NovelToon NovelToon
Perjuangan Suamiku:Istriku Surgaku

Perjuangan Suamiku:Istriku Surgaku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Labirin Pengkhianatan

Ban motor Tian menjerit saat ia melakukan pengereman ekstrem di lobi darurat Rumah Sakit Harapan. Ia melompat turun bahkan sebelum mesin benar-benar mati, membiarkan kendaraan itu jatuh begitu saja. Dengan bahu yang masih merembeskan darah akibat peluru Adrian, Tian menerjang masuk.

Dunianya kini sesempit lorong menuju kamar 402.

"Jantung Mega sudah kami amankan, tapi ada bom asli di bawah ranjangnya."

Kalimat dalam pesan singkat itu terus berdenyut di pelipisnya seperti racun. Siapa "Kami"? Jika mereka bisa mengamankan sinyal jantung Mega dari peretasan Adrian, mengapa mereka justru memasang bom? Apakah ini sebuah penyelamatan yang dibalut ancaman, ataukah permaianan baru yang lebih sadis?

"Pak Tian! Anda tidak boleh masuk, area ini sudah disterilkan!" teriak seorang petugas keamanan.

Tian tidak berhenti. Ia menghantam bahu petugas itu hingga terpental. "KELUAR! SEMUA KELUAR DARI LANTAI EMPAT!" raung Tian dengan suara yang begitu parau hingga terdengar seperti geraman binatang buas.

Ia sampai di depan pintu kamar Mega. Langkahnya mendadak melambat. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Ia melihat Jenderal Yudha berdiri di sana dengan wajah pucat, sedang menatap layar tabletnya.

"Tian, jangan masuk," ucap Yudha dengan nada gemetar yang jarang ia tunjukkan. "Tim penjinak bom baru saja mendeteksi adanya sensor tekanan di bawah kaki ranjang Mega. Jika beban di atas ranjang berkurang atau bertambah satu ons saja, seluruh lantai ini akan lenyap."

Tian terpaku di ambang pintu. Di dalam sana, Mega masih terlelap. Istrinya tampak begitu damai, tidak tahu bahwa di bawah tubuhnya terdapat mesin pencabut nyawa yang sangat sensitif. Ibunda Tian pun sudah dipindahkan beberapa menit lalu, meninggalkan Mega sendirian di tengah jebakan itu.

"Siapa yang melakukan ini, Pak?" bisik Tian. Matanya menatap tajam ke arah kolong ranjang yang kini dipenuhi kabel-kabel halus berwarna perak.

"Kami tidak tahu. Tapi pengirim pesannya menggunakan frekuensi militer yang sangat terenkripsi," jawab Yudha.

Tian melangkah maju, perlahan, sangat perlahan.

"Jangan mendekat, Tian! Sensor itu!" peringat Yudha.

Tian tidak peduli. Ia berlutut di samping ranjang Mega, mencoba menyeimbangkan berat tubuhnya agar tidak menyentuh rangka besi itu. Ia melihat ke bawah. Di sana, sebuah kotak logam kecil dengan lampu indikator biru berkedip tenang. Bukan merah, tapi biru.

Tiba-tiba, ponsel Tian kembali bergetar. Sebuah panggilan video masuk. Tian mengangkatnya dengan tangan gemetar. Di layar muncul seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas putih yang sangat rapi, duduk di sebuah perpustakaan megah.

"Selamat pagi, Tian. Maaf atas ketidaksopanan timku," ucap pria itu dengan suara yang sangat berwibawa, namun mematikan. "Namaku Aristha. Aku adalah pria yang selama ini menyokong dana politik Adrian. Dan sekarang, karena kau menghancurkan investasiku, kau harus menggantinya."

Tian menatap layar itu dengan kebencian murni. "Kau ingin apa, Aristha? Ambil nyawaku, tapi biarkan istriku hidup!"

Aristha tertawa lembut. "Nyawamu tidak ada harganya bagiku, Tian. Tapi keahlianmu... itu yang aku butuhkan.

Bom itu bukan untuk membunuh Mega, tapi untuk memastikan kau melakukan apa yang aku perintahkan. Di dalam kotak itu ada kode penonaktifan chip jantung ilegal Adrian. Aku sudah mengambil alih kendali jantung istrimu. Selama lampu itu biru, dia aman. Tapi jika kau menolak permintaanku, aku akan mengubahnya menjadi merah."

Tian merasakan dingin yang menjalar dari ujung kakinya hingga ke ubun-ubun. Ternyata, Adrian hanyalah pion kecil. Musuh yang sebenarnya baru saja menampakkan diri. Aristha bukan hanya kaya; dia adalah arsitek di balik layar yang mengatur nasib orang-orang seperti Adrian dan bahkan mungkin beberapa pejabat tinggi.

"Apa permintaanmu?" tanya Tian, suaranya kini terdengar pasrah namun penuh siasat.

"Adrian sedang membawa data penting milikku saat ia lari. Dia mengira dia bisa mengkhianatiku. Aku ingin kau menjemputnya, ambil data itu, dan bawa padaku. Setelah itu, aku akan memberikan kode untuk melepaskan bom dan chip di tubuh istrimu," jelas Aristha.

"Dia punya pasukan, Aristha. Aku hanya satu orang dengan bahu yang tertembak," protes Tian.

"Itulah sebabnya aku memilihmu, Macan. Seorang suami yang terdesak adalah senjata paling mematikan di dunia. Kau punya waktu enam jam sebelum baterai sensor itu habis. Jika baterainya habis... yah, kau tahu apa yang terjadi."

Panggilan itu terputus. Tian menatap Mega. Di dalam ketidaksadarannya, Mega tampak meneteskan air mata, seolah jiwanya bisa merasakan penderitaan suaminya yang tak kunjung usai.

Tian bangkit berdiri. Jenderal Yudha mendekatinya dengan wajah penuh tanda tanya. "Apa katanya?"

Tian menatap Yudha, lalu beralih ke arah kamera CCTV di sudut ruangan. Ia tahu Aristha sedang menonton. Tian tidak bisa menceritakan kebenarannya pada Yudha sekarang, atau Aristha akan meledakkan ruangan ini.

"Dia ingin saya menjemput Adrian sendirian, Pak," ucap Tian berbohong sebagian. "Tolong jaga Mega. Jangan biarkan siapa pun menyentuh ranjang ini sampai saya kembali."

Tian berjalan keluar dari rumah sakit dengan langkah berat namun pasti. Di parkiran, ia bertemu dengan Paman Hasan yang sudah menunggunya dengan sebuah mobil van hitam berisi peralatan baru.

"Kau akan masuk ke kandang macan yang sesungguhnya, Tian," ucap Hasan sambil menyerahkan sebuah rompi antipeluru yang tipis namun sangat kuat. "Aristha bukan orang sembarangan. Dia adalah bagian dari The Circle, organisasi yang mengendalikan jalur logistik ilegal di Asia Tenggara."

Tian mengenakan rompi itu, lalu mengambil sebuah belati hitam milik pamannya. "Aku tidak peduli mereka organisasi apa, Paman. Jika mereka menghalangi jalanku pulang pada Mega, aku akan merobek jantung mereka dengan tangan kosong."

Tian memacu mobil itu menuju titik pertemuan terakhir dengan Adrian di perbatasan hutan. Di sepanjang jalan, ia terus melihat grafik jantung Mega di ponselnya. Biru. Masih biru. Setiap kedipan cahaya itu adalah harapan sekaligus kutukan baginya.

Ia menyadari bahwa perjuangannya kali ini bukan lagi sekadar soal fisik, tapi soal bagaimana ia menjaga kewarasannya di tengah permainan catur yang mematikan ini. Ia harus menjadi lebih licik dari Adrian, dan lebih dingin dari Aristha.

Tian sampai di sebuah rumah pohon tua di tengah hutan yang rimbun. Ia melihat Adrian sedang duduk bersandar di pohon dengan napas tersengal, memegang sebuah tas perak kecil yang sangat dijaganya. Namun, saat Tian hendak mendekat, sebuah laser merah membidik tepat di dada Tian.

Bukan dari anak buah Adrian, melainkan dari helikopter tanpa suara yang melayang di atas mereka. Sebuah suara dari pengeras suara helikopter bergema:

"Tugasmu bukan hanya mengambil data, Tian. Aristha ingin kau menghabisi Adrian sekarang juga di depan kamera kami. Satu nyawa untuk kebebasan istrimu.

Tarik pelatuknya, atau lampu di rumah sakit akan menjadi merah sekarang juga!" Tian menatap Adrian yang ketakutan, lalu menatap ke arah kamera helikopter dengan pandangan yang tak terbaca.

Lanjut bab 13...

1
grandi
pasti ada harapan
grandi
Tian selalu kuat ya💪
grandi
sesaknya minta ampun dah/Sob/
Panda%Sya(🐼)
Di novel 2027 udah dateng ya thor🤣 Happy new year Thor/Facepalm/
christian Defit Karamoy: sebenarnya tahunnya emang saya buat begitu agar lebih menyenangkan 😄
trimakasih selalu suport ya 🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Biar makin semangatt ni Aku bagi /Rose/
christian Defit Karamoy: trimakasih kakakku🙏😍
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
semoga tian ga kenapa-napa
christian Defit Karamoy: ikuti terus ya qila🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Banyak banget rintangan nya Tian, semoga tetap kuat ya💪
christian Defit Karamoy: iya kak😭
total 1 replies
studibivalvia
penulisan rapi jadi enak banget bacanya 😎 yuk terus lanjutkan kak semangat
christian Defit Karamoy: siap kak trimakasih🙏
total 1 replies
Arceusssxara
💪
christian Defit Karamoy: siap kak🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Gas terus thor. Sampai tujuan
christian Defit Karamoy: siap trimakasih kak🙏
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
ceritanya bagus, semangat terus up nya thor
christian Defit Karamoy
iya bang/Sob/
Panda%Sya(🐼)
Si manusia satu itu, sangat kejam sekali huh😤
Kenjiro Dominic
span thor
christian Defit Karamoy: siap😄
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
ibumu bohong mega jangan dipercai, kesel banget aku sama nenek tua ini rasanya pengen ku pukul pakai kayu mulutnya 1000×
christian Defit Karamoy: /Sob//Sob//Sob/
total 1 replies
christian Defit Karamoy
amin🙏
Kasychan`●⑅⃝😽
lanjut thor
christian Defit Karamoy: siyap😄
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
yang sabar ya Tian ini ujian
christian Defit Karamoy: /Sob/
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
semangat terus Tian, ayo jangan nyerah dulu💪☺
christian Defit Karamoy: siap qila🙏
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
beginilah orang klau sudah cinta dengan seseorang, ia akan melakukan apapun bahkan nyawapun dia pertaruhkan demi orang yang dia cintai, beruntung banget ya mega, btw semangat terus thor up nya, semoga karyanya bisa ramai ya☺
christian Defit Karamoy: amin amin qila🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!