NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Mobil mewah ayahnya melintas di depan rumah. Tidak berhenti. Hanya lewat, membelah genangan di aspal yang belum sempat kering, mencipratkan air keruh ke kaki pagar. Suara mesinnya terlalu halus untuk jalan seperti ini, lalu menghilang di tikungan, meninggalkan bau bensin yang tertinggal dan dua jejak cahaya merah yang bergetar di genangan air.

Arhan berdiri lama di teras. Payung di tangannya menetes. Bahu jaketnya basah. Langkahnya menuju ruang tamu terasa berat, bukan karena lelah, melainkan karena ada sesuatu yang ia bawa pulang yang lebih berat dari tubuhnya sendiri. Tawaran seorang ayah.

Pintu tidak ia banting. Ia tutup pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur di dalam rumah.

Di kamar, Anya bersandar di tumpukan bantal. Sebuah novel terbuka di pangkuannya. Novel yang Arhan tulis sebelum menikah, sebelum kursi roda, sebelum semua janji-janji tentang masa depan itu diuji. Sampulnya sudah lecek, punggungnya retak.

Anya mendongak.

"Kamu sudah lama di luar," katanya.

Arhan mencoba tersenyum. Senyum yang ia latih di depan kaca mobil tadi agar terlihat normal.

"Kenapa belum istirahat?" tanyanya.

Anya menutup buku dengan jari sebagai pembatas halaman. "Ayahmu sudah pulang, Han? Tadi aku lihat mobilnya lewat."

"Sudah, An." Arhan duduk di tepi ranjang. Kasur empuk itu sedikit turun oleh beratnya. "Dia hanya mau tahu kondisiku."

Kebohongan itu keluar begitu mudah. Ia membencinya. Ia benci betapa mudahnya ia berbohong.

Anya meraih tangannya. Tangan Arhan dingin, basah oleh hujan.

"Tanganmu dingin sekali," kata Anya. Ia menggenggamnya dengan kedua tangannya, mencoba menghangatkan. "Itu lebih baik, Han. Setidaknya ayahmu masih memikirkanmu sebagai anaknya."

Arhan menatap genggaman itu. Tangan Anya pucat, urat-urat halusnya terlihat, tapi hangatnya nyata.

"Tapi An..." Kata-kata itu hampir keluar. Tentang amplop. Tentang secarik kertas di dalamnya yang berisi syarat.

Tentang Dokter Alfred. Tentang tawaran ayahnya: semua biaya pengobatan Anya akan dibayar lunas, rumah sakit terbaik, dokter terbaik, asalkan Arhan meninggalkan Anya. Kembali ke rumah besar. Kembali menjadi anak yang patuh.

Anya menahan bibirnya dengan jari telunjuk. Gerakan yang selalu ia lakukan setiap Arhan ingin mengatakan sesuatu yang berat.

"Ssttt... aku tidak peduli apa yang ayahmu katakan di luar tadi," bisiknya. "Yang penting kamu di sini. Sampai detik ini kamu di sini, Han."

Arhan menunduk. Dadanya sesak.

"Berbeda dengan ayah dan ibumu, An. Mereka selalu baik padaku."

"Karena kamu merawat anaknya," jawab Anya pelan. Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Arhan, kalimat itu seperti pisau kecil yang masuk pelan-pelan. Merawat. Kata itu.

Hening menggantung di kamar. Hanya suara tetesan air dari payung di ruang tamu.

Arhan tidak tahan dengan hening itu. Ia ingin memecahkannya dengan sesuatu yang hidup.

"Hujan sudah reda, An. Kita jalan keluar, ya? Cari udara."

Mata Anya yang tadinya sayu, berbinar. Binaran yang sudah lama tidak Arhan lihat.

"Boleh, Han. Aku ingin keluar."

"Tunggu sebentar, aku ambil kursi roda."

Gudang belakang agak berantakan. Kardus-kardus berisi naskah-naskah lama, buku-buku yang tidak laku, debu. Arhan menarik kursi roda, mengelap debu di pegangannya dengan telapak tangan. Lalu ia kembali ke kamar dengan mantel krem milik Anya.

"Pakai ini. Angin di luar masih dingin."

Anya mengangguk. Arhan membantu memakaikannya dengan hati-hati. Memasukkan lengannya satu per satu, merapikan kerah mantel, mengancingkan kancingnya dari bawah ke atas. Jari-jarinya bersentuhan. Setelah itu ia mengambil sweater hitamnya sendiri yang tergantung di balik pintu.

"Aku sudah siap," katanya.

"Ayo," jawab Anya.

Arhan mengangkatnya dengan pelan dari ranjang ke kursi roda. Gerakan yang sudah ia hafal di luar kepala, di mana harus menahan, di mana harus menjaga agar tidak sakit. Ia selimuti pangkuan Anya dengan selimut tipis, lalu mendorongnya keluar. Pintu ia kunci.

Jalan masih basah. Roda kursi roda berdecit halus setiap berputar, meninggalkan jejak tipis di aspal.

Mereka berjalan tanpa tujuan yang jelas. Anak-anak kecil bermain dengan perahu kertas di selokan. Seorang ibu menjemur tikar yang masih lembab di pagar. Bau tanah basah bercampur bau gorengan dari kejauhan.

Di dekat minimarket yang lampunya terlalu terang, seorang perempuan muda menggendong bayi. Bayi itu memakai topi rajut kecil, pipinya bulat, matanya melihat ke mana-mana.

Anya berhenti menatap.

"Lucu ya, Han," kata Anya, dagunya sedikit terangkat ke arah bayi itu.

Arhan tahu. Ia tahu ke mana arah kalimat itu akan bermuara. Dulu, sebelum sakit, mereka sering membicarakan nama-nama bayi di atas ranjang sampai tertidur.

Ia terus mendorong kursi roda, melewati perempuan itu, suaranya ia buat ringan.

"Lebih lucu kamu. Selalu menyebalkan."

Anya mengerucutkan bibir. "Aku menyebalkan ya?"

"Kadang yang menyebalkan itu yang paling dirindukan," jawab Arhan.

Tawa kecil keluar dari Anya. Tawa yang membuat dada Arhan terasa sedikit lega.

Saat berbelok ke jalan kecil yang biasanya sepi, mereka melihat cahaya. Bukan cahaya lampu jalan, tapi cahaya dari puluhan bohlam warna-warni yang digantung rendah. Pasar dadakan. Selalu muncul habis hujan. Ada penjual jagung bakar, sate, kue putu yang mengepulkan asap. Ada arena lempar kaleng dan memancing ikan kecil. Orang-orang berkumpul, tertawa, anak-anak berlarian dengan balon.

"Wah, ada pasar," kata Anya, matanya berbinar lagi.

"Kita ke sana?" tanya Arhan.

Anya mengangguk antusias.

Mereka masuk ke keramaian itu. Bau arang jagung bakar bercampur bau manis gula. Arhan mendorong Anya pelan di antara orang-orang. Mereka berhenti di kolam kecil berisi ikan-ikan mas kecil yang berenang cepat. Anya mencoba menyaringnya dengan jaring kecil, gagal, lalu tertawa. Di stand lempar dart, Arhan mencoba melempar dan meleset semua. Anya menertawakannya sampai matanya berair. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, tawa Anya lepas, tidak ditahan oleh rasa sakit di punggungnya atau rasa khawatir.

Setelah puas berkeliling, Arhan melihat sebuah kursi taman di pinggir. Kayunya basah oleh hujan.

Ia mengambil selembar tisu dari saku, mengelap permukaan kursi itu dengan sabar, memastikan kering, baru kemudian duduk. Anya berada di sebelahnya, tetap di kursi rodanya, begitu dekat hingga bahu mereka bersentuhan. Di tangan Arhan ada sebungkus popcorn, di tangan Anya juga. Popcorn manis yang masih hangat, uapnya naik tipis di udara dingin.

"Seru ya, Han," kata Anya, napasnya masih agak terengah karena terlalu banyak tertawa.

"Iya," jawab Arhan. Senyumnya kali ini bukan paksaan. "Aku sampai lupa rasanya capek."

Anya mendongak menatap langit. Langit masih mendung, tapi di ujung barat ada semburat jingga yang mencoba bertahan, cahaya terakhir hari itu.

"Aku ingin begini terus," ucap Anya, suaranya pelan, seperti doa. "Selamanya bahagia seperti ini. Sama kamu, Han."

Arhan menoleh menatapnya. Wajah Anya diterpa cahaya jingga itu. Cantik, pucat, dan penuh harap.

Ia tidak bisa menjawab. Kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Amplop coklat di saku jaketnya terasa semakin berat, semakin panas.

Ia hanya menunduk, menarik napas panjang yang bergetar, menatap popcorn hangat di tangannya yang perlahan mulai mendingin.

"Semoga doa kita didengarkan ya, An," bisiknya, hampir tidak terdengar.

Dan di dalam hatinya, di tempat yang tidak bisa didengar siapa pun, bahkan oleh Anya yang duduk begitu dekat, ia mengucapkan kalimat yang sama berulang-ulang:

Maafkan aku, Anya. Maafkan aku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!