Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Srak.
Ia mengeluarkan tumpukan uang tunai seratus ribuan yang diikat karet gelang dan meletakkannya tepat di atas meja mesin jahit.
Mata ibu Tommy langsung membelalak lebar melihat tumpukan uang merah yang sangat banyak itu.
"Ya Tuhan, Tommy!" jerit ibunya kaget sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Uang dari mana ini, Nak?" tanya ibunya dengan suara bergetar ketakutan.
"Kamu tidak merampok bank atau melakukan hal jahat kan, Tommy?"
Tommy tertawa pelan dan segera menggenggam tangan ibunya untuk menenangkan.
"Tentu saja tidak, Bu," jawab Tommy dengan suara yang sangat meyakinkan.
"Tommy memenangkan turnamen game online tingkat nasional yang hadiahnya uang tunai."
Ibunya menatap Tommy dengan pandangan setengah tidak percaya.
"Game online? Main game bisa dapat uang sebanyak ini?" tanya ibunya masih ragu.
"Bisa, Bu, zaman sekarang banyak kompetisi seperti itu di internet," bohong Tommy dengan sangat lancar berkat kemampuan ekspresi mikronya.
"Ini ada sepuluh juta pas untuk membayar lunas utang ke Bang Jali besok."
Ibu Tommy perlahan menyentuh tumpukan uang itu, dan air mata langsung mengalir deras dari kedua matanya.
Ia memeluk Tommy dengan sangat erat sambil menangis tersedu-sedu.
"Terima kasih, Nak," isak ibunya di pelukan Tommy.
"Ibu pikir kita sudah tidak punya harapan lagi."
"Ibu tidak perlu khawatir lagi, Tommy akan selalu menjaga ibu," batin Tommy sambil membalas pelukan ibunya dengan hangat.
Keesokan paginya, suasana kelas sebelas IPS dua terasa jauh lebih tegang dari biasanya.
Hari ini adalah hari pertama pelaksanaan Ujian Tengah Semester yang sangat menentukan nilai akhir mereka.
Tommy duduk diam di bangkunya, menatap papan tulis kosong dengan ekspresi bodoh seperti biasa.
Bruk!
Bagas tiba-tiba melempar buku paket sejarahnya ke atas meja seorang siswa bertubuh kecil yang duduk di depan Tommy.
Siswa berkacamata tebal itu bernama Dito, murid pendiam yang selalu menjadi bulan-bulanan Bagas karena fisiknya yang lemah.
"To, lo kan lumayan pintar sejarah," ucap Bagas sambil mencengkeram kerah seragam Dito.
"Nanti pas ujian, lo kasih gue jawaban dari nomor satu sampai dua puluh, ngerti?"
Tubuh Dito langsung bergetar ketakutan mendengar ancaman dari preman kelas tersebut.
"Ta-tapi Gas," gagap Dito dengan wajah pucat. "Kalau ketahuan guru pengawas, beasiswaku bisa dicabut."
"Gue gak peduli sama beasiswa lo yang miskin itu!" bentak Bagas sambil memukul meja Dito dengan keras.
"Kalau lo gak mau ngasih sontekan, sepulang sekolah habis lo di tangan gue dan anak-anak!"
Air mata mulai menggenang di balik kacamata tebal Dito.
Ia sangat membutuhkan beasiswa itu untuk tetap bisa bersekolah, tetapi ia juga terlalu takut untuk melawan Bagas.
"Dan lo, Tom!" Bagas menoleh ke arah Tommy dengan tatapan meremehkan.
"Iya, Gas?" jawab Tommy dengan nada pasrah yang dibuat-buat.
"Lo mending tidur aja pas ujian nanti, jangan sampai jawaban bodoh lo bikin sial satu kelas," ejek Bagas yang disambut tawa oleh Reno dan beberapa murid lain.
Tommy hanya menundukkan kepalanya tanpa merespons sedikit pun.
Ting!
Layar biru sistem tiba-tiba muncul di depan pandangan Tommy tepat ketika bel masuk berbunyi.
[MISI MENDADAK TERSEDIA.]
[Misi: Bantu Dito mendapatkan nilai sempurna dalam ujian sejarah ini tanpa ketahuan oleh siapa pun.]
[Hadiah: +2 Poin IQ dan +10 Poin Sistem.]
[Hukuman jika gagal: Penurunan IQ sebesar -5 poin.]
Tommy menatap misi baru itu dengan senyum yang sangat tipis hingga tidak ada yang menyadarinya.
"Menarik," batin Tommy mengevaluasi situasi.
"Membantu anak penakut ini dari ancaman Bagas sepertinya bukan ide yang buruk."
Tidak lama kemudian, Pak Darmawan masuk ke dalam kelas membawa tumpukan kertas soal ujian.
Guru matematika itu kini bertugas sebagai pengawas silang untuk mata pelajaran sejarah di kelas mereka.
Mata Pak Darmawan sempat melirik sekilas ke arah Tommy yang duduk di belakang, namun ia segera membuang muka.
Sesuai kesepakatan rahasia mereka, Pak Darmawan berpura-pura menganggap Tommy sebagai murid bodoh biasa.
"Singkirkan semua buku dari atas meja, waktu ujian kalian sembilan puluh menit," perintah Pak Darmawan dengan suara tegas.
Kertas soal mulai dibagikan, dan suasana kelas langsung berubah menjadi sangat hening.
Tommy menerima kertas soalnya dan memindai lima puluh pertanyaan pilihan ganda itu dalam waktu kurang dari satu menit.
"Sangat mudah, semua jawabannya ada di bab tiga dan empat buku paket," batin Tommy santai.
Ia mulai mengisi lembar jawaban komputernya dengan pola yang sudah ia rencanakan sejak semalam.
Ia tidak boleh mendapat nilai seratus, karena itu akan menghancurkan penyamarannya.
"Aku akan menjawab benar tiga puluh soal saja agar nilaiku pas enam puluh," gumam Tommy dalam hati.
"Nilai enam puluh cukup aman dari ancaman tidak naik kelas, tapi masih tergolong bodoh di mata guru-guru."
Hanya dalam waktu sepuluh menit, Tommy sudah selesai menghitamkan lembar jawabannya sendiri.
Kini perhatiannya beralih ke punggung Dito yang bergetar di bangku depannya.
Dito terlihat kebingungan dan terus menghapus jawabannya berulang kali karena panik memikirkan ancaman Bagas.
Bagas yang duduk di barisan tengah terus melempar tatapan mengancam ke arah punggung Dito.
"Kalau dibiarkan, Dito tidak akan bisa konsentrasi mengerjakan soalnya sendiri," batin Tommy.
Tommy merobek sepotong kecil kertas buram dari buku catatannya di laci meja dengan sangat pelan.
Ia lalu menuliskan deretan huruf A, B, C, D yang merupakan kunci jawaban sempurna untuk soal sejarah tersebut.
Setelah selesai, Tommy menggulung kertas kecil itu hingga seukuran biji jagung.
Ia melirik ke depan kelas, memastikan Pak Darmawan sedang sibuk membaca koran di mejanya.
Tuk.
Tommy menyentil kertas kecil itu dengan jarinya hingga mendarat tepat di atas paha Dito.
Dito tersentak kaget dan menoleh ke belakang dengan wajah bingung bercampur takut.
Tommy menatap Dito dan memberikan isyarat anggukan kecil ke arah kertas di paha anak itu.
"Pakai itu," bisik Tommy dengan suara yang nyaris tidak terdengar, dibantu dengan gerakan bibir.
Dito menelan ludah dengan susah payah dan perlahan membuka gulungan kertas kecil tersebut.
Matanya terbelalak lebar saat melihat deretan kunci jawaban yang sangat rapi di sana.
Dito kembali menoleh ke arah Tommy dengan tatapan penuh keraguan.
"Apakah ini jawaban yang benar?" batin Dito ragu-ragu. "Tommy kan murid paling bodoh di kelas ini."
Namun karena waktunya terus berjalan dan pikirannya sudah kacau balau, Dito memutuskan untuk nekat.
Ia mulai mencocokkan jawaban di kertas kecil itu dengan soal ujiannya satu per satu.
"Tunggu, jawaban nomor lima ini benar," batin Dito terkejut saat melihat kertas itu.
"Nomor dua belas juga benar, ini persis seperti yang kubaca semalam tapi aku lupa."
Semakin jauh Dito mencocokkan, semakin ia menyadari bahwa kunci jawaban dari Tommy ini sangat akurat dan sempurna.
Dito mulai menghitamkan lembar jawabannya dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa tidak percaya.
Bagaimana mungkin Tommy si bodoh memiliki kunci jawaban sesempurna ini?
Waktu ujian sembilan puluh menit pun akhirnya usai.
"Kumpulkan lembar jawaban kalian ke depan!" teriak Pak Darmawan memecah keheningan kelas.
Dito berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan kelas dengan perasaan lega yang luar biasa.
Saat ia melewati meja Tommy, Dito menundukkan kepalanya sedikit.
"Terima kasih, Tom," bisik Dito dengan tulus.
Tommy hanya merespons dengan wajah datar tanpa ekspresi, berpura-pura sibuk memasukkan pensilnya ke dalam tempat pensil.
Ting!
[MISI MENDADAK SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil membantu target menyelesaikan ujian tanpa terdeteksi oleh pengawas.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +2 poin.]
[Poin Sistem bertambah +10 PS.]
[IQ Saat Ini: 103 Kategori: Rata-rata Atas]
[Poin Sistem Saat Ini: 65 PS]
Tommy tersenyum kecil di dalam hatinya melihat peningkatan poin tersebut.
Namun di sisi lain kelas, Bagas terlihat menatap marah ke arah Dito.
Bagas sama sekali tidak mendapatkan sontekan dari Dito selama ujian berlangsung.
"Awas lo nanti sepulang sekolah, si kacamata sialan," gumam Bagas dengan wajah memerah menahan amarah.
Tommy yang mendengar gumaman ancaman itu dari kejauhan hanya bisa menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tenang.
"Sepertinya urusanku dengan Bagas tidak akan berhenti sampai di sini saja," batin Tommy sambil menatap tajam ke arah preman kelas tersebut.
Identitas rahasianya sebagai murid jenius dan peretas bayaran mungkin masih aman untuk saat ini.
Tetapi ia tahu, mempertahankan topeng kebodohan ini di tengah lingkungan sekolah yang penuh konflik akan semakin sulit setiap harinya.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇