Area Dewasa
Sebagai putri kesayangan dari pengusaha kaya keluarga Alexander membuat hidup Sea Caroline Alexander menjadi begitu bebas dan liar. Tidak ada yang berani melarangnya untuk melakukan ini dan itu. Karena kebebasan itu membuat Sea menjadi wanita nakal dan mesum. Setiap hari pekerjaannya hanya ke kampus dan bersenang-senang bersama sahabat prianya, seperti balapan liar dan club malam.
Melihat kebebasan Sea, membuat Jhon berinisiatif untuk menikahkan putrinya dengan anak sahabat lamanya, Seorang presedir tampan namun sangat polos.
Sea menolak keras pernikahan itu. Dia tidak suka dengan pria polos. Walaupun begitu Jhon tetap melangsungkan pernikahan itu.
Bagaimana dengan nasib pernikahan Sea? Akankah Sea akan mencintai presedir polos itu? Atau maukah suaminya menerima keadaan Sea sebagai wanita nakal dan liar?
.
.
.
Akan banyak kata-kata vulgar serta beberapa adegan dewasa dalam cerita ini. Bijaklah dalam membaca!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EbieMai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecil atau Besar?
Melihat istrinya sudah masuk ke dalam kamar mandi, secepat kilat Gava meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Sudah saatnya pria itu untuk belajar. Membuka aplikasi pintar, yang sering di gunakan manusia bumi untuk bertanya atau mencari berbagai informasi, siapa lagi kalau bukan Mbah Google.
Mari kita mulai belajar, Gava!
Matanya begitu fokus membaca huruf-huruf yang berjejer rapih di benda pipih itu. Otak polosnya bekerja keras memahami materi seks yang ia cari, mulai dari seks dasar sampai seks yang sesungguhnya.
Huh,,, ternyata belajar seks lebih sulit daripada belajar bisnis.
Jarinya mengklik bagian gambar, mata Gava terbelalak lebar menatap deretan gambar-gambar vulgar yang seharusnya tidak di lihat oleh mata sucinya.
Oh God, ampuni dosa ku.
Sekarang mata suci Gava yang selalu ia jaga telah ternodai. Di ponselnya terpampang begitu jelas gambar manusia tanpa malu yang sedang berhubungan badan dengan berbagai macam gaya. Hingga mata Gava tertuju pada benda pusaka yang di miliki oleh setiap pria, "Besar sekali." Gumamnya.
Gava melirik benda pusaka miliknya sendiri, membuka sedikit boxer yang ia pakai, matanya mengintip benda pusaka miliknya yang sedang tertidur lelap. "Punyaku saja tidak sebesar itu." Ucapnya sedikit kecewa.
"Bagaimana jika istri ku tidak menyukainya?" Karena tadi Gava membaca artikel seks, artikel itu berkata jika wanita lebih menyukai yang besar daripada kecil, yang besar lebih menantang dan lebih memuaskan gairah seorang wanita. Pikiran Gava menerawang jauh membayangkan jika dia dan istrinya ingin melakukan hubungan badan dan pada saat istrinya melihat benda pusaka miliknya yang tidak besar, istrinya tidak minat lagi melakukan hubungan badan, semuanya gagal total.
Tidak! itu tidak boleh terjadi!
"Aku harus membuat dia besar terlebih dahulu. Tapi bagaimana caranya?" Pria itu kembali bertanya dengan Mbah Google tentang cara-cara membesarkan benda pusaka miliknya. Mbah Google menjelaskan begitu banyak cara, mulai dari cara lambat sampai cara cepat.
Gava sampai di buat pusing tujuh keliling, ternyata belajar seks itu tidak semudah di bayangkan. Apalagi Gava pria polos yang sedari dulu tidak pernah belajar seks. Pada saat sudah memasuki masa sekolah, orangtuanya Gava hanya memfokuskan anaknya untuk belajar bisnis, tidak dengan pelajaran lainnya. Hanya bisnis dan bisnis, oleh karena itu Gava begitu bodoh tentang seks dan hanya menjadi pria polos yang begitu manja.
Sepertinya aku harus belajar dengan ahlinya langsung.
"Sedang lihat apa sih? Sepertinya seru sekali." Kemunculan tiba-tiba Sea membuat Gava memberhentikan pembelajarannya. Pria itu terkejut melihat istrinya sudah berdiri tidak jauh dari posisi ia duduk. Dengan cepat Gava mematikan ponselnya agar Sea tidak tahu kalau ia sedang belajar memahami seks. Bisa malu ia jika istrinya tahu.
"Tidak apa-apa." Ucap Gava sambil meletakkan kembali ponselnya di atas nakas samping ranjang.
Sea menatap Gava penuh curiga, tidak biasanya suaminya sebegitu fokus melihat ponsel, "Kamu selingkuh?" Tuduhnya.
Gava menggeleng, "Tidak! Tidak berani aku selingkuh."
Bagus. Awas aja jika ketahuan selingkuh, aku potong kecil-kecil puyuh mu.
"Terus tadi lihat apa? Apa sebegitu menariknya sampai tidak menyadari kehadiran ku."
"Aku tadi hanya melihat statistik perkembangan perusahaan." Bohong Gava.
"Tidak bohong?"
Maaf Sea, aku harus bohong.
" Tidak. Mari sini!" Gava menepuk ranjang mengintruksikan agar Sea duduk di sampingnya.
Sea menurut, naik ke atas ranjang dan duduk bersama suaminya. Dengan manja Gava meletakkan kepalanya di bahu Sea. Sea sudah mengerti, itu artinya suaminya ingin di manja, satu tangannya mengelus-elus kepala Gava.
"Sea boleh tanya tidak?" Gava akan bertanya langsung kepada Sea kalau wanita itu menyukai yang kecil atau lebih besar.
"Tanya apa?"
"Kamu lebih suka mana, yang kecil atau yang besar?"
Ehh, dia tanya apa sih? Gak jelas banget.
"Suka yang besar." Asal jawab aja kali ya, lanjut Sea dalam hati.
Tuh kan! Istriku lebih suka yang besar. Pokoknya aku harus cepat-cepat membesarkannya.
"Kenapa suka yang besar?"
Pertanyaan aneh apa lagi sih itu?
"Karena besar lebih memuaskan." Bodoh amat, yang penting gue sudah jawab. Daripada dia nangis, bisa gawat urusannya.
Tuh kan, sama seperti penjelasan Mbah Google, batin Gava.
"Apa kamu akan ninggalin aku karena aku belum kasih hak kamu?"
Ehh kenapa bertanya seperti itu? Gawat. Hati-hati Sea, lu ngejawab pertanyaannya, salah dikit bisa habis riwayat lu.
"Kenapa harus ninggalin kamu. Walaupun kamu belum ngasih hak aku sebagai seorang istri, sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi suami ku dan tidak akan pernah pergi ninggalin kamu." Jawab Sea sungguh-sungguh. Menghadap Gava, kedua tangannya mengakup wajah pria itu. "Kamu kenapa bertanya seperti itu? Ada sesuatu yang menggangu pikiran mu?"
Gava mengangguk, memang benar ucapan kedua sahabatnya tadi siang mengganggu pikiran Gava. "Kata Satria dan Jefan, bila sudah menikah berhubungan badan itu cukup penting, ada kebutuhan yang harus di salurkan. Kamu tahu sendiri kan kalau aku tidak tahu mengerti tentang seks. Nah, aku takut kamu akan ninggalin aku karena aku masih belum memberikan hak kamu sebagai seorang istri." Jujurnya.
Huh, suami aku jujur sekali.
Sea tersenyum mendengar pengakuan suaminya, mengecup sekilas bibir Gava. "Itu kata mereka, bukan kata ku. Seperti yang aku bilang tadi, walaupun kamu belum memberikan hak ku, kamu akan tetap menjadi suami ku dan aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sampai maut memisahkan kita. Aku mencintai mu melebihi hak ku."
"Terimakasih, aku janji secepatnya akan memberikan hak kamu sebagai istri. Tapi aku butuh waktu, kamu tungguin aku yah!"
"Iya."
Gava tersenyum senang, ia sungguh bersyukur mendapat istri pengertian seperti Sea. Jarang sekali ada wanita sebaik, sesabar dan sepengertian seperti istrinya. Pria itu memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang lengkap dengan ciuman di kening Sea.
"Aku punya satu pertanyaan lagi." Ucap Gava ketika sudah melepas pelukannya.
Apalagi sih? Banyak sekali pertanyaan mu, seperti wartawan aja.
Walaupun sudah merasa kesal, Sea masih bersabar, harus bersabar, yang di hadapannya bukanlah pria dewasa seutuhnya.
"Apalagi sayang?" Ucap Sea selembut mungkin, walau tangannya sudah gatal ingin menonjok wajah polos dari pria di hadapannya itu.
"Apa kamu akan selalu menerima sifat aneh ku yang manja dan cengeng ini?"
Nyadar juga dia.
"Kamu suamiku dan aku akan selalu menerima apa yang ada dalam diri kamu."
Puas polos, puas!
Gava kembali memeluk tubuh Sea. Pria itu sungguh senang istrinya menerima seluruh kekurangannya, "Terimakasih, aku sangat mencintaimu mu."
"Aku juga." Sea membalas pelukan suaminya.
Asal tidak menyebalkan saja.
***
Hai para readers,,,terimakasih sudah membaca cerita aku😊
Jangan lupa untuk like dan vote agar aku lebih semangat lagi update😉
Salam cinta dari Sea mesum dan Gava polos😁💐
tapi endingnya sad😭