Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Begitu Nadia melangkah masuk ke rumah, Ibu dan adiknya, Mayang dan Vanya, sudah duduk menunggu di sofa ruang tamu dengan wajah penasaran.
"Kenapa kamu baru pulang sekarang, Nadia?" cecar Mayang langsung.
"Ibu pikir selesai pertemuan tadi kamu langsung pulang. Ibu sama Vanya sudah menunggu dari pagi."
Nadia menaruh kunci motor di atas meja lalu menghela napas panjang. "Nadia langsung ke toko tadi, Bu. Ada beberapa pesanan yang harus segera diselesaikan."
Vanya memajukan duduknya dengan wajah mengejek. "Gimana orangnya, Kak? Pasti sudah tua, kan? Anak pertamanya saja katanya sudah SMA."
Nadia tersenyum tipis. Tiba-tiba muncul niat di hatinya untuk memanas-manasi adiknya itu.
"Siapa bilang tua?" sahut Nadia santai sambil duduk di sofa. "Mas Arvin itu ganteng banget, Vanya. Masih kelihatan muda dan hot. Dia juga kaya raya. Tadi saja kami ketemu di ruangan VIP restoran mewah. Malah tadi Mas Arvin sempat mau mengajak Kakak belanja, tapi Kakak tolak."
Mata Vanya langsung melotot lebar. "Ah, bohong! Kakak pasti sengaja mau membuat aku iri, kan?!"
Nadia terkekeh pelan. "Buat apa? Nggak ada gunanya juga Kakak bohong."
"Sudah, sudah!" potong Mayang menengahi. Tatapannya berubah serius menatap Nadia. "Berarti Pak Arvin menerima kamu, kan?"
Nadia mengangguk pelan. "Iya, Bu. Seminggu lagi kami mau menikah."
"Seminggu lagi?!" Mayang terbelalak kaget. "Kenapa cepat sekali?"
"Bukankah lebih cepat lebih baik, Bu?" jawab Nadia santai.
Vanya ikut heboh. "Kak! Waktu seminggu mana cukup buat persiapan? Nggak bakal sempat! Nggak bisa kalau cuma seminggu!"
Nadia bersedekap dada sambil tersenyum tipis. "Siapa bilang nggak bisa? Mas Arvin itu orang kaya. Buat dia, nggak ada hal yang nggak mungkin."
Sementara itu, di rumah megah keluarga Arvin.
Suasana ruang keluarga terasa dingin dan tegang. Arvin duduk tegap di sofa utama. Di depannya, ketiga anak laki-lakinya sudah berkumpul.
Damian bersandar santai dengan wajah cuek. Jovan menyilangkan tangan di dada dengan wajah masam. Sedangkan Kenzo, anak bungsunya, duduk tenang di samping Arvin.
Arvin menatap ketiga anaknya satu per satu sebelum akhirnya berbicara.
"Papa mengumpulkan kalian karena ada hal penting," ucap Arvin tegas. "Seminggu lagi, Papa akan menikah."
Seketika ruangan itu jadi sangat hening.
Jovan langsung berdiri dengan wajah memerah menahan marah. "Pernikahan? Papa mau bawa wanita asing mana lagi masuk ke rumah ini?! Aku nggak sudi punya ibu tiri, Pa!"
Damian tersenyum sinis. "Sudah kuduga. Papa memang nggak pernah peduli sama perasaan kami. Yang penting buat Papa cuma nama baik dan kemauan keluarga besar."
Arvin tetap berwajah datar, sama sekali tidak takut dengan kemarahan anak-anaknya. "Papa nggak minta persetujuan kalian. Papa cuma menyampaikan keputusan. Suka atau nggak, kalian harus menerima dia di rumah ini."
"Aku tetap nggak sudi!" bentak Jovan keras sebelum berbalik dan pergi meninggalkan ruangan.
Damian berdiri perlahan, menatap papanya dengan tatapan dingin. "Jangan harap wanita itu bisa tenang tinggal di sini, Pa," bisiknya pelan lalu berjalan menyusul adiknya.
Kini cuma tersisa Kenzo kecil di ruangan itu.
Anak berusia lima tahun itu memperhatikan kepergian kedua kakaknya, lalu bergeser mendekati papanya. Tangan kecilnya melingkar, memeluk tubuh Arvin dengan erat.
"Papa..." cicit Kenzo pelan. Tangan mungilnya menepuk-nepuk punggung Arvin. "Kenzo bakal terima kok. Papa jangan sedih, ya?"
Arvin terdiam sejenak. Pelukan hangat dan kata-kata polos dari anak bungsunya itu langsung melelehkan rasa kesalnya. Arvin membalas pelukan Kenzo dan memeluk tubuh kecil itu dengan erat.
......................
Hari Minggu ini, Arvin bersiap untuk pergi. Pria itu sudah rapi dengan kemeja kasualnya.
Di ruang tengah, Kenzo yang sedang asyik bermain mobil-mobilan sendirian mendongak. Mata bulatnya menatap sang papa yang sedang membetulkan jam tangan.
"Papa mau ke mana?" tanya Kenzo.
Arvin menoleh sejenak, lalu melangkah mendekat. "Papa ada urusan sebentar di luar."
Pria itu berlutut di hadapan anak bungsunya, menatap Kenzo lurus-lurus. "Kamu di rumah saja. Jangan bikin masalah dan jangan nakal, paham?"
Kenzo mengangguk nurut. "Paham, Pa."
Sebelum melangkah keluar, mata Arvin berganti menatap Jovan yang sedang duduk bersandar di sofa sambil memainkan ponselnya dengan wajah cuek.
Arvin menghentikan langkahnya tepat di sebelah sofa Jovan. Aura dinginnya langsung menyelimuti sudut ruangan itu.
"Jovan," panggil Arvin berat.
Jovan tidak mendongak, hanya melirik malas dari balik layar ponselnya. "Apa?"
"Papa pergi sebentar. Jaga adikmu," tegas Arvin tanpa bantahan. "Jangan coba-coba menjahati Kenzo selama Papa tidak ada di rumah. Kalau sampai Papa tahu kamu bikin dia menangis, kamu tahu akibatnya."
Jovan mendengkus keras, lalu melempar pandangan sinis ke arah papanya.
"Papa mau pergi ngapelin pacar Papa itu, kan?" cemooh Jovan pedas tanpa rasa takut. "Palingan juga mau temui wanita pencium harta itu!"
Mata Arvin menyipit tajam. "Jaga ucapanmu, Jovan!"
"Kenapa? Memang bener, kan?!" balas Jovan tidak mau kalah.
Arvin menghela napas berat, menahan emosinya agar tidak meledak di depan Kenzo. Dengan suara rendah namun menekan, ia kembali menegaskan, "Ingat pesan Papa. Jaga adikmu."
Tanpa mengulur waktu lagi, Arvin berbalik dan melangkah keluar rumah, meninggalkan Jovan yang berdecih kesal.
Arvin melajukan mobilnya membelah jalanan pagi yang cukup lengang. Semalam, begitu tiba di rumah, ia langsung memerintahkan Bagas untuk mengorek seluruh latar belakang Nadia beserta keluarganya.
Dari laporan lengkap yang dikirimkan Bagas tadi pagi, sebuah fakta mengejutkan terungkap.
Sebenarnya, wanita yang dijodohkan dengannya oleh sang mama bukanlah Nadia, melainkan Vanya, adik kandung Nadia. Namun entah apa alasannya, justru Nadia yang muncul menggantikan adiknya di restoran VIP kemarin.
Membaca laporan itu, Arvin sama sekali tidak ambil pusing. Mau Nadia atau Vanya, bagi Arvin tidak ada bedanya. Toh tujuan utamanya menikah hanya untuk mencari sosok yang bisa mengurus ketiga anak-anaknya. Dan dari penglihatannya sejauh ini, Nadia jauh lebih cocok dan sudah kenal dekat dengan Kenzo.
Beberapa menit kemudian, mobil mewah Arvin berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis berpagar besi hitam. Pria itu melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul sepuluh pagi.
Arvin mengambil ponselnya, lalu mencari kontak Nadia dan langsung mendial nomor tersebut.
Tut... tut... tut...
Panggilan pertama diabaikan. Nada dering terus berbunyi hingga terputus sendiri.
Arvin merapatkan bibirnya rapat-rapat, dahinya berkerut dalam. Ia mencoba memanggil untuk kedua kalinya. Lagi-lagi, hasilnya sama, tidak diangkat.
Mata Arvin menyipit tajam. Rasa sabarnya mulai mengikis. Dengan setelan kemeja rapinya, Arvin menekan tombol panggil untuk yang ketiga kalinya.
Sementara itu di dalam kamar, Nadia yang masih bergelung erat di balik selimut tebalnya terus terusik oleh suara getaran ponsel di samping bantal.
"Euh... siapa sih pagi-pagi ganggu orang tidur saja..." gumam Nadia dengan suara khas orang bangun tidur. Tangannya meraba-raba mencari posisi ponsel tanpa membuka mata secara penuh.
Begitu layar ponsel digeser, Nadia langsung menempelkannya ke telinga tanpa melihat nama pemanggil.
"Halo... siapa sih? Mengganggu orang tidur saja!" cetus Nadia serak dan penuh kekesalan.
Di dalam mobil, Arvin menyunggingkan senyum sinis begitu mendengar suara serak khas orang baru bangun tidur dari seberang telepon.
"Tidur sampai jam sepuluh pagi di hari Minggu?" suara berat Arvin mengalun dingin melalui pengeras suara ponsel.
"Buka pintumu sekarang. Saya sudah ada di depan rumahmu."