Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Negara Yan awalnya hanya ada satu kerajaan, yang di pimpin oleh Kaisar, namun saat kedudukan kaisar di gantikan oleh Kakek Jendral Rong Cheng, terjadilah pemberontakan yang di lakukan oleh adik Kakek Jendral Rong.
Adik Kakek Jendral Rong tidak terima, karna bukan dirinya yang menggantikan sang Ayah, dia merasa kalau dirinya jauh lebih menonjol dari sang kakak.
Hingga suatu hari adik Kakek Jendral Rong mulai menghasut orang orang yang berpihak padanya, untuk membangun wilayah sendiri di bagian timur negara Yan, dan dari situlah awal munculnya Kerajaan timur yang di pimpin oleh adik Kakek Jendral Rong.
Dan Kakek Kaisar Rong membiarkan adiknya membangun kerajaannya sendiri, tapi dengan syarat harus mengikuti aturan kekaisaran, atau bisa di katakan kerjaan sang adik tetap ada di bawah kendali kaisar Rong.
Adik Kakek Kaisar menyetujuinya, tapi adik Kakek Jendral Rong diam diam membentuk anggota militernya sendiri, tidak pandang laki laki atau perempuan, semua di haruskan bisa memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni.
Hingga beberapa tahun kemudian, saat kerjaan timur merasa anggota militernya sudah kuat, adik Kakek Jendral Rong mulai menyerang kekaisaran, dan terjadilah perang besar besaran antara militer kekaisaran dan militer kerjaan timur.
Perang berlangsung hingga tujuh hari tujuh malam, dan akhirnya militer kekaisaran yang di pimpin oleh Ayah Jendral Rong berhasil memukul mundur kerjaan timur, namu sayangnya sang Ayah terluka parah dan meninggal setelah satu minggu usai peperangan.
Dan saat itu Jendral Rong dan kakanya masih menempa ilmu pendidikan di akademi kekaisaran, yang saat itu akademi di kepalai oleh Ayah Su Wan Rou.
Kembali ke masa kini.
Saat ini di perbatasan antara kerajaan timur dan wilayah kekaisaran, kembali terjadi peperangan saudara, lebih tepatnya kerjaan timur ingin menggulingkan kekaisaran.
Dari dulu hingga sekarang, tujuan kerajaan timur masih sama, mereka ingin menguasai seluruh negara Yan.
Peperangan keduanya sudah berlangsung hampir tiga hari, dan selama itu pasukan dari kerjaan timur perlahan lahan mulai banyak yang berjatuhan.
Dan kini di barisan paling depan, Jendral Rong berhadapan dengan pemimpin pasukan dari kerjaan timur, keduanya sama sama hebat, menjadikan pertarungan mereka sangat imbang.
Srettt
Akhhh
Setelah beberapa waktu mereka saling mengayunkan pedangnya, akhirnya satu sabetan pedang milik Jendral Rong mengenai lengan lawannya.
''Lebih baik kalian menyerah, sampai kapanpun kalian tidak akan bisa menguasai negara Yan'' ucap Jendral dingin.
''Cih'' decak pemimpin pasukan kerjaan timur sembari memegang lengannya yang terluka.
Lalu dia beringsut maju dan kembali menyerang Jendral Rong, meskipun kini pasukannya sudah mulai banyak yang tumbang, pemimpin pasukan kerajaan timur itu tidak mau menyerah begitu saja, asalkan dia bisa membunuh Jendral Rong, sudah di pastikan kekaisaran akan mudah di taklukkan, karna semua orang mengakui kalau ilmu beladiri Jendral Rong lebih mumpuni di banding tetuanya.
Saat Jendral Rong fokus bertarung dengan pemimpin pasukan kerajaan timur, Su Wan Rou yang sedang istirahat sejenak melihat seseorang yang bersembunyi di atas bukit, mengarahkan busurnya pada Jendral Rong, dan secepat kilat Su Wan Rou berlari ke arah Jendral Rong.
''Pangeran, hati hati!'' teriaknya.
Wush
Jleb
Ughh
Melihat kejadian itu Han Bing langsung mengambil busur milik bawahannya, dan membidikkan panahnya ke arah bukit, cukup dengan sekali bidikan orang yang bersembunyi di atas bukit seketika terjatuh, karna anak panah dari bidikan Han Bing tepat mengenai jantungnya.
Sedangkan Jendral Rong sembari menahan tubuh Su Wan Rou, dia mengayunkan pedangnya ke arah pemimpin pasukan kerajaan timur, dan mengenai tepat di pergelangan tangannya hingga putus.
Wush
Sret
Akhhh
Pemimpin pasukan kerajaan timur itu berteriak kesakitan, sembari melihat tangannya yang putus.
''Jika kalian tidak mau menyerah, jangan salahkan aku kalau menyerang kerajaan kalian'' ucap Jendral Rong tegas.
Pemimpin pasukan kerajaan timur itu seketika menyuruh semua anggotanya yang tersisa untuk mundur, jika Jendral Rong benar benar menyerang kerajaan timur sudah di pastikan kerjaannya akan kalah telak, karna sebagian anggota militer kerajaan timur sudah berjatuhan, dan mereka butuh persiapan yang lebih bagus lagi untuk kembali menyerang kekaisaran.
Setelah orang orang kerajaan timur pergi, Jendral Rong segera membawa Su Wan Rou yang tak sadarkan diri ke pangkalan militer yang terletak di dekat perbatasan itu, di sana sudah ada beberapa tabib yang siap siaga menangani para anggota militer yang terluka termasuk Su Wan Rou.
''Bagaimana keadaannya?'' tanya Jendral Rong saat tabib wanita yang mengobati luka Su Wan Rou keluar dari kamar.
''Syukurlah Pangeran, luka Nona Su tidak sampai mengenai organ vitalnya, Nona Su cukup perbanyak istirahat saja, pasti lukanya akan berangsur pulih'' jawab tabib wanita itu dengan sopan.
''Hem, baiklah''
''Kalau begitu hamba permisi'' pamit tabib wanita itu dan Jendral Rong hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah kepergian tabib wanita itu, Jendral Rong masuk ke dalam, tapi dia hanya berdiri di depan pintu, menatap diam Su Wan Rou yang masih belum sadarkan diri.
''Pangeran, lebih baik anda istirahat dulu, anda terlihat sangat lelah'' tukas Han Bing yang sejak tadi berada di belakang Jendral Rong.
''Bagaimana kabar Mingyu?, apa dia baik baik saja?'' tanya Jendral Rong mengabaikan perkataan Han Bing.
''Nona Lu baik baik saja, tapi kata penjaga markas, setelah sehari anda pergi, Nona Lu pulang ke kediaman perdana mentri Lu'' jawab Han Bing.
Jendral Rong diam saja tidak mempermasalahkannya, asalkan Mingyu baik baik saja dirinya sudah merasa lega.
''Apa anda akan kembali ke kediaman Lu?'' tanya Han Bing.
Jendral Rong menggelengkan kepalanya. ''Untuk saat ini aku ingin memastikan dulu kondisi Wan Rou , jika dia sudah benar benar sembuh, aku akan menyusul Mingyu, bagaimanapun juga Wan Rou terluka karna melindungiku'' ucapnya.
''Baik Pangeran''
Berita kemenangan peperangan militer kekaisaran melawan kerajaan timur, sudah sampai di telinga anggota kerajaan dan penduduk wilayah kekaisaran, mereka akhirnya bisa bernafas lega setelah beberapa hari merasa was was, karna jika militer kekaisaran kalah sudah di pastikan mereka akan di jajah oleh kerjaan timur.
Seperti tradisi sebelum sebelumnya, saat mereka memenangkan peperangan, para penduduk dengan kompak menghias seluruh jalanan kota untuk menyambut para anggota militer yang kembali pulang kekeluarganya setelah berjuang antara hidup dan mati untuk mempertahankan wilayah mereka.
Sedangkan di kediaman perdana mentri Lu, Mingyu membuatkan Ayahnya teh herbal, lalu dia bawa ke ruang baca karna Ayahnya berada di sana.
Ceklek
''Mingyu''
Mingyu tersenyum sembari meletakkan teh herbal yang di buatnya sendiri di atas meja.
''Ayah, ini teh herbal untuk Ayah, Mingyu meraciknya sendiri loh'' ucapnya.
''Terimakasih nak'' ucap Tuan Lu.
Lalu mengambil cangkir yang berisi teh herbal buatan putrinya dan menyesapnya dengan perlahan.
''Mingyu, kamu tidak kembali ke kediaman Pangeran,? sebentar lagi Pangeran pasti pulang'' tanya Tuan Lu sembari meletakkan kembali cangkir teh di atas meja.
''Nanti sore saja Ayah'' jawab Mingyu.
Lagian jarak markas dan kediaman Jendral Rong lumayan agak jauh, Mingyu menebak kalau Jendral Rong akan tiba di kediaman sore hari, itupun kalau enggak ke markas dulu.
''Ayah''
''Iya''
''Sebenarnya, lebih kuat mana militer kita sama kerjaan timur?'' tanya Mingyu.
Kemarin dia sudah mendengar cerita awal mula berdirinya kerjaan timur dari Xiao Fei, dan kini dia penasaran sekuat apa kerajaan timur.
''Tentu lebih kuat militer kita'' jawab Tuan Lu.
''Lantas, kenapa Kaisar tidak memerintahkan untuk menyerang langsung kerjaan timur, agar tidak menyerang di perbatasan terus?'' tanya Mingyu dengan santai, baginya selagi kita lebih kuat langsung basmi saja lawan kita.
Tuan Lu terkekeh pelan.
''Tidak semudah itu nak''
''Kenapa?'' tanya Mingyu.
''Dulu, selang beberapa tahun setelah perang besar yang di pimpin oleh Kakek Kaisar, orang kerajaan timur berhasil menangkap putri keluarga Gu, satu satunya ahli waris bangsawan yang memiliki kontribusi besar dalam kemajuan ekonomi di negara kita, jika kita menyerang kerjaan timur, mereka akan membunuh putri keluarga Gu, sedangkan ekonomi wilayah kita bergantung pada keluarga Gu, kamu pasti faham kan maksud Ayah kan'' jelas Tuan Lu.
Mingyu hanya menganggukkan kepalanya saja, tapi dia paham apa yang di maksud oleh Tuan Lu, karna zaman dulu dan zaman abad dua satu ternyata tidak ada bedanya, jika seseorang bisa mengendalikan ekonomi negara, sudah pasti pejabat akan melindunginya sebaik mungkin.
''Terus, sekarang bagaimana kondisi putri keluarga Gu di sana?'' tanya Mingyu.
''Sejauh ini yang Ayah dengar dia baik baik saja, karna katanya Pangeran kerajaan timur menyukainya'' jawab Tuan Lu.
Mingyu mengangguk anggukkan kepalanya dan tidak bertanya lagi.