Dilarang Baper! 🤪
"Memberimu nafkah batin adalah caraku untuk menyalurkan rasa kasih sayang kepadamu, yang sudah sah menjadi milikku!"
~Lian Aditya~
"Satu hari dimana kita menikmati hari bersama hingga kita tidak sengaja melewati malam berdua, tidak disangka satu hari tersebut adalah awal dari segalanya."
~Yumna Safeera~
BLURB👇
Lian dan Yumna, adalah sepasang anak manusia yang berteman sejak kecil, harus berpisah ketika orang tua Lian memutuskan untuk memindahkan anaknya belajar ke luar negeri. Selama lima belas tahun mereka berpisah dan bertemu kembali saat mereka remaja. Mereka pun menjalin hubungan asmara. Namun, perjalanan cinta mereka tidak semulus yang mereka harapkan. Penuh permasalahan dan rintangan. Terlebih hadirnya orang ketiga di antara mereka. Suatu hari, Lian dan Yumna tak sengaja menghabiskan waktu bersama. Hingga hubungan mereka melampaui batas, dan menyebabkan Yumna hamil!! Hal itu membuat Yumna frustasi berkepanjangan. Apalagi orang tua mereka tidak merestui hubungan mereka. Yumna semakin terpuruk. Setiap hari hanya ada penyesalan yang tak berarti dalam dirinya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Ikuti cerita selengkapnya ya para readers. Jangan lupa tinggali like, comment dan votenya ya😚 Kasih bintang 5 agar author semakin semangat menulis📖🖋
Ig : Rayana Lovely
Fb: Rayana Rayana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rayana Lovely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Lian
Pukul empat sore, Yumna telah membereskan meja kerjanya. Dia bersiap siap untuk pulang. Namun, kali ini dia bertekad untuk pulang sendiri, dia tidak mau merepotkan Lian lagi untuk mengantarnya pulang. Terlebih saat ini Lian sedang tidak fit. Yumna merasa kasian. Dia tahu, belakangan ini Lian telah bekerja keras untuk perusahaannya. Aku harus terbiasa sendiri, pikir Yumna. Toh, dia juga bukan anak kecil yang harus takut untuk naik bis atau taksi online sendiri.
"Yumna, sudah mau pulang, ya?" Amel tiba tiba menyapanya.
"Iya, Mbak!! Aku pulang duluan ya! Semua data sudah aku salin, besok hanya tinggal diprint aja," jelas Yumna.
"Lho, kok gak nunggu pak Bos sih? Biasanya kalian pulang bareng kan? Dia lagi ada pertemuan dengan klien di kantornya, paling bentar lagi juga kelar."
"Ah, gak usah Mbak! Aku bisa pulang sendiri kok, biarkan saja dia menyelesaikan pekerjaannya, aku pulang naik bis aja."
"Kalian, berantem??" Amel menaikkan satu alisnya, dengan sabar dia menunggu jawaban Yumna.
"Hah? Maksud Mbak?"
"Yumna, aku sudah tau tentang hubungan kamu dengan pak Bos, kamu gak perlu takut, aku bukan orang yang suka menyebarkan rumor," timpal Amel sembari menyunggingkan senyum manisnya.
Yumna diam sesaat. Dari mana Amel tahu kalo antara dirinya dan Lian mempunyai hubungan. Apakah yang memberitahunya adalah Citra? karyawan culun yang tempo hari tak sengaja memergoki dirinya sedang berciuman di ruang meeting bersama direktur utama di perusahaan ini? Setahu Yumna, hanya dia yang mengetahui tentang hubungan mereka, itu pun karena Citra tidak sengaja menerobos pintu saat mereka sedang melakukan adegan kissing tersebut.
"Ahhhh, ntahlah!!" gumam Yumna.
"Yumna!" Amel kembali menyapanya, membuat Yumna tersentak dari sekelibat pertanyaan yang berkumpul di benaknya.
"Hah, iya!!"
"Jangan banyak melamun ah, ntar cepat tua!" gurau Amel sambil tertawa kecil.
"Heehee, iya Mbak!!" Yumna memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
Yumna bangkit. Dia meraih tasnya di meja kerja, lalu menyandangnya.
"Kalau begitu, aku permisi dulu ya, Mbak. Sebenarnya aku sengaja pulang lebih awal agar Pak Lian tidak mengantarku pulang ke rumah, aku merasa tidak enak kalau setiap hari harus diantar dan dijemput seperti anak TK," ujar Yumna.
"Oh, begitu!" Amel mengerti. Dia memaklumi Yumna. Tidak ada yang berani pulang lebih awal sebelum jam kantor selesai kecuali Yumna. Amel tidak dapat berbuat apa apa kecuali memahaminya. Toh, Lian juga tidak akan memarahi Yumna secara murka hanya gegara Yumna izin pulang lebih awal. Kecuali ketika hal ini dilakukan oleh karyawan lain, bisa bisa langsung dipecat, haahaaa.. ups🤭 Begitu yang ada di benak Amel.
Yumna sudah berlalu ketika Amel bergumam tadi. Dia keluar kantor menuju lift. Saat menunggu antrian lift, dia memeriksa hpnya. Tak lama kemudian, masuk pesan whatsapp dari Lian. Yumna membukanya.
Tunggu aku satu jam lagi, kalau merasa bosan, pergilah ke kantin untuk sekedar memesan makanan atau minuman.
Begitu bunyi pesan yang baru dikirim Lian kepadanya. Yumna mengernyitkan dahinya. Dia sudah siap siap ingin pulang, tapi Lian menyuruhnya untuk menunggu hingga pekerjaannya selesai.
Pintu lift terbuka. Yumna masuk kemudian menekan tombol nomor 1. Sambil menunggu lift turun, Yumna membalas pesan Lian.
Maaf Yank, aku pulang sendiri aja kali ini. Aku sudah ke luar kantor, aku tidak ingin merepotkanmu, saat ini kamu sedang kurang fit kan? Aku bisa naik bis kok, aku gak pa pa, jangan khawatirkan aku ya😊
Jleb!
Saat Lian membuka dan membaca balasan pesan dari Yumna, dia kaget. Membuat rekan kerjanya saling memandang.
"Ada apa, Pak Lian? Kenapa wajah anda tiba tiba berubah begitu? Ada yang salah dengan penjabaran saya tadi?" tanya salah satu kliennya.
"Hah? Enggak! Enggak ada apa apa kok! Lanjutkan!" perintah Lian kembali. Namun, pikirannya sudah tidak di sini lagi. Yang ada di pikirannya sekarang adalah, Yumna.
Lian memangku dagu dengan satu kepalan tangannya. Dia merasa tidak tenang. Dia bingung. Biasanya kalau dia mau, dia bisa langsung meninggalkan pertemuan dengan kliennya, dan menyerahkan semuanya kepada pak Ridho. Tapi kali ini tidak bisa. Agenda hari ini mengharuskan dia untuk turun langsung dalam penyelesaian segalanya. Dia juga harus menandatangani semua laporan yang sudah diserahkan kliennya. Dan itu tidak akan selesai dalam waktu yang singkat.
Apa yang harus aku katakan kepada, Yumna? sebenarnya aku tidak mengizinkannya pulang sendiri. Tapi pertemuan kali ini tidak dapat aku tinggali, kenapa dia tidak mau menungguku kali ini, aku senang dia mengkhawatirkan keadaanku, tapi aku jadi lebih khawatir lagi dengan keadaannya sekarang. Hah!
Lian menarik nafas panjang, dan mengeluarkannya dengan kasar. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Pak, silakan baca dan tandatangani berkas berkas ini." Salah satu dari tiga kliennya menyerahkan beberapa berkas kepadanya. Lian menerimanya. Dia mulai membuka dan membacanya dengan hati-hati.
***
Yumna sudah berada di halte bis tak jauh dari tempatnya bekerja. Dia duduk dan menunggu bis tujuan tempat tinggalnya. Dari jauh, Juna sudah melihatnya. Juna menghentikan mobilnya di depan halte bis, dia membunyikan clakson mobilnya, lalu membuka kaca mobil sehingga Yumna dapat melihatnya dari luar.
"Juna!" Yumna bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri mobil Juna.
"Masuklah, kamu mau pulangkan? Mari bareng denganku!" ajak Juna.
Tanpa sungkan, Yumna masuk ke mobil Juna. Lalu, memasang sabuk pengamannya.
"Sudah lama nunggu di halte???" Juna membuka pembicaraan sambil mengemudikan mobilnya.
"Belum, baru aja aku ke luar kantor," balas Yumna.
"Baru kali ini aku lihat kamu menunggu bis, apa pacarmu tidak mengantarmu pulang hari ini?"
"Hemm, dia masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sekarang juga, dan tidak bisa ditinggal," jawab Yumna datar.
Juna hanya manggut manggut, dan terus melajukan mobilnya.
***
Satu Jam Berlalu..
Lian ke luar dari kantor diikuti Randa, asistennya, mereka masuk ke dalam lift untuk turun menuju lobby. Sepanjang perjalanan menuju lobby, banyak karyawan yang menyapanya, begitu juga saat akan memasuki lift tadi, karyawan lainnya pada mengalah, membiarkan Lian dan asistennya masuk duluan, namun dia tetap menatap layar hpnya, dia menelepon Yumna.
Tidak diangkat.
Lian berusaha untuk menghubunginya kembali, tapi tetap tidak ada jawaban.
Ada apa ini? Kenapa Yumna tidak menjawab telepon dariku? Apakah dia belum tiba di rumah saat ini? Ini sudah satu jam lebih dari pesan whatsapp Yumna terakhir kali. Kenapa dia belum tiba juga? Akhh, rasanya tidak mungkin. Apa yang terjadi padanya?!
Begitu batin Lian.
Sampai tiba di lobby, Lian berhenti sejenak. Dia tampak bingung, memutar mutar hp di tangannya tak jelas. Membuat Randa keheranan.
"Ada apa, Pak? Apa ada yang ketinggalan di atas?" Randa masih menjinjing tas kerja Lian.
"Tidak!" Lian menarik rambut belakangnya, dan mendesah keras.
"Lalu kenapa kita berhenti di sini? Bukankah kita harus segera menemui Pak Ikhsan sekarang juga?"
Ada jadwal mendadak yang harus didiskusikan Lian hari ini bersama mitra kerjanya yang lain. Dan mereka sudah sepakat untuk bertemu di restoran XX saat ini juga.
***
Restoran XX.
Baru saja Lian memasuki restoran itu, dia mendapati Yumna sedang duduk berhadapan dengan seorang pria sambil sesekali bercanda ria menikmati makanan yang mereka pesan.
Darah Lian mendidih. Nafasnya berpacu sangat cepat. Matanya memerah menahan amarah. Tangannya terkepal sempurna hingga urat urat di tangannya kelihatan.
"Ada apa, Pak?" tanya Randa kembali, ketika melihat Tuannya berdiri kaku dengan pandangan murka.
Randa mencoba mengamati apa yang ditatap bosnya, dan... Hah! Dia mendapati Yumna di sudut ruangan bersama seorang pria. Tentu saja hal itu yang membuat Lian menjadi murka. Dilihatnya wajah tuannya itu sudah memerah, dan siap siap seperti akan menyerang.
Randa cemas. Dia tahu tentang hubungan bosnya bersama sekretarisnya itu. Rumor tentang mereka cepat beredar. Karena Lian selalu memperlihatkan kemesraannya bersama Yumna, tak perduli itu di kantor atau di kantin perusahaan. Gerak gerik mereka sudah terbaca.
Randa memegang lengan Lian. bermaksud menariknya agar duduk di bangku kosong sebelah mereka. Tapi dengan sigap Lian menangkisnya. Lian berjalan menuju tempat duduk Yumna. Haduh. Randa tidak tahu harus berbuat apa.
Yumna kaget saat Lian sudah berdiri tegak di sebelahnya. Dia melihat mata Lian yang menatap sangat tajam ke arahnya, dan sesekali ke arah Juna. Tidak pernah Yumna melihat mata itu. Mata yang memerah seakan penuh kebencian.
Yumna bangkit dari duduknya. Dia tahu saat ini Lian sedang di penuhi rasa cemburu bercampur amarah yang menggebu.
"Lian? Kamu di sini?" Yumna membuka percakapan. Suaranya terdengar gemetar. Dia ingin menenangkan Lian saat ini. Dia dapat merasakan nafas Lian yang berhembus kasar. Dia juga melihat dada Lian yang bergerak tak beraturan.
Oh, Tuhan. Apa yang harus aku katakan. Dia pasti sudah salah paham.
Batin Yumna bergejolak. Namun, tidak bagi Juna. Dia terlihat santai dan masih memasukkan makanannya sesekali ke mulut.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa