NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran yang Tidak Pernah Gratis

Ponsel itu bergetar tepat pukul tiga pagi.

Carmela sudah terjaga.

Ia tidak tahu sejak kapan matanya terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap, mendengarkan napas Matteo yang tertidur di sampingnya—tenang, dalam, seolah dunia tidak sedang mengincarnya.

Getaran kedua datang.

Pesan singkat. Tanpa nomor.

Aku tidak suka menunggu.

Tapi untukmu, aku bisa bersabar.

—L

Carmela tidak bergerak.

Ia membiarkan layar menyala lalu meredup sendiri. Jantungnya berdetak cepat, tapi pikirannya tetap jernih. Ia sudah tahu ini akan datang. Ricardo tidak salah.

Ia bangkit perlahan, menyelipkan kaki ke lantai dingin, berjalan ke dapur kecil tanpa menyalakan lampu. Hanya cahaya bulan yang masuk lewat jendela.

Ponsel bergetar lagi.

Aku tahu kau tidak tidur.

Aku juga tahu kau membaca ini sendirian.

Carmela menghela napas pelan.

Ia mengetik.

Apa yang kau inginkan?

Balasan datang nyaris seketika.

Percakapan.

Dan kesempatan.

Pagi datang dengan wajah Matteo yang muram.

Ia tahu.

Ia selalu tahu ketika Carmela menyimpan sesuatu.

“Kau tidak tidur,” katanya sambil menuang kopi hitam ke cangkir retak.

“Aku tertidur sebentar,” jawab Carmela jujur setengah.

Matteo menatapnya tajam. “Itu bukan jawabanku.”

Carmela memegang cangkirnya, merasakan panasnya menembus telapak tangan.

“Lorenzo menghubungiku,” katanya akhirnya.

Keheningan di ruangan itu berubah berat.

“Kapan,” tanya Matteo rendah.

“Dini hari.”

“Apa yang ia katakan?”

“Bahwa ia ingin bicara.”

Matteo tertawa pendek, pahit. “Ia selalu ingin bicara. Setelah itu, orang-orang mati.”

Carmela menatap Matteo tenang. “Tidak kali ini.”

Matteo mendekat. Terlalu dekat.

“Kau tidak akan menemuinya,” katanya tegas.

“Aku belum bilang akan menemuinya.”

“Kau memikirkannya,” balas Matteo cepat. “Aku bisa melihatnya.”

Carmela tidak menyangkal.

“Jika aku tidak mendengarkan,” katanya pelan, “ia akan mencari cara lain. Cara yang lebih kejam.”

Matteo mengepalkan tangan. “Itu bukan tanggung jawabmu.”

“Sekarang iya,” balas Carmela. “Karena aku sudah ada di papan ini.”

Pesan berikutnya datang siang hari.

Aku tidak akan memintamu memilih.

Aku hanya akan memberimu opsi.

Jam 9 malam. Galeri tua di Via Brera.

Datang sendiri.

Carmela membaca pesan itu dua kali.

Ricardo menggeleng saat mendengarnya. “Ia sengaja menulis ‘sendiri’ untuk memancing Matteo.”

“Aku tahu,” kata Carmela.

“Dan?”

“Aku akan datang,” jawab Carmela.

Matteo berdiri mendadak. “Tidak.”

Carmela menatapnya lurus. “Aku akan.”

Matteo mendekat, suaranya menurun tapi berbahaya. “Jika kau pergi, aku akan mengikutimu.”

“Dan jika kau muncul,” balas Carmela, “ia akan menganggapku pembohong. Dan orang yang berbohong padanya tidak diberi kesempatan kedua.”

Matteo terdiam.

Itulah pukulan sebenarnya.

“Aku tidak memintamu percaya padanya,” lanjut Carmela. “Aku memintamu percaya padaku.”

Matteo menatapnya lama—terlalu lama.

Lalu akhirnya berkata, “Jika ini jebakan—”

“Aku tahu,” potong Carmela. “Tapi aku tidak pergi untuk menyerah.”

Galeri itu kosong, kecuali satu lampu besar yang menyinari lukisan-lukisan tua berbingkai emas. Bau cat minyak dan kayu tua memenuhi udara.

Lorenzo berdiri di tengah ruangan, rapi seperti biasa, tangan di belakang punggung.

“Kau datang,” katanya, tersenyum kecil. “Sendiri.”

“Seperti yang kau minta,” jawab Carmela.

“Matteo di mana?”

“Tidak di sini.”

Lorenzo mengangguk pelan. “Bagus. Aku ingin bicara denganmu—bukan dengan egonya.”

Carmela menahan diri untuk tidak bereaksi.

“Apa yang kau tawarkan?” tanyanya langsung.

Lorenzo tersenyum. “Kedamaian.”

“Kata yang murah.”

“Untuk orang sepertimu, justru mahal,” balas Lorenzo. “Aku bisa menghentikan tekanan. Mengembalikan sebagian hidup normalmu.”

“Dengan harga apa?”

Lorenzo mendekat satu langkah. “Jarak.”

Carmela mengerutkan kening. “Dari Matteo.”

“Tidak harus putus,” kata Lorenzo santai. “Cukup cukup jauh untuk membuatnya kembali ceroboh.”

Carmela menatapnya tajam. “Kau ingin aku menjadi kelemahannya.”

“Aku ingin kau menjadi cermin,” jawab Lorenzo. “Menunjukkan padanya bahwa kekuasaan punya batas.”

Carmela tertawa kecil. “Kau terlalu percaya diri.”

“Dan kau terlalu peduli,” balas Lorenzo.

Keheningan jatuh.

“Pikirkan,” lanjut Lorenzo. “Jika kau pergi, aku akan mengejar. Jika kau tinggal, aku akan menekan. Tapi jika kau bermain—dengan tenang—kau bisa memilih siapa yang terluka… dan siapa yang tidak.”

Ia menyerahkan sebuah amplop tipis.

“Jawabanmu tidak harus malam ini.”

Carmela keluar dari galeri dengan langkah berat.

Di kejauhan, Matteo berdiri di balik bayangan—menepati janjinya untuk tidak muncul, tapi cukup dekat untuk memastikan ia hidup.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada senyum.

Tidak ada pelukan.

Hanya kesadaran bahwa sesuatu telah berubah.

Carmela memegang amplop itu erat.

Dan Matteo—melihatnya—merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bukan cemburu.

Bukan marah.

Tapi takut… kehilangan kendali atas satu hal yang paling ia lindungi.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!