NovelToon NovelToon
Kaisar, Pelayan Hanya Ingin Menjalankan Misi!

Kaisar, Pelayan Hanya Ingin Menjalankan Misi!

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Pembaca Pikiran / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zhuzhu

Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.

Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.

Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.

Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.

Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"

"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.

Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 11: AKU SANGAT INGIN MEMINDAHKANNYA KE ISTANAKU

Pagi harinya, Liu Yan terbangun dalam keadaan setengah linglung. Kepalanya terasa berat dan pundaknya terasa pegal.

Dia memegangi kepalanya dan menekannya perlahan, memastikan semua kesadaran telah kembali kepada dirinya. Dia menghela napas, sembari mencoba mengingat apa yang telah terjadi malam tadi.

“Kau sudah sadar?”

Feng Yuzhen masuk sambil membawa sebaskom air hangat yang telah disiapkan pelayan. Raut wajah Liu Yan terlihat lebih baik dari kemarin. Sepertinya sudah benar-benar pulih.

“Aku pikir kau akan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tenang. Tak disangka pelayan kecilmu ternyata bisa membuatmu tenang hanya dalam beberapa menit. Yang Mulia, kau benar-benar menemukan orang yang menarik.”

“Pelayan kecil?”

“Mei Zhiyi, bukankah dia pelayanmu?”

Liu Yan ingat bahwa semalam dia ingin menangkap Mei Zhiyi karena menguping pembicaraannya. Tapi, tidak jadi karena dia tiba-tiba kehilangan kendali.

Samar-samar dia ingat kalau semalam memang Mei Zhiyi yang membantu Duan Jiu menekan dirinya yang lepas kendali.

“Dia menggunakan cara paling cepat dengan membiusmu. Saat aku datang, kau sudah tertidur. Itu memudahkanku karena aku tidak perlu memberimu obat dan memukulmu sampai pingsan.”

Kepala Liu Yan masih sedikit pusing. Dia mencuci wajahnya dan mengelapnya dengan handuk lembut. Feng Yuzhen membantunya, mengambilkan sehelai jubah untuk menutupi tubuhnya.

“Jika seperti ini, kau terlihat seperti selir sungguhan,” ucap Liu Yan.

“Omong kosong. Dari mananya terlihat seperti selir sungguhan?” elak Feng Yuzhen.

Keduanya malah tertawa bersama-sama. Jika bukan karena diplomasi dua negara, mereka tidak akan menjalani hubungan yang rumit ini.

Tapi untungnya, hubungan rumit itu juga menguntungkan kedua belah pihak. Feng Yuzhen menjadi pelindung Liu Yan dari serangan selir lain, dan Liu Yan juga memberinya kebebasan untuk mengembangkan diri sembari melindunginya di kedalaman tembok istana.

“Omong-omong, aku sangat tertarik pada pelayan kecilmu itu. Aku sangat ingin memindahkannya ke istanaku. Yang Mulia, apa kau tidak keberatan melepaskan pelayan itu untukku?”

Kening Liu Yan mengernyit tidak suka. Berbagi boleh saja, tapi tidak untuk yang satu itu. Semua pelayan di Istana Zhaoyang boleh dibawa, kecuali Mei Zhiyi.

“Kalau kau ingin punya teman bermain yang cocok cari saja sendiri. Jangan mengusik orang di istanaku.”

“Dia kan hanya seorang pelayan. Apa kau tidak ingin mengabulkan permintaanku demi dia?”

“Sudah kubilang jangan mengganggu orang di istanaku. Li Dezai, antarkan Selir Feng ke istananya!”

Feng Yuzhen lalu tertawa renyah. Astaga, baru kali ini dia melihat Liu Yan begitu ingin mempertahankan seseorang.

Padahal yang dia minta hanya seorang pelayan, bukan selir atau orang berkedudukan tinggi dan berpengaruh. Yah, walau harus ia akui pelayan itu pasti bukan pelayan biasa.

“Aku hanya bercanda. Aku mana berani menyentuh orang-orangmu. Sudahlah, sekarang kau sudah baik-baik saja. Aku akan kembali ke istanaku. Aku rasa sebentar lagi ibumu akan mengirim utusan untuk memanggilku.”

“Tidak usah pergi kalau tidak ingin.”

“Mana bisa. Beberapa hari ini aku sudah absen dari memberi salam pada ibumu. Sekalian aku ingin melihat apakah para selirmu sudah ada kemajuan atau belum dalam merencanakan mendekatimu.”

“Benar-benar keras kepala.”

Feng Yuzhen benar-benar pergi. Li Dezai membantu Liu Yan merapikan diri setelah bersih-bersih.

Hari ini tetap harus pergi rapat istana dan melihat apakah ada hal baru untuk dilaporkan atau tidak.

Kening Liu Yan sedikit mengernyit saat dia mendapati pelayan yang mengantarkan sarapan untuknya sudah ganti orang. Bukan Mei Zhiyi lagi, tapi pelayan yang sebelumnya selalu menjadi pengantar makanan untuknya.

Entah kenapa rasanya selera makannya jadi hilang. Dia bahkan tidak menyentuh makanan itu sama sekali, membuat pelayan pengantarnya berlutut ketakutan dan tubuhnya gemetar.

“Di mana Mei Zhiyi?” tanya Liu Yan pada Li Dezai.

“Nona Mei meminta izin untuk tidak bekerja hari ini, Yang Mulia.”

"Dia baru bekerja beberapa hari tapi sudah minta libur?"

Li Dezai tidak menjawab karena tidak tahu harus menjawab apa. Pikirnya, bukankah itu karena Kaisar sendiri?

Liu Yan mengira mungkin Mei Zhiyi ketakutan dan terkejut karena kejadian semalam. Dia juga sedang menghindar untuk menghilangkan ketakutan semalam yang bisa membuatnya kehilangan kepala.

Begini juga bagus. Liu Yan harus membiarkan Mei Zhiyi tahu bahwa menjadi pelayannya tidaklah semudah yang dibayangkan. Harus ada semacam kekuatan yang dimiliki untuk bisa bertahan.

“Nanti suruh orang antarkan beberapa hadiah untuknya. Katakan saja bahwa itu balasan atas kebaikannya semalam,” ujar Liu Yan.

“Baik, Yang Mulia.”

Li Dezai menahan senyum. Tadi saja terlihat menegur, tapi sekarang menyuruhnya memberi hadiah. Kaisar benar-benar suka berubah pikiran.

Duan Jiu yang mendengar Mei Zhiyi akan diberi hadiah sedikit memberengut. Tadi malam selain Mei Zhiyi, dia juga ikut berkontribusi menenangkan Kaisar. Jika dia tidak mengikat Kaisar dengan tali, Mei Zhiyi mana mungkin punya kesempatan untuk menyuntikkan obat bius padanya.

Tapi, sudahlah. Duan Jiu hanya akan kena pukul kalau mengeluh. Dia mengikuti Liu Yan sampai ke ruang rapat, lalu berdiri di sisi paling luar.

Para pejabat tinggi dari beberapa kementerian terlihat sudah siap lebih awal. Semangat mereka dalam menghadiri rapat ternyata memang masih bagus meski usia mereka tidak lagi muda.

“Laporkan jika ada yang ingin dilaporkan, bubarkan jika tidak ada yang ingin disampaikan!”

Suara Li Dezai melengking dalam aula besar itu. Liu Yan memainkan jemarinya, menatap telapak tangan yang masih dibungkus kasa.

Cara pembungkusannya masih bagus. Sepertinya selain menyuntikkan obat bius dan membantunya tenang, Mei Zhiyi juga mengganti pembalut lukanya.

“Yang Mulia, menteri ini ingin melaporkan sesuatu,” ucap Wakil Menteri Pendapatan, Ming Zheng. Orang itu sudah berumur, tapi selama puluhan tahun jabatannya masih saja tidak bisa naik tingkat menjadi menteri utama.

Liu Yan menatapnya dan berkata dengan tenang, “Katakan saja.”

“Yang Mulia, saya mendengar bahwa Raja Yun sedang dalam perjalanan kembali ke ibu kota. Menurut aturan leluhur, seorang raja daerah tidak diperkenankan masuk ke ibu kota tanpa perintah. Hal ini tentu saja melanggar aturan yang sudah turun temurun ditetapkan.”

Bodoh, pikir Liu Yan. Jika tidak membiarkan adiknya masuk ibu kota, bagaimana dia bisa melihat keseruan?

Ming Zheng ini benar-benar merusak suasana. Dia ingin merusak rencananya, ya?

“Perdana Menteri, bagaimana menurutmu? Apakah aku harus menghukum Raja Yun atau tidak?” tanya Liu Yan pada perdana menterinya, Li Sheng.

Orang itu memegang kekuasaan tinggi, dan sebagian besar kekaisaran ini diisi oleh orang-orangnya. Liu Yan selalu waspada padanya. Dia ingin tahu apakah Li Sheng ini juga punya pendapat yang sama dengan Ming Zheng atau tidak.

“Yang Mulia, Raja Yun sudah sepuluh tahun tidak kembali ke ibu kota. Sebentar lagi musim semi akan tiba dan festival akan diadakan. Mengapa Yang Mulia tidak memanfaatkan ini untuk berkumpul kembali dengan keluarga? Bagaimanapun, Raja Yun adalah adik kandung Yang Mulia. Mungkin Raja Yun juga merindukan Ibu Suri dan Anda sehingga terpaksa meninggalkan daerah kekuasaan dan memasuki ibu kota.”

 Liu Yan menatap Li Sheng selama beberapa detik. Tatapan itu terlihat bersahabat, namun orang-orang jelas tahu bahwa antara Kaisar dengan Perdana Menteri terdapat sebuah jurang yang sangat lebar. Beberapa kali kedua orang itu bertentangan dalam pendapat dan kebijakan.

Namun, Perdana Menteri selalu mengambil langkah mundur yang membuat Kaisar terlihat menjadi ‘pemaksa’ di mata orang lain. Saat ini Kaisar malah menanyakan pendapatnya soal kepulangan Raja Yun yang tanpa izin. Jelas-jelas Kaisar ingin mengujinya.

“Kau benar sekali. Adikku sudah lama tidak bertemu ibunya. Jika aku menghukumnya, aku dikatakan tidak berbakti pada ibuku dan tidak senang atas keluargaku. Bukankah begitu, Wakil Menteri Pendapatan?”

“Tapi, Yang Mulia, ini akan membuat Yang Mulia terlihat seperti tidak tegas. Menoleransi seseorang secara terus menerus hanya akan membuat Anda terlihat tidak bijaksana,” tegas Ming Zheng.

“Tidak bijaksana karena terus menoleransi orang, ya. Soal ini aku memang punya sesuatu untuk dikatakan padamu.”

Liu Yan tiba-tiba turun dari kursi naganya yang besar dan tinggi. Dia berjalan menuruni beberapa tangga yang memisahkan lantai utama dengan meja pengadilan.

Ketika dia berjalan, dia seperti Raja Neraka yang turun untuk mengambil nyawa seseorang. Begitu dingin, angkuh, dan agung.

“Aku dengar sepupu jauhmu, yang menjabat sebagai gubernur itu juga sangat suka menoleransi orang. Beberapa hari lalu bukankah dia juga mengirimimu sepeti kain sutera dan dua peti perhiasan? Benar-benar hubungan keluarga yang baik.”

Ming Zheng langsung berlutut dan tubuhnya gemetaran. Matanya agak membelalak, terdapat sebuah ketakutan besar menjalar ke sekujur tubuhnya. Dia tidak berani menatap Liu Yan karena terlalu takut akan keagungan dan kewibawaannya.

“Yang Mulia, ini fitnah…”

Namun tanpa dia sadari, Liu Yan sudah mengambil sebilah pedang dari penjaga istana di aula itu. Dalam gerakan yang sangat cepat, Liu Yan menebas dua jari tangan Ming Zheng. Para menteri membelalak, tidak menyangka atas tindakan Kaisar yang begitu cepat dan spontan.

“Ah, tanganku tergelincir. Aku ini orang yang tidak bijaksana. Kau tidak marah padaku, kan?”

“Menterimu tidak berani,” ucap Ming Zheng dengan suara bergetar. Dia menahan sakit luar biasa karena dua jarinya telah terpotong dan darah mengalir dari tangannya, membasahi jubah pejabat yang ia kenakan.

Kaisar jelas sedang memperingatkan mereka bahwa memprovokasi hubungan keluarga kekaisaran adalah kesalahan besar, dan menerima suap serta membiarkan bawahan berlaku sewenang-wenang adalah kesalahan yang lebih besar lagi. Di aula ini, dia menunjukkan bahwa otoritas tertinggi masih berada di tangannya, dan tidak perlu orang lain mencampuri.

“Duan Jiu, antarkan dia pulang. Sekalian beri tahu keluarganya bahwa mereka pindah saja ke Beinan.”

Duan Jiu mengangguk dan membawa Ming Zheng keluar aula. Selain dipotong dua jarinya, dia juga dipecat dan seluruh keluarganya diasingkan ke Beinan di utara, tempat paling miskin dan paling sulit untuk dijadikan tempat bertahan hidup. Ini adalah hukuman atas kedua dosanya yang dibungkus dengan cara yang paling tidak biasa.

“Ada lagi yang mau kalian laporkan?”

Para menteri menunduk. Ini bukan yang pertama kalinya mereka melihat Kaisar menindak orang secara langsung di tempat.

Ming Zheng juga bukan orang pertama yang kehilangan anggota tubuhnya akibat tebasan Kaisar. Bahkan beberapa tahun lalu pernah ada yang sampai dipenggal langsung di aula ini.

Tapi meski begitu, mereka tetap saja merasa takut. Segalanya harus direncakan dengan hati-hati agar tidak mengusik ketenangan hati Kaisar mereka yang dingin dan sulit ditebak itu. Sedikit saja muncul kesalahan, celah besar akan ditemukan dan mereka akan terancam.

“Oh, posisi Wakil Menteri Pendapatan sekarang kosong. Perdana Menteri, kau saja yang putuskan siapa yang akan mengisinya,” ucap Liu Yan sembari mengelap pedang itu dengan saputangan. Li Sheng mengangguk setelah dia menghela napas.

“Sidang bubar!” teriak Li Dezai.

“Kami mengantar kepergian Yang Mulia Kaisar,” ucap para menteri serentak.

Setelah memastikan Liu Yan sudah meninggalkan aula, semua orang barulah bisa bernapas lega. Li Sheng menghela napas dan menggeleng kepalanya beberapa kali.

Kaisar semakin hari semakin jauh saja cara bertindaknya. Tampaknya, dia harus mencari sesuatu untuk bisa mengendalikannya lagi.

1
Ai
sekejam kejamnya ibu kandung tdk mgkn mencelakai anaknya sendiri meski anak itu ada dari seorg laki2 yg tdk dia suka.. klo cuma mengacuhkan msh bisa ditoleransi tapi ini keterlaluan, klo aku jg akan benci setengah mati sama ibu yg spt itu
Ai: banget banget banget 🤭
total 2 replies
Biyan Narendra
Sempet khawatir banget td sama Mei..
Takut knp knp sama Liu yan
Sun Flower: tenang pemirsa
total 1 replies
Imas Fatimah
kayaknya mereka ini satu ibu beda ayah 🤭😉
Sun Flower: hmmmmmm
total 1 replies
Dyana
bgus ibu suri ni d apa in y... Liu cheg jg mnding d buang jauhhh.. putri ruoxi d nikahnya aj k tmpat jauh ga bs balik lg.... huhhhhhb
Sun Flower: digoreng rame-rame
total 1 replies
Dyana
mg aj putri ruoxi ini bknsahabat zhiyi yg brkhianat... mg aj org baik
Sun Flower: baik gak yaaa
total 1 replies
Ai
tenang mei zhiyi tdk akan mati semudah itu😄
Ai: 🤣🤣🤣🤣lanjut yg bnyk thor
total 2 replies
vivi oh vivi
🤭🤭
Sun Flower: 😄😄😄😄😄
total 1 replies
Biyan Narendra
Semoga Mei baik baik saja
Sun Flower: baik-baik kok
total 1 replies
Biyan Narendra
Makin gondok dong ibu Suri
😁😁😁😁
Sun Flower: darting gak tuh
total 1 replies
Biyan Narendra
bakalan rame nih pestanya
Sun Flower: mau ikut?
total 1 replies
Imas Fatimah
wah...penasaran nih kelanjutannya,up lg thor..
Sun Flower: siappp
total 1 replies
Machsunatul Istianah
hmmm.... mencurigakan putri ruoxi ini🤔
Sun Flower: kenapa hayooo
total 1 replies
Libra
Putri Ruoxi itu musuh Zhiyi di dunia modern ya kk author?
nebak" aja dulu
Sun Flower: coba tebakkk
total 1 replies
Biyan Narendra
🤣🤣🤣🤣🤣
Emang enak di ghibahin sama Mei
Sun Flower: gibahin dalam hati lebih seru, apalagi kalau bisa didengar, mau kesal pun tak berdaya🤣
total 1 replies
Ai
apakah penyerangan mei zhiyi ada hubungannya dg putri ruoxi.. tp knp dan apa alasannya? penasaran ini thor
Ai: ada hubungannya ini pasti soale klo ibu suri ndak mgkn
total 2 replies
Ai
andai kaisar daqi tau yg sebenar nya kampung halaman yg diceritakan mei zhiyi berasal dari dunia yg jauhhh di masa depan gimana respect ya
Ai: klo kaisar daqi ikut pantes klo jd ceo keren pasti y thor😄
total 2 replies
Machsunatul Istianah
Liu zhao atau putri ruoxi itu perpindahan jiwa yao shu🤔
Sun Flower: ayoo tebakkk
total 1 replies
Imas Fatimah
mungkinkah yg menyerang Mei itu putri Ruoxsi?🤔
Sun Flower: apa alasannya cobaa
total 1 replies
Imas Fatimah
kaisar bisa membaca pikiran org lain?atau khusus Mei saja yg bisa dibaca pikirannya?
Sun Flower: cheat khusus untuk Mei Zhiyi
total 1 replies
Machsunatul Istianah
pujian yang ber bahaya 😁
Sun Flower: berbahaya untuk jantung dan hati
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!