NovelToon NovelToon
Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Ketos / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)


Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?


Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJIAN YANG DATANG.

Hari-hari setelah malam itu terasa beda banget. Arka nggak lagi menyembunyikan segalanya. Setiap pagi dia nyapa gue duluan, tiap istirahat duduk bareng, cerita sedikit demi sedikit soal beban yang dia pikul sendirian selama ini. Gue dengerin semua, pegang tangannya tiap kali suaranya bergetar. Rasanya berat banget… tapi setidaknya sekarang dia nggak sendirian.

Tapi kedamaian itu nggak bertahan lama.

Siang itu, papan pengumuman sekolah dipenuhi tulisan-tulisan. Nama gue tertulis besar-besar, ditambah hal-hal yang nggak benar — katanya gue maksa Arka buat pacaran sama gue, dan katanya gue juga cari perhatian, katanya gue caper sama arma dan cuma akal-akalan gue doang.

yaaa mereka tau gue dan arka pacaran bukan tunangan karna ini kita masi privat dari mereka semua kecuali sahabat arkan dan gue.

okayy kita skippp dulu yang itu.

Gue berdiri di depan papan itu, tangan gue gemetar. Orang-orang di sekitar bisik-bisik, sambil natap ke arah gue macam-macam.

"Ini semua bohong!" seru gue keras banget, tapi suara gue tenggelam di antara tatapan mereka.

Tiba-tiba ada tangan yang meremas bahu gue pelan. Arka berdiri di samping gue, wajahnya dingin banget — lebih dingin dari biasanya. Dia nggak lihat gue, tapi natap semua orang yang ada di sana.

"Diam semua," suaranya tenang tapi bikin hening seketika. "Siapa yang bikin ini, maju sekarang. Kalau berani."

Nggak ada yang maju. Semua menunduk, menghindari tatapannya.

Arka berbalik ke arah gue, tatapannya melembut seketika. "Lo nggak usah dengerin omongan sampah ini, Luna. Gue tahu siapa lo. Itu yang penting."

Gue mengangguk, tapi dada gue tetap sesak. "Tapi semua orang percaya…"

"Biarkan mereka," dia genggam tangan gue erat. "Waktu yang akan jawab."

Sore itu, saat gue jalan pulang sendirian, Kirana muncul dari balik pohon. Senyumnya manis banget, tapi matanya tajam kayak pisau.

"Kaget ya?" bisiknya pelan. "Itu baru permulaan, Aluna."

"Lo yang bikin semua itu?!" gue maju selangkah, marah banget. "Kenapa sih?! Apa gue pernah nyakiti lo?!"

Kirana tertawa pelan. "Lo nggak perlu nyakiti gue buat gue benci lo. Cukup lo ada di samping Arka itu udah nyakiti gue. Dia seharusnya milik gue, bukan gadis berisik kayak lo!"

"Arka itu manusia, bukan barang yang bisa dimiliki!" jawab gue tegas. "Dia pilih gue, Kirana. Bukan gue yang ambil!"

"Pilih?" Kirana mendekat, suaranya meninggi. "Dia cuma kasihan sama lo! Tunggu aja, pas lo nggak berguna lagi, dia bakal pergi. Dan saat itu datang, jangan harap gue bakal maafin lo!"

Dia pergi ninggalin gue yang berdiri kaku di sana. Kata-katanya menusuk — bukan karena benar, tapi karena itu ketakutan terdalam gue sendiri.

Malam itu gue nggak bisa tidur. Pikiran lari ke mana-mana. Apa iya Arka cuma kasihan? Apa iya suatu hari dia bakal pergi? Gue ingat tatapan orang-orang, tulisan di papan, suara Kirana yang penuh keyakinan… semuanya berputar di kepala.

Gue tulis pesan buat Arka, hapus, tulis lagi. Akhirnya gue kirim: "Bisa ketemu di tempat biasa? Penting."

Dia datang cepat banget. Wajahnya cemas, napasnya terengah.

"Ada apa, Luna? Lo nggak apa-apa? Ada yang nyakiti lo?"

Gue menatapnya lama, lalu bertanya pelan: "Arka… lo sama gue karena sayang, atau cuma kasihan?"

Dia terdiam, keningnya berkerut bingung. "Maksud lo?"

"Kirana bilang… lo cuma kasihan sama gue," suara gue pecah. "Bilang suatu hari lo bakal pergi. Bilang gue nggak pantas buat lo…"

Arka mendekat, pegang kedua tangan gue erat-erat. "Dengerin gue baik-baik, Aluna. Gue sama lo bukan karena kasihan. Gue pilih lo karena lo bikin gue hidup. Lo bikin gue tertawa, lo bikin gue berani, lo satu-satunya yang nggak takut lihat sisi gelap gue dan tetap bilang 'gue mau di sini'."

Dia tarik gue pelan ke pelukannya. "Kalau gue cuma kasihan, gue nggak akan repot-repot jaga lo. Kalau gue cuma kasihan, gue nggak takut kehilangan lo kayak sekarang. Lo pikir gue mau siapa yang ada di samping gue? Lo, Luna. Cuma lo."

Air mata gue turun, tapi kali ini bukan karena sedih. Gue peluk dia balik erat. "Maaf… gue cuma takut."

"Gue tahu," dia usap rambut gue lembut. "Takut itu wajar. Tapi jangan pernah ragu sama perasaan gue, oke?"

Gue mengangguk di dadanya. "Oke."

Tapi gue tahu — Kirana nggak akan berhenti di sini. Dia udah nunjukin dia nggak main-main. Dan gue harus siap hadapi apa pun yang dia lakukan selanjutnya. Bukan buat buktiin ke orang lain… tapi buat buktiin ke diri gue sendiri — dan ke Arka — kalau gue pantas berdiri di sampingnya.

 

semoga kalian suka yaa sama cerita guee yaa walau asal asalan sihh, makasih semua atas dukungan kalian semua💜

JANGAN LUPA BUAT APA???

YAA JANGAN LUPA BUAT VOTE, LIKE SUBSCRIBE DAN KOMEN DONG HIHI𓂂ɞ̴̶̷ ₃ ɞ̴̶̷𓂂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!