Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama Ngajar Setelah Menjadi Ning
Belum jam 7, tapi kelas tahsin sudah penuh. Karpet hijau sudah digelar, 30 santriwati duduk melingkar. Ada yang masih ngantuk, ada yang masih pegang tasbih.
Pintu kayu dibuka. Ning Sopiah masuk.
Semua langsung diam. Tumben.
Biasanya Ning Sopiah kalau ngajar itu grogian, suaranya kecil. Tapi hari ini beda. Jilbab coklat mudanya rapi, wajahnya seger, matanya sembab sedikit tapi bersinar. Map nya dia peluk, bukan diseret.
"Assalamualaikum, cantik-cantiknya Ning..." sapa Sopiah, suaranya lebih lantang dari biasanya.
"Waalaikumsalam Ning Sopiahhh!" jawab mereka kompak.
Sopiah duduk di tengah, bukan di kursi tinggi kayak biasanya, tapi lesehan sama mereka. Biar dekat.
"Hari ini Ning bahagia banget," Sopiah mulai tanpa mukadimah panjang. "Tadi subuh, Ning habis dikasih pelajaran penting sama Gus Azam. Tentang niat. Makanya hari ini kita belajar tahsin bukan karena takut disetrap Ustadzah, tapi karena kita mau hadiahin pahala ngaji kita buat orang yang kita sayang. Sepakat?"
Santriwati saling lihat. Ada yang berbisik, "Wah Ning Sopiah habis murojaah subuh sama Gus Azam nih..."
Sopiah denger, langsung merah, "Ehhh fokus! Sekarang materi Iqlab. Ning mau tanya dulu."
Dia nulis di papan tulis kecil: *نْ + ب \= ?*
"Ning mau tanya, apa hukumnya huruf nun mati atau tanwin kalau ketemu huruf Ba?"
Hening. Semua saling pandang. Materi ini sering keluar tapi sering lupa.
Sopiah senyum, "Ayo, siapa yang tau hukumnya? Acungkan tangan, jangan malu. Yang bisa jawab, Ning kasih poin."
Dari pojok belakang, ada tangan mungil yang angkat pelan-pelan. Santriwati berbadan mungil, kulit putih, wajah ayu banget, jilbab putihnya agak kebesaran.
"Afwan Ning..." suaranya kecil.
"Iya ndok, berdiri."
Dia berdiri, agak gemeter.
"Jenengan ku Syifa Ning. Hukumnya adalah Iqlab Ning, cara bacanya nun mati atau tanwin nya diubah jadi suara Mim, dan ditahan 2 harokat, disertai dengung."
Kelas langsung "Oooooh" bareng.
Sopiah matanya langsung berbinar. "MasyaAllah! Bagus! Tepat sekali!"
Sopiah langsung jalan mendekati Syifa, dia pegang kedua pundak Syifa.
"Bagus siapa namamu ndok?"
"Syifa Ning..."
"MasyaAllah Syifa, kamu dapat satu poin dari Ning ya. Pinter banget. Nanti kalau poinnya paling banyak, akan Ning jadikan berupa kado istimewa untuk santriwati berprestasi di mata pelajaran tahsin dan tajwid ini. Ning janji."
Syifa yang tadinya malu, sekarang senyum lebar sampai pipinya merah.
Semua santriwati langsung tepuk tangan, "Terima kasih Ning Sopiahhh..."
"Syifa, coba kamu kasih contohnya, biar temen-temen denger," kata Sopiah lagi.
Syifa menarik napas, suaranya yang tadinya kecil, jadi jelas banget, tartilnya bagus:
"Contohnya kayak... _mim ba'di_... bukan _min ba'di_, tapi _mim ba'di_ ditahan..."
Sopiah mengangguk semangat, "Pinter! Sekarang semua ikutin Syifa ya, bareng-bareng... _Mim ba'di_..."
Satu kelas pun ikut, "Miiim ba'diii..."
Suasana yang tadinya ngantuk, langsung hidup. Yang tadinya mainin pena, sekarang pada buka kitab. Karena Sopiah ngajarnya bukan marah-marah, tapi muji. Energi positifnya nular.
Di balik jendela kelas, ada bayangan sarung putih. Gus Azam berdiri di sana dari tadi, tangan di belakang, ngintip dari kaca yang agak terbuka. Dia lihat istrinya yang grogian subuh tadi, sekarang jadi singa di depan kelas. Dia lihat cara Sopiah memuji Syifa, cara Sopiah jongkok biar sejajar sama santriwati.
Gus Azam senyum, senyum bangga yang gak bisa ditahan.
Di dalam kelas, ada satu santriwati lagi yang nanya, yang tadi ngantuk:
"Ning, gimana caranya biar ngaji gak ngantuk?"
Semua ketawa.
Sopiah ketawa juga, terus jawab dengan jawaban yang dia dapat dari subuh tadi:
"Kalau ngantuk, ingat siapa yang mau kamu kasih pahalanya. Ning kalau ngantuk, Ning ingat Gus Azam. Kalau Syifa ngantuk, Syifa ingat umi abinya di rumah. Kalau niatnya buat orang yang kita sayang, ngantuknya hilang sendiri."
Jawaban itu bikin kelas hening sejenak, lalu semua manggut-manggut serius. Syifa yang di pojok sampai berkaca-kaca.
"MasyaAllah Ning..." bisik salah satu santriwati.
Dan tanpa mereka sadari, di luar jendela, Gus Azam yang denger jawaban itu, langsung menunduk, nahan haru. Dia yang tadi malam nyiapin materi Uqudulujain dengan grogi, ternyata pagi ini istrinya sudah mengamalkan dengan cara yang paling indah: mengajarkan cinta lewat tajwid.
Bel pun berbunyi. Pelajaran selesai.
Sopiah menutup dengan doa, "Alhamdulillah, hari ini kalian luar biasa. Ning pulang dulu ya, titip Syifa, besok Ning tunggu contoh Iqlab yang lain."
Semua rebutan salim sama Ning Sopiah. Syifa yang paling terakhir salim, salimnya lama.
"Terima kasih ya Ning..."
"Syifa yang terima kasih, sudah bikin Ning semangat."
Sopiah keluar kelas dengan map di dada, pipinya merah, hatinya penuh.
...****************...
Di ruang tamu Ndalem yang lantainya karpet ijo botol, sudah ada bantal duduk, dan dua kitab tadi pagi masih di atas meja kecil jati. Gus Azam duduk bersila, sarungnya masih yang subuh tadi, tapi pecinya sudah diganti peci putih yang lebih santai. Di depannya ada piring pisang goreng yang dibawa Ning Latifah tadi.
Begitu Sopiah masuk, Gus Azam langsung berdiri.
"MasyaAllah, Ning dosen kita sudah pulang," godanya.
Sopiah langsung nunduk, tapi senyumnya gak bisa disembunyikan. "Gusss jangan gitu ah, malu..."
"Sini, duduk dulu. Gus liat dari jendela tadi, keren banget cara ngajarnya."
Sopiah duduk, jaraknya kali ini lebih dekat dari subuh tadi, karena karpetnya memang sempit. Map nya dia taruh pelan.
Gus Azam ikut duduk, tapi gak langsung buka kitab. Dia tatap Sopiah dalam, seperti yang tadi di kelas.
"Ning tau gak, apa yang Gus liat dari jendela?"
"Apa Gus?" Sopiah mainin ujung jilbabnya.
"Gus liat Ning Sopiah yang dulu, santriwati yang kalau ditanya Ustadzah langsung jawabnya paling lantang. Yang kalau ngaji bandongan suaranya paling kenceng di barisan depan. Tadi pagi Gus liat dia balik lagi."
Sopiah kaget, matanya berkaca lagi. "Masa sih Gus?"
"Iya. Cara Ning nerangin Iqlab tadi, cara Ning kasih poin ke Syifa, cara Ning bilang 'kado istimewa' itu... itu bukan cuma ngajar tajwid, Ning. Itu ngajar pakai hati. Pantes santriwati betah."
Sopiah makin merah. "Syifa itu pinter Gus, mungil tapi ayu, tadi jawabnya lengkap, nun mati ketemu Ba itu Iqlab, dibaca dengung ditahan dua harokat... Gus denger ya?"
"Gus denger semuanya. Sampai tepuk tangannya juga kedengeran sampai sini."
Gus Azam geser pisang goreng ke depan Sopiah. "Makan dulu, Ning. Habis ngajar pasti lapar."
Sopiah ambil satu, makannya pelan-pelan. Gus Azam merhatiin, senyumnya gak hilang.
"Ning," kata Gus Azam pelan, suaranya turun jadi lebih lembut, "Gus mau bilang makasih."
"Untuk apa Gus?"
"Untuk subuh tadi. Untuk kalimat 'Bismillah aku ikhlas' itu. Tahu gak, kalimat itu buat Gus lebih berharga dari khatam 10 kitab."
Sopiah hampir keselek pisang gorengnya. "Gus..."
Gus Azam lanjut, kali ini lebih serius, tangannya mengambil kitab Qurrotul Uyun yang masih tertutup.
"Tadi pagi kita baru Uqudulujain, yang isinya adab-adab. Sekarang, Gus mau nerangin satu hal lagi dari kitab ini, bukan soal kewajiban, tapi soal hadiah."
"Hadiah?" Sopiah ngernyit.
"Iya. Di Qurrotul Uyun dijelaskan, ketika suami istri sudah saling ridho, sudah saling belajar seperti kita tadi subuh, Allah tuh kasih hadiah. Hadiahnya apa? Sakinah. Hati yang tenang. Kayak yang Ning rasain pas ngajar tadi kan? Tiba-tiba nyaman, tiba-tiba semangat?"
Sopiah ngangguk pelan, "Iya Gus... tadi tuh rasanya ringan banget, padahal semalam mikirinnya berat."
"Nah itu dia. Itu sakinah. Dan sakinah itu gak datang kalau masih ada malu yang ditahan sendiri, masih ada gengsi. Tadi Ning udah buang itu semua, makanya Allah ganti dengan semangat."
Suasana jadi hening sebentar, tapi hening yang enak.
Gus Azam lalu buka kitabnya, tapi hanya satu halaman. Dia baca satu bait arab, terus diterjemahin dengan bahasa Sunda halus yang bikin Sopiah meleleh.
_"Wa min ayatihi an kholaqo lakum min anfusikum azwaja..."_
"Dan di antara tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya..."
Sopiah menatap tulisan arab itu, terus menatap Gus Azam.
"Tenteram itu bahasa arabnya Litaskunuu," kata Gus Azam. "Bukan cuma tenang, tapi pulang. Jadi istri itu tempat pulangnya suami, suami itu tempat pulangnya istri. Pagi tadi, Gus ngerasa pulang, Ning."
Seketika, pipi Sopiah yang tadi sudah mendingan, merah lagi kayak tomat, persis yang dibilang Gus Azam pakai logat Sunda tadi.
"Eleh mojang Bandung pami isin geulis pisan," Gus Azam mengulangi godaan di kelas tadi, tapi kali ini lebih dekat, suaranya cuma berdua yang denger.
"Gus Azammm!" Sopiah langsung cubit perut Gus Azam gemes, tapi cubitan nya gak ada tenaganya sama sekali. "Mulai jail lagi! Ketularan Ning Latifah beneran nih!"
Gus Azam ketawa, ketawa lepas yang jarang kedengeran santri. "Ampun, ampun Ning. Tapi bener, kalau Sopiah malu tuh cantiknya nambah dua kali lipat."
Sopiah gak bisa jawab, dia cuma nutup muka pakai kedua tangan, tapi dari sela jarinya kelihatan dia senyum.
Gus Azam pelan-pelan menurunkan tangan Sopiah, gak maksa, cuma ngebuka pelan.
"Sudah, jangan ditutupin. Gus mau liat murid berprestasi Gus hari ini."
Sopiah akhirnya berani natap lagi. Matanya masih sembab bekas nangis subuh, tapi sekarang bersinar.
"Gus," kata Sopiah pelan, suaranya sudah gak gemeter lagi, "Boleh Ning ngomong sesuatu?"
"Boleh, apa aja."
"Tadi waktu ngajar, ada satu santriwati tanya, 'Ning, gimana caranya biar ngaji itu gak ngantuk?' Terus Ning jawab spontan, 'Niatin ngajinya karena Allah, dan bayangin pahalanya dikasih ke orang yang kita sayang.' Semua santriwati diem terus manggut-manggut. Pas ngomong itu, yang Ning bayangin tuh Gus."
Gus Azam terdiam. Kali ini giliran dia yang kaget.
Sopiah lanjut, dengan suara yang lebih mantap, "Ning baru sadar, selama ini Ning belajar buat jadi Ning yang pinter, tapi lupa belajar jadi istri yang bikin suaminya semangat. Mulai hari ini, setiap huruf yang Ning ajarin ke santriwati, setiap adab yang Ning sampaikan, niatnya Ning hadiahin pahalanya buat Gus. Biar Gus juga dapat aliran pahalanya. Biar kita belajarnya bareng-bareng terus sampai tua, kayak kata Gus tadi."
Itu, itu yang bikin pertahanan Gus Azam jebol.
Laki-laki yang biasanya kalem, yang kalau ngaji suaranya stabil, sekarang matanya benar-benar berkaca-kaca. Dia narik napas panjang.
"Ning Sopiah..." suaranya berat, "Gus gak pernah minta apa-apa yang muluk-muluk. Gus cuma minta ditemenin. Dan hari ini, Gus dapet lebih dari itu. Gus dapet partner murojaah seumur hidup."
Gus Azam lalu meraih tangan Sopiah, menggenggamnya dengan kedua tangannya, genggaman yang hangat, yang sopan, yang penuh doa.
"Boleh Gus doain sekarang?"
Sopiah ngangguk, air matanya jatuh lagi, tapi kali ini air mata bahagia yang tenang.
Gus Azam tunduk, doanya pelan tapi jelas terdengar di ruang tamu Ndalem yang sepi itu.
"Ya Allah, berkahilah istriku Sopiah, jadikanlah ilmunya manfaat untuk santriwati-santriwatinya, jadikanlah rumah tangga kami rumah tangga yang Engkau ridhoi, yang kalau ngaji berdua dapat pahala, kalau diem berdua juga dapat pahala karena saling menjaga pandangan. Bimbing kami terus ya Allah, pelan-pelan, sampai kami bisa khatam semua kitab ini berdua, dan khatam juga rasa cinta kami karena-Mu."
"Amiiiin..." Sopiah aminin dengan suara lirih, sambil ngeremas balik tangan Gus Azam.
Setelah amin, gak ada yang ngomong. Mereka cuma saling menatap, senyum, dan dengerin suara pondok dari luar yang mulai ramai.
Tiba-tiba, dari luar jendela, terdengar suara yang sangat familiar.
"Ning! Gus! Gorengannya abis belum? Aku bawa lagi nih!"
Ning Latifah nongol lagi dengan nampan baru, kali ini bareng Ning Ummah yang mukanya udah pasrah.
"Latiiifaaah!" Sopiah kaget, langsung lepas tangannya dari Gus Azam, balik ke mode Ning yang pemalu.
Gus Azam ngakak, "Masuk aja Tifah, Ummah, rezeki ini namanya, pas lagi doa gorengan datang."
Ning Latifah masuk sambil cengengesan, "Aku tuh nguping dari tadi, ya Allah romantis banget! Uqudulujain rasa drama Turki! Aku sampe catet loh, 'Eleh mojang Bandung' itu!"
Semua ngakak. Ndalem yang tadi hening romantis, sekarang jadi rame lagi dengan tawa.
Sopiah, yang tadinya malu, sekarang malah ketawa paling kenceng. Dia lihat Gus Azam, Gus Azam lihat dia, dan mereka berdua tahu.
Pagi itu bukan cuma tentang khatam satu bab, tapi tentang dua hati yang akhirnya sepakat: belajar itu gak harus selalu serius, kadang harus diselingi cubit perut, godaan Sunda, dan gorengan anget dari Ning Latifah yang suka ngeyel.
Dan di atas meja, dua gelas teh yang tadi pagi masih penuh, sekarang sudah kosong. Tapi dua kitab itu masih terbuka, nunggu untuk dilanjutin nanti malam, setelah Isya, berdua lagi.
--- Bersambung ---