Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Santi dan Gibran segera kembali ke kampung halaman, mereka sekarang sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan mereka dengan semeriah mungkin. Mereka menggunakan halaman rumah mereka yang luas sebagai tempat pesta itu di adakan.
"Mas, terima kasih karena kau sudah melakukan semua ini untuk ku!" Santi berkata sambil bersandar di bahu nya Gibran.
"Sayang, kau adalah istri ku. Apapun akan aku lakukan untuk mu!" Gibran berkata sambil mengelus puncak kepala sang istri.
"Mas, setelah pernikahan ini selesai, kita akan tinggal di kota kan?" Santi bertanya pada Gibran.
"Iya sayang, aku akan membawa mu dan Kevin untuk tinggal di kota. Aku sudah mengajukan surat pengajuan pindah tempat ke kota!" Jelas Gibran.
"Mas, aku senang sekali!" Santi berkata sambil memeluk erat tubuh Gibran.
Gibran tersenyum bahagia, karena sebentar lagi dia akan mendapatkan seluruh harta kekayaan milik ibu nya. Gibran merasa hidup nya sangat sempurna, memiliki istri cantik seperti Santi. Santi telah berhasil memberi nya keturunan, yang tidak bisa di berikan oleh Sarah.
Sementara itu, di tempat yang berbeda pak Burhan sedang berada di rumah kontrakan milik bu Siti. Kedua nya sedang menyusun rencana, mengenai apa yang akan mereka lakukan setelah berhasil menguasai harta nya bu Meri.
"Mas, aku ingin langsung membeli rumah saja setelah ini. Biar kita tidak perlu lagi membayar uang kontrakan!" Bu Siti berkata pada pak Burhan.
"Kamu tenang saja sayang, setelah pernikahan Gibran selesai kita akan mendapatkan semua nya!" Jawab pak Burhan.
"Mas, aku ingin duduk di meja utama saat pernikahan Gibran nanti. Aku yang akan mendampingi mu, bukan Meri!" Kembali Bu Siti berkata.
"Tentu saja sayang, semua orang di kampung itu tahu nya kau lah mertua nya Santi, bukan Meri. Jadi kau lah yang akan mendampingi ku sebagai ibu nya Gibran saat pernikahan itu!" Jawab Pak Burhan.
"Iya Mas, setelah Gibran dan Santi menikah. Kita juga harus menikah secara resmi, aku tidak mau sembunyi dan selalu main kucing - Kuningan seperti ini!" Bu Siti berkata dengan manja.
"Iya sayang, kita juga akan meresmikan pernikahan kita. Tali setelah aku berhasil mendapatkan seluruh harta nya Meri!" Jelas Pak Burhan.
"Aduh,,, aduh,,,, mas sakit!" Tiba - tiba saja bu Siti langsung mengeluh kesakitan.
"Sayang, apa yang sakit?" Tanya pak Burhan dengan cemas.
"Pinggang ku mas, entah kenapa rasa nya sakit sekali!" Bu Siti berkata sambil meringis dan dia terus memegangi pinggang nya.
"Sayang, ayo mas antar kamu ke rumah sakit. Kau harus segera di periksa!" Pak Burhan membimbing tangan Bu Siti berjalan ke luar rumah.
Pak Burhan langsung memesan sebuah taksi online untuk membawa bu Siti ke rumah sakit, dia sangat memperhatikan kesehatan istri siri nya tersebut. Padahal dia tidak pernah perduli pada kesehatan bu Meri, yang berstatus sebagai istri sah nya.
Selama ini, Sarah lah yang merawat bu Meri dengan tulus. Bahkan dulu saat bu Meri sakit keras, Sarah dengan tanpa jijik sama sekali membersihkan kotoran nya. Dia lah yang memperhatikan kesehatan ibu mertua nya tersebut.
Mereka tiba di rumah sakit dan tanpa mereka sadari, bu Meri dan Sarah juga tengah berada di rumah sakit yang sama. Bu Meri mengeluh tubuh kurang sehat, sehingga Sarah dengan sigap membawa ibu mertua nya ke rumah sakit untuk segera di periksa.
Bu Meri dan Sarah sudah selesai melakukan pemeriksaan dan mereka tengah berjalan di lorong rumah sakit, dan tanpa sengaja mereka melihat pak Burhan dan bu Siti. Tapi kedua orang itu sama sekali tidak melihat kehadiran Bu Meri dan Sarah.
"Bu, bukan nya itu bapak?" Tanya Sarah sambil jari nya lurus ke depan.
Bu Meri mengikuti arah jati telunjuk Sarah, dan benar saja apa yang di katakan oleh Sarah. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, Pak Burhan sedang membimbing seorang wanita berjalan memasuki ruangan pemeriksaan.
"Oh, rupa nya itu wanita selingkuhan nya selama ini!" Ujar Bu Meri sambil mengepalakan tangan nya.
"Apa yang bapak lakukan di rumah sakit ini?" Sarah bertanya pada diri nya sendiri.
"Ayo kita labrak bapak dan wanita itu, biar dia malu sekalian!" Bu Meri yang mulai terpancing emosi bergegas untuk maju dan menghajar mereka.
"Tinggu bu, jangan gegabah!" Sarah menahan lengan ibu mertua nya.
"Tapi Sar, mereka sangat keterlaluan. Biar ku hajar saja!" Ujar bu Meri.
"Bu, ku rasa ini bukan lah waktu yang tepat. Tunggu sampai pernikahan mas Gibran selesai, kita akan beri mereka pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan sepanjang hidup mereka!" Sarah memberikan usul pada bu Meri.
"Tapi ibu sakit hati nak!" Ucap Bu Meri lagi.
"Bu, jika mau di katakan sakit hati. Aku jauh lebih sakit bu, tapi melabrak nya di tempat umum seperti ini bukan lah solusi yang tepat!" Ujar Sarah lagi.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya bu Meri lagi.
"Tetap berpura- pura tidak tahu bahwa bapak sudah berselingkuh di belakang ibu, sekarang sebaik nya kita selidik dia sakit apa!" Sarah memberikan usul pada ibu mertua nya.
"Benar juga apa yang kamu katakan, ayo!" Ajak bu Meri.
Mereka berdua berjalan mendekati pintu ruangan tempat bu Siti di periksa, mereka menunggu di sana dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Kedua nya akan menunggu pak Burhan dan wanita itu keluar dari sana.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan pak Burhan serta bu Meri keluar dari dalam ruangan itu. Tidak ingin ketahuan, Bu Meri dan Sarah langsung membalik kan tubuh mereka. Sehinga sekarang posisi nya membelakangi mereka, kedua nya ingin menguping pembicaraan orang itu.
"Mas, bagai mana ini? Aku terkena batu ginjal, dan dokter bilang aku harus menjalani operasi untuk mengangkat batu itu, tapi saat inu kita tidak memiliki banyak uang!" Bu Siti berkata pada pak Burhan.
"Kamu tenang saja, kita akan melakukan operasi itu setelah Gibran dan Santi resmi menikah!" Jawab pak Burhan.
"Tapi mas, aku tidak mau menunggu terlalu lama!" Bu Siti kembali berkata dengan nada manja.
"Tidak lama sayang, lusa adalah pernikahan nya Gibran dan Santi. Setelah mereka resmi menikah, Meri akan mewariskan seluruh harta nya pada Gibran. Dengan begitu, aku dan Gibran akan membagi harta itu sama rata. Setelah akun mendapatkan bagian ku, aku akan menjual nya dan kita langsung melakukan operasi itu!" Jelas pak Burhan.
Sarah dan bu Meri saling melemparkan pandangan, kini mereka berdua tahu niat licik nya pak Burhan. Tidak ingin ketahuan, Sarah langsung menarik tangan bu Meri dan menjauh dari sana.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah