NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Yang Mengetahui Segalanya

Bab — Yang Mengetahui Segalanya

Hening mencekam menyelimuti reruntuhan kuil. Hanya suara obor yang berderak pelan mengisi kesunyian setelah kalimat Paman Surya menggantung di udara.

"Apa maksud Paman?" Rania mencoba menjaga suaranya tetap stabil, meski dalam hati panik bukan main.

Paman Surya tertawa pelan, tawa yang terdengar jauh berbeda dari nada ramah yang biasa ia tunjukkan di pertemuan-pertemuan resmi istana.

"Jangan berpura-pura di depanku, Nak," katanya. "Aku sudah mengamati istana ini selama empat puluh tahun. Aku tahu persis bagaimana cara Putri Wening berjalan, bagaimana dia menunduk, bagaimana dia memilih kata-katanya. Dan sejak kau bangun dari pingsanmu itu, semuanya berubah. Terlalu drastis untuk sekadar 'trauma' seperti yang dikatakan tabib."

Aryasatya melangkah maju, berdiri di antara Rania dan Paman Surya, pedangnya kini terangkat penuh waspada. "Apa pun yang kau tahu atau tidak tahu soal dia, itu tidak mengubah fakta bahwa kau dalang di balik kematian banyak orang."

"Benar sekali," Paman Surya mengangguk, tidak sedikit pun terlihat gentar menghadapi pedang yang terarah padanya. "Dan aku tidak menyesalinya. Semua yang kulakukan punya tujuan yang jauh lebih besar dari nyawa beberapa nelayan atau satu keluarga kecil."

"Tujuan apa?" desak Rania, mencoba mengalihkan topik dari identitasnya sendiri.

Paman Surya menatap mereka berdua, lalu melangkah perlahan mengelilingi altar batu tua, jarinya menyentuh ukiran kuno dengan gerakan yang hampir penuh penghormatan.

"Kerajaan Wanunggalih dulu jauh lebih besar," katanya, suaranya berubah seperti sedang bercerita dongeng lama. "Sebelum perjanjian pembagian wilayah dengan Arkapura tiga generasi lalu, memecah kekuasaan yang seharusnya menjadi satu kesatuan utuh."

Aryasatya menegang mendengarnya. "Kau bicara soal penyatuan kembali dua kerajaan? Dengan paksa?"

"Dengan cara apa pun yang diperlukan," jawab Paman Surya tenang. "Kapal yang hilang itu bukan kecelakaan semata. Muatannya memang kubutuhkan untuk mendanai sesuatu yang lebih besar—mempersenjatai kembali pasukan khusus yang sudah lama dibubarkan, membangun kembali pengaruh Wanunggalih yang hilang."

Rania merasakan ngeri merayap di sekujur tubuhnya. "Kau korbanin banyak nyawa cuma buat ambisi pribadi?"

"Bukan pribadi," Paman Surya menatapnya tajam. "Demi kejayaan kerajaan yang sudah lama melemah di bawah kepemimpinan raja-raja yang terlalu lembek."

"Termasuk Raja sekarang?" tanya Aryasatya.

"Terutama Raja sekarang," jawab Paman Surya tanpa ragu.

Nyonya Ratih, yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya bersuara, suaranya penuh amarah yang lama terpendam. "Kau manfaatkan dukaku. Kau bilang kau akan bantu cari siapa yang bakar rumahku, padahal kau sendiri dalangnya!"

"Aku memang dalangnya," Paman Surya mengakui tanpa penyesalan sedikit pun. "Tapi aku juga benar-benar membantumu, Ratih. Kau dapat uang, kekuasaan kecil sebagai kerabat istana, kehidupan baru yang jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Aku memenuhi janjiku."

"Dengan mengorbankan jiwaku," bisik Ratih pahit.

Rania menatap Paman Surya, mencoba memahami kedalaman rencana yang baru saja terkuak. "Terus Mukti? Kenapa kau libatkan dia juga?"

"Pangeran Mukti selalu haus pengakuan," jawab Paman Surya. "Mudah dimanipulasi dengan janji kekuasaan dan rasa dihargai yang tidak pernah ia dapatkan dari orang tuanya sendiri. Dia pion yang sempurna—ambisius, tapi tidak cukup licik untuk melihat bahwa dia sendiri sedang dimanfaatkan."

Aryasatya mendekat selangkah, pedangnya masih terarah. "Dan sekarang? Kau pikir kau bisa lolos begitu saja setelah mengaku semua ini di depan kami?"

Paman Surya tersenyum tipis, tenang seperti seseorang yang sudah menyiapkan segalanya jauh-jauh hari. "Aku tidak berencana lolos dengan cara biasa, Raden."

Ia mengangkat tangannya, dan dari balik bayangan reruntuhan, lebih banyak sosok bermunculan—bukan pengawal istana, melainkan orang-orang berpakaian gelap dengan senjata tersembunyi, mengepung mereka dari segala arah.

Rania merasakan jantungnya berdegup kencang. Pengawal Arkapura yang tadi menyebar kini terlihat kewalahan, jumlah mereka kalah jauh dari pasukan bayangan yang baru muncul ini.

"Aku sudah menyiapkan ini selama bertahun-tahun," kata Paman Surya, suaranya kini penuh keyakinan yang mengerikan. "Pasukan loyalis yang percaya pada visi kejayaan Wanunggalih yang sesungguhnya. Hari ini, mungkin bukan rencana yang kuinginkan—tapi aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin."

"Apa maksudmu?" Rania mundur selangkah, mendekat ke arah Aryasatya.

Paman Surya menatap Rania lama, matanya menyipit penuh perhitungan.

"Putri Wening, atau siapa pun dirimu sekarang," katanya pelan, "akan jadi tahanan yang sangat berharga. Baik untuk memastikan kerja sama Raja, maupun sebagai... bahan penelitian menarik, mengingat keanehan yang kau tunjukkan sejak insiden itu."

Rania merasakan darahnya membeku mendengar kata "bahan penelitian".

Aryasatya berdiri tegak di depannya, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. "Kau harus melewatiku dulu."

"Tentu saja," Paman Surya tersenyum tipis, memberi isyarat pada pasukannya untuk maju. "Aku sudah menduga kau akan bilang begitu, Raden Ji Aryasatya. Putra mahkota Arkapura yang gigih, selalu mencari kebenaran untuk sepupunya. Sayangnya, kegigihanmu kali ini akan berakhir di tempat yang salah."

Pasukan bayangan itu mulai bergerak maju, mengepung semakin ketat. Rania merasakan panik mulai menguasainya, namun di tengah ketakutan itu, satu pertanyaan tetap bergema di kepalanya.

"Sistem," bisiknya putus asa, berharap suara itu kembali, "kalau kau masih ada, sekarang waktunya buat muncul."

Namun hanya keheningan yang menjawab, seolah bahkan sistem itu sendiri tidak tahu bagaimana cara menyelamatkannya dari situasi segenting ini.

Di tengah kepungan yang semakin menyempit, cahaya obor berkedip liar, bayangan-bayangan bertarung mulai terlihat dari pengawal Arkapura yang mencoba bertahan, dan di tengah kekacauan itu, Rania menggenggam erat lengan Aryasatya—mungkin untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum segalanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.

---

Aku perdalam skala ancaman di bab ini—bukan cuma dendam pribadi lagi, tapi ambisi politik besar (penyatuan paksa dua kerajaan) yang menjelaskan kenapa Paman Surya rela mengorbankan begitu banyak nyawa. Aku juga naikkan stake fisiknya lewat kemunculan pasukan bayangan yang mengepung mereka—menciptakan situasi darurat nyata buat ditangani di bab berikutnya, sekaligus makin menegaskan bahaya besar yang mengincar Rania karena identitas aslinya mulai tercium.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!