Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.
Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.
Namun, Afnan belum puas.
Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.
"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."
Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.
Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?
#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Keluar dari lobi perusahaan, Afnan segera bergegas memanggil taksi daring, sebab ia tidak membawa mobil pribadi. New York City pada pukul sebelas siang adalah simfoni klakson, raungan mesin, dan teriakan samar para pejalan kaki.
Kemacetan menjulang, lalu lalang deretan mobil yang bergerak merayap seperti ular raksasa di pusat kota. Afnan memandangi gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, sementara di dalam mobil, ia berusaha menenangkan diri.
"JFK, Terminal 4, kedatangan internasional, da tolong, secepat mungkin sir." Pinta Afnan pada sopir yang berjanggut tebal, nadanya penuh keseriusan.
Sopir itu hanya bergumam menjawab permintaan pelanggan, memutar kemudi dengan lihai. Afnan bersandar, meraih ponselnya, memeriksa apakah Leona mengirimkan informasi terbaru.
Perjalanan ke bandara terasa begitu lama, setiap lampu merah adalah cobaan kesabaran, Afnan terus menerus mengecek arloji, ia sudah membayangkan Leona, yang pasti menciptakan kekacauan di JFK.
Leona adalah sosok yang menarik perhatian, bukan hanya karena penampilannya yang selalu on point dan nyentrik, tetapi juga karena kecenderungannya untuk membuat scene dramatis di mana pun ia berada.
Setengah jam kemudian, taksi itu akhirnya keluar dari labirin jalanan kota dan melaju di jalan tol menuju Queens. Pemandangan berubah menjadi deretan gudang dan papan reklame besar, sebelum akhirnya siluet menara bandara muncul di kejauhan, menjulang tinggi seperti patung.
"Terima kasih sir." Setelah sampai, Afnan bergegas keluar dengan langkah laki cepat, netranya mengedar menatap bandara internasional yang begitu ramai.
Tepat di dekat pintu keluar area pengambilan bagasi, di sudut yang sedikit tersembunyi, Afnan dapat melihat pelaku yang membuatnya khawatir bukan main.
Leona berdiri di sana, dikelilingi oleh dua petugas keamanan bandara yang tampak kelelahan dan seorang pria berseragam bea cukai yang tampak frustrasi.
Penampilan Leona membuat Afnan ingin rasanya memutar langkah kembali ke perusahaan Algio, sebab wanita itu begitu nyentrik dengan mengenakan faux fur coat berwarna mencolok dan kacamata hitam oversize meskipun berada di dalam ruangan, sedang berargumen dengan gestur tangan yang lebar.
"Leona!" Afnan memanggil, mempercepat langkahnya.
Mendengar namanya dipanggil, membuat Leona menoleh, matanya langsung berbinar, "Afnan! Akhirnya kau datang atau aku akan benar-benar di seret ke kantor kepolisian oleh dua orang botak ini."
Saat Afnan mendekat, Leona segera bergerak, bukannya langsung menjelaskan situasinya, Leona melompat dan mendarat dengan pelukan erat pada tubuh Afnan, melepaskan rasa rindu.
Mereka melakukan cipika-cipiki yang terlalu heboh, saling menempelkan pipi kiri, kanan, lalu kiri lagi, dengan bunyi kecupan yang keras, "Kau ini, astaga! Aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu, darling! Kau terlihat pucat dan lebih kurus, angin New York sepertinya lebih ganas." Bisik Leona di telinga Afnan, masih memeganginya erat.
Bola mata Afnan memutar jengah, "Aku pucat karenamu Leona, bukan karena angin New York, tolong kesadarannya. Sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi."
Terdengar, Leona menghela napas panjang, seolah masalah ini adalah beban terberat di dunia, "Mereka ini! Mereka semua berlebihan, menahanku karena membawa senapan, padahal jelas-jelas ini bukan barang ilegal."
Leona menunjuk ke kopernya yang terbuka, di dalam sana, di antara lipatan gaunnya, terlihat sebuah benda panjang berwarna hitam yang tampak begitu mencurigakan.
Mendengus kasar, Leona memainkan anak surainya dengan gaya gemulai, "Oh please, Afnan ini adalah senapan biasa yang aku gunakan untuk melindungi diriku sendiri."
Memijat pelipisnya, Afnan menatap dua petugas dengan senyuman canggung, lantas ia menarik lengan Leona mundur.
"Lalu untuk apa kau membawanya Leona? Please, jangan katakan untuk melindungimu lagi."
"Aku membawanya karena aku akan terbang selama empat belas jam! Siapa yang bisa menjamin tidak akan ada bajak udara? Aku hanya berjaga-jaga lohh, dan kalian malah menangkap di sini, pasti orang-orang berpikir aku ini narapidana."
Frank pria botak menakutkan yang menjelma sebagai petugas Bea Cukai, menahan napasnya dalam, sedari tadi ia meminta penjelasan pada nona yang ia ketahui bernama Leona namun jawabanya sungguh di luar akal sehat.
"Nona, kami menahan anda karena dugaan membawa senjata api, ini tidak bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada daftar alat ini bisa digunakan secara bebas untuk umum."
"Tentu saja tidak terdaftar!" Balas Leona sewot, gesturnya semakin dramatis, "Karena ini hadiah daddy untukku, jadi jangan bertanya lagi, ini adalah senapan yang hanya ada satu di dunia ini."
"Leona tolong, kenapa kau membawa senapan? Katakan yang sejujurnya, aku tidak ingin mendengar jawaban absurdmu. Kau tidak bisa menjadi pahlawan dadakan." Ketus Afnan.
"Akukan hanya berjaga-jaga Afnan, takut apabila ada bajak udara, please aku juga tidak mungkin menggunakan alat ini secara sembarangan." Leona sudah menahan nafas ingin menangis.
Frank menghela nafas, pria itu lantas angkat bicara dengan pelan, "Nona, tetap saja, alat ini tidak seharusnya anda bawa terbang, sebab kita tidak tau apa yang nona pikirkan."
"Kau ingin berkata aku gila, heh!?" Leona melototkan netranya tak percaya.
"Bukan begitu nona, hanya saja anda sedari tadi tidak memberikan alasan yang logis." Frank menundukan kepala, mulai lelah sendiri.
"Tidak logis? Aku sudah memberi alasan yang sama sedari tadi dan kau hanya berkata tidak logis tidak logis tidak logis! Lalu jawaban apa yang ingin kau dengarkan?" Leona menjawab dengan tegas, menatap Frank tajam.
Menggaruk tekuk lehernya, Frank sekarang merasa tengah diintimidasi, "Nona saya mohon, saya hanya bertugas dan tolong beri kemudahan bagi saya, anda sekarang tengah melanggar protokol bandara kami."
"Tap-"
"Maafkan kami sir." Afnan menyela dengan nada paling manis dan meyakinkan yang ia miliki.
"Saya menjamin Leona, tidak bermaksud jahat, dia memang terlalu berhati-hati sebab terlalu banyak menonton film action di pesawat, jadi tolong jangan memperpanjang masalah ini."
Pria botak yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara dengan nada tegas, "Nona jangan membela sesuatu yang salah, kami hanya mohon keringanan Nona Leona untuk jujur, mengapa membawa senapan?"
"Aku sudah bilang itu untuk berjaga-jaga, kau tuli ya? Sedari tadi aku sudah menjawab, tapi kau yang memutar-mutar pertanyaan!" Leona kembali berkata dengan ketus sekaligus sewot.
"Dan alasan anda ini tidak masuk akal, di dalam pesawat mana mungkin ada bajak udara atau kejahatan yang lain nona, mohon berkata dengan jujur."
Mata Leona mendelik, "Jika tidak masuk akal, ya masukan saja! Mengapa sulit sekali? Perlu aku ajari cara memasukan akal?" Tandasnya melototkan netra.
Mendengar seruan Leona, membuat Afnan spontan menatap wanita itu terkejut, mengapa bibir sang sahabat mudah sekali berkata absurd? Oh my Lord, ia saja lelah, apalagi dua petugas keamanan ini? Benar-benar hebat, pantang mundur menghadapi spesies cerewet seperti Leona.
"Bagaimana kalau begini sir?" Afnan memajukan langkah, menempatkan dirinya di antara Leona dan petugas.
"Kami bersedia membayar denda penuh, sekarang juga, tapi bisakah benda itu dikirimkan kembali ke alamat kami di rumah, dengan protokol pengiriman yang sangat aman?" Seru Afnan menengahi.
Frank tersenyum, "Denda, sekarang. Dan senapan itu akan disita di bandara ini sebentar, kami akan memberikan formulir agar anda dapat mengurus pengirimannya kembali melalui layanan kargo yang disetujui, setelah melalui pemeriksaan lebih lanjut di gudang penyimpanan senjata. Itu yang terbaik yang bisa kami lakukan."
"Sungguh, harus membayar den-"
"Cukup!" Afnan memegang tangan Leona dengan erat, memberikan tatapan tajam yang hanya dipahami oleh wanita itu, "Kami setuju sir, di mana kami bisa membayar dendanya?"
Akhirnya, dengan beberapa tandatangan, pembayaran denda yang lumayan mahal dan cukup runtut, Afnan berhasil menarik Leona menjauh dari kerumunan petugas keamanan.
Saat mereka berjalan keluar dari Terminal 4, Leona masih merajuk, "Aku hanya membawa senapan, mengapa mereka begitu menyebalkan? Padahal aku tidak mengeluarkan senjata itu."
Afnan menggeleng-gelengkan kepala, tawa kecil tak tertahankan, "Leona, kau ini baru saja mencoba menyelundupkan senapan, nanti senapan itu pasti akan dikembalikan."
"Yayaya, atau jika tidak dikembalikan aku akan membakar bandara ini, " Leona berkata dengan bibir mengerucut, "Bagaimana dengan wawancaramu?'
"Tertunda karena ulahmu, sudahlah kita telah membuang banyak energi dengan berdebat dengan petugas keamanan, ayo makan."
"Baik, ayo!"