NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak
Popularitas:114.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Suasana di dalam ruang sidang semakin menegang saat Majelis Hakim mulai bermusyawarah singkat. Hakim Ketua membetulkan letak kacamatanya, lalu menatap tajam ke arah Klara yang tampak mulai gelisah di kursinya. Berdasarkan jalannya persidangan, hakim menilai jika sidang ini tidak secepatnya diselesaikan, maka pihak penggugat akan terus bertindak semena-mena serta mengulur waktu dengan melemparkan tuduhan-tuduhan baru yang tidak berdasar terhadap pihak tergugat.

Hakim Ketua kemudian mulai membacakan poin-poin pertimbangan putusan.

"Menimbang bahwa berdasarkan bukti-bukti autentik yang diajukan oleh pihak tergugat, fakta hukum di lapangan menyatakan dan membuktikan secara sah bahwa Saudari Shanum sama sekali bukanlah selingkuhan dari saudara Daniel Lee" urai Hakim Ketua dengan suara baritonnya yang tegas dan berwibawa.

"Majelis Hakim menilai bahwa seluruh tuduhan yang dilayangkan oleh pihak penggugat, Saudari Klara, tidak memiliki landasan hukum yang kuat, tidak didukung oleh bukti fisik yang sah, dan dinyatakan sebagai tuduhan fiktif belaka."

Klara menggelengkan kepalanya perlahan, wajahnya kian memucat.

"Memperhatikan faktor kesejahteraan mental dan fisik anak, serta menimbang fakta bahwa pihak penggugat telah terbukti secara sah pergi meninggalkan bayinya yang baru berusia satu minggu setelah dilahirkan, maka Majelis Hakim memutuskan menolak seluruh gugatan banding dari pihak penggugat, dan hak asuh atas anak bernama Zivana Anastasia Lee tetap dimenangkan secara mutlak oleh Saudara Daniel!" tegas Hakim Ketua. "Keputusan ini bersifat inkrah, mutlak, dan tidak dapat diganggu gugat!"

Tok! Tok! Tok!

Palu sidang diketuk keras sebanyak tiga kali, menggema di seluruh penjuru ruangan.

Klara seketika lemas, ia menatap tak percaya ke arah majelis hakim sebelum akhirnya tangisnya pecah secara histeris. Ia menutup wajahnya, merutuki kekalahannya yang telak. Namun penderitaannya tidak berhenti sampai di sana. Hakim kemudian membacakan bahwa tuntutan balik dari Pengacara Jacob mengenai pasal pencemaran nama baik serta fitnah keji yang dilayangkan Klara kepada Shanum telah resmi diterima oleh pengadilan. Kasus pidana tersebut kini telah diproses dan Klara hanya tinggal menunggu waktu untuk panggilan dari pihak kepolisian.

Sony yang berada di samping Klara langsung melepaskan rangkulannya, buru-buru memalingkan wajah karena enggan ikut terseret dalam kasus hukum yang memalukan ini.

Saat persidangan resmi ditutup dan para hadirin mulai berdiri, Klara yang emosinya sudah meledak tidak bisa lagi menahan diri. Dengan rambut yang sedikit berantakan dan air mata yang merusak riasan wajahnya, ia berjalan tertatih menghampiri meja Daniel dan Shanum. Petugas keamanan pengadilan bahkan harus bersiaga di belakangnya.

Klara menatap Daniel dan Shanum dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa dendam dan kebencian yang mendalam.

"Akan ku balas perbuatanmu, Daniel! Kau tidak akan pernah bisa hidup tenang setelah ini!" teriak Klara berapi-api, lalu pandangan matanya beralih lurus menembus manik matanya Shanum.

Sembari menyunggingkan senyum seringai yang tampak tidak waras, Klara menunjuk wajah Shanum. "Dan kau... wanita jal4ng! Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa bahagia hidup bersama pria cacat seperti Daniel! Ha... ha... ha! Kalian berdua pantas membusuk bersama!" makinya lantang, diakhiri dengan tawa histeris yang menggema saat petugas keamanan akhirnya menarik paksa tubuhnya untuk keluar dari ruang sidang.

Mendengar makian kasar bernada ancaman itu, Daniel hanya berdiri tegak dengan wajah sedingin es, sama sekali tidak berniat membalas ucapan mantan istrinya yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Namun, reaksi yang berbeda justru ditunjukkan oleh Shanum. Ia seketika terkejut dan mematung di tempatnya berdiri. Langkah kakinya mendadak terasa berat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut akan ancaman Klara, melainkan karena satu kata asing yang baru saja didengarnya.

'Pria cacat? Apa maksud perkataan Klara barusan?' batin Shanum kebingungan setengah mati.

Shanum membalikkan tubuhnya sedikit, menatap lekat-lekat susunan fisik suaminya dari bawah hingga ke atas. Di matanya, sosok Dokter Daniel adalah definisi dari pria yang sempurna tanpa cela. Pria itu tampan, memiliki postur tubuh yang tegap dan atletis, cerdas, berwibawa, dan seorang dokter spesialis jantung yang sangat dihormati. Tidak ada satu pun bagian dari tubuh atau fisik Daniel yang menunjukkan kekurangan.

Melihat Daniel yang kini sibuk menjabat tangan Pengacara Jacob dengan ekspresi tenang seolah tidak terjadi apa-apa, Shanum dirundung rasa penasaran yang teramat besar. Ada rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan oleh suaminya dan Klara di masa lalu mereka? Sebuah tanda tanya besar kini resmi tertanam di dalam benaknya Shanum, mengusik kedamaian hatinya di tengah kemenangan sidang hari itu.

*

*

Setelah ketegangan persidangan yang menguras emosi itu mereda, Daniel dan Shanum akhirnya melangkah keluar dari gedung pengadilan. Namun, alih-alih langsung pulang ke rumah, Daniel memutar kemudi mobilnya menuju sebuah restoran keluarga yang letaknya tidak jauh dari sana. Perut Shanum sendiri sudah mulai berbunyi, keroncongan akibat menghadapi persidangan yang cukup panjang dan penuh dengan drama melelahkan itu.

Sepanjang perjalanan singkat hingga mereka duduk di salah satu sudut restoran yang nyaman, Shanum lebih banyak diam. Ia memaku pandangannya pada meja kayu di hadapannya, enggan membuka suara. Sikap tertutup Shanum ini tak pelak membuat Daniel semakin dilanda rasa canggung dan bersalah.

Kecanggungan itu sedikit terpecah saat seorang pelayan datang menghampiri meja mereka sambil membawakan buku menu.

Daniel berdehem pelan, mencoba memberanikan diri. "Kamu mau pesan apa, Num?" tanyanya lembut, menatap Shanum yang duduk di seberangnya.

Shanum mendongak sebentar, lalu menjawab dengan nada datar namun sopan. "Apa saja, Pak Dokter. Yang penting bukan makanan seafood."

Daniel mengangguk paham. Ia kemudian memesan beberapa menu daging sapi, ayam, dan sayuran spesial di restoran tersebut. Tak butuh waktu lama, beberapa pelayan datang silih berganti membawakan pesanan. Seketika, meja makan yang tadinya kosong kini penuh dengan berbagai hidangan enak yang aromanya sangat menggoda selera.

Shanum terbelalak menatap deretan piring di depannya. "Kenapa anda memesan makanan sebanyak ini?"

"Ini sebagai bentuk perayaan kecil-kecilan atas kemenangan kita di persidangan tadi," jawab Daniel hangat sembari melemparkan senyum manisnya.

Melihat senyuman tulus yang begitu menawan dari sang dokter, Shanum buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia merutuki diri di dalam hati, bertekad tidak boleh lagi terhipnotis oleh pesona dokter tampan itu setelah rasa kecewanya kemarin.

"Pokoknya, kamu harus habiskan semua makanan ini. Tenang, ada aku yang akan membantumu menghabiskannya," imbuh Daniel lagi.

Melihat Shanum yang mulai melunak, sikap Daniel yang sempat kaku perlahan mencair. Sisi ceria dan perhatian yang selama ini ia sembunyikan kembali terlihat jelas setiap kali ia bersama Shanum.

Shanum pun mulai menyuap makanannya dengan lahap, begitu pula dengan Daniel. Di antara hidangan yang disajikan, terdapat satu menu sup iga dengan kuah sambal korek yang cukup membakar lidah. Shanum yang memang menyukai tantangan rasa pedas terus menyendok kuah tersebut hingga dahinya mulai dihiasi butiran keringat halus.

Melihat hal itu, Daniel secara spontan meraih selembar tisu. Dengan gerakan yang teramat lembut, ia memajukan tubuhnya dan mengelap kening serta pelipis Shanum yang berkeringat.

Shanum seketika membeku di tempatnya, sendok di tangannya tertahan di udara.

"Kamu jangan terlalu banyak memakan makanan pedas, Num. Tidak baik untuk lambungmu," tegur Daniel dengan nada protektif khas seorang dokter sekaligus suami.

Shanum menelan ludahnya gugup, perlahan menjauhkan wajahnya dari tangan Daniel. "Maaf, Pak... saya suka kalap kalau sudah ketemu makanan pedas," jawabnya sambil mengibaskan sebelah tangan di dekat bibirnya yang mulai memerah alami akibat sensasi panas.

Pandangan mata Daniel mendadak terkunci pada bibir tipis Shanum yang memerah dan sedikit basah itu. Netranya menatap intens, ingatannya seketika berputar mundur pada momen pagi di kamar pengantin. Ciuman lembut yang tidak terencana, namun berhasil menggetarkan seluruh relung hatinya. Sebuah ciuman manis yang sampai detik ini sama sekali tidak bisa ia lupakan, dan jujur, ada bagian dari dirinya yang egois yang ingin mengulangi peristiwa itu lagi saat ini juga.

Namun, sedetik kemudian bayangan makian Klara di ruang sidang tadi kembali bergaung di kepala Daniel. 'Pria cacat...'

Daniel seketika tersentak, tatapannya meredup dalam kepedihan yang tersembunyi. Ia teringat akan kenyataan pahit tentang dirinya sendiri. Daniel menghela napas panjang dan berat, menyadari bahwa ia mungkin adalah pria yang ditakdirkan tidak akan pernah bisa membahagiakan wanita mana pun secara utuh. Dengan perasaan berkecamuk, Daniel menundukkan kepalanya dan melanjutkan makannya dalam diam.

Sementara itu, Shanum yang sempat memperhatikan gerak-gerik suaminya, diam-diam menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Hatinya menghangat melihat perhatian-perhatian kecil yang Daniel tunjukkan padanya sejak tadi.

Sembari mengunyah makanannya, Shanum menatap Daniel yang kembali terdiam. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia mulai berandai-andai.

'Jika saja pernikahan ini bukanlah pernikahan kontrak di atas kertas... mungkin saat ini aku sedang merasakan kebahagiaan yang paling sempurna di dunia.'

Bersambung...

1
Kusii Yaati
dan... Daniel kayaknya kamu butuh obat tensi deh,biar emosimu agak terkontrol 😩
Patrick Khan
aku suka😍😍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih akak cantik 🙏😉
total 1 replies
Patrick Khan
cemburu emang merusak akal kok..🤸🤸🤸
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: setuju
total 1 replies
Patrick Khan
nangis q nenek ketemu natan..eh oas ketemu sanum dredeg kan tenan ..gelut meh🤣🤣🤣🤸
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: gelut kak, biar seru 🤣🤣🤣
total 1 replies
~Ni Inda~
Yaaaa...bodohhh
Aihhh...dokter kok bodoh
Beginilah klw emosi menguasai diri...logika mati apalagi matahati...tak dihiraukan
Minta maaf sm abang ipar...obatin luka yg kau beri tadi...baik²in dia...jgn sampai Shanum dibawa pergi 🤣🤣🤣
~Ni Inda~: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 6 replies
Patrick Khan
wes karepmu lah sanum danil😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
~Ni Inda~
Weslah Niel
Seterahmulahhh
Asal jgn nyesel aja ntar
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Patrick Khan
wes km golek perkoro num🤣🤣🤣
Patrick Khan
sanum golek perkoro..gk tau jujur yoan gregetan q😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: awas nanti tensimu naik, kak 🤣🤣🤣
total 3 replies
Teh Euis Tea
maka Daniel jgn emosi aj di duluin klu udah begini kan jd malu, harusnya km dengerin dulu cerita Nathan kan km seorang dokter berpendidikan tinggi tp kalah sm emosi
deuhh jd pengen nyubit othor saking gemesnya🤭🤭🤭🤭🤭
Kusii Yaati: betul Thor, mereka klop sama" menjengkelkan ,aq aja sampai gregetan bawaannya pengen misuh" 😂
total 6 replies
Lisa
Makanya dengerin dulu penjelasan dari Nathan..jgn keburu emosi aj Daniel..
dewi rofiqoh
Mungkin jika Nathan gk langsung main peluk, daniel gk bakalan langsung ngamuk🤔🤔
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah betul, kak 🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Ilfa Yarni
makany Daniel jadi laki2 jgn emosian tuh ka alu sendiri jadinya bukannya cari tau siapa Natha alah lgsg baku ha tam aja hadeeeh trauma sih trauma tp ga gitu jg kali
Ariany Sudjana
katanya dokter itu Daniel, tapi bodohnya kebangetan. katanya punya banyak anak buah, tapi ga mau cari tahu kebenarannya, sebelum bertindak, dasar bodoh
sri hastuti
akhirnya terungkap ,jd daniel bisa lega, dan traumanya bisa sembuh, sebab shanum tdk berbuat macam2, tetap setia , karena nathan adalah kakaknya kandung 👍👍
Lisa
Daniel ini emosi melulu..seharusnya ditanya dulu kenapa Nathan memeluk Shanum..
Teh Euis Tea
aku ikutan sedih 😢😢😢😢😢 dgn ucapan Daniel yg merendahin Shanum, emang Shanum salah dan Daniel trauma tp ya ga begitu jg x Daniel klu udah gitu jd nyakitin hati shanum
Ariany Sudjana
bodoh kamu Daniel, dokter tapi emosi tinggi, kamu banyak punya anak buah, tapi bukannya cari kebenarannya, malah sibuk menghajar orang lain
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: dia gk kepikiran kesitu kak, logikanya tertutup oleh rasa cemburunya
total 1 replies
Ilfa Yarni
tuhkan shanum benarlah arumi adiknya nayhan tp aka kah shanum percaya dgn apa yg dikatakan nathan nantinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: semoga saja percaya Bun
total 1 replies
Ani
kenapa nenek siti gak dibawa sekalian sih.. kan jadi salah paham lagi.. Daniel kok yo gak bisa nahan emosi sih..
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aku juga genes kak🤣😉
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!