahan yang terjadi pada Levia. Harusnya senang sesuai keinginannya, Levia sudah tidak bikin Vandra merasa tertekan.

Ninis masih mencoba mempengaruhi Levia. Levia yang sekarang sepertinya sudah tidak mau menuruti kemauan Ninis yang terlihat perhatian tapi menjerumuskan.
Anitha
Jabatan yang tinggi tidak berarti apa²,,kalo sudah seperti ini apa mau di kata bukti sudah jelas dari VIDIO yang menunjukan wajah Risa dan Ninis sedang menyusun rencana untuk mencelakai Levia...

Penjarakan saja biar jera,,Ayahnya ikut terseret
lin sya
penasaran klo pramono smkin bodoh dan smkin menghalalkan segala cara bisa bikin risa bebas gk ya, tp smga bukti yg diberikan vandra gk bsa dibeli sm uang, lgian siapa tau jabatan anak dan bpk bsa copot biar mikir klo gk pnya apa2 msih bsa sombong gk
Septi Wijaya
sebaiknya jangan cari jalan keluar dg cara kotor pak... nanti bukan cuma Risa yg ditahan... Anda pun bisa jd tersangka
Kadek Sri
lanjut
Siska Sutartini
tuh kan, masa si ninis dibiarin gitu dikasih pesangon lg. baiklah saatnya memperkarakan mereka. itu vancdra sempat merekam gak ya?
Siska Sutartini
risa oh risa itu namanya obsesi udah bukan cinta lagi. lagian lu buta apa gimana sih, org mau baikan sama bininya sendiri. lah elu siapa? orang luar. mentang2 bapaknya jendral dikira bisa seenak jidat gitu? sekalipun dipaksakan ga bakal berbuah manis
mery harwati
Minum kopi dulu aahh sambil menikmati akhir dari sang Jendral di dunia novel 😍
mery harwati
Apakah kasus hukum di novel ini akan sama dengan kasus² hukum di Negeri Naruto? 🤭
Negeri Naruto tercinta sudah terlalu sesak, mual, pening, muntah dan berakhir mentah oleh kasus² hukum yang menguap bagai uap air yang mendidih & akhirnya air itu dingin dengan sendirinya atw dingin karena dibekukan
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!