NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Srak.

Ia mengeluarkan tumpukan uang tunai seratus ribuan yang diikat karet gelang dan meletakkannya tepat di atas meja mesin jahit.

Mata ibu Tommy langsung membelalak lebar melihat tumpukan uang merah yang sangat banyak itu.

"Ya Tuhan, Tommy!" jerit ibunya kaget sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.

"Uang dari mana ini, Nak?" tanya ibunya dengan suara bergetar ketakutan.

"Kamu tidak merampok bank atau melakukan hal jahat kan, Tommy?"

Tommy tertawa pelan dan segera menggenggam tangan ibunya untuk menenangkan.

"Tentu saja tidak, Bu," jawab Tommy dengan suara yang sangat meyakinkan.

"Tommy memenangkan turnamen game online tingkat nasional yang hadiahnya uang tunai."

Ibunya menatap Tommy dengan pandangan setengah tidak percaya.

"Game online? Main game bisa dapat uang sebanyak ini?" tanya ibunya masih ragu.

"Bisa, Bu, zaman sekarang banyak kompetisi seperti itu di internet," bohong Tommy dengan sangat lancar berkat kemampuan ekspresi mikronya.

"Ini ada sepuluh juta pas untuk membayar lunas utang ke Bang Jali besok."

Ibu Tommy perlahan menyentuh tumpukan uang itu, dan air mata langsung mengalir deras dari kedua matanya.

Ia memeluk Tommy dengan sangat erat sambil menangis tersedu-sedu.

"Terima kasih, Nak," isak ibunya di pelukan Tommy.

"Ibu pikir kita sudah tidak punya harapan lagi."

"Ibu tidak perlu khawatir lagi, Tommy akan selalu menjaga ibu," batin Tommy sambil membalas pelukan ibunya dengan hangat.

Keesokan paginya, suasana kelas sebelas IPS dua terasa jauh lebih tegang dari biasanya.

Hari ini adalah hari pertama pelaksanaan Ujian Tengah Semester yang sangat menentukan nilai akhir mereka.

Tommy duduk diam di bangkunya, menatap papan tulis kosong dengan ekspresi bodoh seperti biasa.

Bruk!

Bagas tiba-tiba melempar buku paket sejarahnya ke atas meja seorang siswa bertubuh kecil yang duduk di depan Tommy.

Siswa berkacamata tebal itu bernama Dito, murid pendiam yang selalu menjadi bulan-bulanan Bagas karena fisiknya yang lemah.

"To, lo kan lumayan pintar sejarah," ucap Bagas sambil mencengkeram kerah seragam Dito.

"Nanti pas ujian, lo kasih gue jawaban dari nomor satu sampai dua puluh, ngerti?"

Tubuh Dito langsung bergetar ketakutan mendengar ancaman dari preman kelas tersebut.

"Ta-tapi Gas," gagap Dito dengan wajah pucat. "Kalau ketahuan guru pengawas, beasiswaku bisa dicabut."

"Gue gak peduli sama beasiswa lo yang miskin itu!" bentak Bagas sambil memukul meja Dito dengan keras.

"Kalau lo gak mau ngasih sontekan, sepulang sekolah habis lo di tangan gue dan anak-anak!"

Air mata mulai menggenang di balik kacamata tebal Dito.

Ia sangat membutuhkan beasiswa itu untuk tetap bisa bersekolah, tetapi ia juga terlalu takut untuk melawan Bagas.

"Dan lo, Tom!" Bagas menoleh ke arah Tommy dengan tatapan meremehkan.

"Iya, Gas?" jawab Tommy dengan nada pasrah yang dibuat-buat.

"Lo mending tidur aja pas ujian nanti, jangan sampai jawaban bodoh lo bikin sial satu kelas," ejek Bagas yang disambut tawa oleh Reno dan beberapa murid lain.

Tommy hanya menundukkan kepalanya tanpa merespons sedikit pun.

Ting!

Layar biru sistem tiba-tiba muncul di depan pandangan Tommy tepat ketika bel masuk berbunyi.

[MISI MENDADAK TERSEDIA.]

[Misi: Bantu Dito mendapatkan nilai sempurna dalam ujian sejarah ini tanpa ketahuan oleh siapa pun.]

[Hadiah: +2 Poin IQ dan +10 Poin Sistem.]

[Hukuman jika gagal: Penurunan IQ sebesar -5 poin.]

Tommy menatap misi baru itu dengan senyum yang sangat tipis hingga tidak ada yang menyadarinya.

"Menarik," batin Tommy mengevaluasi situasi.

"Membantu anak penakut ini dari ancaman Bagas sepertinya bukan ide yang buruk."

Tidak lama kemudian, Pak Darmawan masuk ke dalam kelas membawa tumpukan kertas soal ujian.

Guru matematika itu kini bertugas sebagai pengawas silang untuk mata pelajaran sejarah di kelas mereka.

Mata Pak Darmawan sempat melirik sekilas ke arah Tommy yang duduk di belakang, namun ia segera membuang muka.

Sesuai kesepakatan rahasia mereka, Pak Darmawan berpura-pura menganggap Tommy sebagai murid bodoh biasa.

"Singkirkan semua buku dari atas meja, waktu ujian kalian sembilan puluh menit," perintah Pak Darmawan dengan suara tegas.

Kertas soal mulai dibagikan, dan suasana kelas langsung berubah menjadi sangat hening.

Tommy menerima kertas soalnya dan memindai lima puluh pertanyaan pilihan ganda itu dalam waktu kurang dari satu menit.

"Sangat mudah, semua jawabannya ada di bab tiga dan empat buku paket," batin Tommy santai.

Ia mulai mengisi lembar jawaban komputernya dengan pola yang sudah ia rencanakan sejak semalam.

Ia tidak boleh mendapat nilai seratus, karena itu akan menghancurkan penyamarannya.

"Aku akan menjawab benar tiga puluh soal saja agar nilaiku pas enam puluh," gumam Tommy dalam hati.

"Nilai enam puluh cukup aman dari ancaman tidak naik kelas, tapi masih tergolong bodoh di mata guru-guru."

Hanya dalam waktu sepuluh menit, Tommy sudah selesai menghitamkan lembar jawabannya sendiri.

Kini perhatiannya beralih ke punggung Dito yang bergetar di bangku depannya.

Dito terlihat kebingungan dan terus menghapus jawabannya berulang kali karena panik memikirkan ancaman Bagas.

Bagas yang duduk di barisan tengah terus melempar tatapan mengancam ke arah punggung Dito.

"Kalau dibiarkan, Dito tidak akan bisa konsentrasi mengerjakan soalnya sendiri," batin Tommy.

Tommy merobek sepotong kecil kertas buram dari buku catatannya di laci meja dengan sangat pelan.

Ia lalu menuliskan deretan huruf A, B, C, D yang merupakan kunci jawaban sempurna untuk soal sejarah tersebut.

Setelah selesai, Tommy menggulung kertas kecil itu hingga seukuran biji jagung.

Ia melirik ke depan kelas, memastikan Pak Darmawan sedang sibuk membaca koran di mejanya.

Tuk.

Tommy menyentil kertas kecil itu dengan jarinya hingga mendarat tepat di atas paha Dito.

Dito tersentak kaget dan menoleh ke belakang dengan wajah bingung bercampur takut.

Tommy menatap Dito dan memberikan isyarat anggukan kecil ke arah kertas di paha anak itu.

"Pakai itu," bisik Tommy dengan suara yang nyaris tidak terdengar, dibantu dengan gerakan bibir.

Dito menelan ludah dengan susah payah dan perlahan membuka gulungan kertas kecil tersebut.

Matanya terbelalak lebar saat melihat deretan kunci jawaban yang sangat rapi di sana.

Dito kembali menoleh ke arah Tommy dengan tatapan penuh keraguan.

"Apakah ini jawaban yang benar?" batin Dito ragu-ragu. "Tommy kan murid paling bodoh di kelas ini."

Namun karena waktunya terus berjalan dan pikirannya sudah kacau balau, Dito memutuskan untuk nekat.

Ia mulai mencocokkan jawaban di kertas kecil itu dengan soal ujiannya satu per satu.

"Tunggu, jawaban nomor lima ini benar," batin Dito terkejut saat melihat kertas itu.

"Nomor dua belas juga benar, ini persis seperti yang kubaca semalam tapi aku lupa."

Semakin jauh Dito mencocokkan, semakin ia menyadari bahwa kunci jawaban dari Tommy ini sangat akurat dan sempurna.

Dito mulai menghitamkan lembar jawabannya dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa tidak percaya.

Bagaimana mungkin Tommy si bodoh memiliki kunci jawaban sesempurna ini?

Waktu ujian sembilan puluh menit pun akhirnya usai.

"Kumpulkan lembar jawaban kalian ke depan!" teriak Pak Darmawan memecah keheningan kelas.

Dito berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan kelas dengan perasaan lega yang luar biasa.

Saat ia melewati meja Tommy, Dito menundukkan kepalanya sedikit.

"Terima kasih, Tom," bisik Dito dengan tulus.

Tommy hanya merespons dengan wajah datar tanpa ekspresi, berpura-pura sibuk memasukkan pensilnya ke dalam tempat pensil.

Ting!

[MISI MENDADAK SELESAI.]

[Evaluasi: Pengguna berhasil membantu target menyelesaikan ujian tanpa terdeteksi oleh pengawas.]

[Mengirimkan hadiah...]

[IQ pengguna meningkat +2 poin.]

[Poin Sistem bertambah +10 PS.]

[IQ Saat Ini: 103 Kategori: Rata-rata Atas]

[Poin Sistem Saat Ini: 65 PS]

Tommy tersenyum kecil di dalam hatinya melihat peningkatan poin tersebut.

Namun di sisi lain kelas, Bagas terlihat menatap marah ke arah Dito.

Bagas sama sekali tidak mendapatkan sontekan dari Dito selama ujian berlangsung.

"Awas lo nanti sepulang sekolah, si kacamata sialan," gumam Bagas dengan wajah memerah menahan amarah.

Tommy yang mendengar gumaman ancaman itu dari kejauhan hanya bisa menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tenang.

"Sepertinya urusanku dengan Bagas tidak akan berhenti sampai di sini saja," batin Tommy sambil menatap tajam ke arah preman kelas tersebut.

Identitas rahasianya sebagai murid jenius dan peretas bayaran mungkin masih aman untuk saat ini.

Tetapi ia tahu, mempertahankan topeng kebodohan ini di tengah lingkungan sekolah yang penuh konflik akan semakin sulit setiap harinya.

1
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!