Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Iring-iringan mobil jenazah membelah jalanan kota yang masih dinaungi mendung tebal.
Suara sirene ambulans yang melengking panjang seolah menjadi lagu pengantar tidur yang paling memilukan bagi Swari.
Di dalam ambulans, Dokter Ratih duduk di samping keranda Pradutha, menatap kain penutup jenazah dengan pandangan kosong.
Sahabat sekaligus rekan sejawatnya itu kini telah pulang dalam cara yang paling tidak ia sangka.
Sementara itu di dalam mobil Navy, keheningan terasa begitu pekat dan menyesakkan.
Swari masih belum siuman dengan wajahnya yang pucat pasi bersandar pada bahu Ratri, dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipi.
Ratri menggenggam erat tangan adiknya yang terasa sedingin es.
Ia bisa merasakan tubuh Swari sesekali tersentak kecil, seolah dalam pingsannya pun, wanita itu masih bergelut dengan mimpi buruk yang baru saja menjadi nyata.
"Mas, tolong lebih cepat sedikit. Aku takut Swari akan semakin hancur kalau dia bangun dan sadar kita belum sampai di rumah."
Navy melirik dari spion tengah dengan rahangnya mengeras, menahan gejolak emosi yang tertahan di dada.
Sebagai sesama pria, ia tahu betul betapa Pradutha sangat memuja Swari.
Melihat adik iparnya yang kini hancur seperti ini membuat hatinya ikut tersayat.
"Sabar, Ratri. Kita harus sampai dengan selamat," jawab Navy rendah, meski jemarinya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Tiba-tiba, kelopak mata Swari bergerak gelisah dengan sebuah gumaman lirih keluar dari bibirnya yang membiru.
"Mas, air panasnya jangan sampai dingin..."
Ratri tersentak saat mendengar perkataan dari adiknya.
"Swari? Sayang, ini Mbak Ratri. Bangun, Dik..."
Swari perlahan membuka matanya dengan pandangannya yang tidak fokus.
Ia menatap langit-langit mobil dengan wajah yang lingkung .
Bau aroma terapi yang dioleskan Ratri di bawah hidungnya perlahan membawa kesadarannya kembali. Namun, seiring dengan kesadaran itu, memori tentang tubuh bersimbah darah di IGD tadi kembali menghantam telak.
"Mbak..." suara Swari terdengar seperti gesekan amplas, kering dan menyakitkan.
"Iya, ini Mbak, Swari. Tenang, ya."
Swari menoleh ke arah jendela, melihat iring-iringan ambulans di depan mereka.
Realita itu menghantamnya kembali tanpa ampun.
Ia teringat dapur mereka, ia teringat uap sayur asem yang masih mengepul dan suara Pradutha yang meminta air panas.
"Kita pulang, kan, Mbak? Mas Pradutha ikut pulang, kan?" tanya Swari
Ratri hanya bisa mengangguk pelan sambil terisak. Ia tidak sanggup mengeluarkan kata-kata.
Mobil terus melaju, mendekati area perumahan mereka.
Di sana, beberapa tetangga sudah mulai berkumpul di depan pagar rumah Swari yang biasanya asri.
Bendera putih yang mulai dikibarkan di depan rumah Swari.
Swari menatap rumahnya dari kejauhan. Rumah yang pagi tadi penuh dengan aroma kemangi dan harapan, kini berubah menjadi tempat persemayaman terakhir bagi cintanya yang pergi terlalu cepat.
Ambulans menghentikan mobilnya di depan rumah Swari.
Begitu juga dengan mobil Navy yang ikut berhenti.
"Ayo kita turun, Dik." ajak Ratri.
Swari membuka pintu dan melihat beberapa petugas ambulans menurunkan keranda jenazah Pradutha.
Langkah Swari terasa begitu berat saat kakinya menyentuh aspal.
Setiap jengkal tanah yang ia pijak menuju teras rumah terasa seperti duri yang menusuk.
Di depan matanya sendiri, keranda yang ditutupi kain hijau itu digotong masuk oleh para tetangga.
"Mas Pradutha..." bisik Swari, suaranya tertahan di tenggorokan.
Suasana di ruang tamu terasa begitu menyesakkan.
Aroma melati yang kuat mulai bercampur dengan isap tangis para pelayat yang memenuhi ruangan.
Di tengah kerumunan itu, Pak Bakir, seorang tetua lingkungan yang biasa mengurus jenazah, mendekati Swari yang duduk bersimpuh di samping keranda dengan tatapan kosong.
"Nduk Swari, jenazah Nak Pradutha sudah siap disucikan. Sebagai istri, ini adalah bakti terakhirmu. Mari, Nduk, ikut Bapak memandikan suamimu untuk yang terakhir kali."
Swari mendongak. Kata-kata "memandikan" dan "terakhir kali" menghantam dadanya dengan telak.
Bayangan tentang air panas yang ia siapkan di dapur tadi pagi mendadak melintas.
Ia menyiapkan air itu agar suaminya merasa segar setelah lelah bekerja, bukan air bunga untuk membasuh raga yang tak lagi bernyawa.
"Memandikan?" gumam Swari lirih.
Ia mencoba bangkit, dibantu oleh tangan gemetar Ratri. Namun, baru saja ia melangkah mendekati tempat pemandian jenazah yang tertutup kain jari.
Matanya menangkap siluet tubuh kaku di balik kain itu.
Dinginnya kenyataan bahwa ia akan menyentuh kulit suaminya yang tak lagi hangat, memutus seluruh saraf kekuatannya.
Pandangan Swari mendadak buram, terdengar suara isak tangis di sekitarnya perlahan menjauh, berubah menjadi dengung panjang yang memekakkan telinga.
Detik berikutnya, lututnya melemas, dan dunianya kembali jatuh ke dalam kegelapan yang pekat.
"SWARI!" jerit Ratri tertahan saat melihat adiknya luruh ke lantai untuk kedua kalinya.
Navy yang sedari tadi berdiri sigap di dekat pintu, langsung bertindak cepat.
Sebelum tubuh mungil itu benar-benar menghantam lantai, lengan kokoh Navy sudah menangkapnya.
Wajah Navy tampak mengeras melihat betapa pucatnya sang adik ipar.
"Mas, bagaimana ini? Swari tidak kuat!" tangis Ratri pecah, ia menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar.
"Biar aku bawa dia ke kamar. Dia butuh udara dan ketenangan," ucap Navy tegas.
Tanpa kesulitan, Navy membopong tubuh Swari yang terasa begitu ringan seolah semangat hidupnya telah ikut terbang bersama napas Pradutha.
Ia melangkah membelah kerumunan pelayat, menaiki tangga menuju kamar pribadi Swari dan Pradutha di lantai atas.
Navy membaringkan Swari di atas ranjang yang sprei-nya masih rapi, sisa dari kerapihan yang disiapkan Swari untuk menyambut kepulangan suaminya tadi pagi.
Di atas nakas terdapat sebuah bingkai foto memperlihatkan Pradutha yang sedang tertawa lebar.
Navy menghela napas panjang, meletakkan punggung tangannya di dahi Swari yang dingin.
Ada kemarahan yang tertahan di matanya, ia marah pada takdir yang begitu kejam mencabut kebahagiaan dari rumah ini.
"Maafkan Mas, Swari. Mas tidak bisa melakukan apa pun selain menjagamu tetap bernapas," bisik Navy rendah sebelum ia berbalik untuk meminta Ratri membawakan minyak kayu putih.
Kemudian ia meninggalkan Swari yang terbaring pingsan di tengah aroma duka yang kian menajam.
Di ruang tamu bawah, suara gumaman doa dan lantunan ayat suci mulai memenuhi udara.
Navy berdiri di barisan depan, memimpin para pelayat untuk menyalatkan jenazah Pradutha.
Sebagai kakak ipar, ia mengambil tanggung jawab itu dengan dada sesak, menatap keranda yang kini terbujur di hadapan jamaah.
Setiap takbir yang diucapkan terasa seperti paku yang mengunci kenyataan bahwa Pradutha benar-benar telah pergi.
Setelah doa terakhir diaminkan, keranda itu diangkat.
Navy berada di baris depan pengusung, bahunya menyangga beban kayu yang terasa jauh lebih berat karena berisi duka.
Langkah-langkah kaki yang teratur mulai meninggalkan rumah, menuju tempat peristirahatan terakhir di Pemakaman Umum yang tak jauh dari sana.
Di lantai atas, suasana jauh lebih sunyi. Ratri duduk di tepi ranjang, terus mengusapkan minyak kayu putih ke pelipis Swari.
Perlahan-lahan kelopak mata Swari terbuka. Namun, tidak ada binar di sana.
Hanya tatapan kosong yang lurus menatap langit-langit kamar.
"Mbak... Mas Pradutha?" bisiknya sangat lemah.
Ratri mengusap rambut adiknya dengan lembut, matanya sendiri sudah sembap.
"Mas Navy, Pak Bakir, dan warga sudah berangkat ke pemakaman, Swari. Kamu baru saja siuman, jangan dipaksakan bangun. Mas Navy bilang, biar dia yang mengawal Pradutha sampai ke liang lahat."
Swari memejamkan mata erat-erat. Air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal.
Ia bahkan tidak punya kekuatan untuk melihat suaminya dimasukkan ke dalam tanah. Ia merasa seperti istri yang gagal.
"Aku ingin ikut, Mbak..."
"Tidak, sayang. Kondisimu sangat lemah. Mas Navy akan memastikan semuanya berjalan baik. Istirahatlah," bujuk Ratri.
Tiba-tiba, suara deru mobil yang berhenti dengan kasar di depan rumah terdengar hingga ke kamar.
Disusul dengan suara langkah kaki yang terburu-buru menaiki tangga, mengabaikan sopan santun di tengah suasana duka.
Pintu kamar Swari terbuka dengan hentakan yang cukup keras.
Ratri tersentak dan berdiri seketika. Wajahnya yang semula penuh kesedihan mendadak berubah menjadi tegang saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Pria itu berdiri di sana dengan napas sedikit terengah.
Jas hitamnya nampak mahal namun auranya terasa gelap.
Matanya tidak tertuju pada Ratri, melainkan langsung menghujam ke arah Swari yang terbaring lemah.
Tatapan itu bukan tatapan belasungkawa, melainkan sesuatu yang jauh lebih kompleks sesuatu yang membuat bulu kuduk Ratri meremang.
Ratri tahu betul sejarah yang dulu Dimas adalah mantan kakak ipar mereka, duda dari mendiang Gendis, kakak tertua mereka. Namun, Ratri juga tahu rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat
Dimas tidak pernah benar-benar mencintai Gendis.
Sejak dulu mata Dimas selalu mengejar Swari. yang memiliki kemiripan luar biasa dengan Gendis namun dengan jiwa yang lebih lembut.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Mas Dimas?" tanya Ratri dengan nada mengusir yang jelas.
"Semua orang ada di pemakaman. Kamu seharusnya ada di sana kalau ingin memberi penghormatan."
Dimas tidak menjawab. Ia melangkah masuk, mendekati ranjang Swari.
"Aku mendengar kabar itu," suara Dimas berat, terdengar asing di telinga Swari yang masih setengah sadar.
"Aku datang untuk melihat bagaimana keadaan 'adik kecilku'."
Swari yang mendengar suara itu mencoba mendudukkan diri dengan tangan gemetar.
Saat matanya bertemu dengan mata Dimas, sebuah firasat buruk tiba-tiba menyergap hatinya.
"Mbak Ratri..." panggil Swari lirih.
Ratri segera berdiri di depan Swari, mencoba menghalangi pandangan Dimas.
"Pulanglah, Mas Dimas. Swari butuh istirahat. Ini bukan saat yang tepat."
Dimas menyunggingkan senyum tipis yang tidak sampai ke mata.
"Justru ini saat yang paling tepat, Ratri. Sekarang tidak ada lagi yang akan menjaga Swari selain keluarganya sendiri. Bukankah begitu?"
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor