NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

​Hari yang paling menentukan bagi Mori akhirnya tiba. SMA Cakrawala 5, rival abadi sekolah mereka, menjadi tuan rumah lomba debat bahasa Indonesia tingkat provinsi tahun ini. Gedung serbaguna SMA Cakrawala 5 sudah dipenuhi oleh ratusan peserta dari berbagai daerah. Atmosfernya sangat kompetitif, penuh dengan gumaman argumen dan aroma ketegangan yang pekat.

​Mori berdiri di belakang panggung, mengenakan seragam kebanggaan sekolahnya dengan almamater yang tersampir rapi. Namun, ketenangannya yang biasanya kokoh kini mulai retak. Jari-jemarinya terasa sedingin es. Ia berkali-kali meremas tangannya sendiri, mencoba menghilangkan rasa gemetar yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

​Vano, yang berdiri di sampingnya sebagai ketua tim, menyadari kegelisahan itu. Tanpa kata, Vano mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Mori yang sedang meremas satu sama lain. Genggaman Vano terasa hangat, stabil, dan penuh dukungan—ciri khas seorang green flag yang selalu tahu kapan pasangannya membutuhkan ketenangan.

​"Tarik napas, Mori. Kamu sudah latihan sangat keras. Kita adalah tim yang kuat," bisik Vano sambil menatap mata Mori dengan lembut.

​Mori menatap Vano dan mencoba tersenyum kecil. Genggaman tangan itu sedikit banyak membantunya untuk kembali menapak di bumi.

​Di deretan kursi penonton, suasana sangat riuh. SMA Garuda mengirimkan tim supporter yang cukup besar. Namun, ada satu sosok yang membuat semua orang menoleh. Lian.

​Si Raja Basket yang biasanya paling malas mengikuti kegiatan akademik atau sekadar duduk diam di kursi penonton jika bukan pertandingan olahraga, kini hadir di sana. Ia duduk di barisan depan dengan jaket hitamnya, matanya tajam menatap ke arah panggung. Jojo yang duduk di sampingnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang sudah "bucin" maksimal itu.

​Lian melihat pemandangan di belakang panggung melalui celah tirai yang terbuka sedikit. Rahangnya mengeras saat melihat tangan Vano menggenggam tangan Mori. Cemburu kembali membakar dadanya, tapi kali ini ia menahannya karena ia tahu ini adalah momen penting bagi Mori.

​Sesaat sebelum acara dimulai dan nama tim mereka dipanggil, Lian tiba-tiba bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju area persiapan, mengabaikan teguran panitia yang melarang penonton masuk ke area tersebut.

​Lian berhenti tepat di depan Mori, membuat Vano terpaksa melepaskan genggamannya. Lian menatap Mori yang tampak pucat. Tanpa memedulikan tatapan tajam dari Vano, Lian mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Mori dengan sangat lembut—gerakan yang sangat protektif dan penuh kasih sayang.

​"Semangat, Baby Girl. Gue tau lo pasti bisa. Tunjukin ke mereka kalau otak lo itu lebih tajam dari omongan gue," bisik Lian dengan senyum miringnya yang kali ini terlihat sangat tulus memberi kekuatan.

​Mori tertegun. Elusan tangan Lian di kepalanya seolah mengirimkan aliran listrik yang menghapus semua rasa takutnya. Ia mendongak, menatap mata hitam Lian yang berkilat penuh keyakinan padanya. "Makasih, Lian."

​"Gue tunggu di bawah panggung bareng piala itu," ucap Lian sebelum berbalik pergi dengan gaya angkuhnya.

​Lomba dimulai. Mosi demi mosi dilemparkan oleh dewan juri. Mori yang tadinya gemetar, berubah menjadi "singa" di atas podium. Setiap argumen yang ia keluarkan sangat tajam, logis, dan tak terbantahkan. Vano memberikan umpan yang sangat baik, dan Mori menyelesaikannya dengan eksekusi yang mematikan.

​Tim lawan dari SMA Cakrawala 5 berkali-kali terdiam, tidak mampu menyanggah data dan fakta yang dipaparkan oleh Mori. Visual Mori di atas panggung benar-benar memukau—pintar, tegas, dan penuh karisma.

​Ketika juri mengumumkan hasil akhir, seluruh gedung serbaguna itu berguncang oleh sorakan tim SMA Garuda.

​"Skor telak, 25 banding 0 untuk kemenangan SMA Garuda!" teriak sang moderator.

​Mori dan Vano resmi membawa pulang piala bergengsi itu. Mori merasa beban berat di pundaknya luruh seketika. Air mata bahagia menggenang di matanya. Ia melihat ke arah penonton, melihat sahabat-sahabatnya berteriak histeris, dan melihat Lian yang berdiri sambil bertepuk tangan dengan bangga.

​Mori turun dari panggung dengan langkah terburu-buru, membawa piala perak yang berkilau di tangannya. Ia melihat Lian sudah menunggu di dekat tangga panggung. Euforia kemenangan, rasa lega, dan debaran jantung yang sejak tadi ia tahan, meledak seketika.

​Mori tidak berpikir panjang. Logikanya benar-benar lumpuh. Ia tidak lari ke arah Vano, partner debatnya. Ia justru lari ke arah Lian.

​Greb!

​Mori refleks memeluk Lian dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Lian, menangis bahagia sambil menggenggam pialanya.

​"Lian! Kita menang! Kita beneran menang!" seru Mori dengan suara serak.

​Mendadak, suasana di sekitar mereka menjadi hening total. Sorakan tim supporter SMA Garuda terhenti. Jojo melongo. Jessica dan Nadya menutup mulut dengan tangan karena kaget. Bahkan Vano, yang baru saja hendak merayakan kemenangan dengan Mori, terpaku di anak tangga terakhir dengan wajah yang memucat.

​Mori, yang baru saja menolak Lian dengan keras di panggung pensi tempo hari, kini justru memeluk cowok itu di depan semua orang secara sukarela.

​Lian sendiri sempat membeku. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Ia merasakan tubuh mungil Mori yang gemetar dalam pelukannya. Perlahan, senyum penuh kemenangan—kali ini kemenangan atas hati Mori—muncul di wajahnya. Lian melingkarkan tangannya di pinggang Mori, mengangkat gadis itu sedikit, dan membalas pelukannya dengan sangat posesif.

​"Iya, Baby Girl. Lo hebat banget," bisik Lian tepat di telinga Mori, menghirup aroma rambut gadis itu yang selalu membuatnya candu.

​Mori baru tersadar setelah beberapa detik. Ia merasakan hangatnya pelukan Lian dan menyadari bahwa berpasang-pasang mata sedang menatap mereka dengan tatapan tidak percaya. Mori melepaskan pelukannya dengan cepat, wajahnya kini merah padam, jauh lebih merah daripada saat ia salting di kelas.

​"Eh... sori... gue... gue refleks..." gumam Mori sambil menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik piala perak yang besar itu.

​Lian tertawa rendah, suara tawanya terdengar sangat puas. Ia melirik ke arah Vano yang masih mematung, lalu kembali menatap Mori. "Refleks lo jujur banget, Mor. Gue suka."

​Hari itu, piala debat memang berhasil dibawa pulang ke SMA Garuda. Namun bagi semua orang yang ada di sana, kemenangan yang sesungguhnya bukan milik tim debat, melainkan milik Lian—si cowok red flag yang akhirnya berhasil membuat benteng pertahanan Mori runtuh, hanya dengan sebuah elusan rambut dan kehadiran yang tepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!