Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bibi pensiun : 04
“Bi, Bibi! Kok malah bengong?” Helya memanggil sampai dua kali. Merasa heran melihat bi Mirma melamun seperti orang tengah berpikir keras.
“Eh, gapapa, Nyonya. Iya ini saya mau membereskan barang-barang!” Ia berbalik, keberaniannya langsung ciut.
“Gak usah bawa banyak barang, Bi. Sisanya nanti biar Siska bantu kirim ke desa lewat ekspedisi terpercaya. Biar Bibi tidak kerepotan,” ia memberikan usul yang langsung disetujui.
Bi Mirma keluar dari ruang kerja, menutup lagi pintu sampai rapat.
Helyara tengah menimbang baik buruknya memberikan pesangon langsung atau lewat transfer.
“Kira-kira berapa nominal yang pantas?” tanyanya pada diri sendiri.
Selama ini Helya tidak tahu menahu soal gaji dua asisten rumah tangga, dan juga pengeluaran biaya konsumsi sehari-hari, pembayaran air, listrik, serta lainnya. Semua itu di handle suaminya sejak berakhir masa pandemi.
Ketika wabah virus usai, toko Emas Utomo kembali melayani pembelian secara offline di dua gerai yang pertama berada dalam mal besar, satunya lagi di pusat pasar induk.
Pada saat itu Helya memutuskan untuk program hamil. Dokter menyarankan dia tidak boleh banyak pikiran berakhir stres yang menyebabkan sulit mengandung terlebih hanya memiliki satu saluran indung telur.
Alandi mendukung sepenuhnya, dan dia mengambil alih mengelola toko emas yang dulu dirinya hanya bekerja sebagai penaksir emas / appraiser.
Tugasnya Alan memeriksa keaslian emas, menimbang berat, dan menentukan nilai harga beli atau buyback berdasarkan standar toko milik keluarga Helyara.
Alan bukan sosok baru dalam kehidupan Helyara, dia sudah bekerja empat tahun lamanya sebelum menikahi anak dari sang majikan yang baru saja ditinggal pergi kedua orang tua dan adik tersayangnya.
“Aku kok ikutan Bibi melamun terus sih?” Ia tepuk-tepuk pipi terasa membal, empuk sekali.
Dia mengetik pesan lalu dikirim ke suaminya. Tak lama kemudian sudah mendapatkan balasan. Alan menjawab pertanyaan tentang nominal uang pesangon yang dikasih ke bi Mirma.
“Sebaiknya lewat transfer saja, lebih aman.” Helya berdiri. Sebelum mengantar bibi terlebih dahulu mengambil cardigan dan juga dompetnya di kamar.
Sepuluh menit kemudian, wanita gemuk, bisa dikategorikan pendek itu sudah keluar rumah.
“Pak Alan belum pulang juga, Sis?” tanya Helya.
Siska yang menggendong Alam tengah tertidur dalam balutan kain jarik sambil badannya diayunkan-ayunkan, berbisik pelan. “Belum, Nyonya. Mungkin kena macet kali ya?”
“Beli pampersnya dimana sih, sampai jam lima belum juga pulang?” Helya mengeluarkan ponsel dalam tas selempang, lalu menghubungi suaminya.
Sampai dering terakhir tak kunjung diangkat, setelah diulangi sebanyak tiga kali pun gak dijawab.
“Saya sudah siap, Nyonya,” gumam bibi. Disampingnya hanya ada tas sandang tidak terlalu besar.
Helya mendekati bibi, berniat mau mengangkat tas tetapi dicegah.
“Biar saya saja, Nyonya.” Bi Mirma menggeleng, cepat-cepat menaikan tali tas ke pundak kanan.
“Sebentar ya, Bi. Aku keluarkan mobil dulu.” Helya menuruni tangga. Telinganya mendengar Siska memberikan wejangan.
“Barangnya dijaga, Bi. Jangan lengah. Apalagi di tempat keramaian!”
“Iya, Sis.”
Mobil Xenia warna putih sudah keluar dari garasi. Helya menunggu bibi yang memutuskan pensiun dini di umur 46 tahun.
Bibi menaruh tasnya di bagian tengah, dan dia duduk di sebelah jok kemudi.
Helya menekan tombol remote control pagar otomatis, lalu melajukan mobil. Dia mahir menyetir.
Laju kendaraan tersebut terbilang pelan, setelah melewati komplek perumahan terbilang mewah, barulah Helya menambah kecepatan agar segera sampai di stasiun kereta api.
Selama perjalanan, tak ada yang memulai obrolan.
Bibi terus bungkam dengan hati bergejolak, suara detak jantung berisik.
Sedangkan Helyara memang pribadi pendiam, sering kesulitan memulai obrolan. Jarang berbicara kalau tidak dipancing duluan.
“Em … Nyonya, saya mau bilang makasih. Anda baik sekali selama Bibi kerja sering ngasih bonus, bahkan pernah bayarin biaya rumah sakit bapaknya anak-anak,” katanya tulus dengan mimik wajah tertekan.
Helya tersenyum tipis, menoleh sesaat lalu kembali fokus pada jalanan. “Sudah seharusnya saling tolong menolong kan, Bi? Bibi juga baik banget. Bersedia merawat rumah, memasak makanan lezat.”
“Nyonya, kalau bisa jadi orang jangan terlalu baik. Gak enakan. Eh—” dia keceplosan, buru-buru menutup mulut.
Suara tawa kecil keluar dari bibir Helyara. “Orang tua saya menanamkan sikap tenggang rasa kepada anak-anaknya. Dulu, saya dan Tomi Utomo setiap akhir pekan menginap di panti asuhan milik saudara. Ayah dan Ibu menginginkan putra putrinya tumbuh dengan jiwa welas asih, menjunjung rasa hormat, menghargai terhadap sesama.”
Bibi memalingkan wajah, menatap jalanan terlalu cepat dilalui. Ia menyembunyikan air matanya.
Sisa perjalanan tidak lagi terdengar obrolan, mereka kembali diam. Diam yang menenangkan bagi Helyara, tapi menyiksa batin bi Mirma.
Sampai hampir empat puluh menit kemudian, mobil telah memasuki area parkir stasiun kereta api.
“Bi, saya temani beli tiket.” Helya melepaskan sabuk pengaman. Ikut turun.
“Terima kasih, Nya.” Ia menunduk lebih dalam.
Majikan dan asisten rumah tangga itu berjalan berdampingan menuju loket pembelian tiket kereta.
Helyara membelikan tiket eksekutif agar bibi nyaman sampai tujuan. Dia juga menemani pembantunya duduk diruang tunggu keberangkatan yang masih satu jam lagi.
“Nyonya, pulang saja. Biar gak kemalaman sampai rumah!” Bibi menatap area parkiran yang mulai menggelap, langit dihiasi semburat warna jingga. “Saya gapapa nunggu sendirian disini.”
“Bibi punya nomor rekening bank gak? Milik pribadi bukan dipakai bersama anak maupun suami?” ia tidak mengindahkan kalimat pengusiran secara lembut.
“Untuk apa, Nya?”
“Saya ada sedikit rezeki, khusus buat pegangan Bibi. Kalau bisa jangan sampai suami maupun anak tau,” katanya memberi pembelajaran tentang wanita harus memiliki tabungan pribadi.
“Gak usah, Nyonya. Tuan Alan udah ngasih pesangon kok,” tolaknya tidak enak hati.
“Ya lain, Bi. Itu kan dari mas Alan. Punya gak?” suaranya sedikit menuntut.
“Ada, tapi saya sungkan dan merasa berdosa menerimanya,” wajah bibi langsung memerah dengan pelupuk mata berair.
“La kenapa?” Helya bertanya serius, kebingungan mendapati bibi tiba-tiba menangis.
“Gak pantes aja rasanya,” masih juga bertahan enggan mengungkapkan.
“Tolong diterima, Bi. Niat baik jangan ditolak. Sini nomor rekeningnya!” todongnya meminta.
Terpaksa bibi menyebutkan deretan angka tidak terlalu panjang yang diingat luar kepala.
Helyara membuka m-banking, lalu mengirim sejumlah uang ke rekening bi Mirma.
Bunyi notifikasi membuat wanita berambut potongan pendek, berbaju kaos longgar sedikit bimbang mau membukanya.
“Periksa saja.” Helya menepuk lengan kurus bahkan tenggelam dalam telapak tangan besarnya.
“Astaga!” suara bibi memekik, lalu buru-buru menutup mulut dengan mata melototi barisan angka di ponsel. “Tiga puluh juta rupiah, gak salah Nyonya? Tuan Alan semalam udah ngasih 5 juta.”
Giliran Helya yang terkejut sampai sulit percaya. “Kok dikit banget? Mas Alan bilang ngasih pesangon lima belas juta. Bibi gak bohong, kan?”
.
.
Bersambung.
nahh kan mau bilang apa coba