Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJIAN SANG DUKUN DAN BALASAN KESERAKAHAN
# PELET LAKNAT 2
## Bab 28: Ujian Sang Dukun dan Balasan Keserakahan
Rasa dingin yang menusuk tulang kini berpadu dengan kepanikan yang membakar dada Jaka. Senter di tangannya bergetar hebat saat sorot cahayanya menyapu batang-batang pohon yang bergerak saling bergesekan, menimbulkan suara berderit yang menyayat hati.
"Tidak mungkin... aku tidak mungkin nyasar!" teriak Jaka ke arah kegelapan, mencoba mengusir rasa takutnya sendiri. "Ini semua pasti efek dari kelelahan aku karena berjalan. Aku harus bergerak sekarang!" lanjutnya seraya menyambar kardus berisi ayam cemani. Anehnya, ayam itu terus berontak hebat saat Jaka mengambilnya, seakan tahu bahwa ajalnya telah berada di ujung tanduk.
"Diam kamu, berisik! Nggak tahu apa orang lagi panik!" gerutu Jaka seraya menepuk keras kardus di tangannya.
Tak lama kemudian, Jaka kembali ke jalan utama. Di sana, ia harus kembali melangkah menembus rimbunnya pohon bambu untuk keempat kalinya.
Sebelum melangkah maju, Jaka sempat terdiam mematung dan merenung sejenak, menatap lekat kegelapan pekat di depannya.
"Ini keempat kalinya aku memasuki hutan bambu. Mudah-mudahan ini yang terakhir," gumam Jaka dalam hati.
Ia pun melangkah maju, dengan hanya mengandalkan tembusan cahaya lampu senter sebagai petunjuk arah langkahnya.
Sekitar sepuluh hingga lima belas menit berjalan, akhirnya Jaka sampai di gubuk Mbah Usman. Rasa lega membuncah di dada Jaka saat matanya menangkap tembusan cahaya oranye hangat dari sebuah bangunan yang berdiri kokoh di depannya. Matanya membelalak liar, jantungnya kembali berpacu kencang dipacu obsesi besar yang tak pernah padam.
Jaka pun langsung berlari mendekat menggunakan sisa-sisa tenaga yang masih tersisa. Namun, tepat saat ia berdiri di depan pintu rumah Mbah Usman, pintu kayu tua itu mendadak terbuka sendiri berderit pelan—seakan sang pemilik rumah memang sudah tahu bahwa tamu yang ditunggu telah tiba.
Kreek!
Jaka sempat kaget melihat kejanggalan itu, kakinya spontan mundur satu langkah. Namun, sebelum kepanikannya memuncak, tiba-tiba suara parau dari dalam gubuk bergema memanggil-manggilnya.
"Masuklah, Nak! Jangan takut, Simbah sudah menunggumu dari tadi," ujar suara tua itu dari dalam kegelapan ruangan.
Dengan langkah yang sedikit gemetar, Jaka melangkah masuk sembari celingukan ke kanan dan kiri. Firasat buruk mendadak menyergap dadanya, membuatnya merasa seolah ada belasan pasang mata tak kasat mata yang sedang mengawasinya dari tiap sudut rumah.
Saat Jaka melewati ambang pintu, ia mendapati Mbah Usman sudah duduk bersila di dekat altar tempatnya biasa berpraktik.
"Masuklah, Nak! Duduk," perintah Mbah Usman dingin namun penuh penekanan.
"I-iya, Mbah!" sahut Jaka singkat dengan nada tertahan.
"Maaf, Mbah, agak telat. Tadi ada sedikit hambatan waktu perjalanan menuju ke sini!" seru Jaka mencoba menjelaskan keterlambatannya.
Mendengar alasan itu, Mbah Usman justru tertawa terkekeh. Suara tawa parau dan beratnya bergema memenuhi tiap sudut ruangan yang remang-remang itu.
"Itu Simbah sendiri yang melakukannya. Simbah cuma mau menguji seberapa kuat tekadmu untuk ini," jelas Mbah Usman seraya kembali terkekeh penuh arti.
"Bagus... bagus! Ternyata kamu memang serius dengan niatmu ini. Seperti yang sudah Simbah bilang, ini proses penyempurnaan buat kamu," lanjut Mbah Usman penuh penekanan.
"Tapi Mbah, si Dea belum aku dapatkan sampai saat ini!" protes Jaka, tak sabar.
Pertanyaan yang dilontarkan Jaka mendadak mengubah aura di ruangan itu. Mbah Usman yang tadinya terkekeh ramah kini menatap tajam dengan mata melotot mengerikan. Tubuhnya sedikit terangkat dan condong ke depan, seolah siap menerkam Jaka kapan saja.
"Itu semua bagian dari rencana Simbah! Simbah mau lihat seberapa seriusnya kamu! Simbah tidak ingin orang yang datang ke sini cuma buat main-main! Dan kalau sampai kamu juga begitu... semua yang ada di belakangmu akan memakanmu hidup-hidup!" ancam Mbah Usman dengan suara berat membentak.
Mendengar ancaman itu, Jaka spontan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat melihat tiga sosok hitam tinggi besar bermata merah menyala dan bertaring runcing berdiri tepat di belakang punggungnya.
Jaka ingin sekali berlari ketakutan, namun kedua kakinya terasa kaku dan terkunci rapat ke lantai. Dalam kepanikan luar biasa, ia hanya bisa menutup mata rapat-rapat dengan kedua tangan sembari merintih memohon ampun.
"Ampun, Mbah... ampun! Sudah cukup, Mbah... aku janji tidak akan main-main sama ritual ini!" ratap Jaka gemetar.
Melihat kepanikan Jaka, Mbah Usman kembali tertawa puas. Hanya dengan satu kibasan lengan bajunya, ketiga sosok mengerikan itu mendadak lenyap tanpa bekas dari ruangan.
Sementara itu, berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari gubuk Mbah Usman, kondisi Kiki di pesantren kini mulai berangsur pulih. Kiki rupanya sempat pingsan tak sadarkan diri saat digendong Ustaz Ahmad menuju kediaman Pak Kiai.
Meskipun Kiki sudah siuman, rahasia kelam tentang Mbah Usman masih tersimpan rapat. Kiki kini tak lagi bisa bersuara—ia mendadak bisu akibat serangan gaib mengerikan yang merusak kerongkongannya.
Mungkin, ini adalah sebab-akibat dari keserakahan Kiki sendiri, balasan setimpal atas tindakannya yang selama ini menikmati uang hasil menipu para pasien Mbah Usman.
"Terus gimana ini, Kiai? Nak Kiki sekarang tidak bisa bicara?" tanya Ustaz Ahmad khawatir.
"Ini berat, Nak. Pita suaranya sudah terkunci rapat, sangat kecil kemungkinannya untuk sembuh," jelas Pak Kiai seraya mengusap wajahnya, menghembuskan napas berat.
Mendengar hal itu, Kiki yang ingin memohon pertolongan hanya bisa menganga panik tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Sebenarnya yang ingin Kiki ucapkan adalah, "Terus gimana nasibku? Aku mohon Pak Ustaz, Pak Kiai, tolong aku! Aku tak ingin bisu seperti ini!"
Namun, seluruh usahanya nihil. Tak ada seorang pun di ruangan itu yang mengerti apa yang dicoba ia sampaikan. Pada akhirnya, Kiki hanya bisa menangis sesenggukan, tenggelam dalam penyesalan mendalam atas perbuatannya.