"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Makan Malam
Matthew mematikan layar ponselnya begitu video pendek berdurasi sepuluh detik itu selesai terputar. Di dalamnya, wajah panik Cedric dan gestur mencurigakannya di dekat gedung rektorat terekam sangat jelas.
"Tuan Muda," suara ajudannya terdengar dari balik pintu ruang kerja khusus di lantai dua perpustakaan pusat. "Laporan keuangan Ashworth Group bulan ini sudah kami amankan. Kebangkrutan mereka tinggal menunggu waktu—sekitar dua minggu lagi kalau kita menarik seluruh dukungan investasi anak perusahaan."
"Tahan dulu," jawab Matthew tanpa berpaling dari jendela yang mengarah ke taman kampus. "Jangan potong jalurnya sekaligus. Biarkan mereka merasa masih punya celah, sampai ada pergerakan dari Nyonya Ashworth."
"Baik, Tuan Muda."
Matthew merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah jam saku perak tua berukir rumit. Di dalam loop ke-8 dulu, jam ini adalah barang terakhir yang ditinggalkan mendiang ibunya sebelum ia terjebak dalam putaran waktu yang tak berujung ini. Setiap kali jarum pendeknya mendekati angka dua belas di malam hari, Matthew selalu bersiap untuk merasakan sakit yang sama—menemukan Evelyn di hutan pinus.
Tapi hari ini, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun ingatan yang ia simpan, rasa dingin di dadanya sedikit berkurang.
Jam menunjukkan pukul empat sore tepat sewaktu Evelyn melangkah keluar dari laboratorium kimia. Udara sore agak lembap, menyisakan bau tanah basah akibat gerimis hujan yang sempat turun sejam lalu.
Begitu sampai di area parkir, mata Evelyn langsung menangkap keberadaan sedan hitam Matthew. Pria itu tidak menunggu di dalam kabin melainkan berdiri bersandar di pintu mobil, mengenakan mantel panjang warna abu-abu gelap dengan sebelah tangan berada di dalam saku.
Beberapa mahasiswa yang lewat sempat mencuri pandang, tapi tak ada satu pun yang berani mendekat atau menyapa sang pangeran kulkas.
"Sudah selesai praktikumnya?" tanya Matthew begitu Evelyn mendekat.
Evelyn tersenyum, mengangguk kecil. "Sudah. Maaf ya kalau udah bikin nunggu lama."
"Tidak lama. Aku baru sampai sepuluh menit lalu," sahut Matthew datar. Ia membukakan pintu penumpang depan untuk Evelyn dengan gerakan alami yang begitu sigap.
Saat mobil mulai membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan pulang kerja, hening kembali menyelimuti kabin. Namun, beda dari malam sebelumnya, Evelyn kini merasa lebih rileks. Ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit, menatap deretan pepohonan jalanan di luar jendela.
"Matthew," panggil Evelyn pelan.
"Ya?"
"Nanti malam... kamu ada acara?"
Matthew melirik spion tengah sebentar sebelum menjawab, "Tidak ada. Kenapa?"
Evelyn menoleh, menatap wajah Matthew yang tampak tegas dari samping. "Kalau tidak keberatan... mau mampir makan malam di apartemenku? Aku mau masak. Sebagai tanda terima kasih karena beberapa hari ini kamu sudah repot-repot beliin sarapan dan menjagaku."
Mobil mendadak sedikit bergoyang sebelum Matthew kembali menguasai kemudi dengan sempurna. Pria yang biasanya selalu tenang dan tak tersentuh itu sempat tertegun beberapa detik. Jemari tangannya yang menggenggam kemudi tampak sedikit goyah karena salah tingkah.
"Kamu... mengundangku ke rumahmu?" tanya Matthew, memastikan ia tidak salah dengar.
Di delapan kehidupan sebelumnya, Evelyn tidak pernah sekalipun mengundangnya ke rumah. Interaksi mereka selalu terbatas di area kampus atau saat Matthew secara tragis menemukannya sekarat di hutan pinus.
Evelyn terkekeh pelan melihat reaksi canggung pria itu. "Iya. Kenapa? Pangeran Kulkas tidak menerima undangan makan malam biasa?"
"Bukan begitu," sahut Matthew cepat, sedikit mengalihkan pandangannya ke jalanan di depan untuk menyembunyikan guncangan tipis di matanya. "Aku mau."
Senyum manis terkembang di wajah Evelyn. Di balik rasa trauma masa lalu yang masih tersisa, hadirnya Matthew di kehidupan keduanya ini perlahan-lahan mulai membuka ruang baru di hatinya—sebuah rasa aman yang tak pernah ia sangka bisa ia dapatkan dari sosok pria dingin ini.