Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Di Atas Ubin Keramik
Suara deru mesin mobil boks pengantar barang yang melintas di luar gang Jalan Melati terdengar samar-samar menembus dinding kamar kos yang berukuran tiga kali tiga meter itu.
Pagi hari datang tanpa janji-janji manis, membawa serta cahaya matahari pucat yang menyusup lewat celah ventilasi atas, menerangi butiran debu halus yang menari-nari di udara.
Keira duduk bersila di atas karpet tipis, di hadapan meja plastik kecil yang menjadi pusat dari segala aktivitas pribadinya selama beberapa bulan terakhir.
Buku sketsa bersampul hitam tebal tergeletak terbuka di sisinya, menampilkan goresan arsir arsitektur sudut kamar yang kini sudah mulai disempurnakan dengan garis-garis bayangan yang lebih tegas.
Di bawah tumpukan diktat kuliah tebal, map plastik transparan dari Nadia masih tersembunyi rapat, bagaikan sebuah kotak Pandora kecil yang sengaja ia kunci rapat-rapat agar rahasia di dalamnya tidak mencuat keluar mencemari udara kamar.
Semenjak pertemuan di kafe Jalan Sudirman dan sapaan singkat dari Nadia beberapa hari lalu, Keira memilih untuk menempuh jalan yang paling sunyi: berdiam diri.
Ia tidak membalas pesan, tidak mencari tahu lebih lanjut, dan berusaha sekuat tenaga untuk menarik kembali pikirannya ke dalam batas-batas dinding kos yang aman.
Baginya, pura-pura tidak tahu adalah perisai paling tipis yang masih sanggup ia kenakan untuk melindungi kewarasannya dari rasa takut kehilangan.
Namun, mengabaikan sebuah kebenaran yang sudah terlanjur tersingkap tidak semudah menutup buku.
Setiap kali Davin datang menjelang petang, membawakan martabak manis, dan mencium keningnya dengan penuh kehangatan, ada sensasi ganjil yang menyelinap di balik senyuman Keira.
Sentuhan tangan lelaki itu tidak lagi terasa sepenuhnya menenangkan; ada bayangan tipis dari angka-angka selisih anggaran proyek Bandung yang membayang di balik setiap helaan napas kelelahan yang dikeluhkan Davin.
Apakah ini yang dinamakan hidup di dalam kebohongan? batin Keira suatu malam, menatap punggung Davin yang tertidur lelap setelah seharian bekerja keras. Selama ini aku mengira diriku diselamatkan olehnya, padahal aku sedang duduk di atas fondasi yang rapuh.
Pikiran semacam itu sering kali datang menyerang tanpa diundang, memaksa Keira mencari pelarian. Dan satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas dengan lega tanpa rasa bersalah adalah di atas lembaran kertas sketsanya.
Pagi itu, hari Jumat, Davin sudah berangkat ke kantor sejak pukul delapan lewat. Selepas kepergian kekasihnya, Keira memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sudah lama ia tunda: merapikan kembali akun portofolio digital anonim miliknya yang sempat terbengkalai karena goncangan emosi pasca pertemuan dengan Nadia.
Ia meraih ponsel retaknya dari dalam laci meja, menyalakannya, lalu membuka aplikasi media sosial khusus seni yang ia gunakan dengan nama samaran @k_garismin.
Notifikasi kecil langsung muncul di sudut atas layar.
Selain beberapa tambahan like tipis dari beberapa pengikut asing pada unggahan sketsa sudut kamarnya tempo hari, ada satu pesan baru yang masuk di kolom direct message.
Pesan itu berasal dari @ruang_terbuka—Rian, sang pengelola zine independen yang beberapa waktu lalu telah mengirimkan amplop coklat berisi buku sampel cetak dan honor pertama Keira.
“Halo, Kak Keira! Gimana kabarnya? Buku zine edisi perdana kita kemarin responsnya di luar dugaan, banyak pembaca yang muji ilustrasi kamar senja buatan Kakak. Nah, berhubung kita lagi siapin edisi kedua buat bulan depan dengan tema ‘Kota di Bawah Hujan’, tim kecil kami sepakat pengen ngajak Kakak kolaborasi lagi buat jadi ilustrator utama di edisi kedua ini. Kalau Kakak ada waktu dan bersedia, boleh banget kita ngobrolin detail konsep dan honornya ya, Kak.”
Membaca rentetan kalimat tersebut, napas Keira seolah tertahan di tenggorokan.
Kolaborasi lanjutan. Ilustrator utama untuk edisi kedua.
Bukan sekadar coba-coba atau satu sampel ilustrasi lepas, melainkan sebuah penawaran resmi untuk menjadi bagian dari sebuah proyek kreatif yang berkelanjutan.
Di tengah kebingungan dan kecurigaan yang melanda batinnya akhir-akhir ini, tawaran tersebut terasa seperti sebuah ruang kecil yang menawarkan udara segar, sebuah tempat di mana goresan tangannya dinilai berdasarkan usaha dan kejujuran berkarya.
Dada Keira bergemuruh hebat. Sensasi hangat yang membuncah di balik tulang rusuknya mendesak naik, membuat sudut matanya terasa panas.
Selama berbulan-bulan, ia merasa dirinya hanyalah objek pasif dari belas kasihan dan perlindungan orang lain. Hari ini, melalui layar ponsel yang layarnya retak di bagian ujung, dunia di luar sana mengakuinya bukan sebagai perempuan penurut di sudut kamar, melainkan sebagai seorang seniman yang memiliki identitas dan suaranya sendiri.
Ia tidak langsung membalas pesan tersebut. Jari-jarinya gemetar di atas papan tik ponsel, diliputi rasa tidak percaya sekaligus rasa syukur yang teramat dalam.
Apakah aku sanggup? Apakah aku punya cukup waktu di antara rutinitas harian di kos ini untuk mengerjakan proyek sebesar itu?
Keraguan khas itu kembali muncul, namun kali ini ia tidak mencengkeram sekuat dulu.
Keira teringat pada amplop coklat berisi uang honor pertama yang tersimpan di bawah tumpukan diktat bukti fisik yang tak terbantahkan bahwa tangannya mampu menghasilkan sesuatu yang berharga.
Dengan menarik napas panjang dan meyakinkan diri sendiri, Keira mulai mengetik balasannya:
“Halo, Rian. Terima kasih banyak atas apresiasi dan kepercayaannya. Aku senang sekali dengar kabar baik tentang zine edisi pertamanya. Untuk tema ‘Kota di Bawah Hujan’, aku sangat tertarik. Boleh tolong kirimkan garis besar konsep dan tenggat waktunya ke sini?”
Begitu tombol kirim ditekan, ada kelegaan luar biasa yang menyapu bersih mendung di kepala Keira. Ia baru saja mengambil satu langkah besar ke depan bukan dengan cara melawan atau berkonfrontasi, melainkan dengan cara membangun dunianya sendiri secara perlahan di atas ubin keramik kamar kos yang sempit ini.
Sementara itu, di tempat yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari Jalan Melati, suasana di dalam kantor divisi keuangan lantai dua puluh gedung Jalan Sudirman tidak kalah padatnya.
Davin duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar komputer yang menampilkan grafik laporan bulanan baru. Meskipun proyek cabang Bandung sudah resmi ditutup minggu lalu, bayang-bayang audit dan ketegangan internal kantor masih menyisakan sisa-sisa bara di kepala lelaki itu.
Namun, bukan lagi soal angka-angka laporan yang mengusik pikirannya pagi ini, melainkan sebuah duri kecil bernama Nadia.
Semenjak pemanggilan formal minggu lalu di mana Davin menegur keras staf keuangannya itu atas dasar profesionalitas kerja, hubungan di antara mereka menjadi sangat dingin dan kaku.
Nadia memilih menarik diri, hanya mengerjakan tugas-tugas administratif dasarnya tanpa pernah lagi mendebat atau melempar pandangan tajam ke arah meja Davin.
Bagi sebagian orang, situasi itu mungkin sudah selesai atasan menang, bawahan patuh. Tapi bagi Davin, sikap diam Nadia justru menyisakan kecurigaan yang mengganjal.
Ia tahu betul karakter perempuan itu; Nadia bukanlah tipe orang yang akan menyerah begitu saja jika merasa dirinya berada di pihak yang benar. Ada sesuatu yang disimpan di balik kepala staf keuangan itu, sebuah potensi ancaman tersembunyi yang sewaktu-waktu bisa meledak jika tidak segera dipadamkan.
Terlebih lagi, ingatan Davin kembali melayang pada malam ketika ia pulang ke kamar kos dan mendapati tatapan mata Keira yang terasa berbeda tatapan penuh jeda saat kekasihnya itu menanyakan soal prosedur audit dan rekapitulasi data.
Pikiran itu membuat rahang Davin mengeras.
Apakah Nadia benar-benar sudah membicarakan urusan kantor yang tidak penting itu kepada Keira? Apakah perempuan itu berniat merusak ketenangan hidup pribadiku?
Davin tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Hubungannya dengan Keira adalah satu-satunya tempat kudus di mana ia bisa melepaskan topeng kelelahan korporatnya.
Jika ada pihak luar yang mencoba menyusup dan meracuni pikiran Keira dengan cerita-cerita miring tentang pekerjaannya, maka pihak itu harus diawasi dan dikendalikan sebelum semuanya terlambat.
Davin meraih ponsel kantornya, berniat menghubungi bagian sumber daya manusia untuk menjajaki kemungkinan memindahkan Nadia ke divisi lain selepas evaluasi triwulan ini. Namun, sebelum jarinya sempat menekan nomor ekstensi, pintu ruang kerjanya diketuk tiga kali dengan sopan.
"Masuk," ucap Davin tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
Pintu terbuka, dan sesosok pria berjas rapi dari bagian manajemen internal melangkah masuk sambil membawa map biru tebal.
"Pagi, Pak Davin. Mengganggu sebentar," sapa pria itu sambil meletakkan map di atas meja kerja Davin.
"Ini ada surat pemberitahuan resmi dari auditor independen pusat terkait evaluasi akhir proyek cabang Bandung. Ada beberapa catatan administratif tambahan yang harus ditandatangani oleh penanggung jawab utama proyek."
Davin mendongak, mengerutkan dahi sejenak. "Catatan tambahan? Bukannya laporan akhirnya sudah disetujui direksi minggu lalu?"
"Iya, Pak. Tapi rupanya ada temuan sampel acak pada lampiran pos pengeluaran operasional lapangan yang memerlukan verifikasi ulang dari tanda tangan manajer yang bersangkutan, sekadar formalitas internal untuk arsip audit tahun depan," jelas petugas itu tenang.
Mendengar kata pos pengeluaran operasional lapangan, aliran darah di kepala Davin mendadak terasa berdesir cepat. Itu adalah bagian dokumen yang paling sensitif, bagian di mana ia sempat meminta penyesuaian angka sebelum diserahkan ke pusat atas persetujuan terselubung dari manajemen tingkat atas.
"Baiklah, nanti saya pelajari berkasnya," jawab Davin dengan suara yang diusahakan selazim mungkin, berusaha menyembunyikan kerutan di dahinya.
"Silakan ditaruh di sini dulu."
Setelah petugas manajemen itu pamit keluar dan menutup kembali pintu ruangan, Davin langsung membuka map biru tersebut. Ia membalik halaman demi halaman dokumen audit, mencari bagian lembar pos pengeluaran lapangan yang dimaksud.
Matanya menyusuri catatan kecil yang disematkan di margin bawah lembar tersebut sebuah catatan bernomor referensi yang menunjukkan bahwa dokumen pembanding dengan nomor seri yang sama sempat diakses dan disalin oleh bagian administrasi keuangan atas permintaan khusus beberapa waktu lalu.
Nama yang tercatat sebagai pemegang salinan dokumen pembanding itu tidak lain adalah: Nadia Paramita.
Davin meremas tepi meja kerjanya hingga buku-buku jarinya memutih. Kemarahan yang sedari tadi ia tahan kini bergejolak di dalam dada, bercampur dengan rasa cemas yang tajam.
Nadia benar-benar memegang salinan data pembanding itu. Perempuan itu tidak hanya sekadar rewel di ruang rapat, tetapi benar-benar memegang dokumen tandingan di belakang punggungnya.
Jika dia berani menggunakan dokumen itu untuk macam-macam, aku harus bergerak lebih dulu untuk mengamankan posisiku, batas Davin penuh kewaspadaan dalam hati.
Kembali ke kamar kos di Jalan Melati, suasana sore hari berangsur turun membawa kesejukan setelah terik matahari menyengat seharian.
Keira baru saja selesai membalas pesan dari Rian, menyetujui jadwal koordinasi awal proyek zine edisi kedua pekan depan, ketika ia mendengar suara deru motor matic Davin memasuki halaman kos.
Ketukan tiga kali di pintu kayu menyusul sesudahnya suara yang sudah berbulan-bulan menjadi penanda ritme hidupnya.
Keira dengan cepat merapikan meja, menutup buku sketsanya, memastikan ponsel retaknya tersimpan aman di dalam laci, lalu melangkah tenang membukakan pintu.
Davin berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tampak jauh lebih gelap dan tegang daripada hari-hari biasanya. Kemejanya tampak sedikit kusut di bagian dada, dan rahangnya mengeras kuat, menyiratkan badai kemarahan yang sedang ia redam di balik senyuman paksanya.
"Sore, Sayang," sapa Davin dengan suara yang terdengar sedikit kaku, langsung melangkah masuk dan mencium kening Keira.
Keira merasakan ada getaran aneh yang terpancar dari tubuh kekasihnya malam ini.
"Sore, Vin. Kamu kelihatan capek banget hari ini. Ada masalah lagi di kantor?" tanya Keira lembut, mengambil tas kerja dari tangan Davin seperti biasa.
Davin tidak langsung menjawab. Ia menjatuhkan diri ke tepi kasur, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan secara kasar, lalu menatap lurus ke arah Keira dengan tatapan mata yang menyelidik tajam tatapan yang belum pernah diperlihatkan lelaki itu sebelumnya.
"Kei..." panggil Davin pelan, suaranya terdengar berat dan menusuk. "Selama aku enggak ada di sini, atau pas aku lagi di kantor... pernah enggak ada orang dari kantor yang coba-coba datang ke sini, atau ngehubungin kamu secara diam-diam?"
Mendengar pertanyaan itu, aliran darah di seluruh tubuh Keira seolah berhenti mengalir seketika. Jantungnya jatuh ke dasar perut, meninggalkan rongga dada yang mendadak kosong dan dingin.
Pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan biasa. Itu adalah sebuah jerat yang dilemparkan langsung ke hadapannya, menguji seberapa jauh rahasia pertemuan di kafe Jalan Sudirman tersimpan di balik dinding-dinding kamar kos yang sempit ini.