Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Tiga hari berlalu tanpa gejolak yang berarti. Aluna mulai terbiasa dengan ritme barunya yang padat namun teratur. Pagi hingga siang hari ia mencurahkan perhatian pada bangku perkuliahan, sore hari dihabiskan untuk menemani Romeo di rumah sakit, dan ketika malam merayap, ia berpindah ke Lumière Coffee & Eatery untuk menuntaskan shift kerjanya hingga tengah malam.
Kondisi kesehatan Romeo pun menunjukkan kemajuan pesat setiap harinya. Dengan bimbingan telaten dari Suster Maya, Romeo kini rutin menjalani latihan fisioterapi untuk mengembalikan kekuatan otot-otot kakinya yang sempat lemah akibat berbaring terlalu lama.
"Pelan-pelan saja tumpuannya, Mas Romeo. Beban tubuhnya ditopang dulu ke kaki sebelah kiri," instruksi Suster Maya sabar. Tangan perawat muda itu sigap menahan pegangan di sisi ranjang saat Romeo mencoba berdiri.
Romeo mengangguk pelan, menyapu butiran keringat tipis di pelipisnya. "Terima kasih banyak, Suster Maya. Kalau tidak ada Suster yang selalu sabar menghadapi saya, mungkin prosesnya tidak akan secepat ini."
Suster Maya terkekeh ramah seraya menyesuaikan tinggi tiang penyangga. "Ini memang sudah jadi kewajiban saya, Mas. Lagipula, Mbak Aluna pasti senang sekali kalau melihat perkembangan Mas Romeo yang sepesat ini."
Mendengar nama adiknya disebut, sudut bibir Romeo terangkat tipis. Pikiran Romeo menerawang pada percakapan hangat yang terjadi di antara mereka dua hari lalu di Ruang Melati.
Kala itu, Aluna akhirnya membuang semua rasa ragu dan memilih untuk jujur. Ia menceritakan pekerjaan paruh waktunya di kafe tanpa ada satu pun hal yang ditutupi—kecuali fakta kelam bahwa kafe tempatnya bekerja sebenarnya telah diakuisisi secara diam-diam oleh Hayden Mahendra.
"Kenapa kamu harus memaksakan diri bekerja malam-malam begitu, Na?" tanya Romeo malam itu, nada suaranya sarat akan rasa bersalah yang mendalam. "Kakak merasa sangat gagal. Harusnya Kakak yang menafkahi dan melindungimu, bukan malah membuatmu terlunta-lunta bekerja sampai tengah malam."
Aluna yang duduk di tepi ranjang langsung menggenggam erat tangan kakaknya. "Kakak sama sekali tidak gagal. Aluna justru senang bisa bekerja dan menghasilkan uang dengan cara yang jujur. Kafenya sangat nyaman, pemiliknya ramah, dan gajinya lebih dari cukup untuk membeli kebutuhan kuliah Aluna. Kakak tidak boleh memikirkan hal-hal yang berat, fokus saja sampai sembuh total, ya?"
Romeo saat itu hanya mampu menghela napas panjang seraya mengusap lembut rambut adiknya, mengalah pada tekad mandiri yang dipancarkan oleh mata bening Aluna.
"Maafkan kakak Aluna.."
*
Bagi Aluna sendiri, beberapa hari belakangan ini bagaikan embun kebebasan yang amat menenangkan. Hayden sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di rumah sakit, tak pernah menginjakkan kaki di kafe, ataupun mengirim pesan untuk memanggilnya kembali ke studio perbukitan. Pria itu seolah lenyap dari kehidupannya. Aluna perlahan mulai percaya bahwa master lukis yang angkuh itu telah kehilangan minat dan melupakan perjanjian mereka.
Namun, kenyataan di balik layar sangatlah berbeda. Hayden tak pernah sejengkal pun melepaskan cengkeramannya.
Di dalam ruang kerjanya yang luas di lantai teratas gedung Mahendra Group, Hayden duduk di kursi kulit mewahnya, memutar-mutar sebuah pena perak di antara jemari tangannya. Layar monitor berukuran besar di depannya menampilkan tayangan CCTV secara real-time dari sudut Lumière Coffee & Eatery. Pria itu menatap lurus sosok Aluna yang tampak cekatan dan sesekali tersenyum tipis saat menyerahkan cangkir kopi kepada pelanggan.
"Biarkan burung kecil itu menikmati kebebasan semunya sebentar," ujar Hayden dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
Rendra yang berdiri tegap di sisi meja kerja menunduk hormat. "Semua operasional kafe berjalan sesuai arahan Tuan. Nona Aluna tidak mencurigai perubahan kepemilikan saham tersebut."
"Bagus," pangkas Hayden datar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh intrik. "Semakin tinggi ia merasa terbang, akan semakin telak rasa sakitnya saat aku menarik kembali rantainya."
...****...
Hari ke-13 sejak Romeo menjalani perawatan intensif pun tiba.
Pendar sinar matahari pagi menembus kaca jendela Ruang Melati, menciptakan suasana hangat di dalam ruangan. Dokter spesialis yang menangani kondisi Romeo baru saja menyelesaikan pemeriksaan fisik berkala dan memberikan kabar yang telah lama ditunggu-tunggu.
"Grafik perkembangan dan pemulihan Mas Romeo sungguh luar biasa," ucap Dokter seraya tersenyum lebar dan mencatat beberapa hal di papan rekam medis. "Mulai hari ini, Mas Romeo sudah diizinkan untuk pulang dan menjalani proses pemulihan melalui rawat jalan."
Mata Aluna seketika berbinar terang. "Benarkah, Dokter? Kak Romeo benar-benar sudah boleh pulang hari ini?"
"Sangat boleh, Dek Aluna," jawab Dokter ramah. "Tinggal menyelesaikan penyelesaian administrasi akhir di lantai bawah, setelah itu Mas Romeo sudah bisa merapikan barang-barang dan bersiap pulang."
"Terima kasih banyak, Dokter!" seru Aluna antusias.
Begitu Dokter melangkah keluar ruangan, Aluna beralih menatap kakaknya dengan wajah berseri-seri. "Kakak dengar sendiri, kan? Hari ini Kakak bisa pulang! Aluna urus administrasinya ke lantai bawah sekarang ya, Kak!"
Romeo tersenyum lembut melihat kegembiraan adiknya. "Iya, Na. Hati-hati."
Aluna menyambar tas ranselnya dan melangkah keluar dari Ruang Melati dengan perasaan membumbung tinggi. Ia menyusuri koridor rumah sakit menuju lobi utama, menuju loket pembayaran administrasi. Di dalam benaknya, ia sudah merencanakan menu masakan sederhana yang akan ia buatkan untuk Romeo di rumah nanti.
Aluna berdiri di barisan antrean kasir dengan senyum yang tak kunjung memudar. Ia merogoh amplop cokelat di dalam tasnya—berisi sedikit uang tabungan dari hasil kerja kafenya—untuk mengantisipasi jika ada biaya obat tambahan yang belum terbayar.
"Selamat pagi, Mbak," sapa Aluna ramah saat gilirannya tiba di depan kaca loket. "Saya ingin mengurus lembar kepulangan pasien atas nama Romeo dari Ruang Melati."
Petugas administrasi di balik kaca mengangguk sopan. "Selamat pagi. Baik, mohon tunggu sebentar, saya periksa datanya di sistem dulu ya, Mbak."
Jemari petugas itu bergerak lincah menekan keyboard komputer. Namun, beberapa saat kemudian, pergerakan tangannya terhenti. Kening wanita itu berkerut dalam seraya menatap layar monitor dengan raut bingung. Ia mencoba melakukan refresh pada sistem beberapa kali, lalu menghela napas berat.
"Maaf, Mbak Aluna..." ujar petugas itu ragu-ragu, menatap Aluna dengan pandangan cemas.
Senyum di wajah Aluna perlahan surut. "Ada apa, Mbak? Apakah ada syarat dokumen kepulangan yang belum saya lengkapi?"
"Bukan masalah dokumennya, Mbak," sahut petugas itu seraya memposisikan lembar data di layarnya. "Baru saja pagi ini, otorisasi penjaminan biaya pengobatan dan perawatan atas nama Pasien Romeo dari Mahendra Foundation secara resmi ditarik dan dibatalkan oleh pihak penjamin."
Jantung Aluna serasa berhenti berdetak seketika. "M-maksudnya ditarik bagaimana, Mbak? Bukankah dari awal semua biayanya sudah dijamin oleh pihak yayasan?"
"Sistem kami mencatat adanya pembatalan penjaminan secara sepihak dari pemilik dana, Mbak," terang petugas itu penuh simpati seraya mencetak selembar rincian tagihan baru dari mesin cetak. "Karena penjaminan ditarik, maka seluruh beban biaya operasi, perawatan VIP, obat-obatan, hingga fisioterapi selama 13 hari ini dilimpahkan sepenuhnya menjadi tagihan pribadi."
Petugas itu menyodorkan lembaran kertas tersebut melewati celah bawah kaca loket. "Total tagihan penangguhan yang wajib dilunasi secara tunai sebelum pasien diperbolehkan meninggalkan rumah sakit adalah seratus delapan puluh lima juta rupiah."
Deretan angka di atas kertas putih itu bagai hantam gada yang menghancurkan seluruh kebahagiaan Aluna dalam sekejap. Dengkulnya terasa lemas, dan pasokan udara di sekitarnya seolah mendadak lenyap.
"S-seratus delapan puluh lima juta...?" bisik Aluna dengan suara bergetar hebat. "Mbak, ini pasti ada kesalahan... Saya tidak punya uang sebanyak ini..."
Sebelum petugas itu sempat memberikan penjelasan lebih lanjut, ponsel di dalam tas ransel Aluna bergetar hebat.
Dengan tangan yang gemetar dan napas yang memburu sesak, Aluna merogoh ponselnya. Di layar yang menyala, tertera nama sosok yang sangat ia takuti:
Hayden Mahendra.
Aluna menggeser layar dengan jari dingin yang gemetar, lalu menempelkan benda tipis itu ke telinganya.
"Sudah menerima rincian tagihan barumu, Aluna?"
Suara rendah, dingin, dan sarat akan dominasi mutlak milik Hayden mengalun di telinganya, meruntuhkan seluruh kebebasan semu yang selama ini ia genggam.
*
*
*
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna